Jumat, 05 Oktober 2012

Suatu Saat

picture from here: click!

Semarang | 05 Oktober 2012

Hampir genap purnama menjelajah rotasinya, tapi bulan tak pernah berujung, ia akan kembali di satu titik yang menjadi awal dan akhir. Jika hari ini aku pergi ke tempat baru, menghitung jengkal yang kujejak, pergi jauh dari tempatmu berdiri, apakah berarti bahwa aku telah meninggalkanmu? Atau kamu, mungkinkah jika perasaan itu telah dilipat rapi, ditempatkan pada tumpukan paling bawah, dibiarkan berbulan-bulan tak dihirau, apa berarti rindu telah berjamur dan apak? Entahlah, yang jelas rindu hanya berada di satu titik, ia berawal di titik itu dan akan berakhir di tempat yang sama, seperti rotasi bulan.

Aku tidak tahu, mungkin saat ini wajahmu sedang begitu polos dengan dengkur lembut dan memimpikan masa depan, tidak ada aku disana, tidak ada kita. Mimpimu adalah tawa yang lepas dan hidup yang bebas. Dan karena itu aku bersedih karena tak bisa membebaskanmu dari penjara yang kamu caci maki selama ini. Penjara yang mengukung keberhargaanmu: penjara hati.

Jika mereka bilang bahwa yang paling menyedihkan adalah ketika dua orang saling mencintai namun sama-sama merancang waktu untuk mengucapkan "kita harus berpisah" adalah hal yang paling menyakitkan, bagiku itu hanya rekaan. Bukankah berpisah adalah jalan? lompatan yang lapang untuk kita bisa menjejak langkah baru, aku tak tahu! Sebab kamu hilang.

Ada gambar yang terserak di ruang imajinasiku. Kamu yang terkumpul menjadi penggenap puzzle-puzzle asing, kamu yang memupuk kepercayaan atas kebebasan dengan semestinya, kamu yang hari ini hanya mampu berdiri untuk melihat dan menunggu sebuah saat: suatu saat, saat yang tepat.

Sapaku ingin kutuang pada jeda yang kamu ciptakan, menakutkan, dan kamu tujukan untuk menghapus jejak yang kuat. Jejak itu adalah kita, kamu ingin menghapus kita dengan lupa, dan aku menolak lupa. Sampai kapan akan kamu biarkan ruang itu kosong? Sampaikah pada saat dimana purnama tak ada lagi atau bulan berhenti berotasi? Aku juga tak tahu!

Aku tahu bahwa setiap kali aku selalu menemukanmu. Menjelajahi imaji tak berbatas, menitipkan pulasan rindu pada tembok-tembok tua yang hanya terpancar sinar bulan yang hampir habis.Jika suatu saat kamu melihatnya maka akan ada kenangan tak terbayar di sana. Saat itu akan tiba, suatu saat.

Kita adalah ruang, berapapun dimensinya maka akan tetap berjarak dan bergerak. 

01:19'