Minggu, 18 September 2011

Hadiah dari Kawan, Sebuah Tulisan oleh Feny Mariantika (Simponi Buitenzorg)

"Lagi-lagi saya sangat berterimakasih kepada adikku yang cantik ini, pertemuan yang diawali dari dunia maya dan hingga saat ini kami sudah beberapa kali bertemu. Terima kasih kadonya Fe, you're the good writer." (Turasih) 
Simponi Buitenzorg by Feny Mariantika


Temaram
Damai
Tenang 
Bau tanah usai gerimis memburu
Basah menjamu cuping hidung
Dalam cinta berkata cinta
Dalam kenangan bercerita cinta
Memilih
Memutuskan
Berpaling
Dan Menyatu
..................................................



Berbeda perjalanan ku kali ini. Meski selalu tanpa rencana. Pada akhir pekan pertengahan bulan ini, diputuskan untuk akhirnya mempererat silaturahmi dengan seseorang yang belum lama dikenal. seorang gadis yang ia kenal melalui jejaring sosial. Tak mengapa, persaudaraan bisa disimpulkan melalui media apapun.

 

Gadis itu bernama TUR ASIH. Gadis yang dilahirkan tepat pada tanggal 06 Januari 1990. Gadis berhati 'dieng'. Gadis yang menawan dan tak sembarang. Memulai jalinan kawan diantara ada dan tiada. Saling mengumbar cerita, tawa dan duka. 



Aku memulai perjalanan ini sejak pukul 11.00 wib. Berangkat dari asrama maharani menuju terminal kampung melayu kemudian dilanjutkan menuju stasiun tebet. menyenangkan tentunya! Tak ada satupun perjalanan ku yang hambar tanpa rasa.

Seperti yang aku katakan, tak ada perjalanan ku tanpa rasa. Siang itu ku bubuhkan rasa manis untuk melegitkan perjalanan ini. Dengan balutan t-shirt putih, rok polkadot biru-putih, dan jilbab biru langit yang menyempurnakan keceriaan ku siang itu. Didalam kereta ku rasa sekali banyak pasang mata yang berburu pandang. Mungkin ada yang aneh dengan ku, atau energi positif yang terlalu memancar dari dalam diri ini?? aha, entahlah. Yang beradu dalam pikiran ku adalah pesan singkat yang membuat senyum tak berhenti mengembang. Perjalanan ini seolah menggambarkan aku akan bertemu dengan pujaan hati. Tampak riang tanpa duka.

Hingga kereta yang membawa ku terhenti tepat pada pemberhentian terakhir. Stasiun Bogor. Senyum semakin mengembang ketika aku bertemu dengan gadis 'dieng' yang ku sapa " Teh Asih ". Kala ku lantunkan sapaan padanya, ada yang bergetar didada. seperti ku temukan diri ku di dalam dirinya. 

Sederhana, kami membincangkan tentang kesederhanaan. Ya, seperti kau yang memandang pelangi dengan polos. Berharap pelangi tak akan sirna. Itulah permintaan yang sederhana meski sulit untuk diwujudkan.

Batin ku kian menggerutu. Entah mengapa rasa nyaman semakin membatu. Seperti bau tanah yang begitu khas usai hujan, seperti air yang mengendap diatas bebatuan. Semua lekat dengan jejak. Tak terurai meski peristiwa sudah berakhir.

Perbincangan bukan lagi bermula dari potongan kalimat basi sebuah perkenalan. Melainkan sederet kalimat mengundang tawa. Saling melempar canda. Seperti adik- kakak yang berpisah oleh asa. Mungkin ia merasa atau tidak, ketika bersamanya banyak waktu yang ku curi untuk sekadar memandangi ataupun menyiangi pribadinya. Bergurau meski kadang tak mengundang tawa. ah, banyak hal yang tak beda.

Meretas kebersamaan didalam sepenggal cerita. Berbagi tentang apa yang pernah, sedang dan ingin diri rasa. Mengundang buliran yang tertahan dibalik kelopak mata. Mengajaknya untuk sejenak mengulang asa dan rasa. Dilapisi rasa nikmat menyantap es buah salju dan tiga potong pisang goreng keju. Kadang ada tawa, ada guratan kecewa, bahkan ada pancaran cinta. Seketika pula gerimis mengiringi dua rupa berbagi cerita.

Ah, kota ini memang menyugukan banyak cinta untuk ku. Aku yang gusar disambut oleh "maskot  "kota ini dengan meriah. Hingga kuyup dan menghempas resah. Hilang lelah dan segenap peluh. Seperti bau tanah yang menyegarkan indera penciuman, begitu pula kehadiran ku disini. Meluaskan hati yang sempat menyempit. Mengirigasikan penat yang kerap membendung aliran tawa. 




Aku melihat diri ku didalam dirinya. Meski rupa berbeda, namun hati tetap mengatakan aku dan dia memiliki satu simpul yang mengikat. Terpaut dalam rajutan Illahi yang tak bisa diganti dengan potongan atau rajutan yang lain. 




Banyak rasa yang tak mampu diwujudkan oleh kata.
Banyak kata yang tak bisa dirangkai untuk melabuhkan tawa.
Hanya ada rasa syukur atas kehadiran banyak orang yang menggenapkan jiwa. 
Meramaikan yang sepi
Memberi arti pada yang terabaikan
Meluangkan waktu untuk setitik rindu
Tuhan, terimakasih
Untuk Hidup besertanya