Jumat, 16 Maret 2012

Terimakasih untuk Tidak Menyontek

Setelah dianggurin sampai dua minggu, akhirnya hari ini bisa meluangkan waktu untuk mengoreksi kuis mahasiswa. Sempat tegang sebelumnya karena pada saat kuis dilaksanakan mahasiswa yang mengikuti praktikum di kelas saya duduknya sangat rapat sehingga peluang untuk mencontek terbuka lebar. Satu-satu pekerjaan per soal saya koreksi, dan amazing, saya apreciate kepada teman-teman mahasiswa yang memutuskan untuk yakin dengan kemampuan sendiri dan tidak mencontek.

Hasil kuisnya juga nggak jelek-jelek amat, nih buktinya :)


Menyontek adalah perilaku yang tidak terpuji (anak SD juga ngerti), saya sendiri punya trauma dengan menyontek, begini:

Hidup saya nggak lurus-lurus amat, malah banyak belokannya. Nah pengalaman saya tentang menyontek untuk pertama dan terakhir adalah saat SD kelas 6 (asli ampuuuun Pak Guru Haryono, sampai hari ini saya belum ngaku sama Bapak). Waktu itu ulangan IPA, saya tidak belajar malamnya karena lupa (belajar kok lupa, emang dasarnya males ><), nah beberapa sola saya bisa menjawab dengan lancar dan hanya satu soal yang membuat saya kelimpungan. Soalnya adalah: APA YANG DIMAKSUD DENGAN DAYA AKOMODASI MATA? (hayooo apa coba?).


Satu soal itu membuat saya buntu, diam-diam saya berusaha keras untuk memasukkan tangan ke dalam laci dan menyobek salah satu halaman buku yang isinya tentang daya akomodasi mata (nggak perlu dibayangin gimana nyobeknya), dan jawabannya adalah: DAYA LENSA MATA UNTUK MEMIPIH DAN MENCEMBUNG. Saya lega setelah bisa membaca satu kalimat itu, dengan lancar akhirnnya saya tulis di kertas jawaban. Seingat saya saat itu cuma dua orang yang bisa menjawab: saya (karena mencontek) dan seorang teman yang memang pintar. Dapat nilai 100 booooo... (tapi nyeselnya sampai sekarang).


Awalnya saya nggak sadar kalau menyontek itu menyebalkan (dosanya udah pasti), saya sadari setelah masuk SMP. Di kalangan teman-teman waktu SMP, saya yang paling malas belajar, khususnya pelajaran matematika. 

Kelas 1 SMP, saatnya UTS matematika pun tiba..


Masih ingat tentang soal yang ada sangkut pautnya sama diagram venn, kemudian nyari variabel? saya ingat tapi lupa apa babnya... hasilnya saat itu adalah saya menjadi penghuni kelas terakhir yang berusaha mati-matian untuk mengerjakan soal. Hasilnya? nilai saya kecil dan saya mengakui kesalahan karena memang itu kelalaian saya tidak belajar. Saat keluar dan tahu ada beberapa teman yang cepat mengerajakan namun ternyata mencontek, saya geram (what the hell), kenapa harus menyontek? dannnn nilai mereka bagus ><


Dari situlah saya sadar kalau menyontek itu menyebalkan! dosanya pun berbekas (asli saya nyesel banget pernah nyontek waktu SD). 


Sekarang, barangkali di teman-teman mahasiswa yang pernah sekelas dengan saya atau yang saya ajar, saya termasuk orang yang cerewet kalau tahu ada yang mencontek (waktu SMA saya pernah menjadi siswa kejam yang melaporkan beberapa teman yang mencontek ke guru). Apalagi untuk mahasiswa praktikan saya, kapan pun saya tekankan untuk tidak mencontek dan percaya akan kemampuan sendiri. Simplenya gini deh: Tuhan itu ngasih manusia otak untuk berpikir, rugi banget kalau ujian pikirannya bukan tentang pencapaian yang bagus dan bersih, bukan bagaimana mencontek dengan rapi dan nggak ketahuan.

Pliss deh, negeri ini sudah penuh dengan koruptor.. laten bahayanya, bisa saja dimulai dari hal kecil (mis: nyontek tanpa ada rasa berdosa sebagai kebiasaan).

SAY NO TO NYONTEK!

Terimakasih untuk mahasiswa kelas saya untuk tidak menyontek :)

p.s: kalau pas ngawas ujian saya paling galak, maaf bukan karena saya nenek sihir tetapi itu untuk kebaikan bersama :)