Selasa, 24 Januari 2012

Resolusi yang (Semoga) Tidak Terlambat

Selamat malam dunia, 

Bunyi letupan kembang api terdengar di ruangan paling cozy sedunia (yup, my bedroom), saya tersenyum, besok perayaan Imlek bagi etnis Tionghoa, 23 Januari 2012 akan menjadi awal memasuki tahun naga. Gong xi fat choi, selamat tahun baru imlek dengan semangat menyala merah dan senyum yang terkembang dari hati. 

Sekilas saja, setelah selesai menggosok gigi malam ini tiba-tiba diakhir kumur-kumur, sepertinya saya perlu menulis sesuatu.

Saya ingat, kemarin di tahun baru masehi, memasuki peralihan dari 2011 menuju 2012 saya tidak memiliki resolusi apa pun. Saya hanya memiliki keyakinan bahwa tahun ini harus lebih baik pencapaiannya dibandingkan tahun sebelumnya. Yeayyy, mungkin itu resolusi saya yang tidak disadari. Resolusi yang sangat abstrak, absurd, atau kata terkejam yang lebih mewakili adalah labil. Saya mentertawakan diri sendiri. 

Beberapa kesempatan yang lalu, seperti malam ini, saya sudah menggosok gigi dan akan bersiap-siap untuk tidur. Seorang teman menyapa saya via sms, mengajak saya makan roti bakar. Bayangan saya waktu itu adalah setangkup roti yang dipotong dadu ditaburi keju, milk, dan ceres, lezaaaat. Saya urung membenamkan diri ke dalam selimut dan menunggu teman saya menjemput sekitar pukul 21.30 wib.

Sembari makan, seperti biasa ketika saya sudah mengenal orang dengan baik, biasanya tidak akan segan untuk bicara, merumuskan apa saja lewat kata-kata. Dan malam itu sebaliknya, meskipun dengan teman yang sudah wira-wiri bersama pergi ke mana pun, ternyata saya justru ingin cepat-cepat menghabiskan cemilan yang saya pesan dan menyeruput cepat-cepat cappucino hangat, lalu pulang dan tidur.

Alasannya sepele (mungkin), ketika terlibat pembicaraan mengenai apa sebenarnya tujuan hidup yang ingin saya capai, langkah apa yang akan saya tempuh, lalu apa kiranya yang bisa saya tanggulangi ketika apa yang saya rencanakan tidak berjalan mulus, saya muak. Haloooo dunia, ini bukan saatnya berbicara terlalu serius, it’s time to enjoy our bread and coffee. 

Banyak orang yang mengatakan bahwa saya tipe orang yang serius, yep, saya akui kebenarannya: saya adalah tipe koleris perfeksionis yang sangat serius. Bahkan bagi saya bercanda adalah sesuatu yang sangat serius (damn, it’s hard to write this). Tetapi seserius apa pun saya dan siapa pun tentunya memiliki timing untuk rileks, dan saya justru kehilangan mood untuk rileks dengan keju dan cokelat yang sebelumnya sudah saya bayangkan.

Akhirnya saya mengeluarkan pernyataan, “setidaknya dalam bertanya pun, manusia memiliki etika.”

Maaf untuk teman saya yang mungkin kewalahan dengan sikap saya saat itu, tetapi setiap individu memiliki ruang privasi yang seluas-luasnya. 

Malam ini saya merasa memperoleh formulasi, saya hidup di galaksi yang memiliki bermacam kompleksitasnya sendiri. Bagaimana pun, ketika orang lain bertanya, berarti mereka memiliki atensi yang baik (dan kadang juga berlebihan) terhadap diri kita. Teman, alam, semua yang ada di sekeliling saya memberikan informasi melalui caranya masing-masing. Namun pada akhirnya setiap keputusan akan bermuara pada bagaimana saya mengelola bermacam-macam informasi tersebut untuk kemudian dijadikan sebagai pijakan melangkah.

Dan, saya memiliki resolusi malam ini. Menyala seiring letupan kembang api yang masih terdengar meluncur dari jantung kota, menari seirama dengan bunyi instrumen band kesukaan saya di pemutar musik. Sederhana saja, saya ingin terus menulis. 

#Bogor, 22 Januari 2012