Kamis, 27 Oktober 2011

Tanpa Tanda (?)

Aku tahu bagaimana kamu mencintainya, serupa magis yang sukar untuk dijabarkan. Meretas batas waktu yang selalu kita yakini sebagai 24 jam, melebihi ukuran-ukuran yang sering diagungkan sebagai sesuatu yang pas dengan timbangan. 

Aku tahu bagaimana kamu mencintainya, diam tak bersuara namun hatimu selalu tertata dengan doa-doa untuknya.  Seperti apa pun kegamanganmu atas ia, aku tahu, kamu tetap mencintainya.
-----

Perasaan ini tidak pernah kuharapkan sejatinya, setia dengan waktu yang tak pernah kutahu bentuk takarannya. Menerka kapan ia berakhir,  bahkan hingga membuatku tak ingin menebak lagi. Biar kunikmati saja perjalanan. Sesekali, pernah terpikir atasku untuk menuntutmu bercerita, tentang apa saja, tentang sepi yang mungkin seringkali membuatmu letih dan terkunci. Tentang jarak yang sedianya menciptakan tanda tanya, atau pun tentang kesediaanmu memasang kembali kelambu yang selama ini terlipat entah di mana. Aku menolak, menguak segala dayaku yang terbatas untuk tetap menikmatinya saja, tanpa tanda tanya.


Aku tahu bagaimana kamu mencintainya. Cinta yang menghangatkan perasaanmu ketika dingin mulai gigil. Kamu mempertahankannya, tidak hanya dengan secarik perjanjian yang kamu tuliskan, namun kamu menjaganya dengan ketulusan yang tak pernah bisa kudefinisikan. Begitulah kamu mencintainya.
-----

Remang saatku menguak yang seharusnya, ia berpadu pada raga dan ruang nalarku. Biarkan aku mencintaimu seperti kamu yang selalu setia padanya, cinta yang meskipun tak lekat pada pandangan, tapi membiarkannya terus subur dan tumbuh teratur. Biarkan aku mencintaimu, seperti kamu yang mencintainya tanpa tanda tanya. Biarkan aku mencintaimu tanpa tanda, tanpa tanya.

Riau, 27 Oktober 2011
01:03 wib