Rabu, 19 Juni 2019

Dibalik Wacana Penggusuran Lokasi Prostitusi

Image by Free-Photos from Pixabay
Berbicara tentang prostitusi memang menjadi sebuah paradoks, di satu sisi berbicara moralitas dan di sisi lainnya berbicara soal strategi nafkah. Secara sosiologis kedua sisi tersebut memiliki unsur nilainya masing-masing, tergantung apa yang mendasari seseorang memilih jalan prostitusi sebagai cara hidupnya. Kamis 13 Juni 2019, tema prostitusi dibahas dari sudut pandang sosiologis dalam kesempatan diskusi dengan rekan-rekan dosen baru dengan latar belakang ilmu sosial.


Tema ini berangkat dari hasil riset mas Musahwie yang sekaligus menjadi pembuka diskusi yang direncanakan menjadi agenda rutin. Risetnya dilakukan sekitar tahun 2012. Tema ini mengingatkan saya pada buku Sex, Money, and Morality yang ditulis oleh Thanh Dam Truong. Buku tersebut membahas mengenai dinamika prostitusi di Asia Tenggara dan menggambarkan bagaimana prostitusi tidak hanya cukup dipandang dari sudut pandang moral namun mencakup juga aspek ekonomi-sosial-budaya-dan politik.


Suasana diskusi (Photo by Gus Syatori)

Apa yang dibahas oleh mas Musahwie saat itu menunjukkan keniscayaan bahwa isu prostitusi (dan bahkan praktiknya) tidak terlepas dari aspek ekonomi-politik. Di Yogyakarta (tepatnya di area wisata pantai Parangtritis) praktek prostitusi ini merupakan bagian dari upaya "mencari nafkah" yang dilakoni oleh perempuan-perempuan yang sebagain besar dari luar Bantul (seperti Gunung Kidul, dll). Dengan alasan moralitas, pemerintah daerah kemudian menerbitkan peraturan mengenai penggusuran area-area yang diduga merupakan tempat yang dijadikan lokasi prostitusi. Lokasi yang dimaksud telah direncanakan untuk pembangunan area wisata yang lebih tertata, bahkan pariwisata syariah. Hal ini mengundang aksi-aksi perlawanan dan protes.

Diskusi kami (ber-11 yang hadir) kemudian berkembang, melihat prostitusi dari sudut pandang keilmuannya. Mas Alfian, misalnya, memberikan tanggapan bagaimana prostitusi dari sudut pandang antropologi seringkali dikaitkan dengan ritual-ritual yang dilakukan oleh sekelompok orang yang percaya bahwa ritual tersebut dapat mendatangkan kekayaan. Dari sudut pandang kajian agraria, Pak Syatori, mengomentari bahwa ada isu menarik bagaimana kontestasi pertanahan di lokasi prostitusi tersebut berlangsung. Tidak hanya itu, isu HIV AIDS, upaya-upaya pemberdayaan masyarakat juga muncul dalam diskusi kali ini.

Kesimpulan dari diskusi ini diambil oleh mas Musahwi sebagai pemantik, bahwa dibalik upaya penggusuran sebuah lokasi prostitusi terdapat wacana ekonomi politik yang mendasarinya. Sebuah awal diskusi yang baik, setidaknya membuka logical framework masing-masing dari kami yang hadir sesuai dengan keilmuan kami.

Bagi saya sendiri, diskusi keilmuan seperti ini sangat menarik. Setidaknya terbersit hipotesis dan pertanyaan:

  1. Jika pelaku prostitusi sebagian besar adalah pendatang dari luar Bantul, maka ada isu demografi terutama terkait dengan migrasi. Apakah mereka yang menjadi objek prostitusi menetap sementara di wilayah Bantul atau menjadi migran sirkuler?
  2. Bagaimana latar belakang para PSK di tempat asalnya?
  3. Kajian strategi nafkah dapat berkembang dari latar belakang para PSK.
  4. Proses-proses perubahan sosial di desa-desa sekitar lokasi prostitusi dan desa-desa asal PSK, apakah mereka memberikan remitan ke desa asalnya?
Sekilas, prostitusi adalah persoalan moralitas. Tetapi ada banyak wacana yang mendasarinya termasuk kekuasaan. Mas Musahwie menganalisa menggunakan teori Faucault dan Gramsci. Baru sekilas yang saya pahami dan harus banyak belajar lagi. Baik Faucault maupun Gramsci membicarakan kekuasaan, Faucault dalam wacana dan Gramsci dalam Hegemoni. 

Dalam diskusi ini muncul kesimpulan bahwa teori Faucault dan Gramsci terbukti pada kasus penggusuran lokasi porstitusi di Yogyakarta. Bahwa elit pemerintah menggunakan kekuasaan dengan menerbitkan peraturan daerah untuk "meniadakan" praktek prostitusi di lokasi wisata. 

Meskipun penelitian ini sudah dilaksanakan tahun 2012, namun isu ini masih tetap relevan hingga saat ini. Faktanya, penggusuran lokasi prostitusi menyisakan persoalan dan bahkan menciptakan problematika baru. Misalnya, di Pekanbaru, penggusuran lokalisasi Taleju yang digusur sekitar 10 tahun silam dengan wacana pemerintah untuk menjadikan Pekanvaru sebagai Kota Madani bebas prostitusi. Alasan penggusuran lokasi telaju mirip dengan apa yang diteliti oleh Mas Musahwie, yaitu menghapus perspektif sosial negatif yang tentu saja berkaitan dengan moralitas.

Pekerjaan rumah bagi pihak-pihak lintas sektor untuk bisa melihat persoalan prostitusi ini secara adil, tidak hanya dari sudut pandang orang luar tetap juga menilik sudut pandang para pelaku pekerja seks komersial. 

Apakah pilihan penggusuran telah mempertimbangkan aspek peralihan nafkah ke sektor lain, jaminan hidup, juga perlindungan PSK dari perundungan di masyarakat? 



Rabu, 12 Juni 2019

Clifford Geertz, Banda Neira, dan Ingatan Yang Terbuang

Image by Martyn Cook from Pixabay
Sesekali musik punya daya magis yang menyeret ingatan pada peristiwa lalu. Situasi yang paling buruk atau paling baik. Prof. Taufik Abdullah dalam kata pengantarnya untuk buku Clifford Geertz bilang, “yang tampak atau terasakan itu hanyalah bayangan dari masa lalu yang diabadikan”. Sesungguhnya itu perkataan yang bagi seorang profesor mungkin hanya sekelumit pengantar untuk buku Agama Jawa. Tapi bagik terbayang betapa buku itu juga memiliki sebuah prediksi besar tentang masa kini. Lalu bagaimana seandainya Geertz berduet dengan Rara Sekar menggantikan Ananda Badudu? Seperti apa kolaborasi itu.

Yang patah tumbuh yang hilang berganti. Satu lagu Banda Neira itu seperti membuat sebagian jantungku ditarik keluar. Antara sebuah hidmat dan rasa marah, antara kontemplasi yang begitu dalam sekaligus emosi yang terlanjur memuncak. Paradoks suasana rasa yang menampik adanya ingatan untuk kembali. Jika Geertz benar, artinya yang saat ini terasakan telah bersilam waktu kuabadikan.

Mari kita ulangi sebelum mata mulai mengantuk. Tuts piano itu terdengar menyebalkan. Mengapa ada lirik lagu secerdas itu dan mengapa dinyanyikan suara sebagus Rara Sekar dan Ananda Badudu?

Yang patah tumbuh yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat nanti
Yang pernah jatuh kan berdiri lagi 
(Lirik lagu Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti-Banda Neira)

Jika yang sia-sia akan jadi makna yang terus berulang suatu saat nanti, bukankah sama dengan yang tampak atau terasakan hanyalah bayangan dari masa lalu yang diabadikan. Menjelma menjadi makna yang terus berulang, seperti rima dari tuts piano, lirik lagu yang terngiang, napas yang sedikit berat menyadari betul: Yang hancur lebur akan terobati. Tidak ada ingatan yang utuh, sebagian terbuang, tetapi kenyataannya masa lalu memang benar-benar mengabadi. Seperti kata susastra, yang abadi adalah kenangan.

Selasa, 11 Juni 2019

Citros dan Perkembangan Transportasi Urban


Voiture Omnibus di Pinggiran Kota Nantes, Perancis, adalah sebutan untuk transportasi massal yang dikembangkan oleh seorang pemilik Pabrik Jagung bernama Stanislas Baudry. Voiture Omnibus berarti kendaraan untuk semua atau kendaraan untuk rakyat. Kini kita menyebutnya bus, moda transportasi yang mulai berkembang pada tahun 1820-an dengan mengandalkan kuda sebagai penarik. Selanjutnya bus menggunakan energi uap, listrik, dan bus motor.

Perkembangan bus kini tidak sekedar sebagai alat transportasi yang membawa seseorang dari satu tempat ke tempat lain dengan tujuan berpindah. Bus juga sudah memiliki fungsi rekreasi dan estetika. Sebutlah bus tingkat yang disediakan untuk keliling Kota Jakarta dan Solo, serta bus dengan desain menarik untuk keliling Kota Bandung yang dikenal dengan nama “Bandros”. Bersaudara dengan Bandros, per April 2019 di Kota Cirebon telah tersedia bus dengan fungsi rekreasi dengan sebutan Citros (Cirebon Tourism on Bus).

Citros di depan Keraton Kasepuhan Cirebon

Berkesempatan menjajal Citros saat bulan Ramadhan (Mei 2019), saya membeli tiket Rp 10.000 per orang untuk keliling kota Cirebon sekitar 45 menit. Pada saat Bulan Ramadhan, Citros bisa dinaiki dari Keraton Kasepuhan Cirebon berputar keliling kota dan kembali lagi ke Keraton. Sayangnya, karena rute yang dilewati adalah jalur kota pada sore hari sehingga bus terjebak macet. Anggaplah sebagai wisata kota yang apa adanya (macet). Operasional bus pada Bulan Ramadhan terbatas dari pukul 16.00 - 21.00 WIB, sedangkan untuk hari biasa bus bisa dinaiki dari CSB Mall mulai pukul 09.00. 


Desain bus mirip sekali dengan Bandros (Bandung Tour On Bus) hal ini dikarenakan baik Citros maupun Bandros merupakan program dari Pemerintah Jawa Barat untuk mendongkrak pariwisata di Jawa Barat. Dengan desain klasik, Citros tidak hanya menawarkan transportasi wisata keliling kota namun juga menyuguhkan penampilan yang ciamik dan unik untuk diabadikan dalam foto. Tentu saja ini menjadi nilai tambah mengingat wisatawan saat ini tidak hanya tertarik dengan layanan yang ramah/bagus tetapi juga sarana wisata yang bisa instagramable atau layak unggah di media sosial.

Citros dan sarana transportasi wisata lainnya menunjukkan bahwa perkembangan moda transportasi bus tidak semata-mata sebagai sebuah alat transportasi (berpindah). Penonjolan fungsi rekreasi sekaligus fungsi estetika menjadi keniscayaan bahwa dunia pariwisata membutuhkan inovasi yang terus menerus demi menarik perhatian pengunjung. Kehadiran bus seperti Citros menunjukkan bahwa dunia transportasi darat mengalami transformasi yang sedemikian cepat apalagi ditambah dengan tuntutan gaya hidup serta perkembangan dunia digital. 

Jika berkunjung ke Kota Cirebon, tidak ada salahnya mencoba naik Citros dan keliling kota. Kita akan disuguhi gambaran pesatnya perkembangan peradaban Kota Udang ini.

Senin, 27 Mei 2019

Suatu Sore Di Goa Sunyaragi

Hutan sunyi yang dulu dibuka selama 40 hari dengan senjata sakti bernama golok cabang milik Ki Cakrabumi, kini telah menjelma menjadi kota besar. Kota silang budaya antara nilai lokal dan modern. Pedukuhan Gerage yang awalnya dihuni oleh tujuh puluh penduduk kini disesaki oleh ribuan penghuni. Bahkan Gerage bukan lagi sekedar nama pedukuhan, sebutannya diadopsi untuk sebuah pusat perbelanjaan. Inilah Cirebon, kota peradaban yang diawali oleh kepemimpinan Ki Gede Pangalang-alang bersama Ki Cakrabumi. Cai Rebon, begitulah para utusan Kerajaan Galuh menyebut pada awalnya. Cai Rebon yang berarti air rebusan udang yang sangat memanjakan lidah. Kini dikenal Cirebon dengan julukan Kota Udang.

Selamat Datang!

Perjalanan kali ini adalah perjalanan untuk tinggal. Sebuah takdir, kota ini akan menjadi tempat saya menggantungkan hidup hari ini dan diwaktu-waktu mendatang. Saya menyisipkan rasa ingin tahu tentang kota ini di setiap rencana saya. Rasa penasaran saya membawa pikiran ini membayangkan bagaimana Nyi Mas Rarasantang dan Nyi Mas Endang Ayu memasak rebon dengan bumbu petis, juga bagaimana geragal (terasi) sangat digandrungi pada masa itu. Semoga perjalanan-perjalanan selanjutnya dapat memberikan jawaban atas keingintahuan saya lebih jauh tentang kota ini.

Mulanya, saya memilih Goa Sunyaragi, situs budaya yang berada di Kelurahan Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon. Goa Sunyaragi berdiri di atas lahan seluas 18.460 meter persegi dengan bangunan menghadap ke timur. Bahan bangunan terbuat dari batu karang, bata, dan kayu dan terdiri dari bangunan pesanggarahan dan bangunan goa.

Taman Syunyaragi terdiri dari bangunan pesanggarahan dan gua (dok. pribadi)
Goa Sunyaragi Cirebon (Dok. Pribadi)

Bangunan pesanggarahan terdiri dari bangunan berbentuk rumah (depan belakang) yang dilengkapi dengan sebuah kolam. Bangunan ini memliki dua buah kamar yang berukuran 4,8 x 5,5 meter. Diantara dua kamar tersebut terdapat ruangan tanpa sekat berukuran 5 x 5,5 meter yang Nampak sebagai penghubung antara teras depan dan teras belakang. Bangunan goa memiliki sejumlah bangunan yaitu Goa Pengawal, Pintu Borotan, Goa Pawon, Goa Lawa, Bangsal Jinem, Inande Beling, Monumen Kuburan Cina, Goa Padang Ati, Goa Kelanggengan, Goa Langse, Goa Peteng. 



Bangunan Pesanggarahan (dok.pribadi)
Bangunan dengan kolam-kolam (dok.pribadi)
Dominasi karang pada bangunan (dok. pribadi)
Goa Padang Ati (dok.pribadi)
Berdasarkan latar belakang sejarah Taman Sunyaragi (Goa Sunyaragi) ini dibangun oleh Pangeran Aryo Cirebon pada tahun 1703 Masehi. Tempat ini dibangun untuk latihan perang prajurit, pembuatan alat-alat perang dan tempat menyepi (bertapa). Sunyaragi berarti tempat menyepi (sunya = sunyi dan ragi = jasmani). Makna Sunyaragi ini mendukung fakta bangunan-bangunan goa dengan beberapa jenis namanya.

Saat ini, Goa Sunyaragi masuk sebagai salah satu cagar budaya di Kota Cirebon yang dikelola oleh Badan Pengelola Taman Air Gua & Panggung Sunyaragi Keraton Kasepuhan Cirebon. Pada saat saya ke sana, wisatawan umum (domestik) dikenai HTM Rp 10.000. Sebagai tambahan informasi, Goa ini dibuka mulai pukul 08.00 hingga 17.00, biaya parkir Rp 2.000 - 5.000, dan jika memerlukan pemandu membayar Rp 40.000 - Rp 50.000.

Keberadaan Goa Sunyaragi sekarang ini merupakan hasil pemugaran dan sudah mendapat sentuhan modern. Seperti tulisan besar Goa Sunyaragi, taman yang ditata sedemikian rupa, juga pelataran lebar dengan tangga semacam gladiator yang juga sudah disentuh tangan modern. 

Berkunjung ke Cirebon baiknya mengunjungi Goa Sunyaragi, selain sebagai bentuk napak tilas sejarah tempat ini juga tenang. Sore itu, di Sunyaragi saya memulai perjalanan saya di Cirebon.

Referensi:

Anom, I.G.N, et al. 1996. Hasil Pemugaran dan Temuan Benda Cagar Budaya PJP I. Jakarta (ID): Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Kusnandar, Dadang. 2012. Cirebon: Silang Peradaban. Yogyakarta (ID): Gapura Publishing.









Senin, 13 Mei 2019

Respect Your Woman

via: pixabay

Untuk urusan pekerjaan, hari ini saya harus ke Kalibata dan seperti biasa naik kereta Bogor-Duren Kalibata. Tidak ada yang menarik, seperti rutinitas naik kereta biasanya meskipun sudah absen 2 minggu ke belakang. Setelah selesai urusan kerjaan (sekitar 3 jam), saya pulang dengan rute yang sama: Duren Kalibata-Citayam (kereta Nambo) dan pindah kereta ke Bogor. Karena memutuskan untuk melanjutkan materi ekspose hasil penelitian dan kebetulan sedang tidak berpuasa saya dan teman memutuskan untuk cari tempat kerja yang bisa sekalian makan. Kami memutuskan untuk ke restoran cepat saji (yang sedang ada diskon 50%) di Jalan Pajajaran-Bogor.

Pilihan yang paling hemat saat ini adalah naik angkot dari stasiun ke Pajajaran (naik angkot 03). Saya membenarkan ramalan cuaca semalam yang menyatakan bahwa hari ini Udara lebih panas 3 derajat, apalagi saat masuk angkot yang ada di tengah kemacetan jalur Stasiun Bogor. Setelah di dalam angkot, seperti biasa penumpang harus mepet, mengisi bagian paling belakang sampai muncul di pintu. 

Di luar ada pasangan suami istri yang masih muda beserta seorang anak perempuan yang kiranya usia 3 tahunan. Sang suami mengenakan sarung biru kotak-kotak dan kemeja warna biru, membawa tas ransel abu-abu dan tentengan plastik hitam besar. Istrinya menggendong anak serta membawa satu tas perlengkapan bayi ukuran besar yang berwarna cokelat dengan gambar teddy bear. Jujur saja, saya membayangkan bahu yang tertarik karena beban tas cokelat tersebut dan lengan yang juga terasa pegal dengan beban bokong anak. Sang suami masuk ke angkot lebih dulu, tidak membantu istri dan anaknya naik. Saat istrinya naik suasana di angkot menjadi kurang nyaman, seperti setiap penumpang membatin tentang kondisi suami istri di depannya. Seorang penumpang menyampaikan supaya tas cokelat sebaiknay ditaruh agak dalam supaya tidak menghalangi pintu. Sang suami menarik tas itu, sang istri dengan sedikit gondok menariknya kembali dan mengatakan "sudah di sini saja". Tidak ada senyum, yang ada bibir manyun dan tetes keringat karena kepanasan sekaligus rasa Lelah yang menggelayut.

Entah membicarakan apa, tapi tiba-tiba suara ketus sang suami keluar. Sang istri berusaha mengendalikan ekspresi muka dan berkata "ya udah, kan cuma nanya". Hmm, suasana semakin akward, aneh, hening padahal di tengah ramai dan padatnya Pasar Anyar jam 3 sore. Tidak ada komunikasi antara suami istri itu, mungkin sudah sama-sama Lelah dengan perjalanan di tengah siang. Sang suami membuka tablet berukuran besar, saya dan teman saya sempat melirik. Tidak ada yang dia lakukan kecuali pencet-pencet tidak jelas. Lalu tablet itu dimasukkan lagi. Bisa saja orang yang tidak tahu akan mengira bahwa dia adalah orang yang sibuk. Tapi terus terang melihat tingkahnya saya jengkel. Ya, padahal itu bukan urusan saya. Sampai di Taman Kencana, nampaknya sang suami sudah mulai nowel-nowel pipi anak yang nggak merespon. Dan entah kenapa obrolan saya dan teman saya bertemakan anak. Mungkin sang suami ini merasa dibicarakan. 

Saat turun di Pajajaran, saya menarik napas. Jengkel. Ada banyak pertengkaran dalam keluarga muda yang bisa saja hadir karena hal-hal kecil, hanya karena rasa lelah setelah perjalanan. Hanya karena persoalan naik angkot dan barang bawaan yang merepotkan. Saya tidak berharap itu terjadi pada pasangan suami istri itu. Tetapi tanpa mengurangi rasa hormat kepada siapa pun suami-suami yang benar-benar menghormati istrinya, saya ingin menegur orang di dalam angkot tadi: Respect your woman. Nggak apa-apa kalau memang harus bertengkar, tetapi jangan pojokkan perempuanmu di hadapan orang sehingga ia terlihat bodoh dan tidak bermartabat. Bukankah janji pernikahan dipenuhi dengan kemuliaan?

Pada akhirnya memang saya tidak bisa berbuat apa-apa.