Kamis, 20 Desember 2012

Melangkah












 
Mengejar impian dimulai dengan melangkah,
Melangkah memerlukan kekuatan,
Kekuatan diperoleh dari keyakinan-(Turasih)

Kamis, 13 Desember 2012

Tips Membersihkan Kacamata

picture from here, click!
Bagi saya kacamata adalah soulmate yang tidak bisa terpisahkan dari keseharian saya, maklum minus saya sudah cukup besar dan sangat tergantung dengan kacamata. Kadang-kadang saya merasa kewalahan juga menggunakan kacamata, namun karena mata selalu iritasi jika menggunakan softlens, jadi bagaimana pun saya prefer menggunakan kacamata. Sejak pertama kali menggunakan kacamata (kelas 2 SMP) sudah tak terhitung berapa kali saya ganti lensa, untuk frame-nya saya mengikuti perkembangan saja asal tidak norak dan pas sesuai bentuk wajah saya.

Kali ini saya ingin sedikit berbagi tips membersihkan kacamata, salah satu aktifitas pengguna kacamata yang tidak bisa diabaikan. Seringkali saya membersihkan kacamata menggunakan kain atau pun kertas tisu. Untuk lensa yang berbahan kaca, akan lebih mudah jika dibersihkan dengan kain, namun untuk lensa yang berbahan mika justru akan semakin buram. Nah, saya dapat trik baru membersihkan kacamata dari teman saya sesama pengguna kacamata dengan lensa berbahan mika.

Apa tips membersihkannya?

Cuci Lensa Kacamata Menggunakan Sabun Cair

Sabun cair yang digunakan bisa sabun mandi atau pun hand soap. Awalnya saya kaget dengan tips ini, namun setelah diterapkan ternyata lensa mika menjadi lebih terang. 

Setelah dicuci, keringkan dengan tissue

Bagi pengguna kacamata, silakan dicoba trik membersihkan kacamata tersebut, biar makin cling penglihatannya :)

Cheers ^^

Thanks To: Lutfi Afifah atas trik-nya :*

Kamis, 22 November 2012

Tentang Kebebasan

Tadi malam, di tengah menyelesaikan pekerjaan saya menulis, saya online kan akun Skype saya. Kemudia seorangteman yang sedang melakukan backpacker ke Negeri Kanguru menyapa saya, perbincangan pun dimulai dari hal yang remeh-temeh sampai akhirnya dia bertanya:

"Bagaimana kalau saya betah dan memutuskan untuk tinggal di sini (-Australia)?"

Saya menjawab dengan ringan:

"Mengapa kamu ingin tinggal di sana?"

Dia menjawab, "Saya merasa bebas di sini, bebas dalam pemaknaan saya".

Saya berpikir sejenak kemudian meneruskan perbincangan tersebut. Saya sampaikan bahwa kebebasan sebenarnya hanyalah soal persepsi yang kemudian menciptakan skema makna bebas menurut diri kita sendiri. Ada orang yang merasa bebas jika sudah memiliki uang banyak, ada yang merasa bebas dengan menjelajahi dunia, ada yang merasa bebas jika sudah beristri/bersuami, ada yang merasa bebas jika sudah lulus sarjana, dan ada banyak bentuk kebebasan lain, termasuk bebas dari penjara. Tapi bagi saya kebebasan itu tidak bisa dimaknai secara rinci seperti definisi-definsi ilmiah. Kebebasan itu dari hati, kebebasan adalah ketenangan. Siapa yang menjami jika seseorang sudah memiliki uang yang bahkan digitnya sendiri tak terhitung telah bebas? Siapa juga yang mampu memberikan kepastian bahwa berkeluarga, lulus sekolah, atau pun keluar dari penjara dalah situasi dimana seorang menjadi bebas? Maka dari itu saya menyebut bahwa kebebasan adalah tentang persepsi.

Kebabasan tidak berada di satu titik, ia berotasi dan selalu menemukan titik-titik yang baru dalam perjalanannya. Saya teringat dengan salah satu iklan provider yang menyebutkan bahwa 'bebas itu nyata'. Ya, kebebasna itu nyata jika diri kita yang memiliki persepsi tentang kebebasan bisa mensinergikan akal dengan qalbu, menyelaraskan diri dengan semesta dan tidak merugikan sekitar kita.

Sudahkah merasa bebas? Temukan persepsimu tentang kebebasan,  feel and act!

Selasa, 06 November 2012

Beginilah Caraku Memaafkan

Pada saatnya kita akan tahu bahwa yang terjadi hari ini berhak untuk kita ceritakan, tangisi, atau tertawakan. Manusia terlalu rumit dan membatasi definisi "menjadikan masa lalu sebagai pelajaran" yang pada akhirnya hanya sebatas perenungan. Definisi yang cenderung melupakan substansi humani manusia yang berakal dan berasa. Sebab merenung seharusnya menghasilkan langkah yang bijak.

Ketika saatnya tiba, ternyata kamu telah pergi tanpa pamit. Bukan menjadi masa lalu, masa sekarang, atau hari ini. Kamu tidak pernah ada--setidaknya begitulah caraku memaafkanmu. Ini caraku menikmati setiap episode dalam kehidupanku--dengan demikian aku memaafkanmu.

Sebab Merenung Harus Menghasilkan Langkah yang Bijak--Beginilah Caraku Memafkan!

Bogor--06 November 2012

Rabu, 31 Oktober 2012

Simply Share: A Man Who Wants to be A Spider-man


Picture from here: click!

Respectfull. Satu kata yang mewakili bagaimana ia dikenal, kukenal tepatnya. Perkenalan yang singkat , tapi sedikit cukup untuk membawaku menuliskan beberapa kalimat ini. Ini semacam kebiasaan bagiku: menulis, menuliskan hal-hal yang menarik yang aku temui, pemikiran-pemikiran orang yang mengkayakan wawasan,  juga apa yang bisa saja tiba-tiba membuatku terinspirasi.

And you are the part of my inspirations right now. Banyak orang yang mendedikasikan waktunya untuk bekerja karena mengejar diri, mengejar egoisme yang sentris dan pada akhirnya mengabaikan sisi sosial mereka yang sesungguhnya melekat. Homo homini socius, itulah manusia. Kata Descartes, cogito ergosum-aku berpikir maka aku ada. Orang pun berlomba-lomba mengejar puncak piramida di kehidupan mereka, apa pun bentuknya (uang, jabatan, wanita). Banyak juga orang yang menghabiskan waktunya untuk menyesali masa lalu, menganggap masa kini adalah cerminan dari masa kemarin, dan masa depan seakan-akan adalah segalanya yang ingin dituju, hingga mereka lupa untuk menikmati dan menghayati apa yang mereka hadapi hari ini. Terlalu submisif ataupun agresif, bagiku itu adalah hal yang memampatkan nurani. Kamu berada di luar lingkaran, menjadi diri kamu sendiri dan tetap melihat dari mana kamu berasal :D

Mendengarkan kamu menjabarkan impianmu, menikmati hidup yang kamu jalani rasanya menciptakan dimensi tersendiri dari semangat hidup yang akan terus dipupuk dan dijaga. Tidak ada yang lebih baik ketika kita berendah hati untuk membahagiakan orang lain, dan mendedikasikan waktu untuk sekitar kita: sesama dan semesta. Bagiku itu keajaiban. Aku berpikir, betapa alam memberikan energi positifnya untuk kamu terus bergerak, dari pagi hingga pagi lagi, mengerjakan tugas kantor, secara bertahap mewujudkan impian-impian kamu, dan juga memperhatikan orang-orang di sekitarmu. 

Bagiku, setiap orang itu menginspirasi, membuatku hidup, bahkan untuk orang-orang yang paling menyebalkan sekalipun. Dan sekarang, kamu juga menjadi seorang teman yang memiliki pengaruh baik dalam skemaku. 

Kamu menjadikan Spider-man adalah superhero yang dahsyat, yang menjadi imajinasi kanak-kanakmu. Itu menggelikan menurutku :D, sebagai seorang gadget addict yang pernah mengatakan bahwa dunia dongeng adalah dunia imajinasi yang nggak real, ternyata punya imajinasi yang masih disimpan sampai saat ini. Dan aku yakin, dimata keluargamu, sahabat-sahabatmu, anak asuh, anak-anak panti, kamu adalah superhero itu sendiri.

Ada dua hal yang biasanya menjadi landasanku untuk bisa mengenal dan mengingat orang dengan baik, mata dan ucapannya. Mata kamu bersahabat, mata yang tersenyum, yang (mungkin) menjadikan orang tahu bahwa ketulusan itu terpancar (lebay-nya sih mata itu katanya jendela hati). Ucapanmu juga menunjukkan bagaimana intelektualitas hidup terus kamu jaga, menghidupkan kehidupan.

Hidup adalah akumulasi pengalaman, dan pengalaman itu telah  menjadikan kamu seperti hari ini. Menikmati hidup. Proses-proses yang terlewati dari perjalanan panjang , bertemu dengan banyak orang, mengunjungi banyak tempat telah menempa dan mendewasakan kehidupan kamu.

Tuhan memang selalu punya cara untuk mendidik hambaNya di sekolah kehidupan. Mengenal orang baru, termasuk mengenalmu adalah satu mata pelajaran tersendiri yang patut disyukuri. Nilai lebih yang memberi semangat untuk terus berkarya, bekerja dengan hati, dan kekuatan memberi.

Anyway, karena senang nulis, ini termasuk tulisan pendek. But over all, i say thank you J And then i wanna say that  You are great but not perfect, Kamu masih pelupa dan moody :p

*langsung lanjut nulis laporan akademik lagi :D*

Darmaga, 261012 15.04’

Sabtu, 27 Oktober 2012

Travelling, for travel itself

Beberapa saat yang lalu saya bertemu seorang teman couchsurfing dari Beijing yang berencana akan menjelajahi Indonesia selama 2 bulan (dia menyebutnya tinggal di Indonesia). Sepanjang pertemuan, saya banyak memperoleh informasi tentang China yang disampaikan olehnya. Bagaimana orang China hidup, bagaimana mereka makan, dan bagaimana mereka beribadah (saya sangat tertarik ketika di amenunjukkan dan menjelaskan bagaimana orang Tibet beribadah), dan tentu saja bagaimana mereka menghemat uang. Lebih dari itu ada pelajaran berharga lain yang bisa saya ambil, yakni bagaimana keseimbangan lahir dan batin bisa diperoleh di tempat-tempat yang sunyi, yang bebas dari kebisingan.

Teman saya tersebut sebelumnya bekerja di perusahaan milik keluarganya, kemudian memutuskan untuk 'cuti' selama satu tahun dan mengunjungi negara-negara di Asia. Dari pertemuan tersebut saya belajar bagiamana orang-orang di luar sana bersikap dan sangat mencintai negaranya. Juga tentang travelling sendiri, saya menjadi mengerti mengapa orang senang bepergian. Itu adalah perkara kenyamanan dan bagaimana pencapaian hidup ingin diraih. Ada orang yang bepergian karena ingin menghabiskan uangnya untuk berbelanja, ada yang bepergian untuk mencari jati diri, ada juga yang bepergian untuk belajar dari alam dan lingkungan. Dan tujuan teman saya datang ke Indonesia adalah untuk mempelajari bagaimana orang lokal hidup, bagiamana masyarakat kelas bawah mencari nafkah, mengunjungi pasar-pasar tradisional, dan baginya travelling bukanlah hal yang bisa dikomersialkan. Dia menafsirkan bahwa travelling adalah untuk travel itu sendiri, outputnya bukan pada berapa banyak foto yang bisa diambil, catatan yang ditulis, atau video yang ditake kemudian diperjualkan.

Meskipun ada perbedaan pendapat tentang makna travelling itu, tapi saya mafhum dan bersyukur bisa share pengalaman. Bertemu dengan orang baru selalu membuka wawasan, tergantung bagaimana kita memanfaatkan informasi yang kita dapatkan.

*B, thanks for shared your experiences :)

Senin, 23 April 2012

Happy Birthday 13th My Beloved Sister :)


Aku menunggu kehadiranmu selama 9 tahun, menjadi anak tunggal yang satu-satunya, menjadi yang begitu manja dan cengeng. Hingga saatnya kamu datang, pagi subuh ketika itu. Ibu yang tentunya kamu tahu sebagai perempuan yang sangat tangguh dan begitu sabar melahirkanmu, membiarkanmu tahu bahwa ada udara selain di rahim hangatnya. Beliau mengejan, menunggu ayah memanggil dukun bayi, dan kamu sudah lahir dengan selamat sebelum Mbah Kaspuri (dukun bayi turun-temurun di desa kita) datang ke rumah.

Kamu tahu betapa bahagianya kakakmu saat itu? Aku menjadi kakak, resmi menjadi seorang kakak. Saking bahagianya aku bolos sekolah, menungguimu di sebelah ibu. Begitu rupanya rasa bahagia mendapatkan berkah yang luar biasa dari Allah. 

Hingga saat memberi nama pun tiba, ada banyak usulan. Dan sampailah pada pilihan nama yang sangat cantik, begitu mendalam maknanya: Nurhayati. Sederhana namun sarat dengan doa. Orang-orang menyayangimu, mendoakanmu sabagai cahaya bagi kehidupan, menerangi langkah di sekitarmu dan bermanfaat bagi sesamamu.

Kamu beranjak tumbuh adikku sayang, dan aku semakin mencintaimu. Melihat pertumbuhanmu, mengamati bagaimana kamu bisa berjalan, terbata-bata belajar membaca, hingga kamu menjadi begitu cerdas. 

Usiamu kini sudah 13 tahun adikku, kamu memasuki dunia remaja. Kamu sudah aqil baligh. Tetaplah menjadi pribadi yang rendah hati, pertahankan apa yang sudah kamu raih, tingkatkan prestasi untuk bekal dunia dan akhiratmu, berbakti kepada orang tua dan guru. Berikan sebaik yang kamu mampu untuk mereka, negara, dan agama. Tidak ada yang Mba bisa ucapkan selain terima kasih, terima kasih, terima kasih telah menjad i kebanggaan kami. Terima kasih memberi keceriaan di ruang keluarga, terima kasih telah menjadi cahaya di tengah-tengah kehidupan kami. Terima kasih.

Ada banyak orang yang menyayangimu adikku sayang, ada banyak yang mengagumimu. Kakakmu yakin dan berdoa, kelak kamu akan menjadi orang hebat, seorang kreasionis, pelukis, arsitek, ilmuwan, diplomat, juga guru untuk orang-orang di sekitarmu. Dan aku, Ayah, Ibu, Bulik akan menjadi fans yang tidak pernah bosan mengagumi karya-karyamu.

Selamat ulang tahun, terima kasih telah menjadi adikku. I love you.

Jumat, 16 Maret 2012

Terimakasih untuk Tidak Menyontek

Setelah dianggurin sampai dua minggu, akhirnya hari ini bisa meluangkan waktu untuk mengoreksi kuis mahasiswa. Sempat tegang sebelumnya karena pada saat kuis dilaksanakan mahasiswa yang mengikuti praktikum di kelas saya duduknya sangat rapat sehingga peluang untuk mencontek terbuka lebar. Satu-satu pekerjaan per soal saya koreksi, dan amazing, saya apreciate kepada teman-teman mahasiswa yang memutuskan untuk yakin dengan kemampuan sendiri dan tidak mencontek.

Hasil kuisnya juga nggak jelek-jelek amat, nih buktinya :)


Menyontek adalah perilaku yang tidak terpuji (anak SD juga ngerti), saya sendiri punya trauma dengan menyontek, begini:

Hidup saya nggak lurus-lurus amat, malah banyak belokannya. Nah pengalaman saya tentang menyontek untuk pertama dan terakhir adalah saat SD kelas 6 (asli ampuuuun Pak Guru Haryono, sampai hari ini saya belum ngaku sama Bapak). Waktu itu ulangan IPA, saya tidak belajar malamnya karena lupa (belajar kok lupa, emang dasarnya males ><), nah beberapa sola saya bisa menjawab dengan lancar dan hanya satu soal yang membuat saya kelimpungan. Soalnya adalah: APA YANG DIMAKSUD DENGAN DAYA AKOMODASI MATA? (hayooo apa coba?).


Satu soal itu membuat saya buntu, diam-diam saya berusaha keras untuk memasukkan tangan ke dalam laci dan menyobek salah satu halaman buku yang isinya tentang daya akomodasi mata (nggak perlu dibayangin gimana nyobeknya), dan jawabannya adalah: DAYA LENSA MATA UNTUK MEMIPIH DAN MENCEMBUNG. Saya lega setelah bisa membaca satu kalimat itu, dengan lancar akhirnnya saya tulis di kertas jawaban. Seingat saya saat itu cuma dua orang yang bisa menjawab: saya (karena mencontek) dan seorang teman yang memang pintar. Dapat nilai 100 booooo... (tapi nyeselnya sampai sekarang).


Awalnya saya nggak sadar kalau menyontek itu menyebalkan (dosanya udah pasti), saya sadari setelah masuk SMP. Di kalangan teman-teman waktu SMP, saya yang paling malas belajar, khususnya pelajaran matematika. 

Kelas 1 SMP, saatnya UTS matematika pun tiba..


Masih ingat tentang soal yang ada sangkut pautnya sama diagram venn, kemudian nyari variabel? saya ingat tapi lupa apa babnya... hasilnya saat itu adalah saya menjadi penghuni kelas terakhir yang berusaha mati-matian untuk mengerjakan soal. Hasilnya? nilai saya kecil dan saya mengakui kesalahan karena memang itu kelalaian saya tidak belajar. Saat keluar dan tahu ada beberapa teman yang cepat mengerajakan namun ternyata mencontek, saya geram (what the hell), kenapa harus menyontek? dannnn nilai mereka bagus ><


Dari situlah saya sadar kalau menyontek itu menyebalkan! dosanya pun berbekas (asli saya nyesel banget pernah nyontek waktu SD). 


Sekarang, barangkali di teman-teman mahasiswa yang pernah sekelas dengan saya atau yang saya ajar, saya termasuk orang yang cerewet kalau tahu ada yang mencontek (waktu SMA saya pernah menjadi siswa kejam yang melaporkan beberapa teman yang mencontek ke guru). Apalagi untuk mahasiswa praktikan saya, kapan pun saya tekankan untuk tidak mencontek dan percaya akan kemampuan sendiri. Simplenya gini deh: Tuhan itu ngasih manusia otak untuk berpikir, rugi banget kalau ujian pikirannya bukan tentang pencapaian yang bagus dan bersih, bukan bagaimana mencontek dengan rapi dan nggak ketahuan.

Pliss deh, negeri ini sudah penuh dengan koruptor.. laten bahayanya, bisa saja dimulai dari hal kecil (mis: nyontek tanpa ada rasa berdosa sebagai kebiasaan).

SAY NO TO NYONTEK!

Terimakasih untuk mahasiswa kelas saya untuk tidak menyontek :)

p.s: kalau pas ngawas ujian saya paling galak, maaf bukan karena saya nenek sihir tetapi itu untuk kebaikan bersama :)



Senin, 06 Februari 2012

Langgam Februari


#Bogor, 01 Februari 2012

Februari, disebut bulan cinta bagi yang percaya bahwa bulan ke-dua di kalender masehi ini adalah saatnya mengungkapkan kasih bagi orang-orang tersayang. Berawal dari Festival Lupercalia yang berlangsung di jaman kerajaan Romawi, sekitar abad ke-3 dan  kisah seorang pendeta dari gereja katolik Roma, Santo Valentine, mendasari mengapa pada bulan Februari ada satu tanggal yang dielukan sebagai hari Valentin yaitu pada tanggal 14 Februari. Ada berbagai versi mengenai asal-muasalnya, namun semua mengerucut pada sebuah perayaan yang hingga saat ini juga masih ada di berbagai tempat dengan cara yang beragam. Ada yang sekedar membelikan cokelat untuk pasangan, mengirimkan kata-kata sayang, atau pun saling mendoakan hingga perayaan yang mengarah pada free sex.

Bagi yang tidak mau memaknai Februari sebagai bulan istimewa, begitu juga saya, tidak menjadi persoalan. Simplenya adalah setiap hari merupakan ajang untuk berbagi kasih, mengungkapkan sayang kepada sesama dan juga semesta. Jadi tidak perlu ada ‘ritual’ khusus untuk menunjukkan bahwa kita saling menyayangi, semuanya sudah dipondasi dengan ketulusan.

Saya terpikir untuk menulis tentang Februari karena memang waktu sedang berotasi di putaran tanggalnya dimana pada tahun 2012 ini mencapai angka 29. Tahun kabisat yang hanya terjadi setiap empat tahun sekali. Selain itu tanpa direncana ternyata seorang sahabat dekat saya berulang tahun pada hari ke-lima di bulan Februari ini. Sehingga yang tadinya iseng, setelah disadari justru menuliskan tentang Februari menjadi sebuah momentum. Untuk sahabat saya: Selamat Ulang Tahun.

Momentum. Setiap orang memilikinya, mendapatinya pada kesempatan yang berbeda-beda, dalam dimensi yang tidak bisa ditentukan dan entah dengan siapa saat itu berhadapan. Yang jelas, momentum serupa hukum kekekalan energi: tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. 

Terkait dengan  bulan Februari sendiri, sebenarnya banyak peringatan  momentum bersejarah diantaranya 02 Februari sebagai hari lahan basah sedunia (konvensi Ramsar), 09 Februari sebagai  Hari Persatuan Wartawan Indonesia, tanggal 14 Februari sebagai Hari Peringatan Pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA), 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional, dan masih banyak lagi momentum lainnya. Hanya saja kita sering terkotak pada satu dimensi kejadian yang belum tentu merupakan titik dimana kita bisa memberi dan menuai manfaat.

Jadi apa pun  harinya, berapa pun tanggalnya, berada di bulan apa atau tahun berapa adalah kesempatan yang baik. Tergantung kita sebagai makhluk berakal memberikan perlakuan pada setiap detik yang dilalui. Semoga kita menjadi orang yang bijaksana, yang bisa selalu memperbaiki kapasitas diri setiap harinya, tidak hanya di Februari namun setiap waktu.


Senin, 09 Januari 2012

06012012

Bogor |06 Januari 2012

Jika boleh meminta, kuharap hari ini akan berjalan lebih lambat dari biasanya, hingga doa-doa itu teraminkan dengan sempurna. Melebur dengan seluruh partikel alam yang siaga mendengar harapan semoga-semoga, merasakan semangat dari setiap kata dan peluk cium, juga melihat ketulusan pada setiap ucapan yang terucap. Hadiah terbesar dan paling berharga adalah doa dari kalian semua, orang-orang yang merapat pada hari ketika umur ini tertanda.

Terimakasih, semoga seluruh penghuni langit dan bumi meraba setiap kebaikan yang terselip dalam setiap harapan. Berbahagialah, sesungguhnya kita bisa berulangtahun setiap hari dengan saling mendoakan. Thanks so much for all who believe me, big hug and kisses :*

Jumat, 06 Januari 2012

Dua-Dua


Bandung | 05 Januari 2012

Perjalanan yang kian jauh, dengan batas yang masih samar dan mungkin saja buyar begitu saja, tetapi selalu dinanti, dihitung nominalnya dengan ukuran detik. Rekening waktu. Hakikatnya, ketika kita melihat sekeliling kita berubah, wajah orang tua yang kian berkerut, adik-adik yang kian tumbuh tinggi, kucing peliharaan yang sudah beranak-pinak, atau pun pohon di belakang rumah yang sudah bisa ditebang, sesungguhnya bukan mereka yang berubah, hanya diri kita sendiri yang akhirnya harus mengakui: sekarang sudah semakin tua.

Seorang sahabat mengirimkan pesan singkat menjelang waktu ketika kebanyakan orang memutuskan untuk meniup lilin penanda:

       “Akan selalu ada sejumput diri kita yang tidak mau pergi dari perbatasan antara usai dan tidak usai, berusaha melangkah maju sementara hati itu tertinggal jauh di masa lalu. Masa lalu memang istimewa, tapi kita tidak bisa menyeretnya ke masa kini hanya karena kita terikat dengan keindahannya. Satu-satunya cara untuk tetap membuatnya berharga adalah dengan menyimpannya di masa lalu, pada suatu waktu ketika momen itu berharga dan kita cuma perlu menyimpannya dalam sekotak kaca yang kedap udara: melihatnya dari jauh,   memahami pelajarannya tanpa perlu mengulangi kejadiannya. Bukankah untuk itu kita menjadi tua?”

Bogor| 05 Januari 2011 21.44

Pada akhirnya, ketika kita menjadi semakin tua, hidup hanya akan memiliki satu kecenderungan yaitu kesendirian. Malam-malam yang tertatih untuk merencanakan agenda esok hari, pagi yang disesaki dengan langkah tergesa menuju tempat kerja, juga siang yang menjadi rutinitas menanti sore. Hidup seperti menguatkan proses seleksi alam yang barangkali masih menjadi andalan teori para ilmuwan. Homo homini socius, homo homini lupus, homo homini religius, manusia adalah makhluk segala rupa yang selalu membutuhkan orang lain. 

Dan hingga dibilangan usia yang sudah dua-dua, aku memiliki kesempatan yang tak bisa dibantah harus aku syukuri. Tuhan, terima kasih untuk proses yang kau berikan untuk mencari-Mu, menjauh dan mendekat, ingat dan lupa, taubat dan maksiat, terima kasih untuk semua itu. Aku selalu rindu rumah ketika berada jauh, itu yang kuumpamakan dengan mengingatMu, selalu. Terima kasih untuk hidup yang sangat berwarna, suka-duka, perih tertatih, juga pencapaian yang seringkali tidak pernah aku bayangkan. Aku percaya bahwa jarak denganmu bukan pada perpaduan antara kening dengan debu, aku percaya lebih dari itu. Kau ada, lebih dekat dari urat leherku.

Menjadi tua adalah sebuah kenyataan yang bersyarat. Bagiku sendiri hal itu harus diimbangi dengan sebuah konsekuensi untuk tumbuh menjadi dewasa, tidak sekedar memiliki umur yang bilangannya semakin banyak. Kemarin sepertinya aku masih minum susu ibu, tanpa malu-malu menikmati setiap tetes hujan dan berlarian dengan teman-teman, kemudian merengek minta dibelikan permen atau pun es lilin. Kemarin aku masih mengenakan gaun kanak-kanak berwarna merah, menikmati euforia pembagian raport, melihat adikku yang baru belajar berjalan. Kemarin, baru saja kemarin kulihat keriput dilingkar mata ibuku belum sebanyak sekarang, uban di dekat pelipis ayahku juga masih jarang-jarang, adikku yang selalu minta dipeluk ketika tidur. Kemarin.

Hari ini, aku memandangi kenangan-kenangan itu dalam kotak kaca kedap udara, merabanya dari luar, sebuah etalase yang tidak pernah usang oleh zaman. Hari ini, tanpa bisa menatap langsung wajah ibuku yang semakin nampak gurat-gurat perjuangannya, mimik bangga ayahku yang tersenyum dan melambaikan tangan ketika aku berpamitan untuk belajar melangkah sendiri, rona ceria adikku yang mengabarkan bahwa ia juara satu, aku berada di takdir hari yang semakin mengerucut. Hari yang selalu penuh dengan aktifitas serta pada akhirnya kupilih sendiri dengan harus berjauhan dari mereka yang setia menanyakan ‘kamu sudah makan nak?’, ‘mbak sehat?’

Imajinasiku melena pada sebuah daya yang memanduku untuk lirih berucap, ‘terima kasih untuk kasih yang tak pernah pamrih, kepercayaan yang tidak pernah runtuh, ketulusan yang selalu tumbuh dari hati, semangat-semangat yang tidak kunjung pupus, kedamaian yang selalu ditularkan, dan rasa percaya diri yang selalu disematkan di setiap hari. Untuk keluargaku, hingga aku menjadi seperti saat ini akan terlalu berat jika tanpa jerih dan pengorbanan kalian.

Untuk sahabat, kawan dan handai taulan yang tidak pernah meninggalkan, aku berproses dengan kalian. Menempa waktu dan menghabiskan sepi, bercanda, berbagi, menyakiti atau disakiti, tertawa, menularkan semangat-semangat untuk tetap bertahan dalam kerasnya hidup. Menegakkan bahu untuk memeluk dan dipeluk, mengeluarkan suara untuk saling mengingatkan, mengucap sayang, juga serapah yang seringkali muncul. Tapi semua itu menjadi kejutan-kejutan hidup yang akhirnya membuat diri ini sadar, kita perlu orang lain untuk hidup. Kalian adalah rumah singgah yang membuka dan menutup pintu hingga aku tahu bahwa menjadi dekat adalah dengan ‘mengetuk’. Terima kasih dan maaf.

Aku mengerti bahwa tidak ada yang bisa dipastikan dalam hidup ini, sebab yang paling pasti hanyalah perubahan. Tidak ada yang stagnan dalam perjalan sebab setiap individu mengejar untuk sampai di garis batas tujuannya, dan aku, mengejar kebahagiaan untuk terus berbagi. Dengan sesama dan semesta. Dua-dua. 

Isn't impossible of having dream come true to make our life interesting, because life wants us to achieve our Personal Legend.