Minggu, 20 Januari 2013

Jatuh Cinta


Picture from here: click!

Mungkin seperti ini rasanya, jatuh cinta. Saya termasuk orang yang skeptis dalam hal mengelola hubungan intim dengan lawan jenis. Namun, alih-alih menyelamatkan saya dari perasaan yang terlalu berlebih, kadang skeptisme tersebut justru menuntun saya terus berpikir: apa yang sedang terjadi padanya. Saya menelusuri jalan pikirannya, pola hidupnya, dengan siapa ia dekat, apa ketertarikannya, semuanya ingin saya ketahui tanpa ia tahu bahwa saya sedang mempelajarinya. Dan saya sangat fokus untuk itu, tipe setia barangkali.

Lalu saya katakan lagi, seperti ini rasanya jatuh cinta. Saya bangun pagi-pagi sekali, berteriak, senyum-senyum sendiri, memanggil namanya dengan gemas, dan meski baru semalam saya bertemu, saya sudah kangen setengah mati. Dan dasyatnya, saya sangat sehat karena perasaan ini. Setelah itu, pada akhirnya saya gemas dengan diri saya sendiri, ternyata pemicu semangat paling mujarab (saat ini) adalah ia.

“Kangen itu apa?” Tanyanya semalam.

“Kangen itu reaksi” saya blank, saya terpesona dengannya, memabukkan.

“Bukan itu, carilah jawaban yang lebih realistis” katanya. Dalam hatiku: realistis itu kamu, yang di depanku sekarang. “Kangen itu sepi, kangen itu tidak lengkap, kangen itu ketika kamu merasa ada yang kurang dalam diri kamu.” Lanjutmu.

“Hmmm ya” saya hanya tersenyum, mengamatinya sebentar-sebentar. Saya suka sekali gesturnya yang sangat cuek. Damn! I’m in love. 

Lalu...

“Terima kasih, lekas tidur” itu pesannya ketika saya sudah lengkap dengan selimut dan bantal di bawah kepala. Ohoooo, lots of thanks for you first, makes me feel blessed everytime. Saya tidur sangat nyenyak tadi malam.

Tidak ada yang didramatisasi dari perasaan dimana seseorang merasa sangat bahagia bertemu dengan orang yang dikasihi. Saya memiliki pertanyaan yang sampai hari ini jawabannya masih berupa kepingan-kepingan karena saya belum mengalami sendiri: “Mengapa laki-laki dan perempuan yang menikah karena saling mencintai tidak merasa bosan?” Bosan yang saya maksud adalah bosan dengan pasangannya, bukan jenuh di waktu-waktu tertentu (sebab itu pastinya ada). “Mengapa cinta itu tumbuh dan kian subur setiap harinya?” “Faktor X apa?”

Saya pikir, karena mereka jatuh cinta setiap hari. Merindukan orang yang dikasihi setiap waktu. Menjadikan momen-momen kebersamaan sebagai detik yang selalu ditunggu. Dan, seseorang yang mencintai selalu berpikir untuk menjadi yang terbaik bagi orang yang dicintainya dengan berusaha untuk saling membahagiakan.

Yang saya tuliskan adalah sebuah kondisi ideal mencintai, bagi yang berpikir lain silahkan. Saya hanya sedang jatuh cinta pada ia yang membuat saya begitu semangat seperti ini. Sejak waktu itu, waktu bertahun-tahun yang lalu, sampai hari ini. 

Damn, I’m in Love!