Jumat, 01 Juni 2012

Toleransi (1)

Dear reader,

Ketika saya menuliskan ini, kondisi saya adalah sedang tidak ingin kehilangan momentum ide yang secara tiba-tiba muncul. Oleh karena itu saya mengambil jeda sebentar dari pekerjaan saya untuk mencurahkan ide tersebut di tulisan ini. Tentang toleransi.

Siang ini saya berbincang dengan seorang seorang yang saya kagumi sejak masuk jurusan di kuliah, dosen yang menurut saya sangat asyik menjelaskan materi dan juga secara interpersonal bisa dekat dengan siapapun. Fighter, tegas, dan memiliki wibawa. Seorang perempuan, seorang ibu yang pada umumnya, tetapi dengan kecerdasannya saya yakin beliau adalah manajer yang baik. Saya bersyukur mendapat kesempatan santai ini untuk sekedar berdiskusi atau istilahnya gendu-gendu rasa (bahasa jawa).

Beberapa rangkaian pertanyaan yang sering muncul di benak saya adalah, mengapa orang bisa memiliki komitmen untuk menjalin sebuah ikatan pernikahan dan yakin dengan pasangan yang dipilih? Apakah kelak tidak akan bosan dengan seorang yang itu saja? Hukum apa yang sebenarnya mengatur? Barangkali pertanyaan itu juga sering muncul di benak readers, entah sekejap atau beberapa kali. Untuk saya, saya selalu ingin memperoleh jawabannya. Dari siapa pun, ayah, ibu, sahabat, kenalan, internet, film, buku, saya ingin menggalinya.

Suatu kali saya menonton film yang berjudul "Before Sunrise", film dialog 2 tokoh perempuan dan laki-laki yang bertemu secara tidak sengaja di kereta, kemudian memutuskan untuk menghabiskan waktu sehari semalam berkeliling kota sambil masing-masing menunggu keberangkatan ke tempat tujuan dan akhirnya keduanya memiliki rasa nyaman. Tokoh dalam film tersebut memberikan filosofi bagaimana sebuah hubungan bisa terjalin dengan tiba-tiba, bagaimana kenyamanan bisa muncul dengan siapa saja bahkan dengan orang yang baru kita kenal. Kemudian, saya membaca buku-buku, membandingkan satu pemikiran dengan pemikiran lain dan hari ini dengan berdiskusi saya memperoleh wacana baru yang membangun gagasan saya berikutnya.

Kuncinya adalah toleransi. Hubungan dengan siapa pun akan terbangun dengan baik jika masing-masing saling memahami, toleransi. Mengapa? Sebab feeling atau perasaan seseorang itu tidak akan pernah bisa "sama" dirasakan juga orang lain. Kesenangan, kesedihan, kemarahan, semuanya itu unik. Feeling itu tidak memiliki parameter khusus. Mungkin kita pernah tiba-tiba merasa merinding ketika mendengarkan cerita orang, merasa terharu, tertawa, atau bahkan tanpa sadar menangis. Hal-hal yang sepeti itu, perasaan yang (hanya) kita miliki tidak akan sama dengan apa yang sedang dirasakan juga oleh orang lain. Sebabnya, kita tidak bisa memaksakan sesuatu sekecil apa pun, sebab untuk persoalan like and dislike kadarnya beda setiap orang.

Ada sambungan yang ingin saya tulis lagi setelah ini, tapi mau melaksanakan kewajiban dulu, sampai jumpa di tulisan selanjutnya. ^-^