Kamis, 27 Oktober 2011

STOP WAR! Through the Spirit of Sumpah Pemuda

Waktu saya kecil, mungkin kelas 6 SD, saya memiliki cita-cita menjadi seorang jurnalis. Disaat teman-teman seumuran bercita-cita menjadi guru, dokter, atau pun polisi, entah dari mana muncul ide bahwa sebaiknya di masa depan (pada saat itu) saya berpofesi sebagai pewarta. Keinginan saya mungkin sedikit terdengar aneh, bahkan ketika ditanya oleh ayah, beliau sedikit menaikkan alisnya karena heran. Mungkin saya dianggap bercanda, mimpi anak kecil. Tapi hingga saya SMP keinginan menjadi seorang jurnalis masih terpatri rapi. Ketika ditanya oleh guru atau pun teman-teman, saya sangat mantap akan melanjutkan kuliah di jurusan komunikasi atau pun jurnalistik. Sungguh, itu adalah jurusan yang asing karena yang populer di telinga kami adalah jurusan keguruan atau pun ilmu eksakta. 

Saat ditanya, kenapa ingin jadi wartawan? Saya menjawab bahwa saya ingin jalan-jalan, menyinggahi banyak tempat, bertemu banyak orang dan tentu saja menulis apa yang saya lihat, dengar, dan rasa. Bahkan saya  tergila-gila untuk menjadi wartawan perang, sepertinya akan sangat menantang berada di antara deru suara tembakan, melihat tank-tank yang bersliweran, juga gagah dengan kartu press sehingga tidak akan menjadi korban. Lalu saya mengurai impian tersebut, perlahan, ketika pemikiran saya mulai terbuka bahwa untuk bisa menjadi pewarta saya tidak harus menjadi insan pers. Saya bisa terus menulis, tentang apa yang saya suka, tentang apa yang saya lihat, dengar, dan rasa. 

Dari hari ke hari, saya semakin mencintai menulis. Tapi rasanya usang keinginan saya untuk menjadi seorang wartawan perang. Bukan karena saya tidak memiliki cita-cita lagi sebagai seorang jurnalis, saya masih menapaki impian saya itu, tapi karena saya muak dengan perang. Saya benci peperangan, saya benci kekerasan. 

28 Oktober sebentar lagi, saya yakin akan ada banyak event yang disertai dengan jargon “Sumpah Pemuda”. Hal itu membuat saya berpikir beberapa hari ini, sebenarnya saya berada di generasi mana? Apakah generasi milenium yang serba hi-tech atau juga generasi reformasi ala seruan dalam negeri? Menjajaki setiap periode, setiap kemajuan zaman, tetapi tetap dengan kondisi yang sama: peperangan masih bergejolak dimana-mana. 

SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928
 
Dua hari yang lalu saya berbincang dengan seorang kawan, saksi hidup yang merasakan suasana perang. Seorang kawan yang mendengar secara langsung deru tembakan di bagian paling barat Indonesia: Aceh. Saya merinding mendengar ceritanya, juga ketika ia menunjukkan salah satu situs milik seorang fotografer, Tarmizy Harva,  yang mengabadikan suasana di Aceh ketika ada serangan GAM, saya menjadi sangat nyinyir mengenang kembali cita-cita saya. Perang, tidak ada yang suka dengan perang. Ia bercerita bagaimana suara tembakan sudah menjadi makanan sehari-hari, ancaman nyawa seperti balon yang siap dipecahkan, juga pada jerit dan tangis sanak famili yang kehilangan.

www.tarmizyharva.com/a1.html
www.tarmizyharva.com/a4.html

www.tarmizyharva.com/b3.html

Melihat foto-foto yang ditampilkan di website itu, sungguh hati saya merasa tersayat. Beberapa saat saya pandangi foto yang bagi saya penuh darah, penderitaan, dan rasa sakit. Pun pikiran saya kemudian mengarah ke berita pagi yang saya saksikan sebelumnya, kabar mengenai istri-istri yang suaminya menjadi korban penembakan OPM di Papua meminta perlindungan dari KOMNAS HAM, memohon supaya Bapak Presiden meninjau kondisi di Papua. Saya makin miris, ini wajah Indonesia, penuh dengan perang.

Kemudian saya merasa sangat bersyukur, hidup yang saya jalani selama hampir 22 tahun ini selalu lurus-lurus saja. Saya tidak pernah tahu bagaimana perang secara kasat mata, hanya dari media dan mendengar cerita, tapi tetap saja menyakitkan. Saya tidak mampu membayangkan seandainya saat ini saya berada di wilayah konflik, apa yang akan terjadi pada saya? Menjadi korban, ketakutan, bisakah saya sekolah, makan dengan layak, berkumpul dengan keluarga, atau hal-hal yang tidak pernah saya duga? 

Perang yang tersulut, menghanguskan kedamaian, membakar hati-hati yang seharusnya saling berikatan. Perang yang girang, mematikan banyak cinta, meyatimkan kanak-kanak, meluluhlantakkan kesuburan. Perang yang hitam, mengotori harapan akan kehidupan yang layak, yang di jamin oleh undang-undang.
www.tarmizyharva.com/a5.html
 Saya tidak jauh-jauh memandang ke belahan dunia lain, saya memandang negeri Zamrud Khatulistiwa ini. Saya merenungi Indonesia dan menuliskannya, menjadi bagian yang barangkali bisa mengetuk pintu semangat dan optimisme perdamaian. Menjelang peringatan hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober mendatang, saya mengajak siapa pun pemilik hati untuk merasapi perdamaian. Indonesia adalah negara dengan keragaman yang luar biasa, heterogenitas yang laiknya bisa saling menjaga. Mari menciptakan perdamaian dengan semangat sumpah pemuda (yang (semoga) saat ini masih memiliki semangat sama seperti saat dikumandangkan oleh pendahulu kita di tahun 1928).

Saya yakin, akan ada banyak kata yang muncul bahwa hingga saat ini Indonesia belum merdeka. Perang masih ada di mana-mana, gegap gempita proklamasi hanya terwujud saat 17 Agustus 1945. Bahkan lebih jauh lagi, bangsa ini sedang mengalami penjajahan halus, melalui politik, ekonomi, dan media. Tapi marilah berhenti mencerca, keluarkan optimisme dengan tindakan, perjuangan tidak hanya untuk mereka yang memikul senjata. Perjuangan milik siapa saja, bahkan bagi seorang pemulung yang memungut botol minum di pinggir jalan. Semoga semangat perjuangan, semangat persatuan, dimaknai dengan benar. 

Mari berhenti menuntut, berhenti memubazirkan tenaga untuk menyalahkan situasi bangsa. Indonesia perlu generasi yang memiliki optimisme meskipun ia berada di titiknya yang paling lemah. Jangan bertanya apa yang sudah bangsa ini berikan kepada saya, tapi tanyakan apa yang bisa saya kontribusikan untuk bangsa ini. Selamat menyambut hari Sumpah Pemuda, bersatulah Bhineka Tunggal Ika!

STOP WAR!!