Senin, 18 Maret 2013

Review: Agricultural Involution, the Process of Ecological Change in Indonesia by Clifford Geertz


Tesis Involusi

      Involusi yang dijabarkan dalam tulisan Clifford Geertz menyoroti perkembangan empiris di Indonesia—bahwa modernisasi di bidang pertanian tidak selamanya berimbas pada ‘kemajuan’. Menurut Geertz, kekacauan politik, ekonomi, dan intelektual telah sampai pada tahap yang membahayakan di Indonesia, namun dilihat dari segi ekologi, Indonesia masih tetap sama. Artinya, dalam konteks pertanian yang dijelaskan oleh Geertz, terjadi kenaikan produksi pertanian namun tidak beriringan dengan peningkatan kapasitas petani. Jumlah penduduk Indonesia (dicontohkan melalui Jawa) terus meningkat sedangkan jumlah tanah yang bisa digarap tetap. Involusi bermakna bahwa perubahan yang terjadi tidak menunjukkan perkembangan (stagnan) karena peningkatan jumlah produksi pertanian bersamaan dengan melonjaknya jumlah penduduk. Demikian pula tanah yang digarap tidak mengalami peningkatan sehingga petani harus membagi lahannya.
          Awal terjadinya involusi di Indoneia dilandasi oleh penjajahan Belanda melalui tanam paksa. Beberapa tesis Geertz mengenai kondisi yang terjadi di Indonesia antara lain: 1) Kebijakan kolonial Hindia Belanda untuk meningkatkan produksi komoditas perkebunan Indonesia ke pasar dunia karena sangat dibutuhkan dan laku, ternyata tidak mengubah struktur ekonomi petani di Indonesia; 2) Upaya pemerintah kolonial untuk menembus pasar internasional adalah dengan mendorong petani untuk terus berproduksi memenuhi kebutuhan tetapi menjadikan mereka ‘tetap pribumi’, perbedaan “mentalitas ekonomi” ini digambarkan oleh Boeke sebagai dualisme ekonomi dimana orang Jawa itu jatuh miskin bukan karena mereka statis, tetapi mereka statis karena miskin; 3) Terjadi kemerosotan dan kemunduran pada sektor domestik (pertanian keluarga) karena tanah dan petani semakin terserap ke sektor pertanian komersial yang dibutuhkan oleh pemerintah kolonial; 4) Kemiskinan di pedesaan Jawa merupakan interaksi antara petani pribumi dengan struktur kolonial pada tingkat nasional dalam konteks politik-ekonomi. Proses pemiskinan yang terjadi di Jawa (Indonesia) berkembang menjadi semakin rumit.

Perbedaan Jawa dan Jepang

        Geertz memberian contoh yang menggambarkan perbedaan tingkat kemajuan antara Jepang dengan Jawa dengan berbagai kompleksitasnya. Jepang sebagai negara yang tidak terintervensi penjajahan tidak mengalami involusi seperti Indonesia. Hal ini ternyata disebabkan bahwa: 1) pembangunan di Jepang dilakukan oleh pribumi jepang yang tidak hanya berfokus pada kapasitas produksi tetapi juga kualitas sumberdaya manusia; 2) Pembangunan di Jawa (mewakili indonesia) tergantung pada andil negara penjajah (kekuatan asing) yang berfokus pada kapasitas produksi tetapi bukan pada kualitas individu pelaksana produksi. Parameter kehadiran penjajah menjadi sangat penting karena hal tersebut berarti bahwa potensi untuk tumbuh  yang ada pada ekonomi Jawa yang tradisional tidak dipergunakan untuk mengembangkan Jawa (Indonesia) melainkan untuk Belanda. Sedangkan di Jepang golongan elit pribumi yang berlandaskan kekuatan politik tradisionalnya berperan mengembangkan Jepang dengan sistem manufaktur yang padat modal, sebaliknya di Jawa adalah padat karya. 

  Tabel 1. Perbedaan antara Jawa dengan Jepang

Parameter
Jawa
Jepang
Teknik
Perbaikan yang lambat dengan cara sepenuhnya padat karya
Pertumbuhan yang pesat baru mulai sekitar tahun 1870, jelas sebagai akibat turunya angka kematian karena kenaikan standar hidup nasional, dan akibat meningkatnya fertilitas karena disebabkan oleh meluasnya lapangan kerja di dalam sektor manufaktur
Penduduk
Perbaikan yang lambat sampai tahun 1900, pada dasarnya terjadi dengan cara padat karya, tetapi sesudah itu input modal meningkat dengan pesat yang kebanyakan dalam bentuk pupuk.
Pertumbuhan yang pesat baru mulai sekitar tahun 1870, jelas sebagai akibat turunya angka kematian karena kenaikan standar hidup nasional, dan akibat meningkatnya fertilitas karena disebabkan oleh meluasnya lapangan kerja di dalam sektor manufaktur.
Lapangan Kerja
Tidak ada perluasan yang berarti diluar lapangan kerja pertanian trasdisional, yang ada ialah perluasan perkebunan dengan tenaga petani sebagai sambilan.
Perluasan yang pesat di dalam sektor industri yang menyerap seluruh pertambahan penduduk. Lapangan kerja pertanian boleh dikatakan konstan, baik produktivitas tanah maupun produktivitas kerja meningkat (70% lebih cepat)
Urbanisasi
Terhambat, kota-kota besar maupun kota-kota kecil tumbuh lebih lambat daripada jumlah penduduk.
Tumbuh pesat, terutama setelah Zaman Restorasi Meiji, kota-kota besar maupun kota-kota kecil tumbuh lebih cepat dari pada pertumbuhan jumlah penduduk.
Pendapatan Perkapita
Sektor pertanian dapat dikatakan pertumbuhan lambat bahkan stagnan. Sedangkan perkebunan meningkat dengan cepat.
Sektor pertanian naik semakin pesat dan kenaikan ini dipergunakan untuk membiayai kenaikan dalam sektor industri.
Dualisme Ekonomi
Semakin tajam masukan modal meningkat di dalam sektor perkebunan, sedangkan di sektor pertanian masukan kerjalah yang meningkat. Perpisahan antara kedua sektor itu terjadi sekaligus dalam bidang kebudayaan, sosial, dan teknologi dengan aktivitas industri menengah  yang sedikit.
Industri setelah zaman Meiji sangat cepat, tetapi diperlunak oleh hubungan yang erat dalam bidang kebudayaan, sosial, dan ekonomi diantara kedua sektor itu dan oleh berkembangnya aktivitas industri kecil.
  Sumber: Clifford Geertz, 1963, Involusi Pertanian, Proses Perubahan Ekologi di Indonesia, alih bahasa S. Supomo, Jakarta: Bhratara Karya Aksara 1983. 

  Involusi dan Keterbelakangan

   Geertz menyatakan bahwa proses penjajahan yang menyebabkan involusi (kemajuan tanpa perkembangan) menjadikan ekonomi Indonesia lumpuh. Meskipun ada potensi untuk tumbuh namun potensi tersebut memiliki kecenderungan untuk tidak dimanfaatkan dengan baik.  Terdapat tiga hal yang menjadi pertimbangan mengapa kondisi stagnan tersebut bisa terus terjadi: 1) Ada kemajuan teknis yang penting dalam pertanian Jepang yang belum sepenuhnya diterapkan di Jawa yaitu penggunaan pupuk dan benih unggul; 2) Revolusi pertanian (ladang ke perkebunan) terjadi di berbagai tempat di Indonesia; 3) Sektor onderneming yang lama saat ini manajemennya di bawah negara. Namun kenyataannya, untuk memanfaatkan kesempatan tersebut masih sulit dilaksanakan.
      Faktanya, petani Jawa masih tetap dalam kondisi seperti semula (miskin dan terbelakang). Selama kenaikan produksi pertanian tidak dapat membiayai sektor industri yang mampu menyerap tenaga kerja yang tumbuh semakin cepat, maka cita-cita perkembangan juga masih terhambat. Kemiskinan yang dibayangkan bisa ditampung dan diselesaikan di kota ternyata justru menimbulkan masalah baru bahwa kemiskinan tersebut justru semakin tajam, banyak penduduk yang menganggur, tidak berketerampilan dan nir-matapencaharian. Potret Indonesia menunjukkan bahwa negeri ini bergeser dari industrialisasi tanpa urbanisasi menuju urbanisasi tanpa industrialisasi. Stagnasi ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu kurangnya pemimpin yang terdidik, roda pemerintahan yang macet, pertentangan ideologi yang menyebabkan kemerosotan di berbagai aspek baik ekonomi, sosial, politik. Analisis bagi Indonesia tidak lagi sebatas proses ekologi dan ekonomi tetapi perlu ditinjau dari aspek dinamika politik, sosial, dan budaya.