Jumat, 27 Mei 2011

MENANTI EMBUN

Rabu, 06 Mei 2009

Kuhirup napas panjang, mencoba menata kembali puzzle rasa di hati yang selama ini tercecer. Kubiarkan diafragma ini mengembang beberapa saat lalu kuhembuskan Karbondioksida itu keras-keras seperti orang yang sedang buang sial dari dalam dirinya. Sekarang, di detik yang terus berjalan aku terduduk di sini. Sendiri. Meski di luar sana hingar bingar hidup belum sepenuhnya dimulai, namun aku selalu ingin memulainya lebih awal dari siapa pun. Aku akan terus duduk sampai aku puas. Barangkali siapa pun yang melihatku akan heran dengan apa yang aku lakukan. Menatap lurus ke depan tanpa kata-kata dan sekali-sekali bergumam. Itu pun tanpa kata yang bisa mereka mengerti. Gumamanku hanya terlihat seperti komat-kamit tukang tarot.

Tapi seandainya kalian -atau kau- tahu, barangkali ada sedikit empati yang mampu muncul dari suara hati yang tak pernah mampu berbohong. Aku tak sekedar berkomat-kamit tak jelas. Sesungguhnya aku sedang menyampaikan gundah hati yang beberapa waktu ini tak tersampaikan. Sebuah cerita yang selama ini kuhanyutkan bersama rasa dan kesempatan yang kukira akan sirna begitu saja. Tapi tak semudah itu, dari hulu memang tampak hilang, namun ketika sampai ke muara aku menemukannya kembali.

Aku mulai berusaha menciptakan kesempatan seperti ini. Kesempatan yang tak terbayar, dan aku tak perlu teman bicara. Aku bisa menyampaikannya sesuka hatiku, menyampaikan dengan lirih suara tak terdengar. Lalu tiba-tiba aku menjadi berpikir apakah ini jeritan hati yang terlalu lelah atau pikiran yang mengaku kalah?

Aku sedikit menggeser posisi dudukku. Kuraih sebuah buku bersampul hitam yang selama ini setia menerima apapaun yang aku rasakan. Sebuah buku harian yang selama ini menjadi wakil semua telinga yang mampu mendengar jeritku. Buku itu, teman curhat yang tak pernah protes meski tusukan pena kadang “menyakitinya”. Setelah kudapat buku itu, aku kembali ke posisi dudukku semula. Kubuka lembar yang dibatasi sepotong pita merah. Sesosok wajah ada di salah satu lembar yang dibatasi itu. Wajah yang tercetak dalam foto ukuran 4R. Wajah yang senantiasa aku rindukan.

Mataku panas, entah mengapa setiap kali kupandangi mata di foto ini, degup kencang jantungku terpacu. Perih, sedih, luka menyambar-nyambar. Lalu disusul dengan bahagia, ceria, suka yang sekedar mampir sebentar. Aku mengusap wajah yang tak sesungguhnya itu. Wajah salah seorang yang paling berharga dalam hidupku, sumber kekuatan cintaku. Setiap kali, setiap pagi dalam beberapa waktu ini kulakukan itu. Berharap siang nanti kudapatkan kabar keberadaannya. Kudengar berita kepulangannya. Setiap hari –dalam beberapa waktu ini- harapan itu terkembang dan setiap hari –dalam beberapa waktu ini- pula harapan itu pupus.

Andai dia ada di sisiku saat ini, aku tak akan muluk-muluk bercerita. Aku hanya ingin menikmati waktu bersamanya. Namun, ketahuilah, aku tak pernah menganggapnya tiada. Setiap waktu, bagiku dia selalu ada bersamaku. Meski raganya entah berada di mana sekarang, namun rohnya selalu hidup dalam pikiranku. Siapa pun tak bisa menyalahkanku –tentang hal ini, tentangnya- karena aku hidup dengan sudut pandangku. Siapa pun hidup dengan sudut pandangnya masing-masing. Dan aku tak akan pernah membiarkan kehidupanku berjalan dengan sudut pandang yang sempit yang bisa membuatku bunuh diri.

“Aku ingin kau mengerti…” kata itu tiba-tiba meluncur dari mulut ini. Lalu mataku semakin panas dan tak kuasa lagi membendung telaga kecil yang beriak deras ini. Foto itu kudekap, imajinasiku melayang seakan aku sedang memeluk sosok sesungguhnya. Rasa-rasanya ada perasaan halus yang menelusup dan bisikan kecil menghampiri telingaku. Itu darinya, ya benar-benar darinya. Namun sekali lagi aku harus menyadari bahwa itu hanya imajinasiku. Aku menyayanginya bahkan benar-benar mencintainya.

Seandainya dia berada di sini, sekarang juga akan kuberitahukan padanya tentang dua waktu dimana aku sangat menyukai saat-saat itu. Waktu pagi ketika fajar putih menyingsing di langit timur, diiringi kokok ayam ricuh serta cicit tikus yang berhenti kudengar. Lalu ketika bola raksasa menyembul, masih di langit timur, dan seakan-akan berkata “dunia, aku kan menguasaimu”. Kemilau embun yang baunya masih basah menusuk hidungku dan membelai pernapasanku. Uapnya naik sedikit demi sedikit. Kunikmati detik-detik itu sampai wujud embun itu lenyap dari pandangan kasatku.

Jika hari telah beranjak siang, aku cukup kesal dan mengutuki waktu. Mengapa dia harus bergerak, merangkak, berjalan, berlari, hingga kejaranku tak sampai? Mengapa dia tak mau sejenak berhenti mengerti arti dari setiap jejak yang kucoba langkahi? Namun, akhirnya kusadar bahwa aku sama sekali tak bisa menyalahkan waktu. Apa yang bisa kusalahkan, aku pun tak nanpu mendefinisikannya secara pasti. Apa kalian tahu definisi waktu? Definisi pastinya, maksudku, jika tahu ceritakan padaku.

Mengapa aku mengutuki waktu siang yang sama sekali tak berasa? Semua ini tak lepas dari rasa kesalku terhadap praktek birokrasi di negeri ini. Negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi -pada faktanya memang seperti itu kuakui- namun kegemahannya bagiku seperti sepotong pizza yang hanya dapat dibeli oleh kalangan yang sudah cukup uang untuk membelinya. Tanpa tedeng aling-aling, orang miskin itu nggak perlu makan pizza dulu karena raskin (beras miskin) pun datangnya selalu ditunggu-tunggu. Ya, hanya orang yang punya tahta dan harta saja yang menikmati kekayaan negara. Sekalian saja sahkan undang-undang “pejabat anti melarat”. Sama saja biar pun labelnya pizza, baunya toh masih seperti Jengkol juga, hanya orang yang suka saja yang mau memakannya.

Kembali lagi pada birokrasi yang tak ayal bukan lagi sebagai sebuah bentuk organisasi paling ideal menurut Aristoteles, namun sekarang cenderung pada penyimpangan yang nyata. Gampangnya, birokrasi bereinkarnasi dan melahirkan kembali oknum pelaku birokratisme yang membuat hal mudah menjadi susah dan harus berpayah-payah mendapatkannya.

Kekesalanku bukan tak beralasan. Entah itu sebagai perwujudan ego mengenai hak warga negara atau memang rasa kehilangan yang membuat emosi ini tak terkendali. Dasar manusia! Birokrasi zaman ini terlalu banyak cingcong, sesuatu yang seharusnya menjadi “sekedar” namun akhirnya sukar dan membuat gusar.

Pikiranku terlalu berkelana sampai persoalan negara. Hanya karena sosok yang wajahnya tercetak dalam secarik kertas foto yang sekarang sedang kupegang. Kupastikan seandainya wajah ini berwujud di depanku sekarang, akan kupeluk dia dengan erat. Dia adalah hakku dari Tuhan. Aku tak mau kehilangan dirinya -sama sekali- meski kusadari kepemilikan di dunia ini tak ada yang kekal.

Kulirik jam weaker di atas meja berwarna cokelat tua di sebelah tempat tidur. Sudah lima belas menit aku duduk diam sembari memandangi foto ini. Aku tak ingin beranjak karena aku menggantungkan harapanku pada posisiku sekarang.

“Aku masih ingin kau tahu...” butiran yang leleh menetes di pipiku. Aku membenci siang karena semua bagian dari diriku begitu lelah mencari dan menemukanmu. Selain pagi, hanya waktu malam yang senyap bisa kunikmati meski sedikit. Itu sekarang. Dulu, malam tak ubahnya pagi dengan embunnya. Malam adalah gelap yang indah. Apalagi jika remang cahaya bulan menghias. Ditambah titik-titik bintang membuat corak rasi pari, biduk atau scorpio. Sekarang, meski kesadaranku terkikis oleh lelahnya pikiran, aku terus berusaha menikmatinya. Kutahu jika malam datang maka dia akan segera berakhir dan berganti pagi kembali. Lalu aku bisa berceloteh panjang tentang dirimu dalam hatiku. Tentang kebahagiaan dan harapan akan masa depan. Walau aku sadari, siang menanti jejakku untuk terus mencarimu.

Air mata ini menganak sungai, sebuah ironi tentang kenyataan lemahnya diriku. Tapi aku yakin kesempatan itu masih ada, terbentang seluas langit. Kau akan menghampiriku kembali dengan besarnya rasa cintamu itu. Kau akan datang padaku kemudian merangkul tubuh kecilku dalam dekapan tangan kokohmu. Kau akan tersenyum sambil mengacak-acak rambutku. Aku tahu kau akan berkata:

”Tanamkan jiwa ksatria di hatimu, meski kau perempuan, kau Srikandi dalam kehidupan ini. Nafas yang menjadikan kehidupan ini selaras dengan kelembutanmu. Kau adalah roh kartini yang senantiasa hidup dan jiwa bunda Theresa yang tak pernah mati.”

Aku terguguk mengingat kata-kata yang pernah kau ucapkan itu. Aku malu karena Srikandi , Kartini, dan bunda Theresa yang kau banggakan ini begitu rapuh.

”Kau bisa meraih mimpi-mimpimu. Bermimpilah gadisku, mimpi itu gratis. Bercita-citalah yang besar maka kau akan jadi orang besar. Kau harus berpandangan seluas langit dan memiliki pemikiran sedalam laut.”

Kembali kuhirup napas dalam-dalam. Kuresapi dengung kata-kata yang pernah kudengar itu dan tak akan terhapus dari memori jangka panjangku.

Seandainya kau ada di sini, sekarang, aku akan ceritakan tentang mimpi besarku. Kuyakin kau pasti menepuk pundakku seakan aku tak hanya sekedar sahabat karibmu. Barangkali kau juga takkan percaya, aku yang seperti ini, bermimpi untuk menggantikan Ibu Meutia Hatta di tahun 2040 kelak. Kurasa tidak terlalu tinggi jika aku ingin meneruskan perjuangan perempuan. Tapi kau tak ada di sini sekarang. Kau entah berada di mana. Di belahan bumi yang mana. Aku bingung. Jalan pikiranku buntu. Saat ini, jangankan menggantungkan cita-citaku sebagai Menteri Pemberdayaan Perempuan sebagai obsesi yang tinggi. Cita-cita tertinggiku hari ini -dan telah tiga hari yang lalu- adalah bertemu denganmu dan memelukmu.

Kakiku mulai kesemutan bersila selama 30 menit. Kusdari waktu merangkak dan terus berjalan. Saat yang kutunggu, tepatnya yang paling kususkai yaitu saat matahari terbit segera tiba. Raksasa bulat itu akan segera muncul memendarkan sinar kuning keemasan sebelum menjadi panas yang menusuk kulit. Pagi ini kembali kugantungkan harapanku pada-Nya, pada mereka, dan pada siapa pun yang mendengarkan. Pada semua orang yang mau mendoakan aku dan kami.

Hari baru setelah tiga hari yang lalu harus kujalani kembali. Mau tidak mau. Semoga harapan pagi ini tak tersiakan. Kuraih handphone yang kutaruh di atas meja cokelat kecil di dekat tempat tidur itu. Kutelpon seorang yang sedang menanti kabar dariku di seberang sana. Setelah itu kusimpan kembali foto ukuran 4R yang sedari tadi menemani celotehku.

Sekarang, pagi memang masih dingin. Tapi bukan bau basah embun. Bau amis yang membuatku mual. Bahkan di otakku yang pesan yang tersampaikan tak hanya bau amis, bau mayat. Sial! Aku tak boleh berpikir seperti itu. Huf, sepagi ini sudah sumpeg. Aku berada di tengah-tengah orang yang kondisinya sama sepertiku. Menanti.

Kudekati seseorang yang aku kenal sejak dua hari yang lalu.

”Bagaimana?” tanyaku padanya. Seorang pemuda bernama Sahar yang sedang menanti kabar tentang adiknya. Adik perempuan yang katanya sebaya denganku, 20 tahun. Dia hanya menggeleng. Kutahu, barangkali dia mau menangis tapi mungkin dia malu denganku. Aku menelan ludah, pahit. Lidahku kelu. Aku tak berniat menanyakan hal yang lain lagi padanya.

”Sebentar, aku mau ke pos. Mau ikut?” kupegang pundaknya dan kutatap dalam matanya. Pasti dia tidak tidur beberapa hari ini.

Sahar menggeleng, ”Aku sudah ke sana” jawabnya tawar.

Aku bergegas menjajak jalanan basah, tetap amis.

“Selamat pagi” sapaku pada seorang petugas yang mengenakan kaos bertuliskan SAR.

”Selamat pagi Mbak, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.

”Bagaimana perkembangannya Pak?” tanyaku. ”Ada kabar terbaru mengenai korban?”

”Sementara belum Mbak, masih sama seperti kemarin baru delapan orang yang ditemukan. Semuanya meninggal dan sudah diambil oleh keluarganya.” penjelasan itu hambar di telingaku.

Langkahku gontai namun kupaksakan tegap. Aku kembali menghampiri Sahar. Duduk di sebelahnya dan berusaha tersenyum. Aku jadi teringat pesan ibuku tadi pagi saat kutelpon.

”Isya, kalau memang hari ini tidak ada kabar juga tentang ayahmu, kau pulang saja Nak. Kita pasrah saja.” kini air mataku benar-benar tak bisa kutahan. Padahal aku telah banyak menangis selepas shalat subuh tadi pagi. Setidaknya setengah jam cukup membuat mataku bengkak. Tapi tetap saja sekarang tak bisa kutahan.

Pemuda di sampingku hanya diam. Kumaknai diamnya sebagai tanda bahwa apa yang sedang dirasakannya sama denganku. Tak perlu pelajaran tentang empati di sini, masing-masing dari kami telah punya. Di dekat pos yang barusan kuhampiri terjadi ribut adu mulut antara beberapa orang yang senasib denganku dengan petugas SAR. Refleks kutarik tangan Sahar dan bergegas menuju ke tempat keributan. Hanya sekitar 5 meter dari tempatku sebelumnya.

”Kami butuh kepastian Pak, tidak harus seperti ini kan Pak? Pencarian terus diulur dengan alasan perundingan petugas, belum ada perintah dari atasan, cuaca buruk. Apa lagi Pak? Apa bapak-bapak bisa menjamin keluraga kami masih ada? Hidup atau mati? Kami di sini punya harapan Pak. Bapak-bapak punya perlatan untuk menyelamatkan diri jika berda di tengah laut nanti. Tapi keluarga kami pak? Mereka tidak punya apa-apa di tengah laut. Bagi kami, tahu mereka selamat dan hidup itu mukjizat. Tapi jika tahu mereka mati tetapi tetap ditemukan itu pun anugerah Pak. Tolong jangan membuat kami gelap mata Pak, jika kami memang harus ikut mencari ke tengah laut, kami bersedia.” Ucapan salah seorang Bapak diiringi anggukan orang-oarang yang ada di sekitar itu.

“Tapi...” seorang petugas SAR tidak sampai melanjutkan kata-katanya karena terlanjur dipotong oleh seorang lagi yang berdiri di sebelah bapak yang bicara pertama.

“Tapi apa lagi Pak? Kekhawatiran kami telah memuncak. Selama empat hari ini terkatung-katung di sini hanya sekedar mendengar alasan dari petugas.” Suaranya lebih terdengar marah.

Gendang telingaku mengabaikan suara-suara mereka. Aku diam. Percuma juga ikut bersuara. Kutelungkupkan kedua telapak tanganku di wajah. Entahlah, hatiku kebas. Tak mengerti bagaimana menyeimbangkan rasa kehilangan yang mendalam ini dengan toleransi petugas dan cuaca. Aku terus diam sampai kudengar pemuda itu sesenggukan. Aku membawanya duduk di depan pos penjagaan.

“Isya, saya lelah” ucapnya lirih. Matanya tak lagi kering, air mata yang keluar tak dihiraukannya. “Adik saya satu-satunya kenapa harus ikut menjadi korban yang hilang dalam kecelakaan kapal ini. Yang paling saya khawatirkan adalah dia tidak bisa berenang. Dia tidak bisa menyelamatkan dirinya, Isya.” Aku tahu perasaan Sahar saat ini.

Tak beda dengannya. Hal yang sama pun kurasakan. Pahlawanku pun bernasib sama dengan adik Sahar. Tapi aku lebih optimis bahwa ayah akan selamat. Karena itu harapanku. Tapi aku hanya bisa berdoa saat ini, aku tak mungkin ikut mencari ke tengah lautan.pasti aku dilarang karena aku perempuan. Ayah kebetulan dinas di Sulawesi, beliau pulang untuk menghadiri acara penyerahan penghargaan Mahasiswa Berprestasi yang kuraih di kampusku di Jakarta. Saat itu satu minggu lagi, namun jika dihitung dari hari ini berrati tinggal tiga hari lagi. Tetapi kabar tentang ayah belum juga terdengar. Kusesali kenapa waktu itu ayah tidak naik pesawat saja? Ah tapi jika bencana mau melanda tak peduli kita berada di mana, di lubang semut pun pasti akan terkena.

Handphoneku berdering. Telpon dari adikku.

”Kak Isya, ibu pingsan-pingsan terus. Kakak pulang saja ya naik pesawat hari ini.” kata-kata Nuril adik laki-laki pertamaku membuatku bertambah kalut.

”Ril, kamu jaga ibu dulu ya, minta tolong sama Bibi dulu. Kakak bertahan satu hari lagi sampai besok. Kakak optimis kalau ayah akan selamat dari kecelakaan itu. Kamu yang sabar ya.” ucapku.

”Tapi bagaimana keadaan kakak?” tanya adikku itu.

”Kakak baik., kau jaga ibu sama Vita adikmu ya.” Telpon ditutup.

Akhirnya petugas dan beberapa kelurga yang menanti terjun untuk mencari korban, termasuk Sahar juga ikut dalam rombongan itu. Aku kembali dulu ke tempat menginapku membereskan pakaianku. Aku harus siap dengan kemungkinan yang akan terjadi. Ibu di rumah juga butuh kehadiranku, aku tak bisa seperti ini terus. Kalau hasilnya nanti nihil aku pun tetap harus melanjutkan hidupku tanpa ayah. Orang yang mendidikku dengan caranya. Meneguhkan setiap langkahku dengan nasehatnya. Tapi Tuhan, aku mohon, aku masih ingin mencium tangannya dan menyiapkan makanan untuknya. Jangan Kau ambil dia dariku.

Sore hari sekitar pukul 15.00 WIT. Aku kembali ke pelabuhan dekat pos penjagaan. Duduk, dengan memeluk tas ranselku. Orang bertambah banyak. Salah seorang petugas mengabarkan ada dua korban meninggal di temukan kembali dan satu orang selamat namun kondisinya sangat kritis. Sekitar setengah jam lagi petugas dan orang-orang yang sedang mencari akan tiba di pelabuhan. Aku miris mendengar pengumuman petugas itu. Satu orang selamat, tapi kondisinya kritis. Apa dia mampu bertahan lagi selama setengah jam? Jangan-jangan itu ayah? Tuhan, kutahu Kau dengar doaku, selamatkan ayah.

Tepat ketika tim SAR gabungan sampai di pelabuhan, bau mayat kembali menyeruak. Semua orang yang menanti tak sabar untuk tahu identitas ketiga korban yang ditemukan itu. Dua korban meningal langsung bisa dikenali dan kebetulan keluarganya ada di sana. Harapanku tinggal pada satu korban hidup. Aku berusaha menyeruak di kerumunan orang yang sesak. Kekuatanku terasa bertambah. Akhirnya aku berada tepat di depan korban selamat itu. Selang oksigen di hidungnya, dia tak sadarkan diri. Air mataku menetes. Kurasakan getar hidup baru saat ini. Kurasakan dunia hanya milikku satu-satunya.

”Ayah...” kuraih tandu yang sedang dibawa petugas. Kupeluk tubuh ayahku yang tak berdaya saat ini. Tuhan, kupercaya kuasa-Mu. Kau mendengar doa-doaku. Sahar yang melihatku tersenyum lega, meski kutahu sedihnya pasti akn masih terus berbekas karena adiknya belum ditemukan.

Aku mengikuti petugas masuk ke ambulance yang akan membawaku ke rumah sakit. Langsung kukabari Nuril dan Ibu. Aku katakan pada mereka bahwa aku kan pulang kembali bersama ayah setelah ayah pulih. Tak lagi kuhiraukan penghargaan Mahasiswa Berprestasi. Tak lagi kupikirkan bahwa aku akan disalami oleh Rektor. Yang paling penting sekarang adalah ayah.

Ayah, kau akan melihat Srikandimu ini tegar kembali menyaksikan embun pagi. Asa gadismu ini takkan pernah luntur seperti semangat Kartini. Kita akan bersama lagi berceloteh tentang mimpi. Merangkul Ibu, Nuril, dan Vita. Ayah, syukur kupanjatkan pada Tuhan yang telah banyak memberiku nikmat dan pelajaran berharga dengan perantaramu. Ayah, tak sabar kunanti embun esok pagi bersamamu.

NB:

Cerita ini kupersembahkan bagi setiap ayah yang senantiasa menjadi pahlawan bagi putra-putrinya.