Jumat, 01 November 2013

Have a Great Weekend

Ceritanya sedang menyemangati diri sendiri dan teman sekelas SPD angkatan 2012 dan 2013, di tengah-tengah peristiwa paling menegangkan dalam momen kuliah (baca: yang menegangkan adalah paper 10 biji yang harus kelar semuanya dalam 2 minggu). Rencananya besok kami ke Mega Mendung, mau tanam pohon di "Hutan Organik" Kelompok Tani Mega Mendung. Ini Berkah, sembari menghilangkan penat, kami bisa sembari ketawa-ketiwi, foto sana-sini, curhat akademik (tetep aja berat), hehehe but i love it.

Lokasinya menggugah siapa saja ingin menanam pohon dan menghijaukan lingkungannya, plus dalam bayangan saya ada satu porsi besar ikan dabu-dabu yang siap disajikan oleh tuan rumah lengkap dengan sambal dan lalapnya. Dan, tetap saja saya masih belum bisa makan pedas. Besok, ya besok, saya mau refreshing dulu sebelum ketemu kawan baik saya selama kuliah di SPD (Marx, Weber, Durkheim, Smelser, dll), juga saudara yang harus saya rawat sebaik mungkin (tesis dan kroni-kroninya :D). Kita lihat saja besok dan tunggu postingan kegiatannya ya (siapa yang disuruh nunggu?)... hehehe tentu saja pengunjung blog ini, baik yang sekedar stalking, bener-benar baca, atau refresh juga dari kepenatannya.

Hidup indah, yuk nikmati saja. Jangan jadi ibu tiri untuk kehidupan kita sendiri.

Selamat menikmati weekend, apa pun yang anda kerjakan, dear readers :*

Baranangsiang, 01 November 2013
16:16

Selasa, 29 Oktober 2013

Happy Birthday Obin :D


Happy Birthday Obin :D
Seorang sahabat mengatakan bahwa setiap hari adalah hari kejujuran sedunia: untuk bisa mengakui kelebihan dan kekurangan orang lain serta menjadi diri kita sendiri. Berada di sekitar orang yang kita sayangi sekaligus menyayangi kita juga adalah bagian yang sangat membahagiakan dalam hidup. Tetap menjadi diri kita sendiri di tengah begitu banyaknya tekanan untuk “menjadi bukan diri kita” juga merupakan bagian yang harus disyukuri dan dipertahankan (tentunya untuk hal-hal yang baik). Semua proses itu bisa terjadi seiring dengan berjalannya waktu, ya, menjadi tua adalah saatnya mejadi lebih dewasa, menjadi semakin bijak dan pantas untuk berada di titik umur kita sekarang.
 
23, bukan angka yang biasa. Barangkali untuk sebagian orang hanya sekedar angka yang bisa ditulis dengan ballpoint atau spidoll merk apa saja, diketikkan di atas keyboard atau keypad dengan berbagai cara. Tapi 23 kali ini adalah “dua puluh tiga” penanda bahwa telah ada hampir dari seperempat abad hidup yang dihabiskan untuk banyak hal. Sudah ada banyak orang yang ditemui, buku-buku yang dibaca, film yang ditonton, musik-musik yang didengarkan, juga gagasan-gagasan yang didiskusikan. Sampai di bilangan 23 adalah cacah yang tidak hanya sekedar angka, tapi esensinya luar biasa untuk selalu terus dan terus harus disyukuri.

Selamat Ulang Tahun, Obin. Kata orang bijak hidup adalah tempat singgah sementara untuk sesuatu yang lebih abadi. Tapi karena kita manusia biasa, cukuplah kita pahami bahwa hidup adalah melakukan hal-hal baik yang tidak hanya untuk memuaskan ego kita tetapi bisa juga memberikan manfaat bagi sesama dan semesta. Di usia 23 ini semoga senantiasa menjadi pribadi yang menyenangkan, pribadi yang selalu meningkatkan kapasitas, menyayangi dan disayangi, juga hal-hal baik lainnya yang mungkin sederhana tetapi maknanya akan menjadi sangat istimewa.

Kita akan selalu punya sejumput makna dari bagaimana kita mengenal orang lain. Dan bagi saya Obin adalah adik, sahabat, teman diskusi yang menyenangkan. Kadang begitu kekanakan tapi dalam banyak hal juga menjadi sangat dewasa. Obin adalah manusia yang rela didandani ala hijabers oleh anggota Kuil Cinta, dan hal ini menunjukkan bahwa kamu adalah bagian dari keluarga mereka, keluarga bagi sahabat-sahabat yang menyayangimu. Tetap semangat dan humble ya adikku, sukses studinya (sukses ujian akuntansinya yaaa), kalau beli HP jangan lupa beli sinyalnya juga, yang setia sama Yulia, jangan lama-lama kuliah S2-nya (cepet lulus dengan baik), dan semoga selalu menjadi yang membanggakan dan dibanggakan oleh semua orang. Amin (kalau mau traktir jangan tanggung-tanggung ye!)

Have a very blessing year on your 23th. 

Bogor, 29 Oktober 2013
21:56

Jumat, 18 Oktober 2013

Make it Worth

Picture from here: click!
Perumpamaannya sederhana, apa yang harus dilakukan ketika seseorang berada di tengah-tengah, kemudian ragu untuk mengambil langkah ke depan (maju) atau mundur, apa yang harus dilakukan? Itu topik diskusi kami, saya dan sahabat saya di sela-sela waktu menjelang magrib beberapa waktu yang lalu. 

"Kalau sesuatunya itu belum pernah kita alami, sebaiknya maju untuk tahu seperti apa. Jika ternyata tidak cocok, biar pengalaman menjadi guru yang terbaik.Namun jika sudah pernah merasakan atau mengalami dan konteks saat ini adalah ingin mengulanginya, plus ada keraguan didalamnya maka sebaiknya tinggalkan, sebab itu pertanda yang tidak baik." Tutur sahabat saya dalam pembahasan itu.

Tidak ada yang saya tanggapi, saya hanya mencerna perkataan itu sambil berpikir, manusia yang cerdas tidak akan jatuh ke lubang yang sama berkali-kali, apa bedanya dengan keledai sebagai simbol hewan yang bodoh? Jika bisa meloncat kenapa harus jatuh? Apa fungsi akal jika manusia tetap bodoh. Saya mencoba mengalirkan pembahasan ini pada pemikiran yang demikian.

"Menghindar atau hadapi?"

"Hadapi" jawabnya. Saya juga tidak perlu bertanya mengapa harus dihadapi, bukankah pengecut sekali jika manusia menghindari apa yang seharusnya dihadapi? Tapi seringkali timbul paradoks, bahwa sebaik-baik cara menghadapi adalah menghindar itu sendiri. Nah, untuk yang satu ini perlu penelaahan khusus, paradoks itu muncul karena ada perasaan mendua (ambivalensi) serta keraguan itu sendiri.

 "Memulai atau menunggu? apakah bermakna jika melakukan pengorbanan yang lebih, seperti terus berlari  untuk sesuatu yang ia sendiri naik mobil."

"Pastikan sesuatu yang  dikejar itu memang benar ingin dikejar, akan tidak bermakna dan tidak penting juga jika memaksakan diri."

"Sesuatu itu memang benar ingin dikejar, dan memang harus dikejar. Jika dianalogikan dengan berlari mengejar sesuatu yang ada di dalam mobil, maka begini, penumpang yang ada di dalam mobil itu beberapa kali keluar memberikan minum dan juga memberikan semangat supaya si pelari tetap kuat untuk melakukannya. Tapi namanya juga lari kadang ngos-ngosan, kadang mau berhenti, dan banyak godaan di jalan, ada yang mengajak ke pinggir, ada yang mengejek dan ada juga yang menyoraki sebagai tidak tahu diri. Tapi tidak sedikit juga yag terus menyemangati."

Diskusi ini menjadi panjang barangkali, tapi memang harus ada kesimpulan dari topik absurd yang sudah kami mulai. Seperti biasa, bagi saya persahabatan bukan masalah sebutan, persahabatan adalah soal makna dan seberapa kami bisa saling berbagi tentang berbagai hal yang bermanfaat. Jadi menurut saya picik sekali jika seseorang membatasi sebuah hubungan hanya dengan sebutan nama. Saya berprinsip, siapa pun yang saya kenal maka dia harus mendapatkan hal positif dari saya dan juga sebaliknya. Bukan masalah take and give, tapi give more and God will do His task

Lalu sahabat saya menjawab, setelah beberapa saat terdiam. Mungkin ia berpikir kata-kata apa yang paling tepat untuk bisa disampaikan kepada saya yang bawelnya luar biasa ketika ingin mengetahui sesuatu. Meskipun dalam hal ini, saya juga punya versi jawaban sendiri, tetapi saya berusaha untuk bisa obyektif dengan diri saya sendiri. Sebab beda kepala, beda cerita.

"Terkadang, sesuatu akan senang jika mengejar/dikejar. Tapi setelah terkejar justru merasa bingung dan aneh. Akhirnya yang dilakukan adalah menjauh untuk dikejar lagi. Pertama yang harus dilakukan adalah mengukur seberapa kuat dan sabar kamu mengejar, jika dua hal tersebut tidak bisa kamu penuhi, sebaiknya jangan dipaksakan. Kedua, pastikan bahwa ia akan membawamu untuk ikut naik ke dalam mobil, tidak selamanya kamu akan berlari. Ketiga, jika poin pertama dan kedua sudah kamu pastikan maka terus semangat untuk berlari dan mengejar, usaha keras pasti akan dibalas setidaknya oleh Tuhan."

Saya mafhum. Lalu obrolan kami berhenti sejenak. Saya tidak mengumpan pertanyaan apa pun, hanya berpikir bagaimana mengetahui bahwa sesuatu itu pasti atau tidak pasti. Tuhan Maha Tahu tentang kepastian itu. Sore itu menjadi sore introspeksi, sedikit obrolan yang membuka mata, bahwa seberapa pun besar keinginan kita untuk mendapatkan sesuatu sesungguhnya ada tangan yang Maha Menggenggam apa yang kita inginkan itu.

"Saya ingin belajar menyerah" kata saya dalam hati, tapi buru-buru saya hapus pemikiran itu. Lalu saya mengirimkan pesan ke sahabat saya, ucapan terimakasih atas obrolan ringan yang barangkali absurd tetapi bermakna hingga bisa saya tuliskan. Optimisme itu baik, optimis yang baik bukanlah over confident.

"Jangan menyerah, melanjutkan berlari atau tidak itu adalah pilihan" kata sahabat saya. Saya tahu kenapa bisa nyambung setiap kali kami berbicara, frekuensi kami sama.

"Tidak akan menyerah, sebab satu-satunya yang menguatkan kita adalah keyakinan" balas saya. Ya, saya lebih percaya diri dan yakin ke depannya, berhasl atau tidak itu soal bonus, hal yang terpenting mengenai apa yang kita jalani adalah prosesnya.

Saya hapus pikiran saya tentang belajar menyerah, tidak ada kata menyerah untuk sesuatu yang bisa diusahakan. Mengukur batas kemampuan bukan berarti menyerah, sebab terus melanjutkan dengan tidak berlari itu juga bagian dari usaha, itu bukan menyerahkan diri pada keadaan. Menyerah berarti tidak percaya pada kemampuan Tuhan yang Maha Bisa.

Setiap orang harus dewasa, bukan growing older tetapi growing up. Saya mengerti, mungkin ada banyak yang tidak setuju dengan konsep 'jangan menyerah' versi saya, apa yang saya katakan bahwa berhenti itu bukan menyerah tetapi suatu pilihan juga bisa saja menuai protes. Tapi hidup penuh dengan teka-teki, kadang kita perlu sangat percaya diri bahwa kita memiliki sesuatu, tetapi di satu sisi kita juga harus menyisihkan ruang untuk menerima bahwa sesungguhnya kita tidak pernah memiliki apa-apa. Menjadi diri sendiri, jangan pernah memberika judgment kepada orang lain kemudian merasa mampu membentuk orang itu sesuai keinginan kita. Dalam status seperti apa pun, keluarga, pacar, sahabat, atau sekedar kolega.

Jangan menyerah.

Ketika segala sesuatunya masih samar, tugas pribadi kita lah untuk memperjelas dan mempertegas. Tidak pernah ada jalan mulus untuk sesuatu yang worth it bagi hidup kita. Stay positive, tomorrow will be amazing.

Salam,
Cibanteng-Bogor, 18 Oktober 2013 17:56



Rabu, 09 Oktober 2013

Representasi Sosial: Parawali


Bendera Parawali
Semalam saya bertemu dengan sahabat saya dan membicarakan hal-hal sederhana yang seringkali mungkin dianggap tidak bermakna untuk sebagian orang. Salah satu hal yang kami bicarakan adalah Parawali. Apa itu Parawali? Itu adalah fans grup band Wali. Mengapa sampai pembahasan obrolan kami mengarah ke topik itu, kami juga tidak menyadari sebabnya. Yang jelas, kami tiba-tiba langsung tertawa ketika dari tempat makan yang kami singgahi terdengar lagu Nenekku Pahlawanku, lagu yang digadang-gadang Wali dalam album mereka yang paling baru (saya tidak mengikuti perkembangannya, tetapi kalau diminta menyanyi saya hapal liriknya). Kemudian sahabat saya mengatakan, "Tuh idola lu nyanyi, apa nama fans-nya?" 

"Parawali" kemudian kami sama-sama tertawa.

Apa yang mendasari mengapa kami tertawa? Ya, dalam istilah psikologinya kami memiliki pengetahuan akan makna yang sama terhadap lagu wali (representasi sosial) yang menjadikan kami 'nyambung' ketika baru saja mengucapkan istilah Parawali. Representasi sosial ini diperkenalkan pertama kali oleh Sergei Moscovici pada tahun 1961 dengan bertolak dari konsep representasi kolektif Emile Durkheim. Bahasa sederhananya, representasi sosial ini adalah hasil dari interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan kelompok yang menyebabkan munculnya pengetahuan yang sama akan makna dari objek, ide, atau peristiwa tertentu. Intinya, representasi sosial itu produk dari interaksi dan komunikasi. 

Kembali ke pembahasan Parawali, mengapa saya yang bukan fans Wali dan sahabat saya yang juga bukan fans Wali memiliki skema dan pengetahuan yang relatif sama terhadap grup Wali? Jawabannya simpel, kami terbiasa untuk menolak lagu-lagu Wali yang sebenarnya sangat easy listening, liriknya sederhana dan mudah dicerna akal. Umumnya manusia, semakin berusaha menolak sesuatu justru akan semakin mengingatnya-dalam hal apapun. Musik wali itu menurut saya sangat merakyat, dari orang tua sampai anak-anak bisa mendengarkannya, jadi jangan heran kalau saya juga hapal beberapa lagunya meskipun saya bukan Parawali sejati. Saya dan sahabat saya punya representasi sosial yang sama mengenai Wali-meskipun kami tidak mau disebut Parawali.

Saya menuliskan ini karena kebetulan habis belajar teori representasi sosial dan kebetulan obrolan kami semalam bisa menambah pengetahuan saya tentang teori tersebut. Belajar dengan memberikan contoh dari apa yang kita alami sendiri akan jauh lebih mudah untuk diingat dibandingkan bersusah payah mencari contoh yang keren tapi mudah dilupakan. 

Tabik.

Jumat, 16 Agustus 2013

Selamat Idul Fitri :)



Ada kalimat-kalimat merdu yang sedianya sedang kamu dengarkan kali ini, atau juga sedang kamu lantunkan bersama sanak famili. Takbir, tasbih, tahmid, kalimat-kalimat atas keagungan Asma-Nya. Ada kebahagiaan yang membuncah dari lubuk hati atas hari yang memenangkan perjalanan semua hari, hari fitri. Ada rasa haru yang membumbung tatkala ramadan tahun ini meninggalkan kenangan-kenangan kebersamaan pada orang-orang yang mencintainya. Kita adalah bagian dari perjalanan waktu, hingga saat ini sampai batas dimana tidak ada satu pun yang bisa menebaknya.

Barangkali ada sejumput penyesalan atas kesalahan dan kesedihan diri di masa lalu, penyesalan yang membekas dan menggumpal. Lalu kita menyalahkan hari, menapakinya dengan rutuk dan rasa suntuk. Namun begitulah, jika kita adalah bagian dari perjalanan waktu, maka kita harus mau menjalankan skenarionya dengan durasi yang tentu akan berakhir. Perlahan penyesalan itu terhapus oleh kebaikan-kebaikan yang bisa kita ciptakan, kesedihan itu bisa terbasuh oleh kebahagiaan-kebahagiaan yang bisa kita tularkan.

Hari ini, di penghujung dan permulaan hari, aku merasa menjadi manusia yang sangat berbahagia. Pada perjalanan ini aku bisa melihat senyum Ibu Bapak, tertawa dengan lepas bersama orang-orang tersayang, juga hal yang menjadi kebaikanku adalah mengenalmu. Pribadi yang melengkapi berkah dan berita gembira di bulan yang penuh rahmat. Terimakasih untuk kesempatan terbasuhnya kesedihan dan momen yang menciptakan kebahagiaan.

Mari sambut syawal dengan lantunan keagungan Asma-Nya, semoga kita menjadi hamba yang beruntung. Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

#catatan kecil untuk kamu
Banjarnegara, 07 Agustus 2013

Kamis, 20 Juni 2013

And We Talk about Passion, Again and Again

picture from here: click!

Dear Life,

How long you'll bring us to your own meaning? To the place that we call destiny.

Ada percakapan panjang yang tidak berakhir di satu titik, antara dua orang, antara tiga orang, antara beberapa orang yang sedang bersama. Percakapan kemarin dan hari ini, percakapan yang akan terus berlangsung  sampai titik itu ditemukan: titik pemberhentian garis yang saat ini masih di ulur. Passion. Lentera jiwa. Jalan hidup. Apa pun namanya, itu lah satu hal yang membuat orang rela bekerja keras dan terus berjuang.

Passion itu tentang sinergitas yang matang antara rasionalitas, kreatifitas, yang dibungkus dengan emosi hati yang dinamis namun tenang (saya, Turasih, 2012). @turasih90

Passion adalah sesuatu yang membuat kita tidak sabar untuk menanti hari esok, hanya untuk melakukannya lagi #AndrisKece (Andris Ghiffari, 2012)-via bbm.@andrisghiffari


Dibikin capek sama si passion tapi nggak pernah capek, malah seneng. Ditinggal kemana-mana tapi si passion selalu ngikut (Vitadesy, 2012)-via bbm. @vitadesya

Kemudian teman saya Vitadesy kembali memberikan makna passion melalui akun twitternya secara lebih gamblang: mau nambah! jadi gini, aku baru sampe rumah. Cape? Jangan ditanya, tapi kalau masih harus buat-buat @mmmmouch gak berasa capek sedikit pun.

Hampir tengah malam saya membaca mention teman saya di twitter tersebut dan kemudian saya berhenti menulis postingan ini lalu berpikir, betapa dahsyat energi orang-orang yang menemukan passion dalam perjalanan hidupnya, menemukan apa yang benar-benar dicari, menemukan kebahagiaan. Ah, saya kagum dengan mereka yang seperti itu. 

Lalu saya melanjutkan menulis postingan ini lagi sambil mendengar lagunya Adele: Love Song.

"whenever i'm alone with you, you make me feel like i am young again...." kira-kira begitu salah satu bait lagu Adele, dan bagi saya sesuai bahwa passion itu semacam love. Mengerjakan apa yang menjadi passion adalah seperti orang yang selalu jatuh cinta, selalu merasa bersemangat.




Apa passionmu? 

Temukan kebebasan dalam dirimu, lakukanlah, berkaryalah!



 



Senin, 03 Juni 2013

Jodoh



Satu-satunya yang bisa menguatkan kita tentang abstraksi masa depan, waktu yang akan datang, atau momen setelah ini adalah keyakinan. Kekuatan hati. Untuk meyakini bahwa nanti, di saat selanjutnya diri kita akan menemukan sosok yang paling pantas untuk bisa kita bagi kebahagiaan, pun bisa menjadi teman yang paling tepat ketika kita gelisah. Bersabarlah, maka kita akan menemukan jalannya.

Pipiku memerah karena begitu bungah mendengar kabar itu beberapa hari yang lalu. Pernikahan, tante terbaikku telah menemukan jalannya kali ini, di bilangan 34. Siapa yang menyangka bahwa akhirnya penantian panjang untuk kami semua tiba di batas finish untuk kemudian memulai langkah yang baru? Aku menitikkan air mata, bukan hanya karena akad nikah itu akan dilaksanakan esok hari, 04 Juni 2013, tetapi pelajaran kesabaran ini menjadi pemantik bagiku sendiri. Tuhan tidak pernah mengingkari janji, Dia hanya menjadikan janji itu sebagai misteri dan manusia diberi keleluasaan untuk menebak-nebak apa yang akan terjadi melalui akal.

Jodoh, rezeki, mati. Siapa yang mengira bahwa tante terbaikku yang sudah seperti ibu sendiri menemukan punggawa hatinya di usia yang sudah lewat kepala tiga. Usia yang demikian sudah dinilai terlalu tua jika di desa, meskipun di kota who cares? Aku bersyukur, berbahagia, untuk kesempatan pembelajaran kesabaran selama 23 tahun bersamanya. Menikmati kasih sayang dan jerih yang dia ikhlaskan untukku hingga mencapai di titik ini. Aku bahagia, atas karunia Tuhan yang memberikan Ibuku seorang adik yang menjadi tante kami. Selamat berbahagia, Bu Lik. 

I’m really proud of you, for your soul and goodness. I love you.

Happy wedding my best auntie :*

Senin, 06 Mei 2013

Mendorong Kegiatan Produktif Masyarakat Pedesaan: Sinergi Teknologi Tepat Guna dengan Teknologi Padat Modal



Implementasi teknologi di negara berkembang, khususnya di pedesaan mengarah pada dualisme ekonomi dimana metode sistem produksi dan transplantasi proses produksi di negara maju tidak selalu berhasil dalam meningkatkan produktivitas maupun penyebaran keuntungan ke semua kelas sosial (Saeed, 1994). Dalam hubungannya dengan masyarakat, teknologi harus difungsikan dalam hubungan informasi dan landasan pengetahuan yang didasarkan pada sistem organisasi sosial masyarakat setempat. Rifkin (1981) dalam Saeed (1994) menyebutkan bahwa teknologi harus dilihat sebagai pelibatan proses teknik dan manajerial dalam pemilihan input dan output ke sistem lingkungan serta penciptaan sistem organisasi dan aplikasinya untuk mengatasi kekacauan, memelihara persatuan, dan menggerakkan pertumbuhan.

Indonesia sebagai negara berkembang dengan tenaga kerja yang melimpah mempunyai keunggulan komparatif dalam industri-industri padat karya karena tenaga kerja relatif murah dibanding di negara yang mengalami kelangkaan tenaga kerja. Konsep keunggulan komparatif ini dikritik karena dianggap kurang relevan bagi perkembangan ekonomi Indonesia karena sifatnya foot lose. Konsep keunggulan komparatif tersebut digantikan oleh keunggulan kompetitif yang memperhitungkan semua faktor pokok yang mempengaruhi daya saing pada sistem produksi. Keunggulan kompetitif sangat menekankan produksi barang-barang terdiferensiasi yang bermutu tinggi dan mempunyai ciri khas yang sesuai dengan selera konsumen dan efisien. Sektor yang memiliki keunggulan kompetitif ini antara lain adalah perusahaan yang bersifat padat modal dan teknologi tinggi.

Pendekatan pembangunan yang berlandaskan teknologi padat modal disebabkan adanya keyakinan bahwa teknologi ini secara komersial lebih efisien dibandingkan teknologi padat karya. Namun implementasi produksi padat modal di negara berkembang seperti Indonesia menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan struktural, regional, dan manfaat pembangunan. Hubungan eksploitatif terjadi antara pengusaha besar terhadap pengusaha kecil, terhadap konsumen melalui penentuan harga di atas wajar, dan terhadap buruh karena rendahnya tingkat upah minimum memunculkan kondisi “rente ekonomi” (Arief, 1998).

Pemfungsian teknologi guna menciptakan hubungan yang setara antara berbagai pihak mensyaratkan peranan beberapa sistem yang saling berinteraksi yaitu politik, ekonomi, produksi dan sumberdaya. Pemilihan dan manajemen teknologi harus terintegrasi dengan fungsi-fungsi yang relevan dari sistem-sistem tersebut yang meliputi[1]: 1) Penciptaan sistem intensif oleh pemerintah yang menentukan pilihan teknologi yang menuju pada pemilihan material yang cocok dari lingkungan setempat; 2) Alokasi sumber daya (oleh pemerintah) antara aktifitas ekonomi dan instrumen kontrol untuk memaksimalkan kesejahteraan dan sekaligus mengatasi konflik politik; 3) Transformasi sumber daya yang efisien ke dalam troughput (barang, jasa, energi) dengan pilihan teknologi yang smooth  dan trouble-free adoption; 4) Distribusi pendapat yang wajar melalui transaksi yang terjadi antar aktor ekonomi yang ada pada sistem serta regenerasi limbah di sistem lingkungan.

Pemilihan teknologi untuk memberikan fasilitas perbaikan dalam masyarakat mensyaratkan sebuah kebijaksanaan teknologi yaitu[2]: 1) Mempunyai efek meningkatkan produk barang dan jasa yang tersedia bagi masyarakatnya tanpa adanya diskiriminasi pada jenis potensi alam yang ada; 2) Menyebabkan sedikit mungkin kontrol pemerintah sehingga pertambahan penduduk dapat dikonsumsi tanpa berlipatgandanya instrumen kontrol; 3) Tidak membatasi keuntungan dari naiknya produksi pada kelompok kecil masyarakat tetapi harus disebarkan ke seluruh bagian masyarakat; 4) Memiliki metode produksi baru yang efisien yang bersifat trouble-free implementation.

Kenyataan saat ini menunjukkan bahwa telah banyak teknologi yang diusahakan oleh masyarakat, namun sebagian besar dicirikan oleh karakteristik yang kurang menguntungkan. Karakterisik yang dimaksud adalah tidak kontinyu, skala usaha kecil, kualitas rendah, sederhana, pasarnya lokal dan terbatas, dan manajemennya terkait dengan kepentingan rumah tangga. Di sisi lain terdapat aktifitas industri dengan teknologi maju yang kondisinya berkebalikan dengan apa yang diupayakan oleh masyarakat. Kenyataan ini mengindikasikan bahwa perlu upaya untuk mengintegrasikan penerapan teknologi sederhana dengan teknologi padat modal. Beberapa komponen penting yang perlu diperhatikan dalam upaya integrasi teknologi tepat guna dengan teknologi padat modal adalah: 1) Pengembangan teknologi didasarkan pada wilayah dan potensi sumberdayanya sehingga mampu menciptakan resource based industry; 2) Pola usaha untuk mengintegrasikan teknologi tepat guna dengan teknologi padat modal adalah pola kemitraan; 3) Transfer teknologi harus dirancang secara integratif mulai dari pusat hingga daerah, bahkan sampai pada level operasional di industri kecil menengah yang ada di pelosok pedesaan; 4) Manajemen pemasaran harus dilakukan secara tepat dengan membentuk jejaring usaha dengan prinsip kesetaraan sehingga memiliki kekuatan untuk menembus pasar global seperti halnya industri besar; 5) Model kebijakan endogenus yang saling menumbuhkembangkan antara industri hulu hingga hilir.


[1] Saeed, Khalid, 1994, Development Planning and Policy Design, New Castle:  Asgate Hal. 141
[2] Ibid Hal. 141-142

Referensi:

Arief, Sritua, 1998, Pembangunanisme dan Ekonomi Indonesia, Jakarta: CPSM.
Dharma, Agus, 2012, Pengaruh Penerapan Teknologi Terhadap Perubahan Struktur        Masyarakat di Indonesia, http://staffsite.gunadarma.ac.id/agus_dh/ [diunduh,   04 Mei 2013, pukul 14.23 wib]
Mahlinda, 2012, Pengembangan Teknologi Tepat Guna Untuk Pemberdayaan Usaha  Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Vol. 5, No.1, hal. 16-30.
Munaf, Dicky R, et al, 2008, Peran Teknologi Tepat Guna Untuk Masyarakat Daerah Perbatasan Kasus Propinsi Kepulauan Riau, Jurnal Sosioteknologi Edisi 13      Tahun 7, April 2008, hal. 329-333.
Saeed, Khalid, 1994, Development Planning and Policy Design, New Castle: Asgate.
Tinambunan, D, 2008, Teknologi Tepat Guna Dalam Pemanfaatan Hutan di Indonesia: Perkembangan, Keunggulan, Kelemahan dan Kebijakan yang Diperlukan untuk Optimasi Pemanfaatannya, Jurnal Analisis Kebijakan        Kehutanan. Vol. 5 No. 2, Agustus 2008: 59 – 76.
Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 3 Tahun 2001 Tentang Penerapan dan Pengembangan Teknologi Tepat Guna.
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 20 Tahun 2010 Tentang Pemberdayaan       Masyarakat Melalui Pengelolaan Teknologi Tepat Guna.