Selasa, 15 November 2011

KLOP


Siapa sih yang nggak ngiler sama sosok sempurna? Jika sekarang anda sedang membaca tulisan saya sendirian, tanyakan pada diri anda “pasangan hidup seperti apa yang saya inginkan?”. Kemudian jika anda sedang bersama orang lain coba tanya hal yang sama padanya kemudian bandingkan. Bagaimana hasilnya?

Jika anda seorang perempuan mungkin anda akan menjawab: “dia harus laki-laki yang bertanggung jawab, mapan secara materi, punya pemahaman agama yang cukup, sayang kepada keluarga, dan berpikiran dewasa, ganteng dan nggak malu-maluin kalo diajak jalan atau kondangan.”

Jika anda seorang laki-laki barangkali anda juga memiliki jawaban: “dia sebaiknya perempuan yang cantik, punya sifat keibuan, bisa masak, nggak dekil, nggak lemot, dan nggak norak kalo diajak hang-out.”

Atau ada jawaban lain?

PASTI ADA, sebab setiap orang memiliki selera masing-masing untuk urusan hati. Namun percaya atau tidak, hati selalu punya sensor untuk menyeleksi “siapa” yang sebaiknya kita pilih. Secantik atau setampan apa pun orang, seringkali kita tidak berminat untuk tahu lebih lanjut sebab hati kita tidak menerima sensor apa pun. Sebaliknya seringkali kita merasa bahwa orang yang kita temui memiliki kualitas yang kita harapkan (secara pribadi) dan menurut orang lain ia begitu biasa. Ya, sebab pilihan itu menjadi persoalan selera. 

Tidak ada sosok sempurna yang dipaksakan seperti apa pun kita menginginkan hal itu. Saya membuat analogi sandal jepit:

        Ada sepasang sandal jepit yang baru dibeli, satu pasang kanan dan kiri. Sandal itu sangat spesial sebab hanya diproduksi satu di dunia ini, sudah banyak produsen sandal yang berusaha membuat produk yang sama tetapi selalu tidak berhasil. Belum sampai dikenakan oleh yang membeli, sandal bagian kiri hilang entah kemana. Sebab sangat ingin mengenakan sandal limited edition tersebut, si empunya berusaha untuk memesan sandal bagian kiri untuk dipasangkan dengan sandal kanan yang masih ada. Beberapa sandal pesanannya di coba, tetapi selalu tidak pas untuk dipasangkan dengan sebelahnya. Sampai akhirnya si pembeli sandal pasrah, biarlah nanti ia memesan satu pasang yang baru lagi. Tapi sampai berhari-hari ia masih penasaran bagaimana rasanya mengenakan sandal satu-satunya itu. Kemudian ia berniat untuk mencarinya di sekeliling rumah, siapa tahu ia teledor ketika meletakkannya atau pun ada orang lain yang tanpa sengaja menaruhnya entah di mana. Ia tetap mencari, sampai sandal kiri itu ditemukan.

Analogi sandal tersebut menyiratkan makna bahwa sesungguhnya setiap hal sudah memiliki pasangannya masing-masing. Tidak ada yang bisa dipaksakan untuk “harus” klop dengan hal yang lain. Si pembeli sandal sudah berusaha memesan sandal bagian kiri yang bisa saja lebih bagus dengan sandal sebelumnya. Tetapi selalu tidak pas, mengapa demikian? Sebab segala sesuatu dipasangkan sesuai dengan porsinya. Begitu pula dengan pasangan hidup, mungkin saja ia harus melewati proses panjang untuk mengenal banyak orang dengan berbagai karakter hingga akhirnya menemukan satu sosok yang paling pas dan bisa menyeimbangkan.

Sepertinya anda sedang berpikir, “apa saat ini yang saya pilih sudah paling tepat?” Tidak masalah jika muncul pertanyaan demikian di benak anda sebab dengan bertanya maka kita akan mengurai jawab. Kita bisa saja menggunakan alat ukur apa pun untuk menemukan jawaban yang kita cari tetapi semesta telah memiliki jawaban yang tidak bisa kita bantah.

“Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik.”

Siapa yang nggak pengen mendapatkan sosok sempurna yang mendampingi sepanjang hayat? Setiap orang memiliki keinginan serupa dengan takaran yang berbeda-beda. Tetapi bagaimana pun juga, jangan sampai kita serupa pungguk yang merindukan bulan. Menginginkan apa yang tidak dalam kapasitas kita. Jangan bermimpi mendapatkan sosok dengan kriteria  1,2,3,4 jika kita sendiri tidak bisa memenuhi kriteria itu. Jangan pula mendamba pasangan kita akan berlaku a, b, c, d jika kita hanya bisa menjadi pribadi yang pas-pasan. Untuk mendapat apa yang kita inginkan, memperoleh apa yang sebaiknya kita dapatkan adalah dengan membentuk kapasitas diri sepantas mungkin. Sebab hidup bukan menuntut, ia adalah soal memberi yang tak pernah dinilai hingga kemudian kita mendapat timbal baliknya secara tidak terduga. Bersiaplah untuk kejutan yang bukan kebetulan, kejutan yang sejatinya tidak pernah kita sadari persiapannya.