Jumat, 22 Maret 2013

Mekanisme Perubahan Sosial: Perspektif Materialistik dan Idealistik



Perspektif Materialistik

            Perubahan sosial bisa disebabkan oleh faktor material baik berupa faktor-faktor ekonomi atau pun teknologi yang berhubungan dengan produktifitas ekonomi. Teknologi baru maupun moda produksi ekonomi mendorong perubahan pada aspek interaksi, organisasi sosial, kultur, kepercayaan, dan norma-norma. Karl Marx sebagaimana dijelaskan oleh Harper (1989) menganggap bahwa moda produksi (force of production) merupakan pembentuk sistem sosial dan penyebab perubahan sosial. Relasi produksi membentuk struktur masyarakat yang ditentukan oleh penguasaan moda produksi. Marx melihat perubahan masyarakat di Eropa yang berubah dari feodal menuju masyarakat kapitalis industri memiliki  dua konsekuensi yaitu: 1) terbukanya kesempatan kerja pada pabrik-pabrik di kota, dan 2) terciptanya kelas-kelas ekonomi baru. Melihat kenyataan ini Marx berargumentasi bahwa perubahan terjadi akibat kontradiksi antara moda produksi dengan relasi sosial produksi.
            Selain Marx, William Ogburn juga memberikan argumentasi bahwa perubahan material (teknologi) lebih cepat berubah dibandingkan perubahan aspek-aspek nonmaterial (ideologi, norma, nilai). Perbedaan akselerasi perubahan antara aspek material dan nonmaterial tersebut menyebabkan cultural lag dalam masyarakat. Mengambil gambaran perubahan yang disebabkan oleh adopsi teknologi di Amerika, Ogburn  mengatakan bahwa faktor material merupakan penyebab utama perubahan.
            Selanjutnya Harper (1989) menjelaskan bahwa teknologi dapat menjadi penyebab perubahan karena 3 hal: 1) Inovasi teknologi meningkatkan alternatif-alternatif dalam masyarakat; 2) Teknologi baru mengubah bentuk interaksi antar orang; 3) Teknologi baru menciptakan permasalahan yang harus diselesaikan. Namun demikian terdapat keterbatasan bahwa teknologi merupakan penyebab perubahan sosial karena perubahan sosial dapat terjadi tanpa perubahan yang bersifat teknis. Perubahan pada aspek teknologi bisa saja tidak menyebabkan perubahan pada semua aras dalam masyarakat[1]. 

Perspektif Idealistik

            Perspektif idealistik dilihat sebagai ide, nilai-nilai, dan ideologi yang menyebabkan perubahan. Ide terdiri atas pengetahuan dan kepercayaan-kepercayaan, nilai merupakan asumsi mengenai apa yang diinginkan dan tidak diinginkan, dan ideologi dipahami sebagai kombinasi antara kepercayaan dan nilai untuk memberikan legitimasi maupun justifikasi terhadap perilaku manusia (misalnya demokrasi, kapitalisme, sosialisme). Ahli sosiologi yang menyatakan bahwa perubahan sosial disebabkan oleh perubahan pada aspek idealistik adalah Max Weber (1905) dan Guenter Lewy (1974)[2].
            Weber berpandangan bahwa kapitalisme industri tidak bisa hanya dilihat sebagai perubahan yang disebabkan oleh aspek material seperti yang disebutkan Marx. Dengan tidak menolak pendapat Marx, menurut Weber, pembangunan yang sifatnya teknis tidak hanya terjadi di negara Barat tetapi juga merambah India dan Cina (sebagai negara Dunia Ketiga), hal ini mengindikasikan bahwa kemajuan (pembangunan) yang terjadi di Barat sebenarnya disebabkan oleh sistem nilai masyarakatnya yang berinteraksi dengan aspek material.
            Pemikiran Weber bertolak dari fenomena empiris, bahwa hubungan terus-menerus yang terlihat jelas di periode awal kapitalisme, agen penting (pimpinan perusahaan, tenaga teknis dan komersial terlatih, tenaga kerja terampil) cenderung didominasi oleh orang Protestan. Weber mengingatkan bahwa di dalam Protestantisme terdapat berbagai sekte terpisah yang berbeda kekuatan pengaruhnya dalam menggerakkan etos kapitalis. Cabang-cabang Protestantisme (Calvinisme, Methodisme, Baptisme) berorientasi pada kehidupan duniawi yang mengkombinasikan kecerdasan berbisnis dengan kesalehan agama. Di dalam kombinasi ideologi Protestan sumber kapitalisme ditemukan. Begitu semangat kapitalisme tumbuh, maka struktur hubungan sosial pun akan berubah[3]. Sejalan dengan Weber, Lewy (1974) tidak mengabaikan aspek material sebagai keadaan yang menciptakan perubahan, tetapi perubahan tidak bisa dipahami tanpa menjelaskan pengaruh dari nilai-nilai serta kebijakan agama.            
            Dalam perspektif idealistik, perubahan setidaknya dipahami melalui 3 hal: 1) Legitimasi sebuah keinginan untuk berubah; 2) Ideologi menadi basis yang mampu menjelaskan solidaritas sosial sebagai penyebab perubahan yang penting; 3) Ide dan nilai mampu menjelaskan kesenjangan antara ideal dan faktual sebagai penyebab perubahan.


[1] Harper mencontohkan perubahan penggunaan material batubara menjadi gas sebagai penghangat ruangan bisa saja memberikan perubahan yang signifikan dalam industri energi, tetapi hal tersebut diragukan sebagai  penyebab perubahan yang lain seperti stratifikasi sosial atau pun sistem kekerabatan)-- Harper, Charles L. 1989. Exploring Social Change (Chapter 4-5). New Jersey: Prantice Hall, pg. 58.
[2] Dalam ibid, hal. 58-60.
[3] Sztompka, Piotr. 2011. Sosiologi Perubahan Sosial (Cetakan ke-6) diterjemahkan oleh Alimandan. Jakarta: Prenada Media Group, Hal. 276-278.

Kamis, 21 Maret 2013

Modernisasi dalam Teori-Teori Pembangunan



                Modernisasi merupakan produk sejarah tiga peristiwa penting dunia setelah masa Perang Dunia II[1]. Pertama, munculnya Amerika Serikat (AS) sebagai kekuatan dominan dunia sejak pelaksanaan Marshall Plan yang diperlukan untuk membangun kembali Eropa Barat akibat Perang Dunia II. Kedua, terjadi perluasan gerakan komunis sedunia oleh Uni Soviet yang secara tidak langsung mendorong AS untuk memperluas pengaruh politiknya juga. Ketiga, lahirnya negara-negara merdeka baru di Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang mencari contoh model-model pembangunan perekonomian untuk mempercepat kemerdekaan politiknya.
            Teori modernisasi merupakan suatu strategi teoritis yang meliputi berbagai teori yang saling melengkapi. Menurut Sanderson (2010), terdapat tiga asumsi[2] dasar dalam teori modernisasi yaitu: pertama, keterbelakangan cenderung dipandang sebagai suatu keadaan asli (original state), sebagai suatu keadaan masyarakat yang telah ada dalam aneka bentuknya. Pengikut teori modernisasi cenderung memahami keterbelakangan sebagai proses sosial ekonomi yang terjadi sebelum munculnya kapitalisme modern. Pada hakekatnya mereka berpendapat bahwa hanya dengan membentuk masyarakat kapitalis modern maka keterbelakangan bisa diatasi. Kedua, keterbelakangan merupakan akibat dari banyaknya kekurangan yang ada di dalam suatu masyarakat, kekurangan yang disebutkan adalah formasi kapital dan teknik bisnis yang kuno. Ketiga, masyarakat terbelakang biasanya tidak mempunyai kesadaran atau mentalitas yang menawarkan perkembangan. Perkembangan dikatakan terjadi ketika seseorang telah mengadopsi pemikiran rasional.
            Berdasarkan tiga asumsi di atas tersurat bahwa solusi atas keterbelakangan adalah membentuk masyarakat modern melalui formasi kapital dan menciptakan individu rasional. Berkaitan dengan pembentukan formasi kapital, rekomendasi Rostow (1960) mengenai lima tahapan pembangunan menjadi penting[3]. Lima tahapan tersebut adalah: tahap masyarakat tradisional, tahap prakondisi tinggal landas, tahap tinggal landas, tahap kematangan, dan tahap konsumsi massa tinggi. Menurutnya semua masyarakat terbelakang berada dalam tahap masyarakat tradisional yang tidak memiliki modal cukup untuk mencapai titik tinggal landas sebagai syarat pertumbuhan ekonomi secara cepat.
            Jika dilihat dari aspek ‘menciptakan sikap mental rasional’, ajaran modernisasi tumbuh dari teori Hagen dan Mc Clelland yang mendasarkan perubahan sosial aspek psikologi (motivasi individu untuk berubah). Hagen mengemukakan bahwa pertumbuhan[4] yang menjadi tujuan kebanyakan masyarakat tidak akan terjadi tanpa perkembangan kreatifitas dalam kepribadian. Kepribadian  yang penting untuk perubahan sosial adalah pribadi yang inovatif dimana ia memiliki kebutuhan yang sangat besar untuk memelihara dan meyakini nilai-nilainya sendiri sehingga terdorong untuk berprestasi. Serupa dengan Hagen, Mc. Clelland juga memusatkan perhatian pada kepribadian sebagai pendorong utama perubahan, khusunya pada pertumbuhan ekonomi melalui semangat kewiraswastaan. Tesis dasarnya[5] adalah “masyarakat yang tinggi tingkat kebutuhan untuk berprestasinya[6], umumnya akan menghasilkan wiraswastawan yang lebih bersemangat dan selanjutnya menghasilkan perkembangan ekonomi yang lebih cepat’.


[1] Suwarsono dan So, Alvin Y, 2006,
Perubahan Sosial dan Pembangunan Edisi Revisi, Jakarta, LP3ES, hal.7.
[2]Sanderson, Stephen K, 2010,
Sosiologi Makro: Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas Sosial, Edisi Kedua (cetakan ke-50 diterjemahkan oleh Farid Wajidi dan S. Menno, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, hal. 234-235.
[3] Rostow (1960) dalam Sanderson, Stephen K, 2010, ibid, hal. 235.
[4] Pertumbuhan ini dimaknai Hagen sebagai pertumbuhan ekonomi, Ia menyatakan bahwa perkembangan ekonomi dapat didefinisikan menurut peningkatan pendapatan per-kapita terus-menerus yang muncul dari kemajuan teknologi harus dipahami dari sudut kepribadian kreatif.
[5] Sanderson, Stephen K, 2010, ibid, hal. 137-138.
[6] Kebutuhan untuk berprestasi ditafsirkan oleh Mc Clelland sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia dan merupakan hasil  dari pengalaman sosial sejak masa kanak-kanak.