Sabtu, 28 September 2013

Mencari Batas



Pada jiwa dan ruh yang seyogyanya memaknai bahwa penantian itu tidak berbatas, sebab sekiranya pertemuan bukanlah marka yang mewajibkan pemberhentian. Pun  mengerti bahwa pada waktu-waktu tertentu ketika kalbu yang merindu meretas doa dalam lafal syahdu, bukankah itu yang disyairkan para susastra tentang puncak rasa? Tentang kesukaran yang seringkali membumbung pada setiap garis yang tak pernah ingin diuraikan, terkadang ia diketahui, dimengerti, dipahami, hingga menghayat pada padu hidup yang kian dihitung mundur. Aku tidak tahu, seringkali cinta terlalu disajikan dengan bahasa surga, hingga manis yang tercecap tidak disiapkan untuk racikan lain yang masih berupa pertaruhan. 

Nada yang kamu suarakan beberapa saat lalu, membuatku limbung setengah mati. Bukan karena kerinduan, tapi sebab kekecewaan yang mendera tak mengenal rasa. Aku tahu apa yang akan terjadi, namun seringkali manusia terlalu pengecut untuk menyecap kembali sakit hati. 

Jika ditanya sejak kapan aku mencintaimu, maka kujawab dengan pasti sejak ketidasengajaan itu. Sejak aku melihatmu dengan paduan kemeja, gaya rambut seperti yang kamu miliki saat ini, dan kacamata yang secara sengaja kamu lepas. Akan selalu ada yang meragukan bahwa yang aku alami bukanlah suatu kenyataan mencintai, akan ada yang berpikir bahwa apa yang terjadi hanyalah kenyataan bahwa aku melihatmu sebagai seseorang yang menarik, juga pertimbangan-pertimbangan lain yang menyatakan bahwa kamu sesungguhnya bukan apa-apa. Tapi itu bagi mereka yang tidak tahu bagaimana detak jantung pada saat itu, mereka yang tidak mengerti bagaimana tatapan mataku mengikuti langkah kakimu. Aku mencintaimu seperti cinta ombak pada pantai, sesekali ia menjauh tetapi selalu datang untuk kembali, tak peduli apakah pantai adalah kumpulan dari butiran pasir atau justru bebatu yang tajam. Ombak akan selalu kembali tanpa peduli apakah pantai tengah menginginkannya atau justru sedang mengacuhkannya.

Kali ini mungkin kita belum bisa mengerti mengapa cinta hadir dengan halusnya, berjalan dengan semestinya meski tidak tepat waktunya. Jika kemudian hari kamu atau aku menemukan deja vu yang seakan nyata, akan terjadi hal-hal yang sederhana yang tidak pernah kita bayangkan hari ini. Mungkin sekedar seperti membaui wangi khas tubuhmu secara tiba-tiba, atau bahkan sekedar teringat cara kamu berjalan atau merapikan rambut. Itu berarti kita pernah menemukan satu sama lain dan mengingkari kenyataan perasaan dengan cara saling menghilangkan.

Sepanjang perjalanan mencintaimu, ada dua hal yang terus mengiringi, keyakinan dan keraguan. Keduanya bersahabat dekat, memiliki sekat yang tipis di dinding pemikiran dan nurani, atau bahkan keduanya sering tidur dan terjaga bersama dalam satu ruang. Sesungguhnya sama seperti keinginan untuk menjadikanmu sebagai satu-satunya, jawabannya adalah sekat tipis diantara yakin dan ragu sebab kita masih saling merindu tapi kita berusaha menghapusnya supaya abu-abu. Sudah cukup lama kita berada di titik ini. Suatu tempat yang membuat kita selalu bimbang, meradang asa. Tempat yang sesungguhnya tidak ingin kita jadikan persinggahan yang terlalu lama, namun kita sendiri masih bingung hendak kemana tujuan ditentukan. 

Pada akhirnya aku diam di sini, menjadi sisi yang berpura-pura hebat, sisi yang menunjukkan kegagahan meskipun di saat tertentu tidak pernah bisa menyembunyikan sisi diri yang paling lemah. Aku  selalu mendoamu dalam setiap rindu yang barangkali tak pernah kamu tahu. Hanya saja belum cukup hebat untuk merelakan sebuah ketiadaan.

Bogor, September 2013