Rabu, 31 Oktober 2012

Simply Share: A Man Who Wants to be A Spider-man


Picture from here: click!

Respectfull. Satu kata yang mewakili bagaimana ia dikenal, kukenal tepatnya. Perkenalan yang singkat , tapi sedikit cukup untuk membawaku menuliskan beberapa kalimat ini. Ini semacam kebiasaan bagiku: menulis, menuliskan hal-hal yang menarik yang aku temui, pemikiran-pemikiran orang yang mengkayakan wawasan,  juga apa yang bisa saja tiba-tiba membuatku terinspirasi.

And you are the part of my inspirations right now. Banyak orang yang mendedikasikan waktunya untuk bekerja karena mengejar diri, mengejar egoisme yang sentris dan pada akhirnya mengabaikan sisi sosial mereka yang sesungguhnya melekat. Homo homini socius, itulah manusia. Kata Descartes, cogito ergosum-aku berpikir maka aku ada. Orang pun berlomba-lomba mengejar puncak piramida di kehidupan mereka, apa pun bentuknya (uang, jabatan, wanita). Banyak juga orang yang menghabiskan waktunya untuk menyesali masa lalu, menganggap masa kini adalah cerminan dari masa kemarin, dan masa depan seakan-akan adalah segalanya yang ingin dituju, hingga mereka lupa untuk menikmati dan menghayati apa yang mereka hadapi hari ini. Terlalu submisif ataupun agresif, bagiku itu adalah hal yang memampatkan nurani. Kamu berada di luar lingkaran, menjadi diri kamu sendiri dan tetap melihat dari mana kamu berasal :D

Mendengarkan kamu menjabarkan impianmu, menikmati hidup yang kamu jalani rasanya menciptakan dimensi tersendiri dari semangat hidup yang akan terus dipupuk dan dijaga. Tidak ada yang lebih baik ketika kita berendah hati untuk membahagiakan orang lain, dan mendedikasikan waktu untuk sekitar kita: sesama dan semesta. Bagiku itu keajaiban. Aku berpikir, betapa alam memberikan energi positifnya untuk kamu terus bergerak, dari pagi hingga pagi lagi, mengerjakan tugas kantor, secara bertahap mewujudkan impian-impian kamu, dan juga memperhatikan orang-orang di sekitarmu. 

Bagiku, setiap orang itu menginspirasi, membuatku hidup, bahkan untuk orang-orang yang paling menyebalkan sekalipun. Dan sekarang, kamu juga menjadi seorang teman yang memiliki pengaruh baik dalam skemaku. 

Kamu menjadikan Spider-man adalah superhero yang dahsyat, yang menjadi imajinasi kanak-kanakmu. Itu menggelikan menurutku :D, sebagai seorang gadget addict yang pernah mengatakan bahwa dunia dongeng adalah dunia imajinasi yang nggak real, ternyata punya imajinasi yang masih disimpan sampai saat ini. Dan aku yakin, dimata keluargamu, sahabat-sahabatmu, anak asuh, anak-anak panti, kamu adalah superhero itu sendiri.

Ada dua hal yang biasanya menjadi landasanku untuk bisa mengenal dan mengingat orang dengan baik, mata dan ucapannya. Mata kamu bersahabat, mata yang tersenyum, yang (mungkin) menjadikan orang tahu bahwa ketulusan itu terpancar (lebay-nya sih mata itu katanya jendela hati). Ucapanmu juga menunjukkan bagaimana intelektualitas hidup terus kamu jaga, menghidupkan kehidupan.

Hidup adalah akumulasi pengalaman, dan pengalaman itu telah  menjadikan kamu seperti hari ini. Menikmati hidup. Proses-proses yang terlewati dari perjalanan panjang , bertemu dengan banyak orang, mengunjungi banyak tempat telah menempa dan mendewasakan kehidupan kamu.

Tuhan memang selalu punya cara untuk mendidik hambaNya di sekolah kehidupan. Mengenal orang baru, termasuk mengenalmu adalah satu mata pelajaran tersendiri yang patut disyukuri. Nilai lebih yang memberi semangat untuk terus berkarya, bekerja dengan hati, dan kekuatan memberi.

Anyway, karena senang nulis, ini termasuk tulisan pendek. But over all, i say thank you J And then i wanna say that  You are great but not perfect, Kamu masih pelupa dan moody :p

*langsung lanjut nulis laporan akademik lagi :D*

Darmaga, 261012 15.04’

Sabtu, 27 Oktober 2012

Travelling, for travel itself

Beberapa saat yang lalu saya bertemu seorang teman couchsurfing dari Beijing yang berencana akan menjelajahi Indonesia selama 2 bulan (dia menyebutnya tinggal di Indonesia). Sepanjang pertemuan, saya banyak memperoleh informasi tentang China yang disampaikan olehnya. Bagaimana orang China hidup, bagaimana mereka makan, dan bagaimana mereka beribadah (saya sangat tertarik ketika di amenunjukkan dan menjelaskan bagaimana orang Tibet beribadah), dan tentu saja bagaimana mereka menghemat uang. Lebih dari itu ada pelajaran berharga lain yang bisa saya ambil, yakni bagaimana keseimbangan lahir dan batin bisa diperoleh di tempat-tempat yang sunyi, yang bebas dari kebisingan.

Teman saya tersebut sebelumnya bekerja di perusahaan milik keluarganya, kemudian memutuskan untuk 'cuti' selama satu tahun dan mengunjungi negara-negara di Asia. Dari pertemuan tersebut saya belajar bagiamana orang-orang di luar sana bersikap dan sangat mencintai negaranya. Juga tentang travelling sendiri, saya menjadi mengerti mengapa orang senang bepergian. Itu adalah perkara kenyamanan dan bagaimana pencapaian hidup ingin diraih. Ada orang yang bepergian karena ingin menghabiskan uangnya untuk berbelanja, ada yang bepergian untuk mencari jati diri, ada juga yang bepergian untuk belajar dari alam dan lingkungan. Dan tujuan teman saya datang ke Indonesia adalah untuk mempelajari bagaimana orang lokal hidup, bagiamana masyarakat kelas bawah mencari nafkah, mengunjungi pasar-pasar tradisional, dan baginya travelling bukanlah hal yang bisa dikomersialkan. Dia menafsirkan bahwa travelling adalah untuk travel itu sendiri, outputnya bukan pada berapa banyak foto yang bisa diambil, catatan yang ditulis, atau video yang ditake kemudian diperjualkan.

Meskipun ada perbedaan pendapat tentang makna travelling itu, tapi saya mafhum dan bersyukur bisa share pengalaman. Bertemu dengan orang baru selalu membuka wawasan, tergantung bagaimana kita memanfaatkan informasi yang kita dapatkan.

*B, thanks for shared your experiences :)