Jumat, 10 Juni 2011

SERBA-SERBI SKRIPSI (EDISI RENUNGAN)

"TUHAN BERSAMA MAHASISWA TINGKAT AKHIR"

"SUDAHKAH MENGERJAKAN SKRIPSI HARI INI?"

"DEFINISI OPERASIONAL"

"KERANGKA BERPIKIR"

"TOLAK/TERIMA H0?"

"KAPAN SIDANG?"

"KAPAN WISUDA?"

Terlalu banyak pertanyaan dan pernyataan yang muncul, kadang-kadang yang bertanya juga nggak mikir gimana perasaan personal yang bersangkutan. Alih-alih bikin semangat, yang ada malah eneg dan mau muntah kalau dihubungkan dengan saudara kandung tugas akhir mahasiswa S1. Hehe, ini bukan prolog sebuah tulisan, hanya sedikit curcol.

Tapi yang sekedar aku pahami, bukankah ketika kita sudah melangkah semua harus dilanjutkan? Mengapa harus mengeluh dengan banyaknya pembahasan skripsi atau pun draft yang direvisi berkali-kali? Manusia memang makhluk antara, yang tidak suka berada di satu titik dengan kaki yang dirapatkan. Skripsi bukan makhluk asing, dia adalah ciptaan manusia sebagai bukti jenjang karier dalam pendidikan. Miris rasanya jika si makhluk itu hanya dijadikan alat supaya mendapat gelar sarjana.

Dari kecil saya bermimpi bisa menjadi seorang yang kaya ilmu, ingin melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya dengan karya tulis yang dibaca banyak orang. Dijadikan referensi untuk berbagai riset, saya takut, takut hal itu tinggal menjadi mimpi sebab saya harus mematuhi sistem. Pepatah 'manusia hanya bisa merencanakan, Tuhanlah yang menentukan' terlalu terinternalisasi sebagai sebuah bentuk penafikkan atas komitmen. Kadang, ketika sudah mengatakan siapa pihak yang berencana dan siapa yang menentukan membuat semangat bukan semakin membara, tapi justru redup apa adanya.

Yah, itu yang saya takutkan. Takut merasa bahwa Tuhan bersama mahasiswa tingkat akhir, takut dengan wallpaper 'sudahkah mengerjakan skripsi hari ini?', terlebih lagi saya takut skripsi saya hanya menjadi karya kacangan yang lebih layak masuk loak kertas. #EDISI RENUNGAN

Bogor, 10 Juni 2011 di lantai 5 Dept. SKPM