Selasa, 04 Oktober 2011

The Cockroach


http://davidjosua.blogspot.co
Pengen nulis tentang Kecoa.


Pertama kali yang gw inget adalah cerpennya Dee yang judulnya Rico de Coro (terdapat dikumpulan prosa Filosofi Kopi), asli kalau kebawa tulisannya Dee jadi bete banget sama serangga yang satu itu. Diceritakan kalau si kecoa yang tinggal di rumah orang jatuh cinta sama anak gadis pemilik rumah, damn! gw nggak bisa ngebayangin kalau kecoa yang selama ini bersarang di kamar juga punya insting yang sama "-.-

Gw nggak takut sama kecoa, cuma paling bete sama kentutnya yang bikin hidung muak apalagi gayanya yang sok-sok mau terbang tapi suka jatuh-jatuh. Plus, waktu gw di kosan, dia suka banget nyumput di rak buku gw (nggak rela banget kalo dia sampe berak di buku). Kartu seminar gw juga rusak karena digerogotin sama Kecoa karena kamar gw tinggal selama dua bulan ke Jambi.

Pas gw ngecek ke Wikipedia, nama latin Kecoa itu Blaberus giganteus.

Kecoa atau coro adalah insekta dari ordo Blattodea yang kurang lebih terdiri dari 3.500 spesies dalam 6 familia. Kecoa terdapat hampir di seluruh belahan bumi, kecuali di wilayah kutub. Di antara spesies yang paling terkenal adalah kecoa Amerika, Periplaneta americana, yang memiliki panjang 3 cm, kecoa Jerman, Blattella germanica, dengan panjang ±1½ cm, dan kecoa Asia, Blattella asahinai, dengan panjang juga sekitar 1½ cm. Kecoa sering dianggap sebagai hama dalam bangunan, walaupun hanya sedikit dari ribuan spesies kecoa yang termasuk dalam kategori ini (Wikipedia).
Nah gw nggak tahu kecoa yang selama ini gw lihat termasuk ke famili yang mana dan spesies ke berapa. Pas gw nulis ini gw nanya ke temen:
"Eh gimana pendapat lw tentang kecoa?"
"Kecoa tuh hewan yang menjijikan, simbol dari kekotoran, sebersih apapun ruangan tetapi klo masih ada kecoa berarti ruangan tsb tetap aja masuk kategori kotor."
Asli jawaban itu nusuk banget, jaman gw kuliah, gw rajin  nyapu sama ngepel kamar sampai-sampai gw semprot juga pake pewangi. Tapi entah kenapa kecoa selalu ada dan bahkan sampai gw bosen mau ngebunuhnya. Tapi kalau gw ditanya pendapat tentang Kecoa: jawaban gw adalah BIKIN BETE >.< bawaannya pengen ngebunuh aja tuh serangga.

Iseng-iseng gw searching tentang Kecoa, di negara-negara Asia seperti Cina, Jepang, sama Thailand serangga itu jadi makanan favorit (bikin postingan ini rada-rada mual juga).


Nah gambar di atas gw dapat dari mbah google, asli itu kecoa di sangrai (OMG).


Gambar satunya lagi juga gw dapat dari mbah google, waduhhh, ngeri juga (semoga pas makan sate nggak kebayang nih foto).

Katanya kecoa punya kandungan protein yang tinggi, sama aja kayak belalang. Kalau belalang mah jaman gw kecil juga suka nangkepin di kebun belakang rumah buat dibakar. Tapi emang lumayan enak, nah kalo kecoa? Hanya Tuhan dan yang pernah merasakan yang tahu :(

Tapi sama dengan makhluk apa pun, Tuhan menciptakan kecoa bukan tanpa tujuan. Gw anggap kamar gw dulu udah bersih tapi ternyata belum (sesuai dengan asumsi temen gw: sebersih apa pun kalau masih ada kecoanya berarti masih kotor) karena kecoa masih doyan nongkrong dan latihan terbang. Lapanan kerja juga muncul karena kecoa, misal produsen kapur atau pun obat pembasmi kecoa jadi menyerap tenaga kerja. Ah gw jadi inget kata-kata Ayu Utami: "Bahkan nyamuk demam berdarah diciptakan di dunia ini dengan tujuan untuk menyedot darah manusia yang menjarah hutan hujan tropis."

Tapi plisss, kecoa...

"-.-

Pangkalan Kerinci, 04 Okt 2011 22:53