Jumat, 18 November 2011

Perjalanan


Ayahku, besok pagi aku akan kembali pergi, barangkali untuk mematangkan embrio rasa penasaranku yang selama ini bersemayam di benak. Aku tahu engkau berberat hati melepaskan putrimu, berjalan, menjauh dari tanah kelahiran. Adakah engkau menangis diam-diam Ayah? Mengusap air mata ketika aku memunggungimu lalu memberikan anggukan terhangat mengiyakan permintaanku?

Ayah, apa yang engkau lakukan ketika seumurku? Seliar inikah perasaanmu? Semenggebu inikah rasa penasaranmu? 

Aku tahu, dari cerita-cerita orang yang mengenalmu dekat. Tentang kerja keras yang engkau lakukan dengan gembira. Ya, Ayah memang lebih suka tertawa daripada meratapi kehidupan yang susah. Tuhan bagimu sudah sangat berbaik hati dalam menciptakan kehidupan yang tak pernah kita tahu batasannya....

Hari ini aku sangat lelah Ayah, sebelum keberangkatanku besok pagi sebenarnya aku ingin berlama-lama tahu bahwa kita dekat dan bisa duduk berhadapan. Aku takut dengan istilah sibuk, Ayah, kesibukan nantinya bisa membenamkanku pada apa yang aku takutkan, yakni melupakan. Aku takut terlena dengan kondisi yang banyak orang menyebutnya dengan istilah menyita waktu, sibuk, ataupun tak punya waktu untuk ini dan untuk itu. Aku masih ingat ayah, saat pertama kali ayah mengantarku ke bandara, pertama kali aku naik pesawat dan aku bercerita panjang lebar bagaimana rasanya duduk di sebelah jendela kemudian memandangi awan yang rasa-rasanya membangun negeri tersendiri di atas sana.

Saat engkau seumurku, aku yakin bahwa ada banyak hal menakjubkan yang juga kau temui dan ingin kau cari. Ah ya, aku ingat, jika saat ini umurku 21 tahun maka di saat yang sama ayah akan menikah dengan ibu, lalu selama tiga tahun menunggu kehadiranku. Ayah, maafkan aku, putri kecilmu sudah berada di usia kepala dua sekarang dan semakin menggebu untuk bisa mengelilingi dunia dengan dua kaki yang dimilikinya, hasrat hati yang tak kunjung pupus, serta otak yang punya turunan genetis darimu.

Di usiamu yang sekarang dan berhadapan dengan egoku yang menegak, aku sadari bahwa engkau kewalahan. Aku tahu bahwa ayah berusaha sebijak mungkin dan menjadi demokratis untuk putrinya, barangkali ada beberapa keinginan yang ayah tangguhkan. Keinginan untuk terus bersama dengan putrinya. Masih ingat pertengkaran kita beberapa hari yang lalu ayah? Ketika engkau memutuskan untuk tidak mau berbicara dengan putrimu selama beberapa hari, sebab kita saling memunculkan dominasi pribadi. Kemudian kita saling diam, sama-sama seperti anak kecil yang ngambek dan minta dibelikan permen.

Aku takut memulai pembicaraan kita lagi, takut engkau akan mengusirku dari rasa kasih yang selama ini kau wujudkan meski dalam diammu. Engkau telah lupa dengan pertengkaran kita, nadamu sudah kembali seperti biasa dan lagi-lagi kau mempersilahkanku pulang, kapan pun aku rindu sarang. Mengizinkanku terbang dan memeluk mimpiku untuk terus berkembang. Semudah itukah memaafkan, wahai Ayah?

Ayahku, Tuhan memang sangat berbaik hati menjadikanku salah satu dari bagian perjalanan hidupmu. Menjadikanmu ayahku satu-satunya yang setia memapah dan mempertanyakan keadaanku. Seringkali aku terhenyak dengan pertanyaanmu yang tiba-tiba, hal-hal sederhana yang kadang aku abaikan. Apakah aku mengingat siklus haidku, apakah aku telah mempersiapkan pembalut untuk kebutuhan bulananku, engkau selalu mengingatnya Ayah bahkan ketika jarak kita berbilang ratusan kilometer.

Pagi ini aku pergi ayah, menciumi tanganmu yang tangguh, memeluk raga pejalmu yang sarat perjuangan. Melambaikan tangan dan memunggungimu. Aku selalu haus doamu ketika perjalan-perjalan kumulai, setiap saat, agar rasa penasaran yang selalu memenuhi sel-sel hidupku tak vakum. Agar ia berada dan bermakna.

Pada perjalanan ini, kupinta restu untuk mengikuti jejakmu yang penuh dengan keyakinan. Jejak yang selalu engkau rekatkan dengan semangat untuk berbagi, menjadi arsitek kebaikan di dunia yang serba nisbi ini. Ayahku, putrimu pergi untuk mimpi-mimpi yang selama ini ia celotehkan padamu, dimulai dari pagi ini...