Minggu, 23 September 2012

(Untuk) Cantik


photo by: Turasih

Cantik,
Seringkali manusia hanya terlalu merasa takut untuk merasakan sakit, mungkin itu yang membuatmu seperti mengenyahkan pikiran bahwa suatu saat salah satu dari kita pasti ada yang meninggalkan. Tinggal menunggu waktu saja, menanti uraian detik yang menghampar menjadi kisah yang sedianya akan membuatku menjatuhkan air mata berkali-kali. Bisa saja, barangkali.

Cantik ,
Sekiranya kita memang berada pada suatu kondisi yang membuat kuduk selalu meremang ketika mulut melafalkan ode tentang perpisahan. Dan hingar bingar yang dulu kita tertawakan justru terdiam dan meleleh seperti sterofoam yang terkena cairan bensin,  air mata menjadi terlalu keras dan hati juga menjadi kurang tegas. Ia, yang hadir dengan ketidaksengajaan selalu saja menyita perhatianmu. Membuatmu setia mendengar suaranya di ujung telepon, memimpikannya, bahkan nama yang ada pertama kali ketika matamu terbuka di pagi hari adalah ia.

Ada dua karcis bioskop yang masih kamu simpan, berharap di masa depan yang dekat bisa kamu ulang lagi momen yang sama dengannya. Memandangi garis wajahnya dari dekat, membaui parfum yang melekat pada wangi tubuh asli yang sebenarnya sudah bisa membuatmu mabuk serta ingin selalu memeluknya, juga mengartikan tatapannya yang bagimu ‘tersenyum’ dan membuatmu gugup. Bagimu ia adalah rasa yang meniadakan kevakuman, pagi  yang menyapu gelap atau pun sejuk yang mengawali setiap helaan nafas. Entah mengapa dia selalu kamu rindukan meskipun dengan tanda tanya yang tidak pernah kamu munculkan, selalu kamu sembunyikan.

Kamu dan dia seperti mencoba menemukan sesuatu yang mungkin sebenarnya tidak pernah dicari, mengais jawaban di setiap momen dan mengulanginya setiap hari. Kamu pernah berpikir bahwa kelak semua ini akan berakhir dengan sendirinya, tapi bagaimana mungkin jika rindu yang berhadapan dengan logika membuatmu terdera. Mengingat namanya, membubuhi catatan-catatanmu dengan inspirasi yang bersumber dari kegilaan-kegilaan kalian berdua. Sadarkah tentang hal itu? Kamu pernah mencoba untuk tidak menghubunginya beberapa waktu, dan rasanya dunia menyempit di skemamu. Dia lebih dari sekedar yang kamu tahu, dia lebih dari apa yang sebenarnya kamu harapkan.

Cantik,
Kamu rela menyembunyikan air mata untuknya di beberapa waktu dengan senyum yang kamu kembangkan. Meski sebenarnya hatimu bergolak, lidahmu berusaha membatasi kata tentang yang kamu rasakan. Ingin kamu mengalihkan rasa yang kian rumit, mengharap untuk melepas, tapi kamu selalu saja terantuk pada masa bahwa kamu benar-benar mulai mencintainya, tanpa kamu sadari sebelumnya. Semakin jauh melangkah, semakin kamu merindunya meski kamu menyamarkannya.

Dan malam itu, ketika kamu memutuskan untuk pergi entah kenapa langkah kakimu seperti tertahan. Kamu hanya perlu menetapkan hati, selama kamu berproses mencintainya, kamu lalui tanpa tanda tanya. Namun ketika kamu akan pergi, justru tanya bermunculan. Sekaligus menghalaumu untuk segera pergi dan di lain arah mencegahmu untuk menetapkan hati mencintainya, membiarkan waktu berkuasa atas jawab dari akhir perjalanan kalian berdua.

Cantik,  
Kamu pasti kecewa dengan perpisahan. Tetapi percayalah, Tuhan Maha Cinta telah mempertemukanmu dengannya. Pasrahkan, dan kamu tidak akan kecewa lagi. Doakan yang terbaik untuknya, sebab kamu tidak pernah membencinya, kamu mencintainya tanpa tanda tanya (lagi). Dia akan baik-baik saja dan menikmati kesendirian yang ia inginkan, juga meraih kebahagiaan yang ia idamkan.

*sebuah catatan perpisahan, yang sudah disadari dari awal. -K-