Kamis, 22 November 2012

Tentang Kebebasan

Tadi malam, di tengah menyelesaikan pekerjaan saya menulis, saya online kan akun Skype saya. Kemudia seorangteman yang sedang melakukan backpacker ke Negeri Kanguru menyapa saya, perbincangan pun dimulai dari hal yang remeh-temeh sampai akhirnya dia bertanya:

"Bagaimana kalau saya betah dan memutuskan untuk tinggal di sini (-Australia)?"

Saya menjawab dengan ringan:

"Mengapa kamu ingin tinggal di sana?"

Dia menjawab, "Saya merasa bebas di sini, bebas dalam pemaknaan saya".

Saya berpikir sejenak kemudian meneruskan perbincangan tersebut. Saya sampaikan bahwa kebebasan sebenarnya hanyalah soal persepsi yang kemudian menciptakan skema makna bebas menurut diri kita sendiri. Ada orang yang merasa bebas jika sudah memiliki uang banyak, ada yang merasa bebas dengan menjelajahi dunia, ada yang merasa bebas jika sudah beristri/bersuami, ada yang merasa bebas jika sudah lulus sarjana, dan ada banyak bentuk kebebasan lain, termasuk bebas dari penjara. Tapi bagi saya kebebasan itu tidak bisa dimaknai secara rinci seperti definisi-definsi ilmiah. Kebebasan itu dari hati, kebebasan adalah ketenangan. Siapa yang menjami jika seseorang sudah memiliki uang yang bahkan digitnya sendiri tak terhitung telah bebas? Siapa juga yang mampu memberikan kepastian bahwa berkeluarga, lulus sekolah, atau pun keluar dari penjara dalah situasi dimana seorang menjadi bebas? Maka dari itu saya menyebut bahwa kebebasan adalah tentang persepsi.

Kebabasan tidak berada di satu titik, ia berotasi dan selalu menemukan titik-titik yang baru dalam perjalanannya. Saya teringat dengan salah satu iklan provider yang menyebutkan bahwa 'bebas itu nyata'. Ya, kebebasna itu nyata jika diri kita yang memiliki persepsi tentang kebebasan bisa mensinergikan akal dengan qalbu, menyelaraskan diri dengan semesta dan tidak merugikan sekitar kita.

Sudahkah merasa bebas? Temukan persepsimu tentang kebebasan,  feel and act!