Minggu, 05 Mei 2013

Teknologi Tepat Guna (TTG) dalam Pembangunan Pedesaan



Menurut Inpres No. 3 Tahun 2001 bahwa TTG adalah teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, dapat menjawab permasalahan masyarakat, tidak merusak lingkungan, dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara mudah serta menghasilkan nilai tambah dari aspek ekonomi dan aspek lingkungan hidup. Dengan pertimbangan tersebut maka TTG memerlukan lebih sedikit sumberdaya, lebih mudah dipelihara, memerlukan biaya operasional lebih kecil dengan dampak lingkungan yang rendah. Tujuan pengembangan TTG pada dasarnya adalah untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan, dengan cara yang lebih efisien dalam memecahkan suatu permasalahan sehingga mampu meningkatkan produktifitas sesuai dengan tingkat perkembangan dan daya serap masyarakat.

Istilah TTG terkenal pasa saat krisis energi tahun 1973 dan munculnya gerakan pecinta lingkungan pada tahun 1970-an. Istilah TTG digunakan dalam dua arena yaitu penggunaan teknologi yang efektif untuk memenuhi keperluan negara-negara sedang berkembang dan penggunaan teknologi yang secara sosial dan lingkungan dapat diterima di negara-negara industri. Pilihan penggunaan TTG dalam pembangunan pedesaan diikuti oleh pertimbangan bahwa jenis teknologi ini mampu menyentuh golongan terbawah di pedesaan (grassroot), sesuai untuk kegiatan ekonomi berskala kecil, dan berfokus pada sumberdaya lokal. TTG digunakan dalam pembangunan desa untuk memecahkan masalah teknologi dengan menyediakan solusi yang berkesinambungan karena prosesnya berjalan dari bwah ke atas (bottom up) untuk memenuhi kebutuhan ekonomi rakyat lokal. TTG memandang bahwa masyarakat lokal mengetahui masalah lokal dengan lebih baik, memiliki tanggungjawab yang tinggi dalam penggunaan sumberdaya lokal, dan menentukan prioritas solusi untuk menghemat dana dan tenaga.

Menurut Tinambunan (2008), TTG merupakan solusi berkesinambungan yang efektif karena menggunakan keahlian lokal (local skill) dan pengetahuan serta pengalaman yang ada pada mereka yang dapat dibagikan (sharing) dengan seluruh anggota masyarakat. Cara ini juga dapat membantu penghematan biaya secara keseluruhan. Selanjutnya berdasarkan penjabaran dari Munaf et al (2008) tentang program pemberdayaan masyarakat melalui TTG, diketahui bahwa tujuan penerapan teknologi tepat guna bagi pembangunan pedesaan adalah: a) Mempercepat pemulihan ekonomi, meningkatkan, dan mengembangkan kegiatan ekonomi produktif masyarakat, memperluas lapangan kerja, lapangan usaha, meningkatkan produktivitas, dan mutu produksi; b) Menunjang pengembangan wilayah melalui peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan pemanfaatan sumberdaya alam secara bertanggungjawab menuju keunggulan keompetitif dalam persaingan lokal, regional, dan global; c) Mendorong tumbuhnya inovasi di bidang teknologi.


Referensi
-Munaf, Dicky R, et al, 2008, Peran Teknologi Tepat Guna Untuk Masyarakat Daerah       Perbatasan Kasus Propinsi Kepulauan Riau, Jurnal Sosioteknologi Edisi 13 Tahun 7, April 2008, hal. 329-333.

-Tinambunan, D, 2008, Teknologi Tepat Guna Dalam Pemanfaatan Hutan di Indonesia: Perkembangan, Keunggulan, Kelemahan dan Kebijakan yang Diperlukan untuk Optimasi Pemanfaatannya, Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan. Vol. 5 No. 2, Agustus 2008: 59 – 76.

-Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 3 Tahun 2001 Tentang Penerapan dan Pengembangan Teknologi Tepat Guna.