Jumat, 14 September 2012

Rusuk Senja

Meniti sepi di lembaran hari, bertumpuk-tumpuk tersimpan dalam brangkas waktu. Jika saja hati bisa tawar menawar seperti logika, sepertinya kamu sudah menjadi bukan siapa-siapa. Sayangnya, cinta telah mengantarku berdiri di sini, menatapimu dari jauh, memastikan bahwa hatimu lapang dan ragamu tak rumpang. Ada sendu yang menggelayutiku, mengisi sisi hati ketika senja datang.

Terlalu banyak kisah yang sebenarnya kita torehkan di saat senja. Ketika matahari jingga mewarna di tepian waktu, kamu telah duduk di sisiku, menemani sepi ketika itu. Mengamati sinar dunia yang sebentar lagi temaram, kamu riang bercerita, matamu berbicara, senyummu bahagia. Dan ketika senja surut, berganti menjadi hamparan malam yang larut pada warna hitam, kamu masih di sisiku, menunggui hingga saat aku tak lagi terjaga. Aku mengenang hari itu, senja di depan pintu dan kita sedang bercerita tentang rindu, tentang masa lalu, hari ini dan masa depan tanpa tabu. Senja dengan butiran debu di tengah kebun-kebun yang dijagai burung hantu.

Ada enam puluh senja yang kita lewati bersama, dengan keteguhan hati bahwa di saat ini kita akan saling menatap lagi. Sejauh kita melangkah, semuanya diawali dengan rasa ringan yang tak berbeban. Rasa yang kita sebut sebagai kedekatan, yang kita namai sebagai biasa saja ternyata pada akhirnya mewujud pada keistimewaan. Ada getar yang hangat ketika kita tersenyum, ada rindu yang mengikat ketika pertemuan kita tak umum. Dan ternyata, kita telah jatuh cinta tanpa kita sadari.

"Ini hanya persoalan waktu" katamu.

Ya, ini hanya persoalan waktu. Bagaimana mungkin tulang rusuk bernegosiasi dengan waktu? Bukankah ia ada di sebelah kiri tubuhku, dan seharusnya tidak hilang? Bagaimana mungkin tulang rusuk meninggalkan jantung kehidupan dan membiarkannya lemah berdegup?

"Ini tidak sekedar persoalan waktu" ucapan ini membalasmu.

Lantas dengan apa bisa dijelaskan, jika sepasang adam dan hawa saling mencintai namun mereka terpisah karena buah pengetahuan? Apakah itu tentang waktu? Hingga mereka harus terpisah antara timur dan barat.

Sudah cukup lembaran-lembaran waktu itu tersimpan di brangkas kenangan yang kamu pegang setengah sandinya. Dan waktu yang kamu maksud tak bisa kau gunakan untuk membukanya, sebab setengah sandinya lagi berceceran.

Senja telah hilang, terang sudah digantikan lampu-lampu jalan. Kita tak lagi bergandeng tangan dan merapal doa masa depan. Hanya menunggu waktu, menunggu sandi-sandi itu terkumpul utuh. Hingga apa yang kamu sebut waktu mewujud pada kenyataan yang bisa disepahamkan.

Mungkin, malaikat sedang menguatkan tulang rusuk di buku kehidupan sana. Sebelum ia dipasangkan untuk melindungi degup jantung yang kini melemah.

#Bogor, 15 minutes left (Laladon sambil nunggu azan Isya-13 September 2012)