Jumat, 27 Mei 2011

Jika Memberi Gunakan Hati

Suatu hari saat pulang kuliah, aku berjalan menyusuri jalanan yang tak bisa kusebut sebagai jalan raya. Ya sekitar setengah ukuran dari jalan raya yang sebenarnya. Beberapa angkot saling menyalib secara berlahan,membuatku harus benar-benar berjalan di pinggir dekat got-got yang tak terputus. Mengapa angkot-angkot itu tak mau mengalah sedikit saja? Apa karena kehidupan jalan penuh persaingan? Aku singgah sebentar menyambangi gerobak yang selalu mangkal di pinggir jalan setiap habis ashar. Gerobak nasi kuning yang kata temanku rasanya terenak di dunia. Aku mendekati setuju kana pernyataannya, walaupun cenderung terlalu hiperbolis. Tapi nasi kuningnya emang enak, murah, pokoknya kocek mahasiswa banget dah!!

Saat sedang menunggu ibu penjual membungkuskan pesananku berupa nasi kuning dan konco-konconya (lauknya geto), ada seorang ibu yang berumur sekitar 45 tahunan mendekatiku. Pakaiannya tak cukup pantas untuk kubilang lusuh, dia menenteng kresek hitam. Lalu saat itu, dia menadahkan tangan padaku. Aku diam, kemudian ibu tersebut bilang “Neng, minta sumbangan Neng” tapi kau tetap saja tak bergeming dari posisiku. Aku tak tergerak untuk mengulurkan tanganku. Sampai akhirnya ibu itu pergi, tanpa pemberian dariku atau pun orang-orang yang sedang ada bersamaku di dekat gerobak itu.

Setelah pesananku siap, aku membayarnya dengan tiga lembar uang ribuan yang aku taruh di anakan tasku. Lalu aku lanjutkan berjalan, tetap mepet dengan got-got bau itu. Sekitar 10 meter kakiku melangkah, aku kembali bertemu dengn ibu yang meminta-minta tadi. Hal yang sama sedang dia lakukan di depan sebuah tempat bimbel. Kuamati sebentar, tetap saja, orang-orang yang berada di sana juga sama sekali tak tergerak untuk mengulurkan tangan walau sekedarnya. Sama seperti apa yang kulakukan. Aku hanya mengamati sampai di situ dan aku kembali berjalan menuju rumah kontarakanku. Di perjalanan setelah itu, aku jadi berpikir tentang apa yang tadi aku lakukan terhadap ibu itu. Sesungguhny akau tak melakukan apa-apa. Bahkan aku empatiku mati rasa oleh pikiran bahwa pakaian ibu itu tak lusuh. Tak pantas untuk meminta-minta. Padahal keadaan orang lain siapa tahu? Harusnya kau ingat bahwa tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tapi samasekali nuraniku tak tergerak. Pikiranku tertutupi oleh stereotype bahwa mereka yang meminta-minta tak selamanya benra-benar membutuhkan. Harusnya aku menggunakan hatiku agar aku mampu erempati. Seandainya kau yang berada di posisi ibu itu. Mungkin sebenarnya dia malu untuk meminta-minta, tapi keadaan mendesaknya. Harusnya aku bisa memberikan sebagian rejeki yang aku miliki, seandainya tadi aku menggunakan hatiku, bukan pikiranku semata.