Rabu, 20 Februari 2013

Catatan Kuliah 5# - Keberpihakan



Baru saja kemarin mendiskusikan apakah ilmu pengetahuan bebas nilai atau tidak bebas nilai. Apa yang saya dapat dari diskusi itu adalah sebaiknya di kondisi yang real, ilmu pengetahuan tersebut memiliki keberpihakan sebagai wujud dari prinsipil ilmu itu sendiri. Saya sederhanakan pemahaman ‘keberpihakan’tersebut dengan makna: ‘siapa yang kita perjuangkan’. Akhirnya, bagi saya menentukan ada di pihak mana kita mendedikasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah menjadi sangat penting. Tidak perlu jauh-jauh memberikan analisis makro, misalnya kita menjadi presiden sebuah negara,contoh kecil saja, misalnya seorang dosen di sebuah program studi tertentu. Dalam pemahaman saya, menjadi seorang dosen [pengajar] adalah menjadi guru yang dalam artian bahasa jawa memiliki makna ‘digugu’ (didengarkan petuahnya) dan ‘ditiru’ (sebagai teladan yang baik untuk muridnya). Lantas demikianlah saya sebut bahwa menjadi pengajar haruslah memiliki dedikasi siapa yang diperjuangkan agar makna ‘keberpihakan’ tersebut menjadi jelas. Esensi ke-guru-an akan menjadi pantas disandang ketika ilmu pengetahuan yang diberikan kepada murid-muridnya akan menghasilkan pemahaman yang bernilai. 

Barangkali pemahaman ini berbeda dengan pendapat-pendapat lain yang muncul, hanya saja bagi saya esensi dasar dari ilmu pengetahuan sesungguhnya adalah nilai itu sendiri. Bagaimana mungkin seorang pengajar berharap bahwa murid-muridnya di sebuah jurusan pertanian akan mendedikasikan ilmunya bagi perkembangan pertanian dan kesejahteraan petani kecil, jika dalam prosesnya si pengajar tidak menekankan kemana seharusnya si murid harus berpihak.

Bogor, 20 Februari 2012