Kamis, 10 Mei 2012

Bayang


i know that if we give this a little time
it'll only bring us closer to the love we wanna find
it's never felt so real, no it's never felt so right
(Just A Kiss, Lady Antebellum)


Utopia. Itulah yang mengimbangi perjalanan kita sejak waktu-waktu yang lalu, sejak pertemuan-pertemuan menjadi rencana yang sembunyi-sembunyi kita nyatakan. Maka demikianlah aku menyebutnya sebagai utopis, mimpi saja, bukan cita-cita. Ada masa ketika aku begitu bahagia mengetahui bahwa kamu betah mendengar celotehan kanak-kanakku. Kemudian kita tertawa, menyanyikan lagu-lagu yang awam ditelinga pendengar sepertiku, mencandai ganasnya kehidupan. Lalu tertawa lagi hingga mata kita minta dilelapkan. Seperti ritual ketika aku perlu untuk mendengar suaramu meski sebentar, setiap malam nadamu adalah lullaby yang menghangatkan perasaanku. Membuatku siap untuk menyambut dunia bawah sadar.

***

Pergantian hari ini kunanti dengan kantuk yang menyerang terlalu dini. Kepulanganku dari Kota Lautan Api sengaja kuawalkan untuk dapat menuntaskan persiapan menemuimu. Persiapan itu hanyalah sepaket tidur dan mengabarimu bahwa kita jadi bertemu hari ini. Aku bahagia sekaligus berduka dengan kenyataan di depan mata, sebentar lagi akan merasa berberat hati untuk melepas genggaman tanganmu lagi. Tapi bukankah seulas senyum yang terkembang ketika bertemu atau pun rasa haru yang tertahan di dada ketika berpisah sebenarnya tetap di garis yang sama, kebahagiaan? Aku bahagia  bertemu denganmu, demikian juga aku akan berbahagia jika suatu saat berpisah denganmu.

Pesawat yang kutumpangi akan lepas landas sekitar 30 menit lagi. Bodohnya aku tidak membawa satupun buku bacaan yang bisa menemaniku membunuh waktu. Akhirnya kuputuskan untuk mengamati tingkah laku orang dan sesekali bermain Ubbersocial.

Sembari berdamai dengan detik yang kuanggap terlalu lama, aku menimbang dan mereka perasaan, rasa ini menjadi beku karena rindu, pertemuan kita sudah terlalu lama tertunda. Rindu ini sudah begitu jenuh bersetubuh dengan waktu, panjang, terlalu luang dan sukar dijelaskan. Ada yang berat di hati ini, bagaimana mungkin kita rela menghabiskan begitu banyak waktu jika kita tidak memiliki tujuan?

Adakah yang kamu rencanakan? Sebuah rencana yang mungkin saja belum matang tetapi racikannya  sudah kamu imbuh dengan baik?

Kita tidak akan pernah mengetahui akhirnya, sampai kita mengalaminya. Demikianlah jawaban yang bisa aku eja sembari memandangi seorang Ibu yang sedang menyusu anaknya di pojok kiri ruang tunggu Bandara. Di sebelahnya seorang laki-laki yang kutebak sebagai suaminya mengusap rambut sang anak. Begitukah keluarga?

i've never opened up to anyone
so hard to hold back when i'm holding you in my arms
we don't need to rush this
let's just take it slow
(Just A Kiss, Lady Antebellum)

Mengamatimu lekat, menikmatimu dekat, lalu aku menjadi seperti pecandu yang menemukan dopingnya di saat yang tepat. Aku bersyukur berkali-kali ketika berhasil menemukan wajahmu lagi, membelai lekukannya yang sempurna. Pertemuan kita pun berawal dengan indah, matamu masih sama, anggukan dan senyummu juga khas. Ejekanmu yang selalu membuatku tergelak dan malu-malu masih kamu semarakkan. Kamu begitu indah dan memabukkan. Aku menunggu waktu ini, untuk berbicara kita. Meski ternyata tenggorokan telah tercekat untuk mengucapkan kata yang sudah begitu kita pahami hingga akhirnya dimafhumkan begitu saja.

Kedekatan kita adalah dekat yang berjarak. Bukan tentang ratusan kilometer yang membentang, bukan pula gumpalan awan yang kita saksikan jika ingin saling menatap, hanya tentang jarak yang menjadi kiasan. Aku dan kamu, kita berada dalam satu ruang yang sama, ruang hati yang begitu meriah karena ada semayam rindu di setiap bagiannya. Hanya saja kita kesulitan untuk menentukan, rindu macam apa yang kita punya.

lyin' here with you so close to me
it's hard to fight these feelings when it feels so hard to breathe
caught up in this moment
caught up in your smile
(Just A Kiss, Lady Antebellum)

Kemudian pelukan kita merenggang, ada percakapan yang harus kamu lanjutkan. Percakapan yang sejak kemarin kamu bangun. Aku diam, membenahi cemburu yang pelan-pelan membisiki hati untuk terus menggenggam tanganmu, tidak melepasnya sedikitpun. Namun keberanian itu hanya sebatas angan saja. Kita sama-sama tahu bagaimana cara untuk tidak menghancurkan momentum. Lanjutkanlah percakapanmu, sayang.

just a kiss on your lips in the moonlight
just a touch of the fire burning so bright
no i don't want to mess this thing up
i don't want to push too far
(Just A Kiss, Lady Antebellum)

Esok, aku pergi, berpisah dengan kehangatanmu secara ragawi. Aku akan kembali bertarung dengan kesiapan. Meski demikian jika waktu bisa kutawar maka aku ingin bernegosiasi. Aku ingin menjadi dia, percakapan sakralmu.

no i don't want to say goodnight
i know it's time to leave, but you'll be in my dreams
tonight
tonight
tonight
(Just A Kiss, Lady Antebellum)

Aku ingin menjadi percakapan sakralmu, mimpiku.