Jumat, 06 Januari 2012

Dua-Dua


Bandung | 05 Januari 2012

Perjalanan yang kian jauh, dengan batas yang masih samar dan mungkin saja buyar begitu saja, tetapi selalu dinanti, dihitung nominalnya dengan ukuran detik. Rekening waktu. Hakikatnya, ketika kita melihat sekeliling kita berubah, wajah orang tua yang kian berkerut, adik-adik yang kian tumbuh tinggi, kucing peliharaan yang sudah beranak-pinak, atau pun pohon di belakang rumah yang sudah bisa ditebang, sesungguhnya bukan mereka yang berubah, hanya diri kita sendiri yang akhirnya harus mengakui: sekarang sudah semakin tua.

Seorang sahabat mengirimkan pesan singkat menjelang waktu ketika kebanyakan orang memutuskan untuk meniup lilin penanda:

       “Akan selalu ada sejumput diri kita yang tidak mau pergi dari perbatasan antara usai dan tidak usai, berusaha melangkah maju sementara hati itu tertinggal jauh di masa lalu. Masa lalu memang istimewa, tapi kita tidak bisa menyeretnya ke masa kini hanya karena kita terikat dengan keindahannya. Satu-satunya cara untuk tetap membuatnya berharga adalah dengan menyimpannya di masa lalu, pada suatu waktu ketika momen itu berharga dan kita cuma perlu menyimpannya dalam sekotak kaca yang kedap udara: melihatnya dari jauh,   memahami pelajarannya tanpa perlu mengulangi kejadiannya. Bukankah untuk itu kita menjadi tua?”

Bogor| 05 Januari 2011 21.44

Pada akhirnya, ketika kita menjadi semakin tua, hidup hanya akan memiliki satu kecenderungan yaitu kesendirian. Malam-malam yang tertatih untuk merencanakan agenda esok hari, pagi yang disesaki dengan langkah tergesa menuju tempat kerja, juga siang yang menjadi rutinitas menanti sore. Hidup seperti menguatkan proses seleksi alam yang barangkali masih menjadi andalan teori para ilmuwan. Homo homini socius, homo homini lupus, homo homini religius, manusia adalah makhluk segala rupa yang selalu membutuhkan orang lain. 

Dan hingga dibilangan usia yang sudah dua-dua, aku memiliki kesempatan yang tak bisa dibantah harus aku syukuri. Tuhan, terima kasih untuk proses yang kau berikan untuk mencari-Mu, menjauh dan mendekat, ingat dan lupa, taubat dan maksiat, terima kasih untuk semua itu. Aku selalu rindu rumah ketika berada jauh, itu yang kuumpamakan dengan mengingatMu, selalu. Terima kasih untuk hidup yang sangat berwarna, suka-duka, perih tertatih, juga pencapaian yang seringkali tidak pernah aku bayangkan. Aku percaya bahwa jarak denganmu bukan pada perpaduan antara kening dengan debu, aku percaya lebih dari itu. Kau ada, lebih dekat dari urat leherku.

Menjadi tua adalah sebuah kenyataan yang bersyarat. Bagiku sendiri hal itu harus diimbangi dengan sebuah konsekuensi untuk tumbuh menjadi dewasa, tidak sekedar memiliki umur yang bilangannya semakin banyak. Kemarin sepertinya aku masih minum susu ibu, tanpa malu-malu menikmati setiap tetes hujan dan berlarian dengan teman-teman, kemudian merengek minta dibelikan permen atau pun es lilin. Kemarin aku masih mengenakan gaun kanak-kanak berwarna merah, menikmati euforia pembagian raport, melihat adikku yang baru belajar berjalan. Kemarin, baru saja kemarin kulihat keriput dilingkar mata ibuku belum sebanyak sekarang, uban di dekat pelipis ayahku juga masih jarang-jarang, adikku yang selalu minta dipeluk ketika tidur. Kemarin.

Hari ini, aku memandangi kenangan-kenangan itu dalam kotak kaca kedap udara, merabanya dari luar, sebuah etalase yang tidak pernah usang oleh zaman. Hari ini, tanpa bisa menatap langsung wajah ibuku yang semakin nampak gurat-gurat perjuangannya, mimik bangga ayahku yang tersenyum dan melambaikan tangan ketika aku berpamitan untuk belajar melangkah sendiri, rona ceria adikku yang mengabarkan bahwa ia juara satu, aku berada di takdir hari yang semakin mengerucut. Hari yang selalu penuh dengan aktifitas serta pada akhirnya kupilih sendiri dengan harus berjauhan dari mereka yang setia menanyakan ‘kamu sudah makan nak?’, ‘mbak sehat?’

Imajinasiku melena pada sebuah daya yang memanduku untuk lirih berucap, ‘terima kasih untuk kasih yang tak pernah pamrih, kepercayaan yang tidak pernah runtuh, ketulusan yang selalu tumbuh dari hati, semangat-semangat yang tidak kunjung pupus, kedamaian yang selalu ditularkan, dan rasa percaya diri yang selalu disematkan di setiap hari. Untuk keluargaku, hingga aku menjadi seperti saat ini akan terlalu berat jika tanpa jerih dan pengorbanan kalian.

Untuk sahabat, kawan dan handai taulan yang tidak pernah meninggalkan, aku berproses dengan kalian. Menempa waktu dan menghabiskan sepi, bercanda, berbagi, menyakiti atau disakiti, tertawa, menularkan semangat-semangat untuk tetap bertahan dalam kerasnya hidup. Menegakkan bahu untuk memeluk dan dipeluk, mengeluarkan suara untuk saling mengingatkan, mengucap sayang, juga serapah yang seringkali muncul. Tapi semua itu menjadi kejutan-kejutan hidup yang akhirnya membuat diri ini sadar, kita perlu orang lain untuk hidup. Kalian adalah rumah singgah yang membuka dan menutup pintu hingga aku tahu bahwa menjadi dekat adalah dengan ‘mengetuk’. Terima kasih dan maaf.

Aku mengerti bahwa tidak ada yang bisa dipastikan dalam hidup ini, sebab yang paling pasti hanyalah perubahan. Tidak ada yang stagnan dalam perjalan sebab setiap individu mengejar untuk sampai di garis batas tujuannya, dan aku, mengejar kebahagiaan untuk terus berbagi. Dengan sesama dan semesta. Dua-dua. 

Isn't impossible of having dream come true to make our life interesting, because life wants us to achieve our Personal Legend.