Jumat, 14 Oktober 2011

Nasional.is.Me, Sebuah Karya yang Melahirkan Semangat Kebangsaan

Saya bangga menjadi bagian dari Indonesia, itulah kesan yang muncul ketika saya punya kesempatan untuk membaca buku memoar Pandji Pragiwaksono: Nasional.is.Me. Menarik, awalnya saya tidak tahu sama sekali bahwa buku itu sudah ada versi e-book-nya sebelum dicetak oleh Bentang Pustaka. Saat searching di internet mengenai buku yang recommended  untuk dibaca muncullah judul Nasional.is.Me di page yang saya buka.

Buku ini tidak bosan dibaca pasalnya Pandji menulis dengan bahasa yang sangat pop dan bisa dipahami oleh semua kalangan. Dan nilai plus-nya lagi adalah Pandji menulis tentang dirinya sendiri, tentang apa kontribusinya untuk Indonesia melalui cara yang dia bisa. Membaca rangkaian kisah di buku ini membuat saya semakin rindu untuk berkeliling Indonesia, menikmati kecantikan pulau-pulaunya, menemui banyak orang yang punya pribadi luar biasa dengan keunikannya masing-masing.

Saat Pandji bercerita tentang masa SMA-nya di Gonzaga dan trip anak IPS ke Lampung, saya langsung ingat lagunya yang berjudul “Lagu Melayu” (lagu yang sering sekali saya putar setelah sholat subuh waktu masih nge-kost di Bogor). 

            Nasional.is.Me

Saya membaca ulang buku itu dua kali, sambil mengkhayal kira-kira kontribusi apa ya yang bisa saya berikan untuk Indonesia, minimal menjadi takaran sejauh mana saya mencintai bangsa ini. Di bagian awal ketika Pandji menyisipkan sepenggal kisah tentang orang Indonesia yang mau hijrah ke Amerika dengan memanfaatkan green card yang mereka dapat (dan Pandji menyatakan “keprihatinannya” ketika orang tersebut bilang: “saya bisa bekerja apa saja di Amerika, sebagai tukang koran, cuci mobil, dll) saya merasa keputusan orang tersebut menjadi kurang tepat untuk melanjutkan niat menjadi warga negara Amerika. Saya menjadi tersadar, ada banyak orang yang telah hijrah ke luar  negeri entah melalui sekolah yang mereka jalani atau pun tugas dinas lainnya yang kemudian memutuskan untuk  tidak kembali ke Indonesia. Sangat disayangkan untuk berganti identitas sebagai orang asing di tanah kelahiran sendiri. Tapi semua itu adalah pilihan masing-masing orang.

Menurut saya, buku ini layak dibaca oleh siapa saja. Siapapun yang ingin mendapatkan inspirasi untuk Indonesia, siapapun  yang ingin tertular semangat berbagi, dan siapapun yang ingin belajar saling menghargai perbedaan. 

            Perbedaan bukan untuk disatukan tapi dibiarkan untuk bersatu.

Saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca dan mari sama-sama tertular semangat untuk mencintai Indonesia. Sekaligus saya suka cara Pandji berkontribusi, ia menulis buku kemudian menjualnya dan setiap membeli satu buku maka kita sudah membantu saudara kita di daerah-daerah terpencil untuk membaca satu buku juga. Menarik bukan?

Inilah saatnya kita berpikir, melahirkan gagasan, bergegas untuk menciptakan aksi untuk masa depan Indonesia. Secarut-marutnya kondisi bangsa ini, Indonesia masih punya harapan. Dan harapan itu sedang kita genggam untuk kita wujudkan.

            Hiduplah Indonesia Raya!


Riau, 14 Oktober 2011
18:47 di tengah kebun sawit