Jumat, 01 Maret 2013

Keping Makna



Bolehkah aku minta waktumu sebentar untuk kita bercerita? Seperti saat-saat kemarin ketika kita bebas saling mengungkap perasaan. Tawa yang lepas dan tidak pernah ada kata “tabu” dalam kamus kita. Semua yang kita bicarakan selalu wajar. Atau mungkin harapanku yang terlalu muluk bahwa relasi kita tidak sekedar sebuah timbal balik yang transaksional? Jangan marah dulu, aku hanya ingin meluruskan duduk perkara. Kenapa kamu bisa tiba-tiba begitu berang ketika mendengar suaraku? Jawablah, diam itu kadang bukan menjadi solusi karena kita sebenarnya perlu bicara. Baiklah, aku memang bukan peri bersayap seperti dalam cerita Barbie. Aku juga bukan Santa Claus yang akan menghiburmu dengan memberikan hadiah. Jika aku boleh mengutip Descartes, cogito ergosum, aku berpikir maka aku ada. Aku tidak perlu menjadi siapa-siapa untuk bisa membuatmu tersenyum. Aku cukup menjadi aku.

Bukan lagi menjadi habitku untuk bertanya apa kabar? Apakah kamu baik? Itu terlalu klise, oh, jangan-jangan kamu sudah hapal dengan basa-basi itu sehingga kamu ingin aku berpura-pura perhatian setiap waktu? Maafkan aku, bukan maksud menghujat, tapi akhir-akhir ini kamu menjadi terlalu cengeng untuk seorang yang selalu dipuji “tegar”. 

“Aku seperti makhluk terbodoh yang pernah masuk ke universitas ini. Bahkan untuk membuat satu judul yang cantik guna tugas akhirku pun otakku bebal” katamu tempo hari, aku hanya bisa diam memaklumi kekalutanmu. 

Dari sekian manusia, kamu adalah salah satu yang istimewa. Tapi entah kenapa kamu seperti menujukkan padaku bahwa setiap keistimewaan selalu dilengkapi dengan satu keping kecewa.

****

Banyak hal yang dapat aku pelajari hari ini, memang pada dasarnya hidup itu berjalan dari satu pilihan kepada pilihan berikutnya. Rasa takut akan hasil yang akan diperoleh telah mengambang seperti alga yang sudah jengah berada di dasar danau. Pilihan itu seperti tidak berwarna lagi, bukan hitam atau putih apalagi abu-abu. Tidak ada yang bisa kumaknai sebagai warna dari apa saja yang mereka tawarkan. Hanya saja, kepercayaan itu, bagiku adalah sebuah jembatan yang menghubungkan antara utopia dan fakta tertahan. Hanya itu saja. Aku percaya, tanpa aku meminta, Tuhan sudah pasti akan bermurah hati dengan kehendak-Nya.

Kubuka telpon genggamku, satu pesan darimu yang membuatku tertahan untuk membalasnya. Kamu selalu punya cara tersendiri untuk selesaikan kegelisahanmu. Jika sekali waktu kamu dihadapkan pada permasalahan, kamu seperti filsuf yang membuat sari dari sakit menjadi satu quote bijak. Dan kamu, yang khas dari kamu adalah selalu mengembalikan semua pada Tuhan. Aku tersenyum, pesan singkat yang kamu kirimkan membuatku kembali penuh dengan perasaan hangat. Ya, ada yang hilang saat kamu pergi beberapa saat lalu. Kita masih menjejak di tempat yang sama, tapi aku merasa bahwa kamu pergi sangat jauh. Aku tidak pernah berani menyebut kehangatan perasaan itu saat bersamamu, kulipat rapat, supaya hangat itu tidak hinggap dan gagap.

Aku tidak membalas pesanmu, biarkan aku menikmati kata-kata mu di penghujung malam ini. Kamu adalah bukti Kemurahatian Tuhan saat aku benar-benar merindukan kehadiranmu. Kamu, penghangat hatiku yang tidak pernah menafikkan bahwa perasaan itu nisbi. 

Bogor, 01 Maret 2013