Senin, 02 Januari 2012

Mengunci Waktu

Bogor | 01 Januari 2012

Memasrahkan malam pada segelas capuccino yang kunikmati dalam gempita pergantian hari. Berpadu dengan pijar kembang api yang seakan merayu setiap mata untuk membelalak dan berseru girang. Di segenap penjuru, aku tahu dan kita sadar bahwa malam ini terlalu haru untuk dilewatkan. Pergantian tahun yang menepiskan perbedaan. Bukankah penghujung Desember dan permulaan Januari menjadi milik semua orang? Melewati batas ras dan agama dan berapa pun rupiah yang terselip di dompetnya. Selamat tahun baru.


Aku yakin akan ada yang berubah, sedikit demi sedikit dan meskipun entah kapan perubahan itu utuh mengantarkan perubahan selanjutnya yang tidak kita sadari. Hugo bilang bahwa perubahan itu dialektis yang sintesisnya terbentuk dari benturan tesis dan antitesis. Mewujud pada hal-hal baru yang kemudian berbenturan kembali, ya, keniscayaan hidup adalah pada perubahan yang tidak pernah tertebak. Entah mengapa Tuhan juga sangat suka menjaga rahasia yang seumpama gravitasi bagi manusia untuk berusaha sebagaimana bisanya dan mempasrahkan tuaiannya. 

Sayup terdengar dentuman kembang api yang kemudian menampakkan cahaya warna-warni di langit malam yang terhampar hitam. Aku di irisan bumi, memiliki pijakan sebatas dua kaki, serupa denganmu meskipun kita tidak berada di titik yang sama. Kamu pun hanya memiliki pijakan sebatas inci telapakmu dan itu berlaku untuk setiap orang. Yang bisa dikuasai hanya tergantung dengan panjang serta lebar kita bisa menjejak, kemudian akal memperluas segalanya. Hingga bumi tak lagi bulat. Aku berkhayal tentang bumi, tentang merah-kuning-hijau percikan api yang barangkali juga kamu saksikan di sisi sana, tentang kamu.

Kerinduan pada sepasang mata yang selalu bicara, mata yang jujur dan mengungkap apa adanya. Mata yang seyogyanya tahu bahwa doa ang bertaut adalah jawab dari setiap rasa, hingga pada saatnya terlantun lafaz yang sekiranya sepakat dengan cinta. Setiap kali, ketika rindu ini menjelma gelisah, membaur dengan hening malam dan melarut menuju pagi, setiap saat itu juga kutitipkan salam pada angin yang menyapu garis wajahmu. Yang mungkin saja sedang tersenyum atau pun tidur pulas di atas bantalmu. Dan malam ini, waktu merayapi setiap hati, berpadu dengan hiruk pikuk suka cita tentang harapan yang lebih luas pada esok nanti. 

Rindu ini sedang menanti pagi, membuat detak semakin tak berirama. Ketika hari berganti, menambah bilangan tahun dan semakin mendekatkan kita pada ujung yang belum pasti, ia pun tak kunjung temaram dan padam. Kerinduan yang masih sama, ia tidak mengenal resolusi tahun baru atau pun sahut-menyahut bunyi terompet di puncak waktu. Hingar bingar yang terlewat mendekap bayang yang pucat di bawah langit malam, entah di mana. Meski demikian, kubiarkan rindu menjelma meskipun ia tertunda. Jika parasmu berubah, atau pun bilangan hari yang terajut menjadi waktu yang diselaraskan dengan zodiak atau pun shio mengurangi sisa  pertemuan kita, sudah seharusnya aku tidak kecewa. Sebab hatimu pasti masih dengan ketulusan yang sama.

Ini adalah ujung dan awal, yang biar saja selalu membebaskan.