Minggu, 29 Mei 2011

Bulan Tak Lagi Sabit

Sabtu, 04 Juli 2009


Bulan sudah separuh, tak sabit lagi. Sepekan sudah aku habiskan waktu bersamamu dalam sebuah perjalanan yang kuharapkan tak kunjung habis. Aku bebas memandangmu untuk beberapa saat. Ingin sekali ku menyapamu saat itu. Tapi kau terlalu menghemat suaramu. Kau tak rela kebahagiaanku sempurna karena kudengar nadamu. Malam ini, aku mendongak ke atas langit, bulan separuh itu. Seandainya bisa akan kujadikan separuh saja agar kautetap di sisiku. Esok tak usah ada, pikirku. Aku tak mengerti akan esok hari. Hari ini saja, biarkan malam tetap teduh dalam temaram bulan separuh. Bersamamu.

Kau tak mau berhenti. Kaki ini keram ditusuk dingin malam dan pecah tersengat aspal siang. Aku mengejarmu ribuan mil dalam ukuranku. Aku berteriak memanggil namamu yang semakin membuat tubuhku menggigil dan gemetar. Ah kau, kau tak hanya sekedar menghemat suaramu, tapi kau juga menutup telingamu. Entah dengan dalih apa kau lakukan semua ini. Aku tak mengerti kenapa kau selalu berusaha ciptakan pagi saat aku sedang nyenyak di malam hari. Aku memanggilmu, bisikkan namamu dalam ngilu yang coba kutahan.

Sekali kau berbalik menatapku. Kau tersenyum, kau melengkah membelakangi jalanmu menuju ke arahku. Tampaknya kau begitu lelah, matamu kecil. Kau tak tega melihatmu. Kau jatuh tersungkur. Aku melihat semuanya. Kau jatuh. Kuulurkan tanganku meski lengannya tak jauh lebih besar dan kekar darimu. Kau menampiknya. Kau katakana aku berbohong pada waktu. Pun pada setiap zat yang mengertiku. Katamu, kau takkan bisa memapahmu. Aku tak bisa mengobati luka-lukamu. Lunglai aku.

Apa yang ada di otakmu aku tak pernah tahu pasti. Apalagi hatimu. Tapi bukankah laku kadang mewakili? Kau biarkan aku menangis melihatmu kesakitan dengan luka saat kau terjatuh tadi. Kau menolak uluran tanganku dan kau biarkanku terpuruk rasa tak terdefinisi melihat tetesan darahmu. Apalagi saat kau biarkan orang lain memapahmu dan mengobatimu dengan tangannya. Kau biarkan jari-jarinya menjamah lukamu. Saat kubuka pintu kamar rawatmu, kau meneriakiku. Itulah pertama kali kudengar suaramu semenjak bulan masih sabit. Kau bangkit dari tempat tidurmu. Masih dengan tetes darah di lukamu, kau tampari aku, kau jambak rambutku, kau terus memukulku. Kau kesetanan.

Aku tersudut di salah satu pojok kamar rawatmu. Kau tertawa melengking seperti serigala yang sebentar lagi menikam mangsanya. Kau tertawa, tertawa, tertawa. Aku masih tersudut dengan sakit dan ngilu yang sebenarnya tak tertahankan. Aku tak akan membalasmu, kuku jariku tak cukup kuat untuk mencakar mukamu. Kau mendekat padaku, aku diam. Badanku gemetar hebat dengan keringat dingin yang tak kunjung surut. Kau lebih dekat sekarang. Napasmu iblis. Sial, aku tak bisa apa-apa sekarang. Tulangku terasa patah setelah kau menikamku tadi. Otakku hanya menyuruhku diam, memejamkan mata. Bunyi napasmu telah sampai di telingaku, kau terlalu dekat padaku. Ini adalah hari terburuk semenjak bulan masih sabit itu. Malam ini, di bawah temaram bulan separuh, kau tak terlihat sebagai kawan perjalananku lagi.

Tapi kupercaya atasmu. Kau punya sisi yang sebenarnya sungguh bijak. Kau baik. Tapi kau tak pernah menyadarinya. Jika memanga anggapanku tak benar, maka aku berharap semoga aku menjadi bagian dari kebaikanmu. Wahai teman seperjalananku sejak bulan masih sabit. Aku menhan napas sejenak saat kau sangat dekat denganku. Kuberanikan membuka kelopak mataku yang bolanya sama warna sepertimu. Saat kubuka, kau tersenyum padaku, itu pun adalah senyum pertamamu yang pernah kulihat. Sekejap, kau buat pandanganku menjadi kabur, kau lamat-lamat hilang. Entah sekarang yang kurasakan adalah sakit atau kebahagiaan. Darah itu mengucur deras memerahi lantai kamar rawatmu yang putih. Aku sekarat, kau menusukku dengan belati yang kau sembunyikan di balik piyama. Aku akan mati. Dan aku mati di tanganmu, di tangan zat yang selama ini terus kukejar. Aku mati, kau bunuh rasa sadarku.