Jumat, 27 Mei 2011

Jika Ini yang Terbaik

Pesawat yang aku tumpangi sedang mendarat di bandara Ngurah Rai, Bali. Tepatnya pukul 09.00 WITA. Setelah kulewati waktu dengan jenuh di kabin pesawat, akhirnya aku akan menghirup udara bebas di tengah – tengah sibuknya Bali. Aku menunggu taksi dengan tak sabar. Rasanya aku sudah terlalu capek memikirkan semua yang terjadi. Tujuanku ke Bali adalah untuk mencari penyegaran pikiran alias refresing. Aku nekat pergi sendiri, tanpa teman. Karena aku tak tahu siapa yang harus aku ajak. Vania? Ema? Atau Riska? Aku bingung mau mengajak siapa diantara mereka. Ingin rasanya mengajak keluarga. Tapi sayang…mama, papa, dan Fahri adikku, meninggal secara bersama – sama karena kecelakaan dua minggu yang lalu. Aku pun ikut dalam insiden yang memilukan itu, tapi Allah masih memberiku kesempatan untuk menghirup udara di dunia ini. Tanpa terasa air mata menggenang di pelupuk mataku. Tapi aku buru – buru menghapusnya karena sebuah taksi melaju ke arah tempatku menunggu.

Aku langsung naik taksi, rencananya aku akan menginap di rumah seorang teman kuliahku, Wayan. Setelah kecelakaan itu, aku dirawat di rumah sakit selama sepuluh hari. Tak mudah untuk melupakannya, dan kurasa aku takkan bisa melupakannya selama hidupku. Tapi aku percaya bahwa semua ini adalah ujian dari Allah untukku. Aku percaya aku kuat. Namun tetap saja setiap mengingat peristiwa itu aku selalu lemah dan tak berdaya. Mereka orang – orang yang paling aku cintai telah pergi dan tak akan pernah kembali. Setelah aku selesai opname dan aku sudah dinyatakan sembuh oleh dokter, aku langsung menelpon Wayan, dan dia menyuruhku untuk datang ke tempatnya, dengan tujuan agar aku dapat sedikit demi sedikit mengikis semua bayangan buruk yang tengah menimpaku. Aku pun setuju dan saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju kediaman Wayan.

Alamat yang telah diberikan Wayan kutunjukkan kepada sopir taksi. Katanya alamat itu dapat dijangkau kurang lebih lima belas menit. Kulirik arlojiku, berarti tidak sampai lima menit lagi aku akan sampai, batinku bungah. Benar saja, baru saja aku selesai melirik arlojiku, aku sudah sampai di tempat Wayan dan keluarganya tinggal. Setelah membayar ongkos taksi, aku berjalan menuju rumah yang halamannya cukup luas. Rumah yang ditata sedemikian rupa, unik etnik Bali. Namun tidak begitu menonjol dengan sesaji atau canang, karena keluarga Wayan adalah muslim.

Aku merasa pikiranku fres sejenak berada di sini. Tapi dengan tiba – tiba saja bayangan kecelakaan itu melintas di depanku dengan begitu jelas seperti mentertawakanku.

“Sovia…” aku mendengar suara seorang gadis memanggil namaku dan setelah aku melihatnya ternyata itu adalah Wayan. Dia langsung memelukku dan setelah itu mengamati wajah dan tubuhku dengan tatapan iba. “Kau nampak begitu kurus Via, lihatlah wajahmu!” ucapnya padaku dengan nada yang dibuat riang, tapi sebenarnya ku tahu kalau dia hanya ingin menghiburku. Aku hanya tersenyum, rasanya sulit sekali mulut ini digerakkan untuk mengucapkan sepatah kata menjawab ucapan Wayan. Kemudian aku masuk mengikuti Wayan dan menemui papa mamanya. Setelah berbasa – basi sedikit, aku masuk ke kamar yang nampaknya telah disediakan jauh – jauh hari.

Wayan meninggalkanku sendiri di kamar. Dia menyuruhku istirahat. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur sambil menarik napas dalam – dalam. Pergi ke rumah Wayan bukannya membuatku bisa lebih bahagia, tapi justru sebaliknya. Aku jadi semakin mengingat peristiwa kecelakaan yang merenggut tiga orang yang paling aku sayangi sekaligus. Melihat Wayan yang masih mempunyai orang tua, dan katanya dia juga mempunyai seorang kakak laki – laki yang saat ini sedang kuliah di Jakarta dan sebentar lagi akan pulang dalam rangka liburan, iri rasanya. Aku tak akan mendapatkan keharmonisan yang seperti itu lagi. Setelah memikirkan semua itu aku terlelap.

Pintu kamar diketuk dari luar, aku terhenyak dari tidurku yang begitu singkat rasanya. Wayan masuk dan mengajakku sholat berjamaah dengan keluarganya. Bergegas kuambil air wudlu. Lalu kami berempat sholat berjamaah.

“Nak Sovia, jangan sungkan di rumah ini. Anggap saja rumah sendiri. Anggap juga ibu sama bapak sebagai orang tuamu” kata papa Wayan membuatku miris. Aku mengangguk, kemudian menunduk karena butiran bening telah menggenang lagi di pelupuk mataku.

“Nak, janganlah terlalu dilarutkan dalam pikiranmu tentang kejadian yang menimpamu itu. Ingat, jangan sampai kau berputus asa, itu dosa” ibu Wayan berkata sambil mengusap lembut kepalaku yang masih terbalut mukena.

***

Empat hari di rumah Wayan, aku bisa mulai lebih tenang. Wayan selalu menghiburku, begitu juga keluarganya yang memperlakukanku dengan begitu baik. Dua hari yang lalu, Wayan mengajakku jalan – jalan ke Kuta dan menyaksikan pertunjukan Barong. Yah…walaupun aku sudah pernah ke sana, aku masih saja tertarik dengan keindahan dan keunikannya. Kemarin dia mengajakku ke Bedugul, walau lumayan jauh bila dijangkau dari kediaman keluarga Wayan, tetapi tetap saja Wayan rela mengantarku. Katanya, apa sih yang nggak buat Sovia…. Ah…Wayan, dia memang selalu bisa membuat orang yang ada di sampingnya tersenyum. Entah pakai resep apa. Pertama kali ketemu dia waktu ospek, aku langsung berkesimpulan kalau dia itu rese, nyebelin, sok.

Waktu itu anak – anak baru yang ikut ospek, entah sedang dibimbing atau sedang diplonco, sama senior yang pasang muka jutek sok wibawa disuruh ngebor ala Inul. Kontan semua anak yang merasa sebel kompak bilang lah…. Apes, kita semua malah dibentak, diomeli habis – habisan. Pake acara melotot segala, nyebelin banget. Tapi tiba – tiba dari barisan belakang ada seorang cewek yang nyeletuk protes.

“Nggak ada acara lain kak?” ucapnya mengawali. Baru denger kayak gitu, si senior langsung pasang muka sangar dan cececowet – cececowet ini itu. Tapi aku amati si cewek yang protes tadi nyantai aja, nggak pasang muka takut. Eh malah ngomong lagi.

“Maaf kakak senior, nggak semua yang ada di sini tuh suka goyangan inul. Barangkali aja ada yang alergi, trus ntar kalau dia ngebor malah jadi sakit, pinggulnya patah, trus malah jadi yang nggak – nggak, itu bisa bikin repot” ujarnya lantang dan dalam hati aku berteriak setuju.

“Berani nyolot!” bentak senior cewek yang mukanya mirip Nadia, karena memang namanya Nadia. Mana tadi yang bicara?” lanjut cewek senior tersebut.

Dengan gagah Wayan maju ke depan. Dia dibilangin ini itu sama si senior. Tapi akhirnya kita semua nggak jadi disuruh goyang inul, tapi perintah diganti.

“Kalian harus mengumpulkan minimal seratus tanda tangan senior dalam waktu satu jam” titah seorang senior cowok yang kelihatan kecewa dengan pembatalan goyang tersebut.

“Huuu” kompak anak – anak yang ikut ospek menyahut, ada yang menyalahkan Wayan tapi ada yang mengelu – elukan namanya sebagai pahlawan pencegah syahwat. Aku pun sama dengan pendukung Wayan, syukur banget. Lebih baik nyari tanda tangan senior daripada goyang kayak gitu. Biarpun lebih sulit pasti lebih mudah juga untuk melakukannya. Nah dari sini deh akhirnya aku jadi akrab sama Wayan yang ternyata anaknya asyik dan perhatian juga pengertian banget. Aku tersenyum sendiri mengingat semuanya itu.

Hari ini saja aku ada di rumah dia cuma dengan pembantu, soalnya Wayan dan Papa Mamanya sedang ke bandara menjemput Rendra kakak Wayan. Rendra juga kuliah di Jakarta, tapi aku nggak tahu di universitas apa. “Ah memang senang mempunyai keluarga” desisku pada diriku sendiri. Hampir saja aku menangis, tapi aku langsung bangkit dan menuju dapur membantu si Bibi yang sedang menyiapkan makanan untuk menyambut Rendra. Mencoba membuat diriku sibuk dengan meracik sayuran dan juga membuat jus buah. Tiba – tiba aku ingat sesuatu, Rendra…itu kan…mantan pacarku. Hampir dua tahun kami pacaran, tapi akhirnya kandas karena dia bilang dia harus menuruti orang tuanya untuk dijodohkan dengan wanita pilihan kedua orang tuanya. Bagai disayat, hati ini sakit banget. Apa nggak bisa berjuang untuk mempertahankan hubungan itu? Semudah itukah dia bilang kalau dia harus menuruti kedua orang tuanya? Nggak bisa apa kalau dia mencoba menerangkan dan memberi pengertian pada orang tuanya? Yah kekesalanku sudah teredam sekarang, aku sudah tidak peduli Rendra mau apa, menikah dengan siapa, atau masih hidup apa nggak karena aku pun sudah mempunyai cowok yang kurasa dia jauh lebih perhatian dibanding Rendra. Bahkan opname kemarin pun dia rela menemaniku sampai aku benar – benar pulih.

“Haah…” aku menghela nafas membuang jauh pikiran tadi. Semoga saja Rendra kakaknya Wayan tidak seperti Rendra mantanku itu.

***

Wayan duduk bengong, menopangkan dagunya di telapak tangan yang dia sandarkan ke kursi. Memang pekerjaan yang paling menyebalkan adalah menunggu. Papa Mamanya pun sudah tampak gelisah. Namun dari arah utara ada seorang laki – laki yang melambaikan tangannya ke arah Wayan sambil tersenyum.

“Beli Rendra mama…” seru Wayan, kedua orang tuanya menoleh dan memandang ke arah yang ditunjukkan Wayan. Ketiganya tersenyum dan ikut melambai pada Rendra yang jaraknya sudah semakin dekat.

“Assalamu’alaikum” sapa Rendra kepada ketiga keluarganya dengan mimik bahagia.

Setelah memeluk papa mamanya, dia memeluk adik satu – satunya yang cantik dan manis. Biasanya kalu bersama Wayan dan Rendra jarang akur, ada aja yang bikin mereka berdua berulah. Entah rebutan gitar, bahkan sampai masalah eskrim. Tapi Rendra begitu sayang pada Wayan, sampai – sampai dia benar – benar memanjakannya.

“Cantik gimana kuliahmu?” Tanya Rendra pada Wayan yang sedang nyetir avanza nya.

“Adikmu itu, bawel banget lho Ndra?” ucap papanya mendahului jawaban Wayan.

“Memangnya kenapa Pa?” Rendra setengah heran setengah nggak, soalnya adik perempuannya itu memang selalu ingin menang sendiri. Tapi yang disalutin dari Wayan, dia tuh nggak pernah tahan lihat orang lain menderita.

“Katanya, waktu ospek dia berani mbantah perintah seniornya. Nggak tahu seperti apa dia sekarang, waktu baru masuk saja sudah bikin heboh, apalagi sekarang sudah satu semester” cerita papanya panjang lebar.

“Habisnya Bli…masak senior – senior itu nyuruh kita goyang ngebor, jijay lagi…” jawab Wayan sambil bergidik yan disusul tawa dari keluarganya itu.

***

Avanza yang dibawa Wayan akhirnya sampai juga di pelataran rumah mereka. Rendra bersemangat menjejakkan kaki di halaman rumahnya. Enam bulan tidak bersua dengan keluarganya, membuat dia sangat rindu dengan home maupun house nya. Walau memang sempat ada ganjalan beberapa waktu lalu, tapi akhirnya kedua orang tuanya mengerti.

“Assalamu’alaikum…” Wayan mengucapkannya sambil mengetuk pintu yang terbuat dari kayu jati. Pintu dibukakan oleh seorang wanita setengah baya yang menjadi pembantu di rumahnya. Baru saja masuk, Rendra langsung merebahkan diri di sofa.

“Capek Bli?” Tanya Wayan, Rendra mengangguk. “Nikmati aja capeknya…”ledek Wayan. Tuh kan, sudah mulai jail.

“Sovia ke mana?” Tanya Wayan pada Bik Rosnah.

“Tadi pamitnya mau ke Kuta, Ni” jawab wanita keturunan Bali blasteran Jawa tersebut.

“Sama siapa?” tanyanya lagi. Belum juga Bik Rosnah menjawab, terdengar ucapan salam dari pintu depan.

“Mungkin itu, Ni” tebak Bik Rosnah.

Wayan berlari ke arah pintu depan, melirik sebentar pada kakaknya yang ketiduran di sofa, menutupi mukanya sama bantal . Ternyata yang ditebak Bik Rosnah benar, yang datang adalah Sovia.

***

Wayan tersenyum padaku begitu dia melihatku. Kelihatannya dia begitu mengkhawatirkan diriku. Benar saja, ketika aku baru saja masuk, aku seperti terdakwa yang sedang diinterogasi di kantor polisi.

“Aduh, nggak perlu khawatir berlebihan kayak gitu deh…aku bukan anak kecil” akhirnya kubela diriku. Wayan tersenyum.

Ketika melewati ruang tamu, aku melihat ada seorang laki – laki yang tidur, menutupi wajahnya dengan bantal sofa. Pasti itu Rendra, batinku.

“Siapa?” aku mencari tahu.

“Rendra” jawab Wayan. “Sebentar ya, aku bangunin” Wayan hendak beranjak ke tempat Rendra tiduran. Aku buru – buru mencegahnya, siapa tahu Rendra benar – benar capek, ntar malah ganggu. Lagipula aku mau mandi dulu, Belum juga sholat ashar. Kenalannya nanti kan bisa.

Kutanggalkan mukena di gantungan belakang pintu. Aku merebahkan sejenak tubuhku, lalu buru – buru bangkit karena teringat kalau hari ini kan ulang tahun Fahri, adikku…. Seperti terkena sesuatu yang sangat tajam, aku merasa lemas seketika. Seandainya keluargaku masih ada, pasti kami akan mengadakan syukuran bersama. Entahlah, entah kapan aku bisa melupakannya. Aku menggeledah tasku. Kupandangi foto keluarga kami. Mama, Papa, Fahri, dan Aku. Tanpa terasa aku menangis. Malah begitu deras air mataku keluar.

Aku tak tahu kalau sedari tadi Wayan ada di belakangku. Aku buru – buru menghapus air mataku. Yah…kurasa aku takkan bisa menutupi ini semua dari Wayan.

“Kamu nangis lagi ya?” Tanya Wayan sambil memandangiku. Aku menunduk menyembunyikan kesedihanku. Wayan mengangkat kepalaku, menatapku iba. “Aku sudah sering bilang, kalau kamu nggak boleh menyendiri. Begini kan jadinya. Tadi lagi, pake ke Kuta segala, sendirian. Aku khawatir kalau terjadi apa – apa sama kamu. Aku khawatir kalau kamu sampai berbuat nekat” Wayan menasehatiku.

Astaghfirullah…Wayan benar, semakin sering aku meyendiri, mungkin akan semakin fatal. Tadi saja sewaktu di Kuta, ingin rasanya aku terjun ke laut, atau menyeberang di saat Komotra sedang berjalan cepat. Biar aku mati sekalian. Untung saja aku masih diberi kesadaran oleh Allah. Syukurnya lagi, sewaktu di sana aku belum teringat dengan ulang tahun Fahri.

Aku memeluk Wayan dan sesenggukan di bahunya. Entah dengan apa harus kubalas budi baiknya dan juga keluarganya, yang mau menampungku di masa pemulihanku. Rumah keluarga kami yang di Jakarta kubiarkan kosong sementara waktu, sampai aku kembali kuliah. Mungkin aku akan mengajak Wayan dan juga Rendra untuk menghuninya, supaya aku nggak kesepian. Wayan melepas pelukannya. Membelai rambutku. Dia berdiri melangkah ke depan cermin, membetulkan letak jilbabnya dan kemudian mengambil sisir.

“Ditunggu mama sama papa di teras” ucapnya sambil menisir rambut sebahuku. Aku mengangguk. Setelah selesai menyisir rambutku, dia menggandeng tanganku hendak menuntunku ke luar menuju teras. Tapi aku menolak.

“Aku cuci muka dulu” ucapku. Dia mengangguk dan pergi meninggalkanku di kamar.

Aku berjalan menuju teras belakang, tempat Wayan dan keluarganya biasa berkumpul sore hari, seperti hari ini. Begitu aku sampai di depan mereka, aku langsung disambut dengan senyum hangat kekeluargaan mereka. Aku duduk bersilah di sebelah Wayan.

“Mana Rendra?” Tanya Papa Wayan.

“Masih mandi Pa. Biasa Beli kalau mandi setahun” jawab Wayan sambil Manyun.

“Wah…wah, mau dikenalin sama gadis cantik kok datangnya lama sekali” Mama Wayan melirikku. Yah…kurasakan wajahku panas. Wayan menyodok lenganku. Tapi kubuat biasa saja. Toh di Jakarta sana aku sudah mempunyai tambatan hati, Dion. Pengganti “Rendra” ku yang hilang entah ke mana.

Kami semua bercengkrama. Sesekali tertawa mendengar celoteh Wayan dengan logat Bali nya.

“Selamat sore semuanya” sapa suara yang rasanya sudah pernah aku dengar, walaupun entah kapan. Semua yang ada di situ menoleh ke sumber suara termasuk aku. Alangkah terperangah, hampir tak bisa dipercaya bahwa yang ada di hadapanku saat ini adalah “Rendra” ku yang selama ini tak pernah ku ketahui kabarnya. Bukan aku saja yang kaget, dia juga seperti tak percaya melihatku ada di depannya.

“Oh…ini teman kamu Wayan?!” katanya tiba – tiba dan membuatku sadar. Seperti tak punya dosa saja, heran aku dibuatnya karena dia seperti baru mengenalku, baru bertemu denganku. Bahkan dengan santainya dia mengulurkan tangannya padaku dan menyebutkan namanya. Ya Allah cobaan apalagi ini? Hamba belum mampu meredam sedih kehilangan keluarga tercinta, kini Engkau sudah menghadirkan kembali masa lalu itu.

***

Selepas makan malam, aku duduk di teras sambil mendengarkan musik dari handphone ku. Sendiri. Tiba – tiba Rendra duduk di sebelahku dengan jarak yang cukup dekat. Aku menggeser dudukku sedikit. Aku diam saja. Rasanya memang aneh, aku sendiri masih belum melupakan dia sebagai orang yang pernah mengisi hari – hariku. Dulu.

“Sovia” suaranya mengakhirkan lamunanku tentang masa lalu itu. Aku menoleh. Rendra memandangku, buru – buru kutundukkan mukaku. Aku sama sekali tidak ingin mengingat Rendra. Tapi tak bisa ditentang kalau kenyataannya dia ada di dekatku sekarang.

“Ya Re…” kujawab dengan suara agak gemetar. Lama sekali aku tidak mengucap nama Rendra. Aku benci nama itu.

“Aku turut berbela sungkawa atas musibah yang menimpamu. Aku tahu dari Wayan.” Aku menunduk dalam dan kurasakan kalau Rendra semakin lekat menatapku. Akhirnya kuberanikan diri untuk emngangkat wajahku dan berbicara kepadanya.

“Kenapa kamu pura – pura tidak mengenalku? Inikah keluarga yang kamu bilang tidak mau mengerti keinginanmu. Mereka begitu baik. Kupikir kau saja yang tak bisa mengerti mereka.”

“Maafkan aku Sov, waktu itu keadaan yang menuntutku. Aku terpaksa menuruti kemauan orang tuaku untuk dijodohkan.”

“Lalu sekarang mana calon istrimu? Siapa dia?” aku emosi mendengar penuturan Rendra yang kurasakan menganggap remeh perasaan yang membludak di hatiku. Rendra diam, aku tahu pada akhirnya perjodohan itu dibatalkan. Pihak wanita yang membatalkannya. Entah alasannya, aku tak mengeruk informasi lebih banyak lagi dari Wayan tadi sore. Aku khawatir Wayan curiga. Aku tak mau keluarganya tahu kalau wanita yang menyebabkan Rendra harus berpikir lama untuk perjodohan itu adalah aku.

“Aku masih sangat berharap kaulah yang menjadi calon istriku. Setelah kutahu kalau kamu adalah sahabat Wayan dan kau juga sudah mengenal keluargaku. Aku pasti bisa menjelaskannya pada keluargaku” semudah itu Rendra berucap. Dia tidak menyadari kalau selama ini aku resah menungu ketidakpastiannya. Menunggu kehadirannya, tapi malah dia menghilang begitu saja tanpa kabar.

Rendra diam. Aku beranjak dari dudukku. Berdiri memandangnya. Kemudian aku beranjak ke kamar. Setelah sholat isya, aku mengambil keputusan untuk balik ke Jakarta besok. Aku menelpon Dion. Memintanya untuk menjemputku. Alkhamdulilah dia mau menjemputku sampai kediaman keluarga Wayan. Barangkali ini adalah sebuah penyelesaian, sekalian saja aku kenalkan pada keluarga Wayan termasuk Rendra.

***

Esok hari yang kutunggu akhirnya tiba. Dion bilang baru bisa sampai sehabis zuhur. Kugunakan waktu sebelum zuhur ini untuk berkemas. Wayan heran dengan keputusanku yang tiba – tiba. Dia terus menanyakan apa sebabnya, kujawab saja sudah saatnya aku bangkit dan tidak selalu tergantung dengan orang lain. Aku menyadari kalau semua ini adalah ujian dari Allah. Dia sedang menguji keimananku. Wayan pasrah saja dengan alasanku. Aku tak menyinggung sedikitpun kalau aku pernah dekat dengan saudaranya. Biarkan semua itu menjadi rahasia yang terkubur bagiku dan mungkin juga Rendra. Aku tak menyalahkannya, karena memang kewajiban anak adalah menghormati dan membahagiakan orang tua. Aku berdoa semoga Rendra mendapatkan yang lebih baik dari aku.

Dion tiba. Setelah kukenalkan pada keluarga Wayan, dan dia istirahat sebentar. Aku pamit. Sebenarnya kasihan juga Dion harus bolak – balik naik pesawat Jakarta – Bali. Keluarga Wayan juga menyuruhnya untuk tinggal sehari di sana sekedar melepas lelah, tapi dia tidak mau. Kusyukuri memiliki calon pendamping seperti Dion yang mau mengerti keadaanku dan mampu memberi semangat kepadaku.

Terakhir aku pamit pada Rendra. Dia menyalamiku dan mendoakan aku serta Dion.

“Terima kasih. Semoga Bli Rendra juga segera mendapatkan calon pendamping. Jangan lupa undang kami” ucapku mencoba mengakhiri semuanya ini dengan kelegaan hati.

Wayan memelukku erat ketika aku akan memasuki mobil. Berbagai nasehat kuterima dari orang tuanya. Takkan kulupa kasih sayang yang kuterima dari keluarga ini, yang mampu memulihkan kesadaranku untuk bangkit. Maafkan aku Rendra, batinku. Ya Allah semoga orang tuaku merestui keputusanku ini dan jadikanlah semua ini kebaikan bagiku.

Dion menstater mobil, aku melambai pada mereka semua.

“Sampai jumpa di Jakarta” teriak Wayan. Aku mengangguk.

Terima kasih semuanya….