Minggu, 29 Mei 2011

SAHABAT KECIL

Kamis, 09 Juli 2009


Denting jam di atas kepala membuatku terpasung waktu. Kuamati putarannya, selalu ke kanan. Apakah ada suatu masa di mana jam akan bergerak dengan sendirinya ke arah kiri? Adakah yang pernah berpikir mengapa jarum jam itu selalu bergerak meneruskan tugasnya? Barangkali itu adalah sebuah media belajar bagi manusia yang memang seharusnya terus berusaha untuk hari depannya. Meski manusia juga tak pernah tahu kapan saatnya jarum jam itu tak bergerak lagi, sekedar baginya atau bagi semesta.

Sekarang aku, manusia yang masih berusaha mencari jawab atas persoalan kebebasan, juga tak mengerti kenapa sampai saat ini jam itu masih terus berdetik. Kapankah kebosanannya itu datang dipengaruhi gravitasi yang tidak seimbang dan meledakkan kapasitas dunia? Aku bersyukur pada Tuhan masih bisa menghirup oksigenNya, aku bersyukur karena Dia masih menggerakkan waktu. Sampai akhirnya aku bisa bertemu denganmu saat itu. Tapi sekarang, lama sekali aku tak bersua dengan dirimu. Kau sangat sibuk tampaknya sahabatku, sahabat kecilku yang dahulu senantiasa menemaniku meniti pematang sawah. Dulu kita bersama-sama menyeberangi sungai agar bisa sampai ke ladang. Sahabatku, aku ingat waktu kau membantuku mencari tali pisang untuk tumpuan kakiku memanjat pohon Pepaya. Beberapa kali aku mencoba memanjatnya, sukar. Tapi kau menyemangatiku, katamu, yang bisa memanjat pohon bukan hanya laki-laki, perempuan juga bisa. Ha ha ha, akhirnya aku sampai di pucuknya. Aku berteriak lepas dan kau tertawa bebas.

Sahabat kecilku, apa kau masih mengingatku? Apa kau simpan baik kenangan kita yang kadang cair kadang beku? Ternyata sudah hampir separuh hidup aku tak pernah lagi bertemu denganmu. Aku rindu bercerita sambil mengepang rambut keriting gantungmu. Barangkali kita terpisah jarak, aku tak tahu. Apa mungkin kau malah berada satu kota denganku? Andai kutahu nomor hapemu, ingin aku mengontakmu. Akan kutanyakan padamu, sudah berapa kali kau jatuh cinta sejak 8 tahun yang lalu?

Kau lucu waktu itu. Berlembar-lembar surat kau tulis dengan tangan kidalmu. Kadang kau kutip kata-kata Patkai, “Cinta, deritanya tiada akhir.” Tahu apa kita tentang cinta waktu masih ingusan dulu. Kau ada-ada saja. Suratmu itu tak pernah sampai pada pangeran pujaanmu. Pasti tertunda padaku, karena aku terlalu banyak mengkritik isinya. Kau jadi malu, maafkan aku sahabatku. Sungguh, aku tak tahu sejauh mana perasaanmu waktu itu. Yang aku tahu, saat itu kita masih terlalu kecil untuk jatuh cinta.

Sahabatku, kau acapkali menangis di pelukku. Kau katakan pangeranmu itu tak mengerti perasaanmu. Kau bilang dia tega. Tapi aku tak tahu bagaimana menenangkanmu. Aku terlalu keras untuk menasehatimu, aku tak punya kata-kata bijak tentang laki-laki. Hingga saat ini. Yang aku tahu laki-laki adalah sainganku. Maafkan aku. Tapi aku ingin kau tetap menjadi dirimu yang ceria. Dengan sungging miji timun geligimu dan lesung pipitmu. Kau ingat? Aku hanya bisa menggandengmu ke tegalan untuk menikmati semilir angin yang barangkali bisa menyejukkan hatimu. Meski sungguh, aku merasa biadab karena merutukimu dalam hati. Kupikir kau sangat melankolis, bagaimana pangeranmu itu bisa tahu perasaanmu jika suratmu saja tak pernah sampai padanya. Jangan salahkan dia, tapi salahkan hati laki-laki yang tak peka.

Berapa kali kau mengadukan hal yang sama bahwa pangeranmu itu tak pernah mengerti perasaanmu. Aku sebal pada sikapmu. Kalau kau suka katakan saja. Katakan, toh saat itu kuyakin cintamu itu bualan. Aku tak menghinamu, tapi untuk umuran anak kecil seperti kita saat itu tak ada istilah cinta. Tak ada sebutan cinta monyet. Kenapa cinta harus monyet? Bukan Gajah yang besar, bukan Jerapah yang tinggi, bukan pula Angora yang manis. Tak pernah pula kutemui orang bilang cinta itu Macan, Singa, atau Buaya. Kenapa harus monyet? Barangkali The Origin Of Species karangan Darwin terinternalisasi dalam diri manusia melebihi The Evolution Deceit-nya Harun Yahya. Bahkan anak-anak seperti kita yang waktu itu belum tahu sama sekali mengenai dua orang itu. Yang kita tahu manusia itu dari monyet.

Sampai usia kita memasuki sebelas, kita berpisah. Kau memilih pesanteren sebagai rumah singgah galian ilmu. Aku tetap di tempat yang sama. Menikmati jamuan hidup di desa tempat kita biasa bercanda atau pun bersengketa. Sejak kita berpisah, aku hanya sekali mengetahui kabarmu, kau bilang bahwa kau menikmati kehidupanmu di pesanteren. Aku iri padamu saat itu, kau banyak belajar Qur’an Hadist, kau pasti belajar Nahwu Saraf. Kau juga telah hapal mahfudot yang barangkali tak terhitung. Dan kau pasti terlihat anggun dengan gaun hijabmu.

Aku masih tetap seperti saat kita bersama. Hobiku tak lain adalah memanjat pohon, meributi ayahku mengurus Kambing, aku masih malas mencuci piring (salah satu pekerjaan perempuan adalah mencuci). Saat kutahu kabarmu itu, aku ingin berubah menjadi sedikit lebih lembut, tapi aku urung melaksanakannya karena kutahu saat itu perasaanmu masih sama untuk pangeranmu yang saat itu entah dimana. Aku tak mau jadi lembut. Aku takut hal itu bisa membuatku bergantung pada perasaan. Bagiku, hidup ini butuh logika dan rasionalitas. Aku adalah aku, kamu adalah kamu, dan kita berbeda.

Sekarang, aku berharap kau ada di kotaku. Kota persinggahanku. Aku tak memilih menjadi lembut, tapi aku menirumu memilih tempat singgah ilmuku. Sekarang mungkin kau akan heran melihatku. Aku tak semakin gemuk seperti khayalanmu dulu. Aku tetap ceking kurus, berkaca mata, pelit senyum, galak, dan mungkin aku butuh petuah bijakmu. Aku masih memusuhi laki-laki. Kau mungkin tahu kenapa aku memusuhi makhluk yang katanya kita tercipta dari rusuk kirinya. Sejak kecil, aku tak mau kalah dengan mereka. Karena ayahku ingin aku menjadi seperti laki-laki. Jalanku harus cepat, makanku harus cepat, aku harus bisa memegang candung . Aku harus tahan untuk tidak menangis.

Sahabatku, aku masih seperti aku. Kuyakin kamu masih juga sama seperti kamu. Tapi aku tak lagi mempersoalkan rasamu untuk pangeranmu, karena aku tahu pada dasarnya wanita itu setia, meski kadang kesetiaan itu perlu dipertanyakan. Aku tak suka kesetiaanmu itu, karena setiamu itu kau dikhianati. Pangeranmu sering menyandarkan keluhnya padaku. Dia tahu perasaanmu sekarang. Tapi dia tak peduli. Pangeranmu itu punya satu permaisuri dan dua selir yang selalu dia sambangi. Kuberdoa semoga kau tak lagi pertahankan kesetiaanmu itu. Laki-laki itu hanya halusinasi masa lalumu. Jika sekarang kau ingin mencari pangeran, carilah yang mencintaimu dan menjagamu. Karena jika tidak kau hanya akan jadi budaknya. Aku tak menggugat laki-laki, tapi jika ada yang merasa tergugat, mungkin apa yang kukatakan adalah fakta. Atau mungkin baginya aku sedang membual, tertawakan saja aku. Tak peduli.

Aku rindu masa bersamamu. Jejak langkah kita telah tergilas air hujan ratusan ribu detik yang silam, tapi aku masih mengingatnya, kulipat rapi dalam memoriku. Aku ingin bercerita padamu bahwa terkadang sifat lembut perempuan terkadang menjebaknya sendiri. Atau itu kebodohan perempuan di mata laki-laki?