Jumat, 27 Mei 2011

KML: Dari Bisnis Teri Kecil-Kecilan Sampai Eksportir Teri Terbesar Di Dunia (Tulisanku Untuk TechnoMagZ FATETA IPB Edisi 1)

Di era globalisasi ini kebanyakan orang termasuk mahasiswa, menghendaki sesuatu dengan cara instant. Sukses namun tanpa jerih payah yang nyata. Namun berbeda dengan sosok bersahaja, Muhammad Nadjikh, Owner dan CEO PT Kelola Mina Laut (KML). Beliau merintis salah satu perusahaan seafood terbesar di Indonesia mulai dari titik nol. Perusahaan yang didirikan Agustus 1994 tersebut, awalnya hanya perusahaan kecil dengan operasional yang apa adanya dan karyawan yang sedikit. Karena keuletan dan kesungguhan hati, saat ini PT Kelola Mina Laut (KML) telah mempunyai lebih dari 5000 karyawan.

Walaupun sempat menghadapi masa krisis moneter, 1998 silam, KML tetap eksis hingga saat ini. Bahkan pangsa pasarnya pun telah menjangkau seluruh dunia. “90% dari produk seafood KML diekspor ke seluruh dunia, mulai dari Asia, Afrika, Amerika, Eropa, juga Timur Tengah” jelas sosok yang ketika masih mahasiswa aktif di Himalogin. Sungguh luar biasa jika ditilik dari asal-usul KML yang diawali dengan bisnis pengumpulan ikan teri kecil-kecilan. Hingga sekarang mampu melesat jauh menembus pasar internasional. Bahkan KML tercatat sebagai pemasok ikan teri terbesar ke Jepang, dengan menguasai 70% pasar. Usahanya pun tidak hanya produk ikan teri (dry seafood). Tapi lebih bnyak lagi, yakni frozen shrimp (udang), frozen fish & chepalopode (berbagai jenis ikan), crabmeat product (daging rajungan) hingga olahan seafood siap saji dan berbagi jenis bakso seafood. Bahkan belakangan mulai merambah ke produksi jelly. Muhammad Nadjikh memulai bisnis dari nol dengan mengandalkan teman serta kejujurannya. Karena bergerak di bidang industri perikanan, maka beliau benar-benar melihat peluang dan kondisi industri perikanan ke depan seperti apa.

Dihubungi via telepon, lulusan Teknologi Industri Pertanian IPB tersebut mengungkapkan keprihatinannya tentang kondisi sekarang. Di masa yang sedang booming dengan istilah agroindustry sekarang ini, disayangkan sekali karena aktornya kebanyakan bukan dari IPB. Padahal, menurut beliau, lulusan IPB harusnya yang memajukan pertanian. “Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau memajukan pertanian Indonesia?” tutur beliau.

Nah, beliau juga berpesan untuk civitas IPB maupun alumni. Jangan takut untuk memulai bisnis dari nol. Untuk memulainya tentu saja harus pandai melihat peluang dan juga menghadapi tantangan. Apa gunanya prospek jika tidak jeli dan pandai menangkap opportunity? Kemudian beliau menghimbau, supaya kita tidak terlalu complicated dalam pola pikir. Berpikirlah simple dan sesederhana mungkin namun maksimal. Tidak perlu gengsi dengan teknologi terapan yang sesuai dengan kondisi di Indonesia, jangan ‘ngoyo’ sama Hi-tech namun tidak sesuai jika diterapkan di Indonesia. Karena segala sesuatu perlu proses, jtidak perlu malu jika ingin memulai bisnis dari titik nol. Tekuni, jangan bosan, juga janganlah dilihat dari seberapa banyak uang yang kita terima, namun pengalaman berharga yang kita dapatkan.

Agaknya perlu mengutip kiat sukses beliau yang diungkapkan dalam buku 10 Pengusaha yang Sukses Mengelola Bisnis Mulai dari Nol karya Sudarmadi (penerbit Gramedia). Berikut adalah langkah dan kebijakan yang diungkapakan oleh Muhammad Nadjikh, Presiden Direktur Pt Kelola Mina Laut (KML).

1. Kalau ingin madiri dalam berwirausaha, hal terpenting yang harus dilakukan adalah mengetahui potensi dan prospek pasar dari produk atau jasa yang akan ditawarkan. Jangan masuk bisnis tanpa keyakinan pasar.
2. Dalam bisnis, modal tidak harus dari uang milik sendiri.
3. Ketika baru memulai langkahnya sebagai entrepreneur, jangan langsung berpikir akan mendapatkan untung besar. Yang penting usaha jalan dulu dan bias menutup biaya-biaya yang ada, khususnya buat menggaji karyawan.
4. Salah satu pemasaran yang efektif untuk mencari klien baru adalah dengan pola experiental marketing (ajak klien untuk melihat proses produksi).
5. Dalam menjalankan langkah-langkah pemasaran, mesti berorientasijangka panjang dan terus menjaga hubungan baik dengan para pelanggan.
6. Hambatan cultural, mental, dan psikologis seringkali menjadi kendala atau bahkan menjadi pemicu kegagalan dalam merintis usaha. Contohnya adalah perasaan gengsi. Sebgai entrepreneur kalau ingin sukses ia harus terjun ke lapangan, menawarkan ini-itu.
7. Jangan cepat puas dengan hasil yang diraih.
8. Dalam bisnis, sangat penting menjaga kepercayaan orang lain atau trust, khususnya soal janji pembayaran.
9. Seorang entrepreneur perlu membangun sistem imbalan (compensation and benefit system) yang layak, jelas, dan terencana sejak awal.

Demikianlah sosok Muhammad Nadjikh yang berhasil membuktikan bahwa beliau bisa membangun bisnis atas usahanya sendiri dan bukan warisan dari orang tuanya. Kiranya perjalanan beliau hingga sukses dapat menjadi inspirasi bagi siapa saja untuk meraih yang lebih baik ke depannya.