Jumat, 23 September 2011

Menjadi Agen Community Development: Persiapan dan Pelaksanaan

Tadi malam saya mendapatkan sms dari seorang kawan yang sebentar lagi akan menjadi seorang perantau di tanah yang jauh dari rumahnya. Bagi saya itu adalah hal yang menggembirakan, sebagai sarjana yang masih 'hijau' keputusan keluar dari lingkungan merupakan pilihan yang tepat. Minimal, dengan mendatangi tempat baru dan berinteraksi dengan orang-orang yang sebelumnya belum pernah ditemui (dengan kebudayaan yang berbeda pula) maka kematangan emosi akan semakin terasah.

Kawan saya bertanya apa saja hal-hal yang harus dipersiapkan untuk menjadi seorang ComDev Officer (CDO) di sebuah perkebunan. Seketika jawaban yang muncul di otak saya adalah "persiapkan mental". Sebenarnya ada banyak hal yang perlu dipersiapkan sebelum terjun ke 'medan perang', hanya saja bagi saya siapnya mental seseorang untuk beralih dari lingkungan lama (kampus) ke lingkungan baru (masyarakat) bukanlah sesuatu yang mudah. Saya ingat salah satu kalimat dalam novel yang ditulis oleh Anak S-E-N dengan judul Istana Negara Selalu Menghadap ke Timur: "Keberuntungan dapat mengantarkan orang ke puncak, tapi hanya orang-orang yang memiliki karakter yang akan mampu bertahan di puncak."

Mengapa mental menjadi penting? Berdasarkan pengalaman yang saya dapatkan dari lapangan, seorang agen/fasilitator/officer pengembangan masyarakat butuh kepercayaan diri yang tinggi untuk bisa bersitatap dengan berbagai stakeholder maupun shareholder. Tidak hanya dengan masyarakat yang akan dihadapi tetapi juga dengan pihak pemerintah, LSM/NGO, perusahaan-perusahaan mitra, atau pun dengan internal manajemen. Kepercayaan diri yang tinggi (tapi tidak berlebihan) akan membantu kita untuk bisa berinteraksi secara baik dengan pihak lain. Mental juga berhubungan dengan tanggungjawab, seseorang yang bermental 'baja' akan menjaga kredibilitasnya dengan baik melalui pelaksanaan tanggungjawab yang dia emban. Menjadi agen ComDev akan dihadapkan dengan tanggungjawab yang besar karena selain bekerja untuk kepentingan perusahaan (materi), ia juga bekerja secara moral untuk masyarakat.

Nah, itu tadi tentang mental, lalu hal lain yang perlu dipersiapkan apa lagi?

Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan yaitu aspek internal dan eksternal. Aspek internal berhubungan dengan kondisi pribadi individu yang akan terjun ke masyarakat dan aspek eksternal adalah lingkungan tempat dimana ia akan tinggal.

Aspek Internal

Selain mental, sebagaimana yang telah saya jelaskan sebelumnya, aspek internal yang harus dipersiapkan oleh calon fasilitator adalah:

1. Keterampilan bahasa daerah
    Indonesia merupakan negara dengan kesukuan yang majemuk serta heterogen. Kondisi itu menyebabkan terdapat beragam bahasa daerah yang digunakan sebagai dialek lokal di komunitas. Sebagai fasilitator pengembangan masyarakat, alangkah baiknya jika berusaha menguasai bahasa setempat. Hal tersebut guna mewujudkan kedekatan dengan masyarakat lokal (dekat melalui bahasa). Masyarakat akan menerima kita sebagai 'bagian' dari mereka.

2. Pemahaman tentang cara fasilitasi yang tepat
    Pepatah mengatakan: dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Seorang fasilitator tidak bisa memaksakan bentuk fasilitasi yang dia pahami di bangku kuliah atau pun cara yang diterapkan di tempat lain. Sebab setiap masyarakat memiliki karakteristik masing-maisng yang unik. Jadi fasilitator dituntut untuk menjadi kreatif dalam mencari cara fasilitasi.

3. Kreatifitas mendesain sebuah bentuk fasilitasi
    Desain fasilitasi harus bersifat luwes, tidak kaku, dan bisa menjadi arena pembelajaran baik bagi masyarakat maupun fasilitator. Semakin luwes dan bisa dinikmati, maka program yang dijalankan pun akan di'miliki' oleh masyarakat.

4. Keterampilan komunikasi
    Komunikasi adalah kunci di berbagai kehidupan. Interaksi sosial tidak akan berjalan mulus tanpa komunikasi yang baik. Nah, keterampilan komunikasi ini tidak sekedar 'bisa bicara' tetapi juga kemampuan untuk mempersuasi lawan bicara yang dalam hal ini adalah masyarakat yang akan dikembangkan.

5. Keterampilan mengoperasikan kendaraan (motor/mobil)
    Ini keterampilan yang bisa dikatakan wajib bisa, sebab biasanya kita harus menjangkau jarak yang cukup jauh. Nggak mungkin kan jalan kaki atau minta tolong sama orang terus.

6. Keterampilan mengoperasikan komputer
    Jadi fasilitator juga harus melek teknologi, komputer sangat diperlukan untuk erbagai keperluan. Misal pembuatan materi melalui power point, pembuatan press release, atau pun untuk kepentingan menyimpan data. Fasilitator jangan hanya punya keterampilan minimalis MS. Office, baiknya ada keterampilan pendukung misalnya foto atau video editing atau pun keterampilan software yang lainnya.

7. Keterampilan menyanyi & memainkan alat musik (addition)
    Ini keterampilan tambahan, tapi penting juga lhooo :).. Jangan terlalu kaku menjadi fasilitator, ada kalanya masyarakat mengadakan hajatan berupa pentas seni atau dangdutan. Bakal asyik tuh kalau fasilitator ikut tampil, masyarakat akan semakin jatuh cinta (lebay ya..)

Itu tadi tentang aspek internal, untuk aspek eksternal yang perlu dipahami adalah:

1. Informasi tentang lokasi penempatan
    Sebelum berangkata ke lokasi dimana kita akan menjadi Agen ComDev, hal yang sangat penting untuk diketahui adalah tentang lokasi diaman kita akan ditempatkan.Informasi bisa diperoleh dari instansi yang menempatkan kita, dengan cara googling, atau pun membaca buku.

2. Pemahaman tentang kebudayaan masyarakat setempat
    Setiap masyarakat memiliki tata aturan yang berbeda, misalnya kita ditempatkan di masyarakat Nias maka kita harus tahu bagaimana kebuadayaan orang Nias. Demikian juga ketika kita ditempatkan di masyarakat Dayak, Bugis, atau pun Karo, dll.

3. Informasi teknis
    Informasi teknis berhubungan dengan informasi mengenai kondisi lapang (lokasi pasti tempat kita akan ditempatkan). Informasi tersebut misalnya berupa akses jalan ke lokasi, provider yang bisa digunakan, sarana transportasi, keterjangkauan dari pasar,dll. Hal-hal tersbeut penting diketahui supaya kita bisa menyiapkan 'amunisi' dan siap menuju 'medan perjuangan'.

4. Peralatan individu yang harus dibawa
    Peralatan individu yang harus dibawa tergantung dengan kebutuhan. Yang harus diperhatikan misalnya obat-obatan pribadi, baju hangat, sepatu, dsb. Peralatan pribadi harus disiapkan sejak awal, jangan sampai nanti keteteran saat sudah di lapangan.

Itu dulu deh, Good Luck buat kita semua :)

Minggu, 18 September 2011

Hadiah dari Kawan, Sebuah Testimoni oleh Faris Priyanto

Setiap Hari Adalah Hari Kejujuran Sedunia: Tentang Asih by Faris Priyanto

Waktu pemilihan Duta FEMA 2009
Sebagian orang mengukur kehidupannya dari seberapa banyak harta yang dia punya. Sebagian lain mengukur kehidupannya dari kebahagian dan persahabatan, sementara sebagian lain dari besarnya pahala yang dia buru dari waktu ke waktu. Gw mengukur kehidupan gw dari berapa banyak orang yang mengukur kehidupannya, melalui kehidupan gw.

Berat rasanya untuk berusaha menjadi orang yang kuat dan dewasa sepanjang waktu, terutama saat kita berada pada titik terlemah yang ngebuat kita seakan ngga berdaya. tapi gw yakin lw adalah satu dari sedikit orang yang bisa tegar bertahan meski seisi dunia seolah hendak melawan. Dan terus terang saja, gw menjadikan diri lw sebagai ukuran buat diri gw.

"kalau hari ini kita pergi ke tempat yang sama dengan kemarin, melakukan hal-hal yang sama, bertemu dengan orang-orang yang sama, bukan berarti kemarin telah kembali untuk kita. Masa lalu tak pernah diciptakan untuk diputar ulang".  Tapi melupakan masa lalu rasa-rasanya adalah hal paling berat yang harus dilakuin buat orang kaya gw, yang setengah dari masa depannya terjebak di dalam masa lalu yang gelap dan ga pernah bisa dijangkau. Gw menemukan kekuatan untuk beranjak dari masa lalu saat gw melihat cerminan diri lw yang juga "terjebak" di masa lalu tapi mencoba menapaki masa kini dengan tegar dan bijaksana. Dan hal inilah, yang sekali lagi,, membuat lw berbeda.

Asih adalah wanita yang ketika dia berbicara, setiap orang akan diam dan mendengarkan karena luluh oleh kharisma yang terpancar dari intonasi suara dan tatapan mata yang simpatik sekaligus tajam menusuk. Dia mampu menggerakkan orang yang memilih diam dengan satu dua kalimat singkat, seperti angin yang melintas sekelebat tapi mampu memberi pukulan hebat. Gw pun baru menyadari kalau tiga tahun ke belakang, ternyata cuma ada dua wanita yang bisa ngebuat gw ngelakuin sesuatu yang ga mw gw lakuin: salah satunya adalah lw.

Mungkin saat ini lw lagi duduk di atas pesawat yang ngebawa lw jauh dari sini, dan seandainya lw bisa milih tempat duduk, pasti lw akan memilih duduk di samping jendela dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, berusaha nahan segenggam rasa kehilangan sambil ngeliatin laut dan awan2 yang menggumpal kaya kerupuk. Tapi,,, mungkin ngga selebai itu juga. Bisa jadi lw lagi tidur di tempat duduk di manapun itu, sambil mengumpulkan tenaga buat sampai di tempat tujuan karena pagi tadi lw makan saur dengan sedikit nasi pake sayur  tanpa daging tanpa  buah dan tanpa segelas susu. Yeah,, di samping romantis dan filosofis, lw juga punya sisi praktis dan sinis yang ga lucu dan kadang nyebelin juga.

Gw yakin akan selalu ada sesuatu dari diri kita yang terekam di benak orang lain, membentuk persepsinya yang khas tentang kita,, dan meskipun kita udah jauh berubah, selamanya orang itu akan mengingat kita dari perspektif yang itu-itu juga.

Dua bulan serumah ama lw, intan n ayu waktu kita kkp dulu ngasih gw pelajaran yang luar biasa tentang menerima diri sendiri dan menerima orang lain. Dan tentu saja, ngebentuk persepsi gw yang lebih dalam tentang kalian. And you know what?? You have to proud of your heart. It's been played, stabbed, cheated, burned and broken, but somehow still works. Damn it's hard,,,! but I know you'll be stronger and learn much more than before..!!

Saat gw dkk maen ke rumah lw di banjar, gw pergi ke kebun salak sama bokap lw dan dia cerita tentang ketidakberdayaannya mengatasi tekad dan kemauan anaknya yang keras kepala ini. Tapi gw mengerti sekali kalau dia benar-benar bangga punya anak kaya lw, sama seperti lw juga bangga punya bapak seperti beliau. Kalian adalah keluarga yang unik, dengan orang-orang luar biasa yang selalu berusaha ngelakuin hal-hal luar biasa dalam hidupnya. Damn I feel jealous to your family!!

Gw ga bisa mendeskripsikan lebih banyak tentang diri lw, karena selain ini udah siang dan gw belom mandi,, gw juga takut menulis catatan ini akan semakin berat (yeap,,memang lebai..!). tapi lw pasti masih inget perbincangan2 kita tentang banyak hal, dan lw bisa menyimpulkan sendiri apa yang mau gw sampein tentang diri lw saat ini..

Hahaha,,sebenernya gw pengen ngasih sedikit nasihat, kata pengantar, prolog, wejangan, bahkan pidato kenegaraan kalau memungkinkan, tapi entah bagaimana gw ngerasa lw selalu lebih tau apa yang harus lw lakuin dibanding dengan orang lain. Gw bisa berlagak sok dewasa dan sok bijak seolah gw ini santo yang dikirim Tuhan untuk mengabarkan kebaikan pada umat manusia, tapi bagiamanapun gw cuma orang biasa. gw akan menutup sesi kejujuran ini dengan suatu pengharapan yang sangat besar, agar lw mendapatkan yang terbaik dari Tuhan, dan mendapatkan apa yang lw butuhkan, bukan apa yang lw inginkan.. Dan akhirnya, gw cuma ingin bilang,,

"you can change, or stay the same. But I hope you can make the best of it"
Take care, dear.. We love you

Hadiah dari Kawan, Sebuah Tulisan oleh Feny Mariantika (Simponi Buitenzorg)

"Lagi-lagi saya sangat berterimakasih kepada adikku yang cantik ini, pertemuan yang diawali dari dunia maya dan hingga saat ini kami sudah beberapa kali bertemu. Terima kasih kadonya Fe, you're the good writer." (Turasih) 
Simponi Buitenzorg by Feny Mariantika


Temaram
Damai
Tenang 
Bau tanah usai gerimis memburu
Basah menjamu cuping hidung
Dalam cinta berkata cinta
Dalam kenangan bercerita cinta
Memilih
Memutuskan
Berpaling
Dan Menyatu
..................................................



Berbeda perjalanan ku kali ini. Meski selalu tanpa rencana. Pada akhir pekan pertengahan bulan ini, diputuskan untuk akhirnya mempererat silaturahmi dengan seseorang yang belum lama dikenal. seorang gadis yang ia kenal melalui jejaring sosial. Tak mengapa, persaudaraan bisa disimpulkan melalui media apapun.

 

Gadis itu bernama TUR ASIH. Gadis yang dilahirkan tepat pada tanggal 06 Januari 1990. Gadis berhati 'dieng'. Gadis yang menawan dan tak sembarang. Memulai jalinan kawan diantara ada dan tiada. Saling mengumbar cerita, tawa dan duka. 



Aku memulai perjalanan ini sejak pukul 11.00 wib. Berangkat dari asrama maharani menuju terminal kampung melayu kemudian dilanjutkan menuju stasiun tebet. menyenangkan tentunya! Tak ada satupun perjalanan ku yang hambar tanpa rasa.

Seperti yang aku katakan, tak ada perjalanan ku tanpa rasa. Siang itu ku bubuhkan rasa manis untuk melegitkan perjalanan ini. Dengan balutan t-shirt putih, rok polkadot biru-putih, dan jilbab biru langit yang menyempurnakan keceriaan ku siang itu. Didalam kereta ku rasa sekali banyak pasang mata yang berburu pandang. Mungkin ada yang aneh dengan ku, atau energi positif yang terlalu memancar dari dalam diri ini?? aha, entahlah. Yang beradu dalam pikiran ku adalah pesan singkat yang membuat senyum tak berhenti mengembang. Perjalanan ini seolah menggambarkan aku akan bertemu dengan pujaan hati. Tampak riang tanpa duka.

Hingga kereta yang membawa ku terhenti tepat pada pemberhentian terakhir. Stasiun Bogor. Senyum semakin mengembang ketika aku bertemu dengan gadis 'dieng' yang ku sapa " Teh Asih ". Kala ku lantunkan sapaan padanya, ada yang bergetar didada. seperti ku temukan diri ku di dalam dirinya. 

Sederhana, kami membincangkan tentang kesederhanaan. Ya, seperti kau yang memandang pelangi dengan polos. Berharap pelangi tak akan sirna. Itulah permintaan yang sederhana meski sulit untuk diwujudkan.

Batin ku kian menggerutu. Entah mengapa rasa nyaman semakin membatu. Seperti bau tanah yang begitu khas usai hujan, seperti air yang mengendap diatas bebatuan. Semua lekat dengan jejak. Tak terurai meski peristiwa sudah berakhir.

Perbincangan bukan lagi bermula dari potongan kalimat basi sebuah perkenalan. Melainkan sederet kalimat mengundang tawa. Saling melempar canda. Seperti adik- kakak yang berpisah oleh asa. Mungkin ia merasa atau tidak, ketika bersamanya banyak waktu yang ku curi untuk sekadar memandangi ataupun menyiangi pribadinya. Bergurau meski kadang tak mengundang tawa. ah, banyak hal yang tak beda.

Meretas kebersamaan didalam sepenggal cerita. Berbagi tentang apa yang pernah, sedang dan ingin diri rasa. Mengundang buliran yang tertahan dibalik kelopak mata. Mengajaknya untuk sejenak mengulang asa dan rasa. Dilapisi rasa nikmat menyantap es buah salju dan tiga potong pisang goreng keju. Kadang ada tawa, ada guratan kecewa, bahkan ada pancaran cinta. Seketika pula gerimis mengiringi dua rupa berbagi cerita.

Ah, kota ini memang menyugukan banyak cinta untuk ku. Aku yang gusar disambut oleh "maskot  "kota ini dengan meriah. Hingga kuyup dan menghempas resah. Hilang lelah dan segenap peluh. Seperti bau tanah yang menyegarkan indera penciuman, begitu pula kehadiran ku disini. Meluaskan hati yang sempat menyempit. Mengirigasikan penat yang kerap membendung aliran tawa. 




Aku melihat diri ku didalam dirinya. Meski rupa berbeda, namun hati tetap mengatakan aku dan dia memiliki satu simpul yang mengikat. Terpaut dalam rajutan Illahi yang tak bisa diganti dengan potongan atau rajutan yang lain. 




Banyak rasa yang tak mampu diwujudkan oleh kata.
Banyak kata yang tak bisa dirangkai untuk melabuhkan tawa.
Hanya ada rasa syukur atas kehadiran banyak orang yang menggenapkan jiwa. 
Meramaikan yang sepi
Memberi arti pada yang terabaikan
Meluangkan waktu untuk setitik rindu
Tuhan, terimakasih
Untuk Hidup besertanya

Hadiah dari Kawan, Sebuah Tulisan oleh Dony P. Herwanto (Kenapa Cinta Harus Monyet?)

"Saya bersyukur memiliki kolega yang mencintai dunia tulis-menulis, dan bulan Juni 2011 saya dikejutkan dengan satu tulisan yang merupakan deskripsi dari status yang saya tulis di facebook. Dony P Herwanto, seorang kawan yang menggeluti profesi wartawan di Jurnal Bogor menulisnya dengan gaya khas penulis feature. Tengkyu Mas Dony." (tulisan asli bisa dilihat di http://8halamanbelakang.wordpress.com/2011/06/13/kenapa-cinta-harus-monyet/ ). Happy Reading :)

Beberapa hari ini, saya sering mencuri lihat status jejaring sosial facebook salah seorang kawan. Statusnya itu, bagi saya menarik. Saya seperti dipaksa menyimak potongan-potongan cerita. Kawan saya itu seorang mahasiswi tingkat akhir di IPB. Kawan saya itu bernama Tur Asih – begitu tulisnya di facebook.
Hingga kini, entah sampai kapan dia akan berhenti dan bosan menulis potongan-potongan cerita itu di status jejaring sosial. Dari sekian banyak status, ada satu yang menggelitik saya.

Perempuan kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah, 6 Januari 1990 itu menulis begini: Kenapa cinta harus monyet? Bukan Gajah yang besar, bukan Jerapah yang tinggi, bukan pula Anggora yang manis. Tak pernah pula kutemui orang bilang cinta itu Macan, Singa, atau Buaya. Kenapa harus monyet?


***

Umur saya sekarang 28 tahun. Cinta monyet seiring sejalan dengan masa remaja. Menurut Stanley Hall – Bapak Psikologi Remaja – usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Itu artinya, saat ini saya sudah melewati fase remaja. Artinya juga, ketika saya jatuh cinta di masa-masa sekarang, sifat cinta saya tidak masuk kategori cinta monyet. Benarkah?

Dari wikipedia ensiklopedia bebas, cinta monyet memiliki istilah informal yang berarti perasaan cinta yang terjadi antara sepasang anak muda yang masih dalam masa remaja. Istilah ini juga dapat digunakan sebagai kata sindiran, yang digunakan kepada seseorang yang kurang mencintai pasangannya secara serius.

Cinta monyet, masih berdasar wikipedia, juga dikenal dengan istilah ”crush”. Bisa juga dideskripsikan sebagai cinta seorang anak atau remaja kepada orang yang lebih tua. Sebagai contoh, seorang murid yang “suka” kepada gurunya. Dalam hal ini, istilah “cinta monyet” menggambarkan sebuah cinta yang tidak akan mendapat balasan.

Ini jelas bertolakbelakang dengan apa yang pernah ditulis salah seorang penyanyi balada negeri ini, Virgiawan Listanto atau yang akrab kita sapa Iwan Falas. Ia pernah menulis lirik lagu, seperti ini, Memang usia kita muda, namun cinta soal hati. Biar mereka bicara. Telinga kita terkunci.

Kalimat ini jelas mendobrak semua teori di atas dengan pelbagai embel-embelnya. Bagi Iwan Fals, cinta bukan masalah usia, dan saya setuju plus sepakat dengan teori Iwan Fals dalam lagu berjudul Buku Ini Aku Pinjam itu. Cinta itu bukan simbol. Mau diibaratkan dengan monyet, gajah, jerapah, anggora, macan, singa atau buaya sekali pun, cinta adalah cinta itu sendiri.


Dan kenapa cinta itu harus monyet? Bukan gajah yang besar, jerapah yang tinggi dan anggora yang manis?.

Bagi saya, monyet itu pandai berakting, rakus, tidak bisa diam, dan semaunya sendiri. Barangkali, sifat-sifat monyet itulah yang mendasari munculnya istilah cinta monyet. Cinta yang rakus, cinta yang penuh peran, cinta yang tidak bisa diam dan tentu saja cinta semaunya sendiri – ini lekat dengan istilah dunia serasa milik berdua.

Cinta memang besar seperti gajah. Tapi cinta datangnya tidak lamban. Cinta bisa datang secepat suara, angin dan cahaya. Cinta itu memang tinggi seperti jerapah. Tapi tingginya cinta tak terbatas. Cinta memang manis, seperti anggora. Tapi terkadang, cinta juga menyakitkan. Tapi kenapa harus monyet? Tiba-tiba pertanyaan itu menyergap saya. Lagi.

***

Dan ketika saya menulis catatan ini, status yang bagi saya lebih menyerupai potongan-potongan cerita itu sudah mencapai angka 33. Tidak ada tanda-tanda dia, kawan saya itu, untuk menghentikan potongan-potongan cerita itu.

Saya bersyukur punya kawan seperti dia. Usianya terpaut 7 tahun dari saya. Tapi soal cinta, bisa jadi, kawan saya itu lebih berpengalaman. Saat ini, usia kawan saya itu 21 tahun. Dan dua tahun lagi, dia sudah tidak remaja lagi.

Artinya, pertanyaan tentang kenapa harus monyet akan secara otomatis berganti dengan kenapa harus cinta. Tapi, sekali lagi, cinta bukan soal monyet atau gajah atau jerapah atau anggora atau macan, atau singa atau buaya. Tapi cinta soal hati. Maka, biarkan mereka bicara. Telinga tetap terkunci.

Dony P. Herwanto

Rabu, 14 September 2011

Exploring Dieng: The Beauty of Dieng


Jika punya kesempatan untuk berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng, saya sarankan mencari suasana ketika cuaca sangat cerah. Keluarlah pagi-pagi sebelum pukul tujuh, menanti matahari terbit dan melihat perbukitan berdiri kokoh saat belum terselimuti kabut.

Rongga dada kita akan terasa lapang, menghirup udara yang sangat sejuk dengan rata-rata suhu di sana adalah 15-20 derajat celcius dalam keadaan normal. Dieng merupakan salah satu wilayah penghasil umbi-umbian kentang serta memiliki sumber tenaga geothermal yang dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik.


Tuhan Maha Baik, menciptakan alam dengan segala rupa makhluknya. Bahkan rumput liar pun kadang membuat tentram hati :)


Perbukitan di Dataran Tinggi Dieng, seperti benteng kokoh yang memanjakan mata, ketika melihatnya secara langsung decak kagum akan lukisan Yang Kuasa segera melingkupi keterbatasan manusia.


A touch, A Cloud. Saat Dieng berkabut, kecantikannya pun masih nampak. Salah satu tujuan yang bisa dinikamti adalah Kawah Sileri, salah satu kawah terlebar di Dataran Tinggi Dieng.


Jika kita menyinggahi salah satu telaga yang ada di Dieng yaitu telaga warna, baik pada saat berkabut maupun cerah, otak kita akan tertuntun untuk mengingat scene FTV yang sering diputar di stasiun TV swasta.

 


Jangan ketinggalan juga untuk mengunjungi Kawah Sikidang, lokasi ini menawarkan pemandangan kawah di sekitar lokasinya yang sangat lapang. 


Sampai jumpa di Exploring Dieng Selanjutnya :)

Senin, 12 September 2011

Tentang Faris (yang baginya setiap hari adalah hari kejujuran di dunia)

Gw nggak percaya sesuatu yang kebetulan di dunia ini dan hal itu semakin kuat dari waktu ke waktu, termasuk kenal sama manusia yang punya nama Faris Priyanto. Setidaknya ada keputusan yang kita buat sebelumnya, memilih IPB, KPM, dan menjadi bagian dari komunitasnya yang pada akhirnya berinteraksi layaknya pengertian community  yang diutarakan F. Tonnies. Bukan sesuatu yang kebetulan jika akhirnya ada banyak hal yang gw kerjain bareng sm lw: ngulang mata kuliah kimia pas semester 3 (dan selamat Ndut, lw berhasil dapet D), turlap gabungan semester 4 (lw doyan banget kentut), kelompok psikosos, PEPP, KKP, Duta FEMA, Duta Lingkungan Hidup, dan kocaknya sama2 dicalonin buat jadi ketua MPD 45 padahal nggak pernah nyicipin rasanya MPD, akhirnya juga kita satu pembimbing skripsi yang bikin heboh rabuan gara2 digosipin pacaran.
 
Pertama kali yang bisa gw ungkapin ketika menuliskan testimoni ini adalah, lw itu pembaca dan penulis yang baik. Tapi itu persepsi yang baru gw munculin ketika mulai tahu bahwa ada banyak buku yang lw punya dan lw baca, serta setelah beberapa catatan lw mulai bermunculan di facebook. Dan sekarang, ketika nulis ini, gw berani bilang kalau  lw kayak makhluk dengan telinga yang nggak cuma dua, kalau pun cacahnya dua, tapi sepertinya dua indera itu memiliki corong yang lebar dan bak  tampungan yang besar sehingga lw bisa mendengar banyak curhatan orang. Lw pendengar yang sangat baik. Satu lagi, lw adalah manusia dengan tulisan terjelek yang pernah gw temui (dari sekian teman yang gw kenal, tulisan lw juara 1 jeleknya). Tapi tak apa, orang cerdas (alibi) memang biasanya punya tulisan jelek. Bukankah tulisan jelek tidak menghambat karir seseorang untuk menjadi Duta FEMA, Duta Lingkungan Hidup FEMA, dan sekaligus Jajaka Pinilih Kota Bogor? *pisss. Dan untuk soal tulisan, gw suka bete klo lagi bareng sama lw dan ada form yang harus diisi, lw pasti bakal minta sedekah dari tulisan gw yang bagus itu buat ngisi borang dll :P

Kata pepatah, pengalaman adalah guru paling berharga. Tapi menurut gw sekarang, manusialah yang paling bisa menjadi guru untuk pengalamannya. Dulu gw sering protes sama hidup, kenapa kesedihan dan kesusahan itu muncul bertubi-tubi? Menggerogoti nalar dan mematikan perasaan hingga membuat gw makin egois, tapi ternyata memang kita (manusia) harus mengalami hal yang demikian supaya bisa menghargai kesempatan. Pengalaman kenal lw jadi pelajaran buat gw dalam banyak hal. Karena tanpa disadari gw selalu mendengar nasehat yang lw sampaikan tanpa menggurui.

Faris, lw adalah manusia sekuensial abstrak yang gw anggap sebagai cerminan 2/3 dari diri gw. Kadang gw berandai, jika gw laki-laki maka nggak akan jauh beda sama lw. Keras kepala dan lebih memilih diam untuk beberapa kesempatan. Mengapa 2/3? Karena 1/3 nya adalah gw yang perempuan, yang tetap memilih menjadi perempuan tapi selalu membandingkan kemampuan dengan laki-laki. Dan terus terang juga, gw mengukur kemampuan gw dari lw. Bisa dibilang, lw bukan orang pertama yang gw hubungi ketika gw sedih, tapi selama gw kenal lw, lw selalu jadi penutup kesedihan gw dengan beberapa deret kata. Salah satu yang paling gw ingat adalah kata-kata lw yang gini: perempuan itu dilahirkan dengan sempurna, sayangnya mereka kadang tidak menyadari bahwa dirinya begitu berharga.

Lw termasuk orang yang pemalu dan ekstremnya kadang terlihat ogah-ogahan di suatu tempat/lingkungan baru, atau ketika bertemu dengan orang baru lw bakal nglakuin hal lugu: ulur tangan, sebut nama, dan diam seperti tidak ada ketertarikan untuk melanjutkan perbincangan. Meski sebenarnya itu adalah antisipasi untuk mempelajari kondisi, tapi bisa juga memunculkan penilaian bahwa lw angkuh. Walau pun gw juga hampir persis seperti itu. Tapi saat lw udah kenal orang dengan baik, gw rasa lw nggak pernah segan untuk membantu. Lw bukan orang pertama yang mendengar cerita gw, tapi sejauh yang gw alami, lw selalu menjadi pamungkas yang ngasih kesimpulan atas kejadian yang gw alami. Minimal, lw orang yang dengan senang hati nyuruh gw nangis dan nyaranin supaya gw menyeimbangkan gaya otoriter dan melankoli yang sebenarnya ada dalam diri gw. Thanks dude!

Ndut, pas gw nglanjutin lagi testimoni ini, gw rasa bakal terasa berat. Gw maruk pengen nulis semua yang gw ingat, hehe yang juntrungannya jadi nggak bisa nulis sama sekali. Tapi akhirnya gw dapat pencerahan lalu gw hapus separo testimoni  yang udah gw susun jauh-jauh hari (berasa jadi redaktur media cetak :P) dan gw lanjutin lagi dengan ini:

Semua ini gara-gara gw mulai memaksakan diri untuk jatuh cinta sama daging ayam, dan gw inget lw yang biasanya jadi volunter buat bantu ngabisin daging yang gw makan. Ditambah lagi perjalanan gw sepanjang Bengkalis-Pelalawan yang bikin gw inget waktu di Purwodadi-Jambi nyari warnet dan kita naik motor ke Tungkal Ulu yang sepanjang perjalanan nggak ada pemandangan lain selain sawit, tronton, sama debu. Tapi gw kagum sama lw, selalu bisa menikmati kesempatan yang diberikan yang pada akhirnya membuat diri lw easy go  buat ngejalanin hidup. Lw manusia yang diciptakan dengan serentetan rencana besar dari Tuhan: kecermelangan otak, perawakan yang mendukung, serta kemampuan retorika lw yang bagus (seketika gw tiba-tiba inget ramalan pak Muhsin kalau lw cocok jadi birokrat).

Mau diakui atau nggak (hehe), kalau lw udah kumat melankolis lw bisa lebih melow dari gw. Untuk mengurai cerita, lw harus pelan-pelan banget dan lw lebih seneng cerita via sms. Tapi justru dari sisi melankolis lw itu, lw bisa jadi sosok romantis yang setidaknya gw akui lewat notes-notes lw. Dan... gw udah lupa berapa belas kali gw baca dua notes lw: timeless space dan escaping desember.

Akhirnya, gw nggak tahu ini testimoni penting atau nggak, tapi gw harus mengakhirinya dengan beberapa kalimat:
Faris, manusia yang tergila-gila dengan alam, yang merasakan kehadiran Tuhan dengan proses perenungan, pada saat-saat tertentu lw sangat kebingungan dan terjebak pada pemikiran. Seperti persoalan kerinduan lw tentang kebahagiaan sederhana laksana anak kecil yang selalu merasa bahagia dengan hal-hal simple, pun ketika lw merasa berberat hati melepaskan suatu kenangan. Lw juga manusia yang sarat misi, orang yang peduli meskipun bentuk kepedulian lw kadang cukup ditunjukkan dengan cara diam dan pelan-pelan lw bertindak. Gw bukan orang yang mudah untuk bisa mempercayakan setiap detail peristiwa pada orang lain, dan tanpa disadari gw bisa percaya sama lw. Bahkan kadang gw rasa lw lebih berharga dari cowok gw (pas gw punya cowok, hehe).

Sukses selalu ya Ndut, kalau gw kangen untuk cuap-cuap pasti gw nggak segan untuk menghubungi lw. Termasuk kalau gw butuh ditraktir sama lw pas gw pulang nanti, gw jg dengan lapang dada membuat perut ini lapar-selapar-laparnya. Thanks for being so nice, dan inget pesen gw untuk  jaga hati dan menjaga apa yang sudah lw miliki. Karena sifat manusia yang sesungguhnya akan terlihat lewat keserakahan-keserakahan kecil yang muncul pada diri kita. Bijak kan gw? Hahaha gw harus cukup bijak Ris, karena lw sebagai orang yang gw jadiian takaran juga cukup bijak.

Hehe, udah ya testimoninya... doa gw: lekas2 lw lulus S1, semoga kompetisi jajaka Jabar jg lancar, dan bisa menjalani proses dengan si doi  dengan baik.

See yaaa Ndut  (^_^)