Jumat, 27 Mei 2011

Feel

Barangkali rasa cinta merupakan suatu anugerah yang membahagiakan bagi sebagian orang. Mencinta dan dicinta adalah fitrah manusia. Sebenarnya aku benci bercerita tentang cinta yang tanpa arah. Karenaa rasa cinta ini membuat aku tersiksa. Dia tak pernah tahu kalau aku mencintainya. Cinta…cinta! Kenapa sih pakai membuatku hampir gila? Padahal seharusnya aku tak boleh seperti ini. Melamun, membayangkan seandainya dia tahu, bahkan kadang – kadang aku menangis membayangkan teganya dia yang tak pernah mengerti perasaanku. Padahal sering dia menyapa aku, bertanya keadaanku, tapi justru semua itu membuatku semakin sakit. Sungguh sakit serasa tercabik kenyataan yang tak bisa aku hadapi.

Seperti hari ini aku pun merasa sakit melihatnya bercanda dengan teman – teman ceweknya di depan kelasnya. Dia terlihat begitu bahagia. Tapi aku? Ah…dia begitu tega padaku. Tapi kalau aku pikir – pikir dia memang nggak salah, toh dia nggak tahu kalau aku mencintainya. Aku memang benar – benar bodoh diperbudak rasa yang menggilakan ini.

“Ta! Boleh minjem buku PR lo nggak?” pinta Tia teman super akrabku. Soalnya dimana ada aku pasti ada dia, begitupun sebaliknya. Namun aku tak pernah menceritakan kalau aku suka sama Fandi anak IPA 1. Bukannya nggak percaya sama teman tapi hati orang siapa tahu. Aku berusaha menyimpan perasaan ini sedalam – dalamnya. Ibaratnya di dasar hati. Biarpun benar – benar menyiksa, tapi aku berusaha menikmatinya.

“Ambil di tas gue” jawabku singkat.

“Lo ngelamun lagi ya? Hobi kok ngelamun! Kalau ada sesuatu yang bikin lo nggak konsen atau bikin lo bingung, cerita dong sama aku. Kita kenal kan sudah lama. Bukan kemarin – kemarin Ta! Bukan sehari dua hari, tapi sudah hampir dua tahun kita selalu bareng” saran Tia padaku.

“Nyantai aja lagi…gue bukan lagi ngelamun tapi lagi merenung. Lagian kalau lagi ada masalah gue pasti bakal cerita sama lo” jawabku menutupi yang sebenarnya.

“Ya udah…tapi bener kan nggak ada apa – apa?”

“Bener! Swear Baby!” jawabku lagi sambil mencubit pipi Tia karenaa gemas. Habisnya dia nanya kayak wartawan aja. Sepeninggal Tia dari tempat dudukku, aku kembali menatapi kelas Fandi, tapi ternyata dia sudah nggak terlihat. Ternyata guru juga sudah masuk kelas gue. Ah…hilangin dulu tentangFandi, sekarang konsen sama pelajaran.

Sepulang sekolah ketika aku sedang menuju perpustakan, ada suara memanggil namaku. Ketika aku menengok, ternyata itu adalah Fandi. Kaget juga sih! Tapi aku berusaha nggak salting biar nggak dikirain yang tidak – tidak.

“Ada apa Fan?” tanyaku akrab dengan salam renyah.

“Ta, bisa nggak antar aku ke toko buku. Lo kan hobi baca, gue mau cari referensi buat bikin makalah” pintanya padaku.

“Wah kata siapa gue hobi mbaca?” aku mencoba bercanda. Padahal memang kenyataannya sejak aku menyukai Fandi hobiku berubah menjadi melamun.

“Vita…Vita ternyata lo masih sama seperti waktu kelas satu,suka merendah. Ternyata jagonya ilmu padi. Jelas – jelas lo kutu buku. Makanya gue mau minta tolong sama lo. Please ya…!” Fandi memohon sambil menarik aku ke tempat parkir. Aku menurut saja, bagiku kalau melihat Fandi senang, ya aku ikut senang juga.

Hampir dua jam aku ngantar Fandi muter – muter book store buat cari referensinya. Akhirnya…nemu juga buku yang dicari.

“Makasih ya Ta! Sudah nemenin aku, nyariin buku yang tepat. Sebagai tanda terima kasih gue ke lo, gue mau traktir lo. Mau kan?”

“Bisa…bisa yang penting gue dianterin pulang dan kalau bisa makan di warung soto yang dekat sekolah kita aja ya?! soalnya sudah lama aku nggak makan soto di sana” pintaku.

“Ta, kamu tahu Natan kan?” Tanya Fandi padaku ketika sudah sampai di tempat makan. Aku mikir sebentar, kayaknya aku sudah pernah dengar nama itu. Tapi siapa ya?

“Natan siapa?” tanyaku santai dan tak begitu terobsesi siapa Natan. Karenaa hari ini aku bahagia. Setidaknya bisa bersama Fandi walau sekejap.

“Natan yang biasa sama aku kalau di sekolah” jawab Fandi.

“O…Jonatan! Kirain siapa, memangnya ada apa?”

“Bener mau tahu?”

“Ah…Nggak lah, Nggak penting. Lagian nggak ada hubungannya sama aku” jawabku cuek.

Selesai makan aku langsung pulang diantar sama Fandi. Ya…hitung – hitung hari ini dewi fortuna sedang berpihak pada gue. Gue bersyukur banget, karenaa gue nggak bakal tahu kapan lagi gue bisa bareng sama dia, dapet ucapan terima kasih dari dia. Karenaa setahu gue, bukan hanya gue yang suka sama dia. Tapi banyak cewek lain yang menyukai Fandi karenaa dia baik, supel, smart, dan tentu saja coker.

Malamnya aku nggak bisa tidur, terus membayangkan moment tak terlupakan bersama Fandi tadi siang. Memang sepertinya terlalu berlebihan apabila kuanggap pergi ke toko buku dan makan soto bareng aja moment tak terlupakan. Tapi pikir aja deh, biarpun Cuma dikasih senyum sama orang yang kita sukai, pasti itu kita anggap sebagai suatu yang luar biasa.

Ringtone ponselku berdering. Wow! Fandi nelfon. Bakal ada titik terang nih! Pikirku terbang.

“Iya Fan?”

“Malem Ta! Belum tidur kan? Pasti lagi belajar, Vita gitu loh!” ucap Fandi.

“Gue belum tidur, tumben nelfon, ada yang penting?” tanyaku penasaran. Karenaa ini pertama kali Fandi nelfon aku, biasanya paling – paling sms, itu pun kalau nanya PR.

“Iya Ta, ini ada temen gue yang pengen ngomong sama lo!” jawab Fandi sambil tertawa. Tiba – tiba suara sudah berubah bukan suara Fandi. Sebenarnya aku agak akrab dengan suara ini tapi siapa ya?

“Malem Ta! Sori ganggu” Sapa suara itu.

“Ini siapa sih?” tanyaku penasaran.

“Wah…kamu nggak kenal sama suaraku ya? Ini Natan! Jonatan Apriansyah” jawab suara yang ternyata adalah suara Jonatan, teman Fandi yang sudah cukup aku kenal. Sebenarnya dia memang termasuk coker, supel, baik, dan juga smart. Tapi bagi gue yang memenuhi criteria itu Cuma Fandi. Entah kenapa kalau tentang Fandi semuanya terasa terbius bagiku. Tak sadar untuk memuja dan mencinta.

“O…kamu tumben ada apa? Nggak ada angin nggak ada hujan kamu nelpon. Pakai nomernya Fandi lagi. Kamu memang di rumah Fandi apa?”

“Iya gue tidur di rumah Fandi. Ini lagi ngerjain makalah. Ta…!”sapa Natan lagi.

“Iya…!”

“Besok pulang sekolah kamu ada acara apa nggak?”

“Nggak!” jawabku singkat.

“Mau nggak ke Perpustakaan Umum? Aku tungguin disana” ajak Natan.

“Boleh…kebetulan aku juga mau ngembaliin buku” aku menerima ajakan Natan. Akhirnya telpon ditutup. Tanpa memikirkan apa maksud Natan, aku beranjak ke tempat tidur,sudah ngantuk. Apa yang akan terjadi besok, ya…biarlah terjadi. Paling – paling nggak beda kayak Fandi, minta dicariin buku. Memoryku berangsur – angsur membuyar, dan aku terlelap dalam buaian dan dekapan sang malam yang kan menemani hidupku malam ini. Aku berharap semoga besok perasaanku untuk Fandi telah hilang sehingga aku tak selalu merasa tersiksa dan terhantui bayangnya setiap detik dalam nafasku.

Pulang sekolah aku terus menuju perpustakaan umum yang terletak di depan sekolahku. Ternyata Natan memang sudah ada di sana. Dia juga tidak sendiri, tapi bareng sama Fandi, dan yang aku aneh sudah ada Tia, itu lho teman akrabku. Dari kejauhan kupandangi Tia dan Fandi yang begitu akrab bercerita. Rasanya aku iri yang tak bisa seperti itu pada Fandi. Tia melambaikan tangan padaku. Kubalas lambaiannya dengan senyum untuknya, Fandi dan juga Natan yang juga ikut melambai ke arahku.

“Ada apa nih…? Tumben banget ngumpul kayak gini!” Perasaanku nggak enak. Takut kalau hari ini aku bakal dapet berita buruk dari mereka. Jangan – jangan Fandi mau ngabarin kalau dia sudah jadian sama Tia, Karenaa aku lihat tadi mereka berdua bercerita begitu akrab.

“Aku nganterin Natan, katanya da pentingan sama kamu” jawab Fandi sambil tersenyum, menampakkan kebahagiaan terpancar dari arti senyum itu.

“Kalau aku tadi diajak sama mereka berdua, katanya disuruh nemenin kamu” jelas Tia sambil menunjuk Fandi dan Natan. “ Eh…gue mau baca – baca dulu. Katanya Natan mau bicara penting sama kamu. Takutnya gue ganggu” ucap Tia sambil beranjak berdiri dari tempat duduk. Fandi pun melakukan hal yang sama. Ternyata dia mencari tempat baca yang berlainan denganTia. Hatiku agak lega, setidaknya disaat aku penasaran ini aku tak merasa sakit melihat kedekatan Tia sama Fandi.

“Ta!” ucap Natan memecahakn kediamanku.

“Ya!” jawabku rada salting juga sih…karenaa tak biasanya Natan ngajak aku bicara. Cuma berdua lagi. Oh My God I hope no mistake! Doaku saat ini.

“ Sebelumnya Gue minta maaf sama lo. Mungkin lo kaget tiba – tiba gue yang nggak begitu akrab sama longajak lo ke sini. Gue tahu tentang lo dari fandi. Semakinaku Tanya sama dia, aku semakin tertarik sama kamu. Sekarang gue pengen ngugkapin perasaan gue sama lo. Semua persepsi gue sama lo, rasa suka gue sama lo. Ta mau nggak lo jadi cewek gue?” To teh point Natan berujar seperti itu. Terang aja gue salting banget. Semua diluar bayangan gue. Dan ini juga bukan yang gue harapin. Tentunya yang aku harapin berkata seperti ini padaku adalah Fandi. Sekarang saat semuanya jelas, bahwa kenyataan berkat lain, Fandi tak menyukaiku. Dia nanya semua tentang aku, karenaa dia solider pada Natan. Ah…rasanya hatiku semakin hancur.

“Natan, makasih banget, gue seneng kalu lo suka sama gue. Tapi gue belum bisa ngasih jawaban sesuai harapan lo, karenaa gue menyukai orang lain. Gue takut kalau gue nerima lo, gue takut kalau lo cuma gue jadiin pelarian perasaan gue. Jadi sory banget” Jawabku sepelan mungkin, mencoba mengatasi perasaanku dan juga perasan Natan.

“Gue yang seharusnya minta maaf kok Ta! Gue nggak tahu diri, seharusnya gue nggak langsung bilang ke lo. Seharusnya gue konfirmasi dulu, ada nggak cowok yang lo suka. Tapi gue berharap dengan kejadian ini, kita bisa menjadi teman dan bisa berbagi perasaan” Jawab Natan begitu dewasa membuatku merasa begitu bersalah.

Aku tak kuasa menahan tangisku,tak peduli begitu banyak orang yang melihatku, aku berlari keluar ruang Perpustakaan. Fandi dan Tia tak melihatku karenaa tempat duduk mereka terhalang oleh sekat. Natan mengejarku.

“Vita, gue tahu gue salah, tapi gue nggak mau lo nangis, gue merasa bersalah banget kalau lo seperti ini” suara Natan terdengar begitu panik. Aku jadi merasa iba, rasanya dia begitu tulus. Otakku berpikir begitu keras mencari jalan keluar yag tepat agar tak menyakitkan bagiku ataupun Natan.”Tan beri aku waktu untuk berpikir, aku mohon jangan dulu tarik kata – katamu” akhirnya kata – kata itulah yang keluar dari mulutku. Natan mendekapku begitu erat seakan dia begitu bahagia mendengar pertimbanganku dan tak mau melepasku. Tapi hatiku berontak, Fandi…teganya dia padaku.

Beberapa hari aku berpikir keras, haruskah aku menerima Natan? Atau tetap menunggu Fandi tanpa kepastian. Tiba – tiba ada sms masuk ke ponselku. Tia ngirim pesan.

Vit Gue lagi bahagia banget. Hari ini Fandi nembak gue, dan gue jadian sama dia.Blz

Pesan itu bagaikan petir yang sekejap membuat tubuhku kaku. Fandi…jadian sama Tia. Sahabat akrabku, dan aku tak mungkin untuk mengatakan pada Tia kalau sebenarnya cowok yang gue suka adalah Fandi. Ah…rasanya dunia ini menjadi begitu sempit, menjepit diriku, membuat otakku begitu penat, ingin berhenti berpikir. Tia…fandi… Natan. Namun, aku begitu sayang pada Tia, sahabat yang selalu ada bila kubutuhkan. Lebih baik aku kehilangan Fandi daripada Tia. Biarpu susah rasanya, aku mecoba mengetikkan kata – kata untuk membalas sms Tia. Tapi tak ada kata yang bisa aku ketik. Malahan air mataku mengalir begitu deras. Kuputuskan untuk menelfon Tia saja nanti kalau aku sudah tenang.

Kupencet tombol ponsel, menelpon Tia yang pasti sedang begitu bahagia.”Hallo!” sapaku.

“Hallo…Vit kok pesanku nggak dibalas?” tanyanya begitu mencerminkan bahagia.

“Sory deh, tadi gue baru nganter nyokap ke Supermarket dan ponselku nggak dibawa. Ini aja baru gue buka. Selamat ya…” aku berbohong menutupi kesedihanku, mencoba terdengar tegar dan bahagia ditelinga Tia. Tapi ketika mengucapkan kata selamat, air mataku langsung terjatuh.

“Lo nangis ya?” Tanya Tia

“ Enggak…ini lagi Bantu nyokap motong bawang, dia dapet pesenan catering” jawabku berbohong lagi. Setelah kututup telpon, aku terisak. Aku berharap aku bisa lega dengan menangis Semoga besok di sekolah aku bisa menerima kenyataan dan bisa menganggap Fandi adalah sekedar angin yang berhembus sebentar.

Keesokan paginya, aku berangkat ke sekolah lebih pagi. Biasa jadwalnya buat piket. Kalau nggak datang pagi bisa kena semprot classleader yang killer dan super nyebelin. Rasanya aku menjadi pembuka gerbang, soalnya sekolah masih begitu sepi. Kubuka pintu kelas, dan aku terperanjat karenaa Fandi sudah ada di situ. Aku pikir dia pasti nunggui Tia, aku cuek, karenaa sakit hatiku belum bisa hilang juga.

“Pagi Ta!” sapanya.

“Pagi” jawabku singkat sambil menuju tempat sapu.

“Gue mo nanya sama lo”

“Tentang Tia? Kenapa nggak nanya langsung sama dia aja. Kalian kan sudah resmi pacaran ngapain pake sembunyi – sembunyi nanya sama orang lain” jawabku sewot karenaa marah.

“Kok lo sewot banget sih, gue Cuma dititipi pesan sama Natan, kalau nanti siang dia mau ketemu kamu sepulang sekolah di kelas ini. Sebenarnya lo mau jawab apa sih? Natan udah nggak sabar tuh, penasaran lo mau nerima dia apa nggak. Nggak ada hubungannya sama Tia, jadi jangan sewot gitu dong” jelas Fandi.

Tiba – tiba saja hatiku merasa panas. Kulempar sapu yang sudah kupegang, dan aku berlari keluar. Fandi bingung melihat sikapku. Aku terus berlari menuju ke salah satu sudut sekolahku. Untung hari masih pagi, sehingga belum banyak yang datang ke sekolah. Aku terisak sambil merangkul kakiku erat. Ternyata Fandi mengejarku dan dia mendekatiku.

“Lo kenapa? Vita, nggak biasanya kamu kayak gini. Kamu ada masalah? Sama Natan? Tia? Atau aku ada salah sama kamu?’ Tanya Fandi lembut.

“Buat apa lo cari tahu, toh kalau aku ada masalah pun lo nggak mungkin peduli. Aku bukan apa – apa lo. Kita juga nggak pernah akrab banget. Jadi lo nggak perlu sok perhatian sama aku” jawabku sambil menunduk.

“Lo bicara apa?” tanyaa Fandi, namun tak kujawab karenaa nggak tahu aku harus bilang apa. Haruskah aku bilang kalau orang yang aku cintai itu dia, bukan Nata? Haruskah aku begitu egois dan mengorbankan persahabatanku dengan Tia? Tidak. Tapi pada kenyataannya aku tak bisa terus menerus membohongi perasanku. Akhirnya aku meninggalkan Fandi yang masih bingung dengan sikapku. Aku menuju ruang piket dan minta izin untuk tidak sekolah dengan alasan sakit.

Jam istirahat Tia menelponku. Tapi tak kuangkat. Biarlah, mungkin dia sudah diberi tahu oleh Fandi. Tapi bagaiman dengan Natan? Hari ini aku berjanji untuk menjawab. Kuputuskan untuk mengundangnya ke rumahku sepulang sekolah.

Natan, ntar pulang sekolah ke rumahku, sendiri.

Begitu singkat pesan yang aku kirimkan padanya.

Bel pintu berbunyi, kupikir itu pasti Natan, karenaa ini adalah jam pulang sekolah. Benar saja itu memang dia, sendiri. Perasaanku cukup lega setidaknya aku bisa bebas berbicara padanya.

“Ta…kita ke luar aja yuk!” ajaknya padaku, nggak enak kalau ngomongin masalah itu di rumah kamu. Aku mengiyakannya, hitung – hitung buat refresing.

“Kenapa tadi kamu nggak jadi sekolah?” Tanya Natan diperjalanan.

“Tadi…nggak apa – apa kok, aku lagi boring aja!”

“Kita mau kemana?”

“Ada deh”.

Ternyata Natan mengajakku ke sebuah tempat yang begitu sejuk, perkebunan teh. Aku merasa fresh di situ. Tapi rasa tenangku tiba – tiba hilang karenaa ternyata fandi dan Tia sudah ada di sana lebih dulu. Mereka berdua menghampiriku, sambil tersenyum.

Suasana menjadi begitu hening, hingga angin yang berhembus seperti terdengar derunya. “Aku mau ke warung di seberang itu, mau beli makanan. Tia anterin aku yuk” Ucap natan sambil mengajak Tia memecahkan keheningan diantara kita berempat.

“Sama aku aja Tan” ucapku menawarkan diri. Tapi Natan malah menyuruh aku duduk saja, karenaa katanya aku terlihat capek. Tapi aku merasa enggan, karenaa di situ hanya ada Fandi. “Udah…kamu di sini aja, aku sama Tia kok! Biar Fandi yang emenin kamu di sini”.

“Gimana kalau Tia aja yang di sini” pintaku, tapi malah Natan tertawa.

“Kalau aku sama Fandi yang beli makanan takut milihnya yang nggak enak dan kamu nggak suka. Kalau Tia kan tahu selera kamu” Tia mengangguk mendengar Natan berujar seperti itu.

Akhirnya aku diam, dan Natan pergi bersama Tia. Fandi duduk mendekat aku. Tapi aku bergeser.Hampir aku berdiri, namun dengan sigap tangan Fandi menarik tamganku. “Kamu ini kenapa?Ta…kamu aneh banget tahu ga?” ucap Fandi ketika dengan kasar aku melepaskan tangannya.

“Fan, gue sudah bilang tadi pagi, buat apa kamu acuh dengan keadaanku. Kita nggak pernah terlalu akarab dan aku kira ini nggak penting buat kamu”.

“Tapi aku heran dengan perubahan sikap kamu ke aku. Aku rasa ada yang lain. Ditambah lagi hanya karenaa tadi pagia aku bilang Cuma seperti itu saja kamu pake nggak jadi sekolah”.

“Yang jelas, aku benci Fan sama kamu. Sekarang aku benci sama kamu” ucapku sambil berdiri. Tak terasa air mataku telah jatuh.

“Kamu benci sama aku? Kenapa?” Tanya Fandi sambil berdiri di hadapanku.

Kupalingkan wajahku dari pandangannya “Fan, lo kok tega banget sih? Lo nanya semua tentang aku, kesukaan aku, pokoknya yang berhubungan sama diri aku, dan ternyata semua itu Cuma buat lo omongin sama sahabata lo, natan. Gue nggak nyangka lo bakal setega itu sama aku”.

“Apa itu salah? Justru karenaa Natan tahu pribadi kamu, dia jadi suka sama kamu” jawab Fandi tanpa nada bersalah sedikitpun.

“Cerita lo memang nggak salah, dan persaan Natan pun ta patut dipersalahkan. Tapi lo kenapa nggak pernah bilang kalau semua itu akan kamu ceritakan pada Natan?”

“Waktu kita habis dari book store, gue sebenarnya pengen cerita tapi lo sendiri yang bilang kalau itu nggak penting dan nggak ada hubungannya sama lo”.

Sejenak aku teringat ketika Fandi menanyakan apakah aku tahu Natan apa tidak. Ternyata dia akan cerita seperti itu.” Mungkin memang aku yang salah Fan, aku yang bodoh mengapa aku tak bertanya dulu padamu” jawabku sambil terus berusaha meredakan emosiku yag semakin menyala.

“Jadi lo sudah nggak marah lagi?”

“Tapi gue tetep vbenci sama lo. Gue benci…” jawabku sambil sedikit berteriak.

“Kenapa Ta? Kenapa lo benci sama gue?” Tanya Fandi dengan nada datar seakan tak menyadari betapa marahnya aku.

“Karena gue sayang banget sama lo dan gue nggak mau kehilangan lo” tiba – tiba kata – kata itu yang keluar dari mulutku. Aku langsung terdiam. Tapi rasanya perasaan ini menjadi begitu lega. Tanpa kusadari Fandi memelukku erat dan membisikkan kata yang benar – benar membuatku serasa baru keluar daris sesuatu yang begitu menyesakkan “Aku juga sayang banget sama kamu, dan aku nggak mau kehilangan kamu’.

Namun langsung ku lepas pelukannya.” Dasar cowok, mau lo tangkap dua sekaligus? Sadar fa, lo sedang pacaran sama Tia. Gue bukan tipe perampas”Ucapku begitu marah.

Namun Fandi menarikku dan mendekapku dalam pelukannya. Aku berontak ingin lepas, tapi dia semakin erat memelukku.” Kata siapa aku pacaran sama Tia? Jonatan sama Tia lah yang Bantu aku memainkan skenario ini supaya aku bisa tahu kalau kamu memang benar – benar saynag sama aku. Swear, aku cuma sayang sama kamu, dan benar – benar pengen ngelindungi kamu” terang Fandi Padaku. Dengan pelan dia melepaskan pelukannya dan menyaeka air ataku. Bersamaan dengan itu terlihat Natan dan Tia bertepuk tangan.

“Mana makanannya?” tanyaku pada mereka berdua yang tampak tersenyum kepadaku dan Fandi.

“Makanannya ada di warung, soalnya kita tadi nggak ke warung, kita ngintip di balik pohon teh itu” jawab Tia sambil menunjuk serumpunpohon teh.

“Kalian jahat baget sama aku!” ucapku. Lalu tiba – tiba tanganku hangat, Fandi menggandengku.”Vita, sekarang di depan Tia dan Natan, aku mau mengatakan kalau aku sayang banget sama kamu. Maukah kamu jadi pacarku?” aku tak menjawab apa – apa karena saking bahagianya. Aku hanya mengangguk.

“Ye…akhirnya kita nggak jomblo lagi” sorak Tia

“Lho kok kita?” tanyaku heran.

“Ya iya lah kita, kamu sama Fandi, gue sama Natan” jawab Tia genit. Aku mencubitnya “Kamu bertiga memang tega!” teriakku sambil tertawa, hilang sudah kesediahan dan kegelisahanku.

“habisnya kamu nggak mau cerita kalau kamu suka sama Fandi. Kebetulan pas waktu itu aku minjem buku PR kamu, aku nggak sengaja buka diary kamu, yang di situ tertulis kalau kamu sayang banget sama Fandi. Ya udah, gue pikir dari pada terus – terusan lo ngelamun, gue pikir lebih baik Fandi tahu. Eh…pas gue bilang sama dia ternyata dia juga sudah punya rencana buat nembak kamu. Dengan bantuanku sma Natan Jadilah deh cerita seperti ini. Tapi kamu seneng kan?” jawab Tia sambil tertawa.,

Akhirnya kita semua tertawa, Fandi menggandenga tanganku erat dan kita berdua bercerita bnyak tentang perasaan kita masing – masig. Aku tak menyangka perasaanku yang selalu tersiksa dulu, kini menjadi lega luar biasa. Terima kasih Tuhan, terima kasih Tia.

Aku dan Fandi tersenyum sambil memandangi langit sore yang bermega nan cerah. Cerahnya menggmbarkan perasaanku yang sedang begitu bahagia.

“Kata – kata kadang tak berarti jika kita tak dapat memaknainya. Berpikir adalah kunci menemukan suatu arti. Demikian pun kehidupan”