Jumat, 10 Februari 2012

Bogorian

gambar dari www.reportase.com

I Love this rain city, Buitenzorg. Belum sampai 5 menit saya meng-update status facebook, sudah terdapat delapan teman dunia maya yang sependapat dengan saya. Bukan tanpa alasan mengapa teman-teman saya setuju dengan apa yang saya tulis dalam satu kalimat singkat tersebut. Sebagai pendatang, saya pribadi merasa jatuh cinta dengan serba-serbi kota yang memiliki hutan tengah kota ini.

Pertama kali saya menginjakkan kaki di Bogor  sekitar tahun 1997, hal yang paling menarik dalam benak kanak-kanak saya ketika itu adalah melihat puluhan kijang berkeliaran di komplek Istana Presiden. Menurut saya waktu itu kata yang pas untuk mewakili first impression saya terhadap kota hujan ini adalah keren. Hingga akhirnya waktu menuntun saya untuk menghirup udaranya setiap hari sejak tahun 2007, menjadi bagian dari Bogor, menjadikannya sebagai rumah.

gambar dari www.jurnalpatrolinews.com
Akhir-akhir ini, ketika Bogor berada di fase curah hujan terbesar yaitu pada bulan Desember-Januari, saya sering berkelakar dengan teman-teman terutama mereka yang lahir dan besar di kota ini: “wahhh, Bogor ternyata masih dingin”. Pernyataan tersebut muncul sebagai kontradiksi bahwa ketika matahari sedang garang di kota yang memiliki curah hujan rata-rata 3.500 – 4.000 mm setiap tahun ini sungguh sangat menyengat kulit. Hal tersebut menyebabkan orang yang tinggal di Bogor sangat familiar dengan payung tanpa kenal musim. Ketika musim hujan untuk melindungi diri dari air dan ketika panas digunakan untuk berlindung dari sengat matahari. Oleh karenanya, payung menjadi salah satu onderdil wajib yang harus dimiliki warga Bogor.

Ketika hujan dan angin sedang ganas-ganasnya, saya melihat kondisi tersebut sebagai peluang bagi pebisnis untuk menjual aneka barang wajib yang harus dimiliki oleh orang Bogor selain payung. Diantaranya adalah jas hujan, sepatu berbahan sintetis (karet/plastik), dan jaket. Selain itu, kondisi tersebut juga membuat pengusaha laundry naik daun, dicari dimana-mana sebab sinar matahari menjadi sesuatu yang mahal. Sebaliknya saat matahari terasa hanya sejengkal dari ubun-ubun, maka yang paling penting selain payung adalah air minum dan kipas. Terasa ribet, tapi ya memang begitu.

Namun, bagaimana pun kondisinya menurut saya, siapa pun orang yang tinggal di Bogor adalah mereka yang sigap. Selalu bersiap-siap dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi secara mendadak. Hujan yang tiba-tiba, macet yang tidak mengenal tempat, angkot yang ngetem lebih lama, pengamen yang kadang memaksa, juga banjir yang bisa sekenanya, semuanya tentang Bogor. Tapi, karena kota ini adalah rumah maka tetap akan selalu dirindukan sebagai tempat untuk pulang. Jika first impression saya terhadap kota ini adalah keren, maka kesan selanjutnya yang akan tetap melekat adalah menantang.

Thats it! Siapa pun yang akan bepergian di Bogor hari ini, jangan lupa bawa payung.

#Bogor, 29 Januari 2012 – 02 Februari 2012