Kamis, 09 Juni 2011

SENIMAN SAINS: A SIMPLE SHARE WITH ChiMotZ

Selasa, 22 Maret 2011

Hari sudah menjelang dini, barangkali fajar sedang berdandan dan bersiap untuk menampakkan diri beberapa jam lagi. Seperti biasanya, saya masih terjaga menikmati detail insomnia yang tanpa disadari menjadi kebiasaan. Dan, rasa-rasanya membuka facebook adalah menjadi pilihan yang tepat, sekedar untuk melihat siapa yang masih bisa diajak ‘berbicara’, membaca komentar di notes, serta menclok sana-sini mengetahui apa yag ada di pikiran orang-orang yang masuk dalam jalinan teman.

Dan tanpa disengaja, saya bertemu dengan satu manusia ini di kotak chat facebook. ChiMotz Gilbert Rockn’tolz, agak ribet juga mengeja namanya, tapi familiarnya ChiMotz. Musisi yang pernah saya lihat penampilannya di acara RASSA (Ruang Apresiasi Seni dan Sastra) edisi I (entah, saya lupa tepatnya kapan).


Barangkali hanya tulisan sederhana yang bisa saya tuangkan disini, tapi beginilah....

Seni itu universal, bisa ditekuni, diapresiasi, dan dinikmati oleh siapa saja. Pelaku-pelaku seni layaknya Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang mengabdikan diri untuk negara. Pelaku seni juga mengabdikan diri dan pemikirannya untuk seni. Saya sendiri hanyanyalah seorang penikmat yang bagi saya seni itu menghibur, menenangkan dan membuat saya merasakan. Seni itu soal rasa bagi saya. Suatu kali saya pernah berbincang dengan seorang sahabat yang pandai menarikan jari-jarinya di antara senar gitar. Saya mengagumi jari-jari lincah itu, dan.... lagi-lagi saya hanya bisa menikmatinya. Berkali-kali latihan tetap saja kaku. Salah satu direktori di komputer saya penuh dengan file musik dan setiap saat saya bekerja (menulis, membaca, bahkan saat duduk-duduk saja), musik menjadi teman setia yang kehadirannya saya wajibkan. Tapi lagi-lagi saya hanya bisa menikmatinya, sedikit saja saya mencoba mendendangkan atau menyanyikan lagu, pasti muncul komentar: “Asih, kamu harus membedakan mana bernyanyi dan mana berdebat. Suara kamu lebih cocok untuk menjadi orator atau pembicara.” Itu adalah salah satu komentar dari sahabat saya yang selalu saya ingat. Tapi bagaimana pun, saya menyukai musik, menikmati seni.

Dan obrolan ringan dengan ChiMotz, menuntun saya untuk menuliskan hal ini. Seniman, siapa pun dia, akan tergerak untuk menciptakan karya-karya yang biasanya berasal dari hasil kontemplasi atas fenomena-fenomena yang terjadi di sekitarnya. Musisi, diberikan kepekaan terhadap nada oleh sebab itu penciptaannya pun ada nada-nada yang tersusun apik. ChiMotz, begitu panggilannya, menjadikan musik sebagai media untuk menyampaikan apa pun.


“Hemmm, love music love life, meskipun saya cuma bisa jadi penikmat” jari saya mengetikkan kata-kata itu di kotak chatt.


“Justru anda beruntung bisa menjadi penikmat, pelaku seni tidak bisa sepenuhnya menikmati seni” katanya.


“Kira-kira kenapa bisa seperti itu?” saya tergerak untuk menanyakan alasannya.

“karena otak pelaku selalu terganggu oleh keinginan menganalisa ketika ia mendengar, melihat, merasakan, seni-seni yang baru. Itu yang saya rasakan” ChiMotz menjawab.

Tiba-tiba saya jadi ingat ciri-ciri ilmuwan, seorang ilmuwan adalah dia yang selalu gelisah hatinya, terganggu pikirannya ketika menemukan realitas fenomena. Hummm, nampaknya ada persamaan antara seniman dan ilmuwan. Sepertinya bisa jadi resiprositas, seniman adalah ilmuwan, ilmuwan adalah seniman.

“Seniman sama seperti ilmuwan, keduanya sama-sama mudah terganggu dengan hal yang baru” saya menyatakan hal ini.

“Kira-kira begitu khususnya musik untuk saya.”

“Bagaimana dengan ilmuwan?”

“Seniman sains mungkin, karena ilmuwan adalah seniman juga, cuma kurang familiar saja jika ilmuwan disebut seniman saja. Baik seniman maupun ilmuwan, keduanya sama-sama mengkomposisikan hal-hal baru” kata ChiMotz.


Obrolan singkat dengan ChiMotz membuat saya jadi berpikir, se-fals apapun suara saya, sekaku apapun jemari saya yang kesulitan belajar gitar, saya bersyukur bisa menikmati seni. Cukuplah menekuni apa yang kita cintai, kerjakan dengan sungguh-sungguh, karena setiap kita adalah seniman. Setiap jiwa adalah seni sebab Tuhan pun menciptakan jiwa-jiwa manusia dengan komposisi keindahan yang bermakna seni.


Untuk ChiMotz, senang bisa share dengan calon komposer handal :)... jangan lupa request saya ya: aransemen musik yang menyampaikan suara hati petani di negeri ini.

Bogor, 22 Maret 2011