Rabu, 04 Januari 2012

Accidentally in Love


Bogor | 04 Januari 2012

Sesungguhnya kisah cinta yang paling dahsyat adalah yang terjadi pada kita sendiri, bagaimana pun jalannya.

Lama tidak menjumpaimu, seukuran dengan 604.800 detik yang kuhitung dengan mesin matematis. Tapi seperti sahabatku katakan, hati manusia tidak bisa diukur dengan matematika dan logika ekonomi. Sekian ratus ribu detik itu bermakna jauh lebih lama dari ukuran sebenarnya. Aku memimpikanmu, berkali-kali, aku merindukanmu setelah diam yang kita ciptakan ketika masing-masing dari kita sama-sama berniat meninggalkan. Berkali-kali kita berusaha untuk jujur pada diri, bahwa apa yang terjadi bukanlah suatu kebetulan tapi suatu keniscayaan yang nyata dan sungguhan. Kita sibuk dengan jalinan yang mengikat yang diyakini sebagai bentuk ikhtiar akan masa depan. Pada saat yang sama ternyata kita sedang mebodohi hati, melucuti nalar dan membuat kita terbiasa untuk beretorika tentang  perasaan. 

Berkali-kali kita jatuh cinta, pada orang yang berbeda dan selalu mengharap ada perbedaan, perubahan, atau pun pencapaian yang kita harapkan. Betapa sering kita mengatakan bahwa perasaan jauh dari kemunafikan. Pada saat yang sama, pandangan kita runtuh, ternyata kita tidak pernah menggharapkan perbedaan. Justru kita bertarung sedemikian rupa, mereka-reka rencana supaya belahan jiwa yang baru sama dengan keinginan kita. Seringkali kita mencari pembanding, bukan membedakan, tapi justru menyamakan. Bukankah kita tahu bahwa orang itu tidak suka disamakan? 

Jatuh cinta itu seperti kecelakaan. Kita tidak pernah tahu kapan dan dengan siapa itu akan terjadi. Cinta itu unik, meskipun sifatnya universal. Pengalaman cinta bisa bersifat spiritual untuk individu yang berbeda.

Banyak orang yang memilih menjadi pemain untuk membuktikan bahwa eksistensi cinta itu universal. “Kamu akan benar-benar membenci seseorang tapi di suatu waktu justru orang itu satu-satunya yang benar-benar kamu rindukan.” Pilihan itu membebaskan bagi sebagian orang, tidak ada tendensi untuk memiliki hanya saling mengagumi. Berusaha memahami dan seperti ‘dermawan’ dengan keadaan tidak pernah terselimuti cemburu, memeras tenaga untuk berpikir tentang satu orang, dll. Bebas. Cinta dianggap sebagai pertukaran yang transaksional dalam hukum pasar yang menandakan bahwa ketika kesepakatan telah dicapai maka tidak ada satu pihak pun yang dirugikan. Cinta menjadi seperti layang-layang yang akan terbang ketika dibawa angin dan diam saja ketika tidak ada udara yang bergerak.

Tapi cinta itu bukan gambling. Kita tidak pernah tahu kepada siapa akan jatuh cinta. Hanya saja untuk menentukan jika suatu saat secara tiba-tiba kita jatuh cinta bukan dengan menaruhkan perasaan atau pun harga diri. Karena cinta itu bukan pertaruhan rasa dan harga diri. Struktural fungsional cinta. Aku cukup tertegun dengan istilah cinta turun dari mata lalu ke hati. Bisa saja itu terjadi, karena value seseorang  bisa dilihat dari fisik. Namun tidak sebatas itu. Cinta adalah lagu yang indah ketika suasana begitu hening, air yang menyejukkan kala kita dilanda dahaga, pun seperti ilham tak terduga ketika kreativitas hidup kita sedang buntu. Bahkan Mahatma Gandhi pernah mengatakan, senjata yang tak terkalahkan di dunia ini adalah cinta.

Sudjiwo Tejo, seorang dalang kawakan yang mendeklarasikan dirinya sebagai presiden Jancukers mengunggah patahan kata yang tersambung menjadi peribahasa mutiara di jejaring sosial twitter. Maknanya denotasi sehingga tidak perlu susah mencerna arti dari kalimatnya: “Kita bisa saja menikah dengan orang yang kita inginkan, dengan orang yang kita pilih, tetapi kita tidak pernah bisa menentukan siapa orang yang akan kita cintai”. Ya, tampaknya nonsense, tapi benar memang kita tidak pernah tahu siapa orang yang akan kita cintai, itu bagian dari kesepakatan alam. Aku seperti percaya bahwa dalam diri kita terdapat semacam sensor yang bereaksi ketika bertemu dengan orang yang sekiranya ‘match’ dengan reaksi alam tersebut. Meskipun tidak disadari, rasanya bertemu denganmu juga seperti menguatkan bahwa memang kita tidak pernah bisa menentukan siapa orang yang akan kita cintai.

Selanjutnya, mungkin saja sampai di pentas drama yang kita perankan sendiri. Hanya aku dan kamu dengan sutradara Tuhan,  tapi kita pun kadang mereka skenario ‘apa’ dan ‘bagaimana’ untuk episode terusannya. Cerita untuk besok, script mana yang harus digarap, siapa saja figurannya, tapi dengan tokoh utama yang tetap sama, kita. Lama sekali rasanya tidak menjumpaimu untuk bersitatap merencanakan cerita esok, dan kamu selalu saja tidak bisa kuukur dengan logika matematika maupun ekonomi. Kisah yang terurai dalam drama kita selalu menarik, unik dan hanya kita.