Rabu, 30 Januari 2013

Kehilangan (Tribute to Mbah Kakung)






Sepi.

Biasanya kamar itu semarak, namun pagi tadi ketika pertama kali saya memasukinya terasa kosong. Belum lagi kurang satu sosok yang menyambutku di depan pintu. Kabarnya begitu tiba-tiba, sebelumnya 3 minggu yang lalu saya pulang dan masih menemaninya bicara. Membicarakan hal sederhana, kesukaan-kesukaannya, menwarinya makan, membuatkannya jus, membukakan madu, memegang kakinya. Pagi ini ketika saya datang, semuanya sudah kosong. Orang-orang banyak berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawa. Mbah Kakung saya meninggal kemarin pagi (26 januari 2013) pukul 08.00 WIB.

Kemarin pada jam yg sama, saya sedang menuju ke Baranangsiang untuk selanjutnya ke TMII karena ada resepsi pernikahan rekan kantor. Tidak seperti biasanya memang, hawa kehilangan dan sering merasa kosong sudah saya rasakan sejak terakhir bertemu Mbah. Saat berangkat kembali ke Bogor 3 minggu yang lalu pun rasanya tidak tega. Dan kemarin pagi ketika pukul 08.30 ayah saya menelpon dan mengabari bahwa Mbah sudah dipanggil, saya tidak bisa berkata apa-apa. Hanya air mata yg leleh berlahan. Begini rasanya kehilangan orang yang saya cintai. Begini rasanya mendengar ayah saya menangis kehilangan sosok Bapaknya.

Hari ini rasanya Mbah masih ada, saya masih ingat bagaimana beliau berdiri di depan pintu menyambut saya datang. Ingat bagaimana beliau duduk di kursi dan bercerita, Ingat bagaimana beliau meminta dipijat, bagaimana beliau tertawa. Begini rasanya kehilangan orang yang begitu dekat. Sepi.
 
Mbah, saya cucumu yang tidak mau masuk pesanteren, cucumu yang menyukai cerita-ceritamu, cucumu yang paling jauh dari tempatmu. I love you, Mbah..

27 Januari 2013, Karangsengon, Banjarnegara