Rabu, 17 April 2013

Catatan Kami untuk Banjarnegara




Yth. Bapak dan Ibu Wakil Rakyat,

Bapak dan Ibu wakil rakyat dimana pun berada, semoga anda semua masih dalam jalur memperjuangkan kesejahteraan rakyat kecil dan tidak mampu. Bukan hanya menggembungkan pundi-pundi pribadi untuk mengembalikan modal kampanye atau mempertebal kantong pribadi menuju kampanye selanjutnya. Kami adalah rakyat yang tidak punya kewenangan kebijakan, semoga keluh-kesah kami didengarkan, diperhatikan, dan ditindaklanjuti. Perkenankan kami, menyampaikan beberapa hal mewakili saudara-saudara kami sebab bagaimana pun kami adalah rakyat yang memiliki hak dinaungi oleh negara. Dalam konteks otonomi daerah, nasib kami tergantung dari kebijakan yang dibuat di level kabupaten, yaitu kebijakan yang ditentukan oleh suara Bapak dan Ibu wakil kami.

Bapak dan Ibu wakil rakyat, kami belum pernah bertatap muka dengan anda, tetapi kami yakin bahwa anda memiliki sisi humanis yang tentu saja tidak akan tega melihat penderitaan dan kemiskinan yang tidak ada habisnya. Atau dalam kata yang lebih progresif, siapa yang tidak ingin membangun daerahnya dan membuatnya lebih maju, lebih berdaya, dan mereduksi sebanyak mungkin angka kemiskinan? Kami rakyat, memikirkan bagaimana supaya kami tidak miskin, kami berusaha menempatkan porsi pekerjaan kami untuk kehidupan yang lebih baik, menyekolahkan anak-anak kami, menanam komoditas pertanian yang menguntungkan, dan kami tanpa perlu bermuluk-muluk mengharapkan bahwa pembuat kebijakan pun bisa mendukung semua itu, mendukung usaha kami, kita saling mendukung.

Perkenankan kami mewakili saudara-saudara kami menyampaikan beberapa hal ini, tanpa mengurangi rasa hormat  kami kepada Bapak dan Ibu Wakil Kami. 

Kabupaten Banjarnegara adalah tempat tinggal kami sejak lahir, hingga kami memutuskan untuk mencari ilmu ke luar daerah untuk meningkatkan pengetahuan dan skill yang kami sebut di awal adalah untuk memperbaiki kehidupan agar lebih baik. Secara rutin kami pulang ke Banjarnegara untuk menjenguk orang tua dan keluarga. Dalam periode itu, kami pikir Banjarnegara sudah berusaha melakukan transformasi supaya kabupaten yang sesungguhnya kaya akan sumberdaya alam ini tidak lagi sekedar disebut sebagai kota pensiunan. Ya, pembangunan ala modernisasi dilakukan mati-matian di Banjarnegara: hotel-hotel diperbaiki, perusahaan developer semakin banyak masuk dan mendirikan perumahan dengan cicilan ringan bahkan meskipun dengan meniadakan lahan sawah sekalipun, fasilitas entertaintment seperti resto, areal wisata, dan resort semakin menjamur, minimarket sudah masuk bahkan sampai di tingkat kecamatan, warung internet semakin menjamur di wilayah kota, pabrik-pabrik pembuat bulu mata palsu didirikan. Banjarnegara adalah wilayah yang sedang berkembang, saya baca di sebuah baliho besar yang menyebutkan bahwa “Banjarnegara adalah Kabupaten yang ramah investasi”. Itu membanggakan dan tidak salah, tetapi bagi saya dan ribuan orang yang barangkali tidak perlu terlalu mewah memaknai ‘transformasi’, menuju ke arah kemajuan tidak hanya dalam kerangka seperti itu.

Banjarnegara adalah Kabupaten yang kaya akan sumberdaya alam, basis Kabupaten ini bukanlah kota tetapi desa. Tentu saja Bapak dan Ibu yang lahir atau besar di Banjarnegara tahu bahwa dari ujung puncak Dieng Kulon hingga dataran yang rendah di Klampok merupakan wilayah pedesaan yang kaya. Kami (orang-orang desa) seringkali menyayangkan mengapa keagungan pembangunan hanya dititikberatkan di kota? Masyarakat desa, petani kecil, buruh tani, kami semua tidak memiliki tendensi untuk mencampuri urusan birokrasi Bapak dan Ibu dalam menjalankan pemerintahan di Kabupaten ini. Pada dasarnya kami adalah masyarakat yang penurut, tetapi jika keadilan dan kesejahteraan hanya mimpi bagi kami, selanjutnya kami mempertanyakan. 

Bapak dan Ibu Wakil Rakyat, petani menanam, menunggu hasil panennya bisa dituai dan dijual ke kota (Kota Banjarnegara). Petani punya segudang kreatifitas untuk mempertahankan kelangsungan hidup dengan menanam salak, kentang, padi, atau kayu. Masyarakat desa yang tidak punya lahan menjadi buruh pada lahan tetangganya yang perlu dibera, disiangi, atau ditanami dengan upah Rp 20.000-Rp 25.000 per hari (bayangkan nilai itu adalah satu per berapa puluh bagian dari gaji Bapak dan Ibu). Tidak kalah banyak, masyarakat desa yang merasa bahwa desa bukan lagi tempat yang menguntungkan memilih untuk bermigrasi ke kota menjadi karyawan, buruh pabrik, pembantu rumah tangga, buruh bangunan, supir angkutan umum, dll dan pulang ke desa setiap kali lebaran. Tapi saya yakin, mereka semua bukanlah orang yang pantang menyerah, mereka menerima sekaligus berusaha memperbaiki kehidupan. Menyekolahkan anak-anak ke jenjang yang lebih tinggi, mencari celah untuk membuka usaha mikro, mereka berjuang. Petani terus menanam, buruh tani terus bekerja, migran juga terus mencari penghidupan. Berapa pendapatan daerah yang bisa diperoleh dari kami wahai Bapak dan Ibu? Mungkin tidak seberapa, tetapi itulah keringat kami, keringat kami yang tidak tahu menahu soal rencana strategis pembangunan.

Lalu, Betapa sedihnya kami ketika fasilitas utama dan satu-satunya yang bisa menghubungkan kami dengan kota tidak bisa kami lalui dengan baik karena kondisinya tidak layak. Betapa sedihnya kami ketika jalanan rusak dimana-mana dan tidak dihiraukan, kami berusaha tambal sulam, tetapi semen, batu, pasir, aspal juga tidak selalu sanggup kami menyediakan. Jalan itu adalah sarana hidup kami, penghubung desa kami dengan pusat Kabupaten dan desa lain. Betapa sedihnya kami, ketika hasil panen kami terhambat dijual padahal itulah tiang hidup kami. Betapa sedihnya kami, tahu bahwa anak-anak yang ingin kami perjuangkan hidupnya harus mempertaruhkan nyawa mereka ketika berangkat sekolah. 


Kondisi jalan dari Kecamatan Pagentan menuju Kota Kabupaten Banjarnegara
Photo: courtesy @DedyKurniawan


Kerusakan jalan tidak hanya di satu titik, jalan ini adalah satu-satunya penghubung tercepat antaraKec. Pagentan dengan Kec. Madukara dan Kota Kabupaten Banjarnegara
Photo: courtesy @DedyKurniawan


Sesungguhnya kami malu untuk mengeluh, malu untuk mempertontonkan ketidakberdayaan, malu untuk meminta. Tapi ini adalah bentuk pertahanan kami, untuk keluarga, anak-anak kami, adik-adik kami, saudara kami, dan untuk Banjarnegara. Kami tidak apatis untuk bersinergi, kami tidak menghindar untuk bekerjasama, kami juga tidak berburuk sangka kepada wakil-wakil kami di jajaran pemerintahan. Kami percaya, Banjarnegara adalah ibu pertiwi dan manusia-manusia yang dilahirkan olehnya tidak akan saling menyakiti. Kami yakin bahwa wakil-wakil kami memiliki tujuan yang mulia, Bapak dan Ibu Wakil Rakyat, kami percaya bahwa anda tulus untuk memperjuangkan amanah rakyat hingga pelosok-pelosok desa. Kami percaya, semoga kepercayaan kami tidak tercederai.
  

Bentuk protes masyarakat akan ketidakjelasan status perbaikan jalan, sudah sangat lam
                                              Photo: courtesy @DedyKurniawan
 

Bapak dan Ibu Wakil Rakyat yang terhormat,

Kami bercita-cita bahwa kehidupan anak-anak kami, adik-adik kami akan lebih baik dari kami. Pertanian kami akan tetap bertahan dengan dukungan yang baik dari berbagai pihak, akses pendidikan dan layanan kesehatan akan semakin berkualitas hingga pelosok desa. Kami ingin bertransformasi lebih baik dengan sumberdaya yang kami miliki, kami bercita-cita mewujudkan desa yang berdaya dan lebih baik. Dan sebagian dari cita-cita kami juga ditentukan oleh bagaimana kebijakan yang Bapak dan Ibu buat sebagi wakil kami, wakil rakyat.



Transportasi yang minim mengharuskan anak sekolah berdesakan, bertaruh nyawa
Photo: Courtesy @DedyKurniawan dan jepretan pribadi


Nasib Banjarnegara, kini dan nanti adalah tanggungjawab kita sebagai manusia-manusia yang dilahirkan di atas buminya. Tidak muluk buat kami sebagai rakyat biasa dari desa, sederhana, hasil panen kami bisa tersalurkan, anak-anak kami bisa mengenyam pendidikan yang baik, guru-guru kami sampai ke sekolah dengan selamat. Tidak muluk buat kami, kami ingin didengarkan sebab kami percaya bahwa negara ini memiliki aturan yang bertujuan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Kami adalah bagian dari rakyat yang memiliki suara, kami memperjuangkan hak kami dengan tetap optimis. Kami tidak akan mengemis beras miskin atau jaminan kartu sehat di puskesmas jika kami mampu.

Banjarnegara bukan hanya kota, Kabupaten ini hidup dari desa-desa. Bukan hal yang luar biasa bagi kami jika Kabupaten Banjarnegara menjadi arena turnamen arung jeram internasional, mengadakan kirab hari jadi setiap tahun dengan meriah, mengadakan festival serayu, atau pun kemewahan-kemewahan yang ditunjukkan kepada khalayak luar. Bagi kami bukan itu esensinya, untuk apa dibungkus dengan mewah jika inti dari kehidupan dan denyut nadi Kabupaten ini (desa) masih dipandang sebelah mata. 

Bapak dan Ibu Wakil Rakyat yang terhormat,

Kami berbicara, sebab ini hak kami. Kami mempertanyakan sebab kami perlu bertindak untuk kehidupan kami. Kami mempercayakan amanah membawa Banjarnegara  yang lebih baik dengan memilih putra-putra Banjarnegara terbaik untuk duduk di kursi pemerintahan, kami tidak ingin amanah kami tercederai. Semoga Bapak dan Ibu masih berada di jalur perjuangan seperti yang disampaikan saat kampanye dulu. Kami, rakyat biasa yang tidak tahu menahu apa itu rencana strategis pembangunan ingin transformasi ke arah yang lebih baik sampai kepada kami. Jangan hanya khawatirkan apakah resort dan perumahan-perumahan itu laku di pasaran atau tidak, jangan hanya pamerkan kekayaan alam dan potensi wisata Banjarnegara, jangan hanya banggakan bahwa di era ini Kabupetan Banjarnegara memiliki sekolah tinggi pasca SMA, lihat lebih dalam bahwa jantung kehidupan Banjarnegara (desa-desa) perlu mendapatkan perhatian dibanding sekedar membuka investasi seluas-luasnya kepada para investor yang (memang) sudah kaya itu.

Bapak dan Ibu Wakil Rakyat yang terhormat,

Kami tidak minta dikasihani, tetapi sekali lagi jangan cederai kepercayaan dan amanah kami. Jangan biarkan makna keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia luntur karena ada satu lagi potret keterbelakangan di Indonesia dari Kabupaten ini.

Salam,

Turasih
(Mewakili suara-suara yang disampaikan melalui pesan singkat, foto-foto di media sosial, keluhan petani dan pelajar, suara dari desa)