Sabtu, 10 Desember 2011

Sepaket Pagi, Kamu!

Pada jiwa dan ruh yang seyogyanya memaknai bahwa penantian itu tidak berbatas dan sekiranya pertemuan bukanlah marka yang mewajibkan pemberhentian. Pun  mengerti bahwa pada waktu-waktu tertentu ketika kalbu yang merindu meretas doa dalam lafal syahdu, bukankah itu yang disyairkan para susastra tentang puncak rasa? Tentang kesukaran yang seringkali membumbung pada garis-garis yang tak pernah ingin diuraikan, terkadang ia diketahui, dimengerti, dipahami, hingga menghayat pada padu hidup yang kian dihitung mundur. Aku tidak tahu, seringkali cinta terlalu disajikan dengan bahasa surga, hingga manis yang tercecap tidak disiapkan untuk racikan lain yang masih berupa pertaruhan. 

Selamat pagi.  Kabut menyapa sayu di kedua kelopak matamu, menandakan ada yang berkabung di waktu dini. Kamu kehilangan sesuatu meski tak tahu pasti sebenarnya mengenai hal yang baru saja pergi. Ada sepaket basa-basi yang sudah kamu siapkan dibalik ketegaran yang kamu adakan. Sepertinya batas jarak yang telah direka menjadi semakin dekat saatnya. Kamu pergi, meninggalkan jejak bisu yang masih menyimpan rangkuman kata tak terungkap. Kata yang kita bagi tanpa berucap dan entah kapan menjelma suara yang memupuskan penantian. Kita tahu bahwa waktu akan menjadi semakin singkat, namun demikian pita suara justru semakin tercekat.

Pergi, seperti melepas segar yang selama ini bergelayut manja di paru-paruku. Sebentar lagi, barangkali, senyum bulan sabitmu hanya bisa aku bayangkan melalui imajinasi sebelum tidur. Melalui sederetan rencana yang kususun untuk menyambangimu di tempat yang baru, kelak jika memang terjadi. Aku memasang-masang kata dengan bubuhan tanda titik dan koma untuk sekelumit cinta yang barangkali esok temukan jawabannya.

Jika semuanya sudah bisa kita terka akhirnya, untuk apa berusaha? Demikianlah, maka Tuhan sangat suka menjaga rahasia agar kita tetap yakin dengan apa yang menjadi harapan di garis depan. Pada helaan yang singkat, aku memicu hati yang seringkali pekat dengan suaramu, mendendangkan denyutnya dengan segenap nada yang aku tahu. Kamu dihatiku, serupa angin yang kueja, ingin kubedakan tetapi tetap satu zat, udara. Kamu! 

Pada akhirnya memang ada yang kita tuju, sepaket masa depan yang kita pesan pada Tuhan. Namun sepertinya kita harus lebih bersabar untuk menebak dan menerka apakah jadinya nanti. 

Aku rindu kamu yang bercerita. Enjoy Weekend :-)