Selasa, 22 November 2011

Receh Kereta

Setelan biru melekat di tubuh kecilnya yang terlihat dekil. Rambutnya pirang alami sebab sengat matahari, kulitnya kusam, kukunya panjang-panjang dengan ujung kehitaman. Sebentar lagi ia akan beraksi, berjalan dengan langkah yang tidak dibuat-buat, bernyanyi dengan takzim meskipun dengung kereta rasanya lebih layak untuk didengarkan. Ada sejumput beras dalam botol air mineral yang dia gunakan sebagai penyuara musik, ia menyanyi, menadah receh sisa atau pun yang kebetulan disiapkan oleh penumpang kelas ekonomi. Setiap hari.
 
Aku tidak tahu namanya siapa, ditanya diam saja. Umurnya sekitar delapan tahun. Ia adalah salah satu pengamen di gerbong kereta ekonomi jurusan Jakarta Kota. Menjadi artis belas kasih orang yang barangkali lebih iba dengan kondisi badannya yang kurus kerempeng.

“Kamu nggak sekolah dek?” tanyaku ketika ia bersandar di sisi gerbong, dekat pintu kereta yang mungkin sengaja dihilangkan atau memang dari sumber loakannya sudah tidak berpintu lagi. Ia menggeleng, tangannya memegang ‘alat musik’ botol beras. Ah, dari dekat ia nampak lebih mengenaskan, kemana orang tuanya?

“Ngamen disuruh siapa?” Ia diam, pandangannya menyapu setiap sudut kereta lalu menatapku tanpa kata-kata. Ia menggeleng lagi. Aduh, mungkin dia berpikir bahwa aku sedang menginterogasinya.  Aku ingin tahu, meskipun tidak bersungguh-sungguh untuk tahu. Bagiku, di kota yang sarat angkot ini sudah menjadi ihwal yang wajar jika pengamen, peminta-minta di pertigaan lampu merah, juga penjaja amplop ‘sedekah’ seringkali hanya modus untuk memperoleh uang dengan cara yang dianggap ‘lebih mudah’ atau alasan ‘tidak ada pekerjaan lain’.

Anak itu masih bersandar di sisi gerbong, dekat dengan bangku keras yang kududuki. Kereta ekonomi Bogor-Jakarta menjadi sarat makna, dipilih oleh ribuan orang yang pulang pergi ke ibu kota setiap harinya dengan harga karcis yang murah. Seringkali aku membayangkan bahwa penumpang di kereta ini seperti manusia yang disandera oleh Skynet dalam film Terminator, dimasukkan dalam barak yang kemudian akan dijadikan robot penghancur beraneka tipe. Berbagai suara dan beragam bau akan ditemui disini, ah Indonesia memang beragam mulai dari kelas ekonomi yang seringkali diukur dari kepemilikan Jamkesmas hingga asuransi kelas atas. Dan di kereta ini, bisa dipastikan mayoritas adalah mereka yang aksesnya sebatas puskesmas dan bukan dokter berkelas. Kereta ekonomi pagi, disesaki buruh-buruh kasar yang menyandarkan hidup pada kerasnya Jakarta.

Aku tidak ada minat untuk bertanya lagi pada anak kecil itu hingga suara kereta berdengung, pertanda sebentar lagi masinis akan mengarahkan laju ke arah utara.  Ia menegakkan badannya seperti hendak beranjak. Kakinya yang tak beralas mulai menjejak di antara beberapa penumpang yang sudah bersiaga berpegangan sebab mereka harus berdiri. Aku tidak menghiraukan langkahnya, kudekap erat tasku khawatir akan ada tangan jahil yang menariknya atau mengaduk isi yang tidak seberapa.

Silih berganti penjaja asongan menawarkan dagangan, apel, lengkeng, salak, pear semuanya dibungkus rapi serba lima ribu. Jepit rambut, karet gelang, jarum jahit, peniti, benang, amplop, yang juga ditawarkan ‘seribu saja’.

“Kua kua kua kua, kua dingin mijon” suara parau seorang Bapak yang menjajakan aqua dingin serta mizone. 

Suasana kereta ekonomi lebih mirip dengan pasar berjalan.

Mendekati stasiun Cilebut, lamat-lamat mulai kudengar satu persatu suara. Peminta-minta, anak kecil yang menyapu kolong untuk selembar ribuan atau berapa pun yang diberikan padanya. Seringkali aku kesal dengan ulah anak yang menyapu kolong bangku kereta, jika tidak diberi uang dia akan menyentuh kaki sampai kita kesal dan memutuskan untuk memberinya. Suara yang lain, seorang tunanetra yang dituntun oleh (mungkin) sanaknya, bernyanyi dengan mikrofon yang terhubung pada tape dengan baterei yang dicangklongnya. Suara yang lain lagi, pemberi amplop berlabel yayasan yang membubuhkan doa-doa keselamatan barangkali sebagai tanda bahwa ia adalah ‘pengantar ke surga’ bagi siapa yang menyelipkan rupiah di amplop itu.

Aku memejamkan mata, Tuhan, beginikah cara orang mengubah nasibnya? Manifestasi dari janji-Mu  bahwa Engkau tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali ia mengubahnya sendiri? 

Telingaku menangkap suara yang lain ketika mataku masih kubiarkan pejam, salah satu trik terbaik untuk menghindari ‘memberi’ di kereta adalah dengan pura-pura tertidur. Asalkan peluk erat barang bawaan kita, cara itu terbukti cukup efektif. 

Au di hawa e wana
Uuan itaaaaaa....
Ia au heus euana una
Nana ana iaan ninaaa...

Otakku mengolah suara itu sebagai bentuk syair lagu dari band Armada: mau dibawa kemana hubungan kita, jika kau terus menunda-nunda tanpa ada ikatan cinta. Ada suara beras yang beradu dengan dinding botol air mineral. Anak kecil itu... aku langsung membuka mata dan berusaha mencari sumber suara yang kutebak adalah si anak yang mengenakan baju biru tadi, dengan dua tanyaku  tanpa dijawab satu pun olehnya. Tidak kutemukan.

Ewanya elah ueli
Engan ehuuan ha iiiii uhumu
Hana uhumu

Tubuh kecil anak itu terselip di antara jajaran penumpang yang berdiri, aku tidak bisa menemukan sosoknya tetapi masih kutangkap suaranya yang ternyata tidak jelas melafalkan kata. Dia tidak bisu tapi tidak bisa berkata-kata, pikirku. Lalu otakku menuntun untuk mengingat lagi film Slumdog Millionare yang diangkat dari novel best seller berjudul Q & Q (yang ternyata novel itu telah kubaca empat tahun sebelum film itu dirilis). Cerita penculikan anak-anak dan upaya pencacatan bagian tubuh mereka untuk dijadikan aset meminta-minta di film itu membuatku berasumsi. Adakah pita suara anak berbaju biru itu juga dipotong untuk membuat khalayak iba? Ah aku melantur.

Ada tangan yang menyentuh ujung kemaja panjangku dan menariknya pelan. Aku terhenyak dari imajinasiku tadi dan refleks melihat ke arah gerakan yang sesak diantara para penumpang lainnya. Anak berbaju biru itu, ia yang menarik kemejaku dan saat ini menadahkan tangan kecilnya ke arahku. Aku terdiam menatapnya, kemudian kucari recehan di saku dalam tasku. Kuambil beberapa, kemudian kusodorkan ke tangannya yang masih menadah. Ia masih menatapku. Sungguh tatapan yang membuat iba, tatapan memelas.

“Ela!! Ayo cepat, ngapain lama-lama disitu! Nyanyi cari duit lagi!” Satu suara yang melengking dan keras membuat anak kecil itu langsung bergerak. Suara seorang perempuan yang seakan menjadi komando bagi langkah bocah bernama Ela tersebut. 

Mataku masih mengekor pada langkah Ela yang kali ini terlihat lebih sigap, seperti diawasi. Suaranya yang tidak sempurna menyayat hati. Mataku panas.

“Apa lihat-lihat!!” suara perempuan yang melengking tadi tertuju kepadaku. Matanya melotot dan tepat menghujam ke arah mataku. Ia berbadan gempal, menggendong seorang anak kecil yang juga dekil. Kupalingkan pandangan. 

“Ayo Ela, ke depan!” perintahnya lagi kepada Ela.

Ada sesuatu yang berdenyir di hati, sesuatu yang terlalu tabu untuk diungkapkan. Aku merana dengan fakta yang hanya bisa kutatap, kutelan dengan mentah dan jika aku mampu sekedar yang bisa kulakukan adalah membuka tasku mencari receh sisa kembalian dari warteg langganan. Cacat, kekurangan fisik, seringkali menjadi asset yang dipropagandakan untuk memperoleh penghasilan. Aku tidak tahu siapa perempuan tadi, apakah ibunya, tante, kakak, saudara, atau pun pengasuh Ela. Yang jelas, urat malunya mungkin sudah tercabut, menjual ketidakberdayaan tanpa tedeng apa pun. Mengelola Ela dengan suara dan tatap matanya yang liar dan mengancam.

Kemiskinan yang terpotret dari rangkaian kotak besi di atas rel menjadi sesuatu yang latah untuk disembunyikan. Naiknya nilai GNP di level nasional tidak ada pengaruhnya sama sekali dengan kehidupan kalangan bawah. Pidato-pidato kepresidenan tentang keberhasilan pemerintah meningkatkan persentase pembangunan di bidang ekonomi tidak linear dengan urusan perut rakyat kecil. Koar-koar kesenangan dan kemenangan pejabat menyelipkan derita perih pada suara Ela yang barangkali terpotong pita suaranya.

Semuanya telah kuberi
Dengan kesungguhan hati
Untukmu... hanya untukmu

Otakku mengartikan lagu yang sedang dinyanyikan Ela di gerbong sebelah. Lagu yang dijajakan dengan mewah di layar kaca, dinyanyikan di panggung gemerlap dan dihadiri orang-orang kaya, hari ini keluar dari suara seorang bocah yang hanya tahu bahwa keberhasilannya diukur dari seberapa banyak receh yang ia kumpulkan dari kereta ini. Ela.

*Untuk anak berbaju biru yang menantang angin di pintu kereta ekonomi Bogor-Jakarta, kamu punya masa depan adikku...

Jumat, 14 Oktober 2011

Nasional.is.Me, Sebuah Karya yang Melahirkan Semangat Kebangsaan

Saya bangga menjadi bagian dari Indonesia, itulah kesan yang muncul ketika saya punya kesempatan untuk membaca buku memoar Pandji Pragiwaksono: Nasional.is.Me. Menarik, awalnya saya tidak tahu sama sekali bahwa buku itu sudah ada versi e-book-nya sebelum dicetak oleh Bentang Pustaka. Saat searching di internet mengenai buku yang recommended  untuk dibaca muncullah judul Nasional.is.Me di page yang saya buka.

Buku ini tidak bosan dibaca pasalnya Pandji menulis dengan bahasa yang sangat pop dan bisa dipahami oleh semua kalangan. Dan nilai plus-nya lagi adalah Pandji menulis tentang dirinya sendiri, tentang apa kontribusinya untuk Indonesia melalui cara yang dia bisa. Membaca rangkaian kisah di buku ini membuat saya semakin rindu untuk berkeliling Indonesia, menikmati kecantikan pulau-pulaunya, menemui banyak orang yang punya pribadi luar biasa dengan keunikannya masing-masing.

Saat Pandji bercerita tentang masa SMA-nya di Gonzaga dan trip anak IPS ke Lampung, saya langsung ingat lagunya yang berjudul “Lagu Melayu” (lagu yang sering sekali saya putar setelah sholat subuh waktu masih nge-kost di Bogor). 

            Nasional.is.Me

Saya membaca ulang buku itu dua kali, sambil mengkhayal kira-kira kontribusi apa ya yang bisa saya berikan untuk Indonesia, minimal menjadi takaran sejauh mana saya mencintai bangsa ini. Di bagian awal ketika Pandji menyisipkan sepenggal kisah tentang orang Indonesia yang mau hijrah ke Amerika dengan memanfaatkan green card yang mereka dapat (dan Pandji menyatakan “keprihatinannya” ketika orang tersebut bilang: “saya bisa bekerja apa saja di Amerika, sebagai tukang koran, cuci mobil, dll) saya merasa keputusan orang tersebut menjadi kurang tepat untuk melanjutkan niat menjadi warga negara Amerika. Saya menjadi tersadar, ada banyak orang yang telah hijrah ke luar  negeri entah melalui sekolah yang mereka jalani atau pun tugas dinas lainnya yang kemudian memutuskan untuk  tidak kembali ke Indonesia. Sangat disayangkan untuk berganti identitas sebagai orang asing di tanah kelahiran sendiri. Tapi semua itu adalah pilihan masing-masing orang.

Menurut saya, buku ini layak dibaca oleh siapa saja. Siapapun yang ingin mendapatkan inspirasi untuk Indonesia, siapapun  yang ingin tertular semangat berbagi, dan siapapun yang ingin belajar saling menghargai perbedaan. 

            Perbedaan bukan untuk disatukan tapi dibiarkan untuk bersatu.

Saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca dan mari sama-sama tertular semangat untuk mencintai Indonesia. Sekaligus saya suka cara Pandji berkontribusi, ia menulis buku kemudian menjualnya dan setiap membeli satu buku maka kita sudah membantu saudara kita di daerah-daerah terpencil untuk membaca satu buku juga. Menarik bukan?

Inilah saatnya kita berpikir, melahirkan gagasan, bergegas untuk menciptakan aksi untuk masa depan Indonesia. Secarut-marutnya kondisi bangsa ini, Indonesia masih punya harapan. Dan harapan itu sedang kita genggam untuk kita wujudkan.

            Hiduplah Indonesia Raya!


Riau, 14 Oktober 2011
18:47 di tengah kebun sawit