Senin, 09 Januari 2012

06012012

Bogor |06 Januari 2012

Jika boleh meminta, kuharap hari ini akan berjalan lebih lambat dari biasanya, hingga doa-doa itu teraminkan dengan sempurna. Melebur dengan seluruh partikel alam yang siaga mendengar harapan semoga-semoga, merasakan semangat dari setiap kata dan peluk cium, juga melihat ketulusan pada setiap ucapan yang terucap. Hadiah terbesar dan paling berharga adalah doa dari kalian semua, orang-orang yang merapat pada hari ketika umur ini tertanda.

Terimakasih, semoga seluruh penghuni langit dan bumi meraba setiap kebaikan yang terselip dalam setiap harapan. Berbahagialah, sesungguhnya kita bisa berulangtahun setiap hari dengan saling mendoakan. Thanks so much for all who believe me, big hug and kisses :*

Jumat, 06 Januari 2012

Dua-Dua


Bandung | 05 Januari 2012

Perjalanan yang kian jauh, dengan batas yang masih samar dan mungkin saja buyar begitu saja, tetapi selalu dinanti, dihitung nominalnya dengan ukuran detik. Rekening waktu. Hakikatnya, ketika kita melihat sekeliling kita berubah, wajah orang tua yang kian berkerut, adik-adik yang kian tumbuh tinggi, kucing peliharaan yang sudah beranak-pinak, atau pun pohon di belakang rumah yang sudah bisa ditebang, sesungguhnya bukan mereka yang berubah, hanya diri kita sendiri yang akhirnya harus mengakui: sekarang sudah semakin tua.

Seorang sahabat mengirimkan pesan singkat menjelang waktu ketika kebanyakan orang memutuskan untuk meniup lilin penanda:

       “Akan selalu ada sejumput diri kita yang tidak mau pergi dari perbatasan antara usai dan tidak usai, berusaha melangkah maju sementara hati itu tertinggal jauh di masa lalu. Masa lalu memang istimewa, tapi kita tidak bisa menyeretnya ke masa kini hanya karena kita terikat dengan keindahannya. Satu-satunya cara untuk tetap membuatnya berharga adalah dengan menyimpannya di masa lalu, pada suatu waktu ketika momen itu berharga dan kita cuma perlu menyimpannya dalam sekotak kaca yang kedap udara: melihatnya dari jauh,   memahami pelajarannya tanpa perlu mengulangi kejadiannya. Bukankah untuk itu kita menjadi tua?”

Bogor| 05 Januari 2011 21.44

Pada akhirnya, ketika kita menjadi semakin tua, hidup hanya akan memiliki satu kecenderungan yaitu kesendirian. Malam-malam yang tertatih untuk merencanakan agenda esok hari, pagi yang disesaki dengan langkah tergesa menuju tempat kerja, juga siang yang menjadi rutinitas menanti sore. Hidup seperti menguatkan proses seleksi alam yang barangkali masih menjadi andalan teori para ilmuwan. Homo homini socius, homo homini lupus, homo homini religius, manusia adalah makhluk segala rupa yang selalu membutuhkan orang lain. 

Dan hingga dibilangan usia yang sudah dua-dua, aku memiliki kesempatan yang tak bisa dibantah harus aku syukuri. Tuhan, terima kasih untuk proses yang kau berikan untuk mencari-Mu, menjauh dan mendekat, ingat dan lupa, taubat dan maksiat, terima kasih untuk semua itu. Aku selalu rindu rumah ketika berada jauh, itu yang kuumpamakan dengan mengingatMu, selalu. Terima kasih untuk hidup yang sangat berwarna, suka-duka, perih tertatih, juga pencapaian yang seringkali tidak pernah aku bayangkan. Aku percaya bahwa jarak denganmu bukan pada perpaduan antara kening dengan debu, aku percaya lebih dari itu. Kau ada, lebih dekat dari urat leherku.

Menjadi tua adalah sebuah kenyataan yang bersyarat. Bagiku sendiri hal itu harus diimbangi dengan sebuah konsekuensi untuk tumbuh menjadi dewasa, tidak sekedar memiliki umur yang bilangannya semakin banyak. Kemarin sepertinya aku masih minum susu ibu, tanpa malu-malu menikmati setiap tetes hujan dan berlarian dengan teman-teman, kemudian merengek minta dibelikan permen atau pun es lilin. Kemarin aku masih mengenakan gaun kanak-kanak berwarna merah, menikmati euforia pembagian raport, melihat adikku yang baru belajar berjalan. Kemarin, baru saja kemarin kulihat keriput dilingkar mata ibuku belum sebanyak sekarang, uban di dekat pelipis ayahku juga masih jarang-jarang, adikku yang selalu minta dipeluk ketika tidur. Kemarin.

Hari ini, aku memandangi kenangan-kenangan itu dalam kotak kaca kedap udara, merabanya dari luar, sebuah etalase yang tidak pernah usang oleh zaman. Hari ini, tanpa bisa menatap langsung wajah ibuku yang semakin nampak gurat-gurat perjuangannya, mimik bangga ayahku yang tersenyum dan melambaikan tangan ketika aku berpamitan untuk belajar melangkah sendiri, rona ceria adikku yang mengabarkan bahwa ia juara satu, aku berada di takdir hari yang semakin mengerucut. Hari yang selalu penuh dengan aktifitas serta pada akhirnya kupilih sendiri dengan harus berjauhan dari mereka yang setia menanyakan ‘kamu sudah makan nak?’, ‘mbak sehat?’

Imajinasiku melena pada sebuah daya yang memanduku untuk lirih berucap, ‘terima kasih untuk kasih yang tak pernah pamrih, kepercayaan yang tidak pernah runtuh, ketulusan yang selalu tumbuh dari hati, semangat-semangat yang tidak kunjung pupus, kedamaian yang selalu ditularkan, dan rasa percaya diri yang selalu disematkan di setiap hari. Untuk keluargaku, hingga aku menjadi seperti saat ini akan terlalu berat jika tanpa jerih dan pengorbanan kalian.

Untuk sahabat, kawan dan handai taulan yang tidak pernah meninggalkan, aku berproses dengan kalian. Menempa waktu dan menghabiskan sepi, bercanda, berbagi, menyakiti atau disakiti, tertawa, menularkan semangat-semangat untuk tetap bertahan dalam kerasnya hidup. Menegakkan bahu untuk memeluk dan dipeluk, mengeluarkan suara untuk saling mengingatkan, mengucap sayang, juga serapah yang seringkali muncul. Tapi semua itu menjadi kejutan-kejutan hidup yang akhirnya membuat diri ini sadar, kita perlu orang lain untuk hidup. Kalian adalah rumah singgah yang membuka dan menutup pintu hingga aku tahu bahwa menjadi dekat adalah dengan ‘mengetuk’. Terima kasih dan maaf.

Aku mengerti bahwa tidak ada yang bisa dipastikan dalam hidup ini, sebab yang paling pasti hanyalah perubahan. Tidak ada yang stagnan dalam perjalan sebab setiap individu mengejar untuk sampai di garis batas tujuannya, dan aku, mengejar kebahagiaan untuk terus berbagi. Dengan sesama dan semesta. Dua-dua. 

Isn't impossible of having dream come true to make our life interesting, because life wants us to achieve our Personal Legend.

Rabu, 04 Januari 2012

Accidentally in Love


Bogor | 04 Januari 2012

Sesungguhnya kisah cinta yang paling dahsyat adalah yang terjadi pada kita sendiri, bagaimana pun jalannya.

Lama tidak menjumpaimu, seukuran dengan 604.800 detik yang kuhitung dengan mesin matematis. Tapi seperti sahabatku katakan, hati manusia tidak bisa diukur dengan matematika dan logika ekonomi. Sekian ratus ribu detik itu bermakna jauh lebih lama dari ukuran sebenarnya. Aku memimpikanmu, berkali-kali, aku merindukanmu setelah diam yang kita ciptakan ketika masing-masing dari kita sama-sama berniat meninggalkan. Berkali-kali kita berusaha untuk jujur pada diri, bahwa apa yang terjadi bukanlah suatu kebetulan tapi suatu keniscayaan yang nyata dan sungguhan. Kita sibuk dengan jalinan yang mengikat yang diyakini sebagai bentuk ikhtiar akan masa depan. Pada saat yang sama ternyata kita sedang mebodohi hati, melucuti nalar dan membuat kita terbiasa untuk beretorika tentang  perasaan. 

Berkali-kali kita jatuh cinta, pada orang yang berbeda dan selalu mengharap ada perbedaan, perubahan, atau pun pencapaian yang kita harapkan. Betapa sering kita mengatakan bahwa perasaan jauh dari kemunafikan. Pada saat yang sama, pandangan kita runtuh, ternyata kita tidak pernah menggharapkan perbedaan. Justru kita bertarung sedemikian rupa, mereka-reka rencana supaya belahan jiwa yang baru sama dengan keinginan kita. Seringkali kita mencari pembanding, bukan membedakan, tapi justru menyamakan. Bukankah kita tahu bahwa orang itu tidak suka disamakan? 

Jatuh cinta itu seperti kecelakaan. Kita tidak pernah tahu kapan dan dengan siapa itu akan terjadi. Cinta itu unik, meskipun sifatnya universal. Pengalaman cinta bisa bersifat spiritual untuk individu yang berbeda.

Banyak orang yang memilih menjadi pemain untuk membuktikan bahwa eksistensi cinta itu universal. “Kamu akan benar-benar membenci seseorang tapi di suatu waktu justru orang itu satu-satunya yang benar-benar kamu rindukan.” Pilihan itu membebaskan bagi sebagian orang, tidak ada tendensi untuk memiliki hanya saling mengagumi. Berusaha memahami dan seperti ‘dermawan’ dengan keadaan tidak pernah terselimuti cemburu, memeras tenaga untuk berpikir tentang satu orang, dll. Bebas. Cinta dianggap sebagai pertukaran yang transaksional dalam hukum pasar yang menandakan bahwa ketika kesepakatan telah dicapai maka tidak ada satu pihak pun yang dirugikan. Cinta menjadi seperti layang-layang yang akan terbang ketika dibawa angin dan diam saja ketika tidak ada udara yang bergerak.

Tapi cinta itu bukan gambling. Kita tidak pernah tahu kepada siapa akan jatuh cinta. Hanya saja untuk menentukan jika suatu saat secara tiba-tiba kita jatuh cinta bukan dengan menaruhkan perasaan atau pun harga diri. Karena cinta itu bukan pertaruhan rasa dan harga diri. Struktural fungsional cinta. Aku cukup tertegun dengan istilah cinta turun dari mata lalu ke hati. Bisa saja itu terjadi, karena value seseorang  bisa dilihat dari fisik. Namun tidak sebatas itu. Cinta adalah lagu yang indah ketika suasana begitu hening, air yang menyejukkan kala kita dilanda dahaga, pun seperti ilham tak terduga ketika kreativitas hidup kita sedang buntu. Bahkan Mahatma Gandhi pernah mengatakan, senjata yang tak terkalahkan di dunia ini adalah cinta.

Sudjiwo Tejo, seorang dalang kawakan yang mendeklarasikan dirinya sebagai presiden Jancukers mengunggah patahan kata yang tersambung menjadi peribahasa mutiara di jejaring sosial twitter. Maknanya denotasi sehingga tidak perlu susah mencerna arti dari kalimatnya: “Kita bisa saja menikah dengan orang yang kita inginkan, dengan orang yang kita pilih, tetapi kita tidak pernah bisa menentukan siapa orang yang akan kita cintai”. Ya, tampaknya nonsense, tapi benar memang kita tidak pernah tahu siapa orang yang akan kita cintai, itu bagian dari kesepakatan alam. Aku seperti percaya bahwa dalam diri kita terdapat semacam sensor yang bereaksi ketika bertemu dengan orang yang sekiranya ‘match’ dengan reaksi alam tersebut. Meskipun tidak disadari, rasanya bertemu denganmu juga seperti menguatkan bahwa memang kita tidak pernah bisa menentukan siapa orang yang akan kita cintai.

Selanjutnya, mungkin saja sampai di pentas drama yang kita perankan sendiri. Hanya aku dan kamu dengan sutradara Tuhan,  tapi kita pun kadang mereka skenario ‘apa’ dan ‘bagaimana’ untuk episode terusannya. Cerita untuk besok, script mana yang harus digarap, siapa saja figurannya, tapi dengan tokoh utama yang tetap sama, kita. Lama sekali rasanya tidak menjumpaimu untuk bersitatap merencanakan cerita esok, dan kamu selalu saja tidak bisa kuukur dengan logika matematika maupun ekonomi. Kisah yang terurai dalam drama kita selalu menarik, unik dan hanya kita.

Selasa, 03 Januari 2012

Pariri Lema Bariri

Minggu terakhir Desember tahun lalu saya memiliki kesempatan untuk mengunjungi salah satu Kabupaten dengan potensi alam yang luar biasa, Kabupaten Sumbawa Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Berkesan, itu satu kata yang bisa saya ungkapkan untuk menggambarkan perjalanan saat itu. Meskipun tujuannya untuk pekerjaan, tapi rasa lelah terbayar dengan pemandangan yang saya saksikan di sepanjang alur menyusuri bagian dari wilayah yang masuk zonasi waktu Indonesia bagian tengah tersebut.

Saya takjub melihat hamparan laut yang dihiasi pulau-pulau kecil di antaranya. Rutinitas dan kebiasaan menghirup udara kota besar dengan hiruk-pikuknya yang menyesakkan rasanya terobati dengan hembusan angin yang membelai wajah setiap kali menyapu pandang ke tengah laut. Padahal itu hanya perjalanan singkat ketika menyeberang dari menuju Poto Tano untuk selanjutnya meneruskan perjalanan ke Taliwang (Ibukota Kabupaten). 
Mata pencaharian utama penduduk Desa Kertasari, Sumbawa Barat adalah budidaya rumput laut
Kemudian ketika satu hari harus mengikuti pertemuan dengan warga di Desa Kertasari, mata saya dimanjakan (lagi-lagi) dengan hamparan laut biru yang menjadi andalan masyarakat setempat untuk melangsungkan kehidupannya. Salah satu sumber nafkah utama bagi masyarakat di desa itu adalah membudidayakan rumput laut. Indonesia, kekayaan alam seperti apa yang tidak bisa dibanggakan?

Sekolah dengan atap awan
Foto di atas saya ambil ketika pulang dari Desa Kertasari, salah satu bangunan sekolah yang menjadi tumpuan menuntut pendidikan dasar bagi anak-anak di sana. Saya menjadi rindu masa dimana saya masih duduk di sekolah dasar. Meskipun jauh dari fasilitas seperti sekolah-sekolah di kota, tapi lingkungannya sangat tenang, kapan pun bisa memperoleh cahaya matahari yang tak pernah malu-malu bersinar dengan hamparan langit biru yang bersih.

Gerbang Masuk Komplek Pemerintahan Kabupaten Sumbawa Barat (KTC)
Awalnya saya belum mengetahui perihal kabupaten yang baru pertama kali saya kunjungi ini. Jika Bogor disebut Kota Beriman, Banjarnegara bergerak dengan Gilar-Gilar, Cilacap Bercahaya, Semarang Kota Satria, maka Kabupaten Sumbawa Barat berdiri dengan "PARIRI LEMA BARIRI" yang artinya segera untuk dibenahi bersama. Kabupaten pemekaran dari Sumbawa Besar ini telah berusia tujuh tahun dan mengembangkan seluruh aktifitasnya dibawah pondasi yang disebut dengan peradaban fitrah. Komplek pemerintahan menjadi satu untuk seluruh dinas, sekaligus bersatu dengan Masjid Agung Darussalam. Nilai-nilai islam sangat terasa di Kabupaten Sumbawa Barat.


Mengunjungi tempat baru selalu memberikan penyegaran atas perspektif kita, sebab dunia tidak hanya berada di jengkal telapak kaki kita. Banyak sekali  tempat-tempat menarik, eksotis, dan memberikan banyak pengalaman berharga yang ingin saya kunjungi. Saya yakin bahwa di pelosok-pelosok negeri memiliki potensi luar biasa yang bisa saja di luar apa yang kita bayangkan. Udara yang masih bersih, kebudayaan yang khas, bahasa yang berbeda, juga yang tidak kalah penting adalah setiap tempat yang kita kunjungi akan menjadi bagian dari kaleidoskop perjalanan kita. Salute to Indonesia :)