Minggu, 18 September 2011

Hadiah dari Kawan, Sebuah Tulisan oleh Dony P. Herwanto (Kenapa Cinta Harus Monyet?)

"Saya bersyukur memiliki kolega yang mencintai dunia tulis-menulis, dan bulan Juni 2011 saya dikejutkan dengan satu tulisan yang merupakan deskripsi dari status yang saya tulis di facebook. Dony P Herwanto, seorang kawan yang menggeluti profesi wartawan di Jurnal Bogor menulisnya dengan gaya khas penulis feature. Tengkyu Mas Dony." (tulisan asli bisa dilihat di http://8halamanbelakang.wordpress.com/2011/06/13/kenapa-cinta-harus-monyet/ ). Happy Reading :)

Beberapa hari ini, saya sering mencuri lihat status jejaring sosial facebook salah seorang kawan. Statusnya itu, bagi saya menarik. Saya seperti dipaksa menyimak potongan-potongan cerita. Kawan saya itu seorang mahasiswi tingkat akhir di IPB. Kawan saya itu bernama Tur Asih – begitu tulisnya di facebook.
Hingga kini, entah sampai kapan dia akan berhenti dan bosan menulis potongan-potongan cerita itu di status jejaring sosial. Dari sekian banyak status, ada satu yang menggelitik saya.

Perempuan kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah, 6 Januari 1990 itu menulis begini: Kenapa cinta harus monyet? Bukan Gajah yang besar, bukan Jerapah yang tinggi, bukan pula Anggora yang manis. Tak pernah pula kutemui orang bilang cinta itu Macan, Singa, atau Buaya. Kenapa harus monyet?


***

Umur saya sekarang 28 tahun. Cinta monyet seiring sejalan dengan masa remaja. Menurut Stanley Hall – Bapak Psikologi Remaja – usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Itu artinya, saat ini saya sudah melewati fase remaja. Artinya juga, ketika saya jatuh cinta di masa-masa sekarang, sifat cinta saya tidak masuk kategori cinta monyet. Benarkah?

Dari wikipedia ensiklopedia bebas, cinta monyet memiliki istilah informal yang berarti perasaan cinta yang terjadi antara sepasang anak muda yang masih dalam masa remaja. Istilah ini juga dapat digunakan sebagai kata sindiran, yang digunakan kepada seseorang yang kurang mencintai pasangannya secara serius.

Cinta monyet, masih berdasar wikipedia, juga dikenal dengan istilah ”crush”. Bisa juga dideskripsikan sebagai cinta seorang anak atau remaja kepada orang yang lebih tua. Sebagai contoh, seorang murid yang “suka” kepada gurunya. Dalam hal ini, istilah “cinta monyet” menggambarkan sebuah cinta yang tidak akan mendapat balasan.

Ini jelas bertolakbelakang dengan apa yang pernah ditulis salah seorang penyanyi balada negeri ini, Virgiawan Listanto atau yang akrab kita sapa Iwan Falas. Ia pernah menulis lirik lagu, seperti ini, Memang usia kita muda, namun cinta soal hati. Biar mereka bicara. Telinga kita terkunci.

Kalimat ini jelas mendobrak semua teori di atas dengan pelbagai embel-embelnya. Bagi Iwan Fals, cinta bukan masalah usia, dan saya setuju plus sepakat dengan teori Iwan Fals dalam lagu berjudul Buku Ini Aku Pinjam itu. Cinta itu bukan simbol. Mau diibaratkan dengan monyet, gajah, jerapah, anggora, macan, singa atau buaya sekali pun, cinta adalah cinta itu sendiri.


Dan kenapa cinta itu harus monyet? Bukan gajah yang besar, jerapah yang tinggi dan anggora yang manis?.

Bagi saya, monyet itu pandai berakting, rakus, tidak bisa diam, dan semaunya sendiri. Barangkali, sifat-sifat monyet itulah yang mendasari munculnya istilah cinta monyet. Cinta yang rakus, cinta yang penuh peran, cinta yang tidak bisa diam dan tentu saja cinta semaunya sendiri – ini lekat dengan istilah dunia serasa milik berdua.

Cinta memang besar seperti gajah. Tapi cinta datangnya tidak lamban. Cinta bisa datang secepat suara, angin dan cahaya. Cinta itu memang tinggi seperti jerapah. Tapi tingginya cinta tak terbatas. Cinta memang manis, seperti anggora. Tapi terkadang, cinta juga menyakitkan. Tapi kenapa harus monyet? Tiba-tiba pertanyaan itu menyergap saya. Lagi.

***

Dan ketika saya menulis catatan ini, status yang bagi saya lebih menyerupai potongan-potongan cerita itu sudah mencapai angka 33. Tidak ada tanda-tanda dia, kawan saya itu, untuk menghentikan potongan-potongan cerita itu.

Saya bersyukur punya kawan seperti dia. Usianya terpaut 7 tahun dari saya. Tapi soal cinta, bisa jadi, kawan saya itu lebih berpengalaman. Saat ini, usia kawan saya itu 21 tahun. Dan dua tahun lagi, dia sudah tidak remaja lagi.

Artinya, pertanyaan tentang kenapa harus monyet akan secara otomatis berganti dengan kenapa harus cinta. Tapi, sekali lagi, cinta bukan soal monyet atau gajah atau jerapah atau anggora atau macan, atau singa atau buaya. Tapi cinta soal hati. Maka, biarkan mereka bicara. Telinga tetap terkunci.

Dony P. Herwanto