Kamis, 18 Oktober 2018

Jujur Pada Diri Sendiri


Pagi ini saya posting di Instagram setelah sekian lama rasanya hiatus dari urusan sharing di sosial media. Isinya tentang review singkat sebuah buku berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat yang sudah cukup lama saya baca namun harus berulang kali mencerna supaya paham. Buku yang berisi pemikiran "gila" Mark Manson seorang blogger, penulis buku, dan internet entrepreneur. Tidak bisa dipungkiri bahwa ada kepuasan tersendiri jika konten yang saya bagikan mendapat apresiasi dan dianggap bermanfaat untuk khalayak. 

Dari beberapa buku self improvement atau katakanlah buku motivasi, buku garapan Mark Manson ini bisa menjadi salah satu favorit saya selanjutnya. Apa yang ditulisnya dekat sekali dengan kehidupan, hal-hal real yang sering kali kita anggap penting ternyata tidak penting. Yang dikira tidak penting justru bisa memiliki nilai fundamental. Ada 3 hal utama yang saya petik dari buku ini:

  1. Pendekatan yang waras untuk menghadapi standar hidup era digital, ekspektasi orang luar terhadap diri, juga khayalan-khayalan kosong kehidupan.
  2. Kesadaran untuk lakukan sesuatu meskipun hal kecil, sesuatu yang membuat hati kita hidup.
  3. Saya tidak istimewa dan setiap cobaan yang saya hadapi justru mendekatkan saya pada Tuhan dan tujuan hidup.
dok. pribadi
Buku ini dibuka dengan penjelasan penulis mengenai apa yang dimaksud dengan sikap "Bodo Amat" atau dalam bahasa sunda "sabodo teuing" 😂. Menurut Mark, cuek dan masa bodoh adalah cara yang sederhana untuk mengarahkan kembali ekspektasi hidup kita dan memilih apa yang penting dan tidak penting. Mark menulis setiap bab buku ini dengan fakta-fakta sejarah juga fakta masa kini yang lekat sekali dengan kehidupan milenial. Setiap tulisannya punya ruh yang kuat dengan karir yang dipilihnya yaitu sebagai internet entrepreneur. Membacanya tidak akan membuat bosan, justru acapkali membuat dahi mengernyit atau mengangguk malu.


Manusia pada dasarnya dibekali dengan intuisi yang begitu jujur dari dalam hatinya namun sering kali intuisi itu tertutupi oleh hasrat untuk menjadi terdepan, dilihat paling baik, dipuji orang, pokoknya segala sesuatu yang dilabeli dengan prestise dan prestasi. Dasar yang lain adalah manusia dikaruniai logika untuk menentukan pilihan-pilihan dalam hidup tetapi ada kalanya logika itu pun tidak berjalan karena ego yang terlalu tinggi, rasa percaya diri berlebihan, dan merasa diri istimewa. Dalam pemikiran Mark, dua kondisi yang saya sebutkan tersebut merupakan bencana, you know, bencana yang membuat diri justru semakin destruktif, mengalami kemunduran, pencapaian terhadap kepuasan semu. 


I was in that situation before, then i start to do something. Hal kecil, Kata Mark, lakukan sesuatu mes kipun itu kecil, saya memulainya dengan menuliskan review bukunya secara sederhana di Instagram. Apa efek hal kecil itu? I am happy, i find my true self, i just start over my life.

Sedikit bercerita, beberapa bulan ini seperti mengesampingkan kehidupan pribadi saya dan berkutat pada lingkaran persoalan yang terlampau rumit untuk dijelaskan. Saya akui, hal ini sedemikian berat hingga jika tidak sadar-sadar diri, may be i choose to end my life. Perceraian. Yes, i had divorced months a go. But really, perceraian bukan persoalan siapa pun yang membaca blog ini, that's my life story and make me the new and genuine me. Seperti apa yang saya tuliskan di atas: i just start over my life with my two angels (my kids). Now, i am the one who can make decision to my life.


Apa hubungannya dengan buku ini? Buku ini mengantarkan saya pada ruang kontemplasi (perenungan), buku ini juga menjadi jalan bagi saya untuk melepaskan apa yang sudah dan memulai dengan hal baru yang positif. Cukup dengan buku ini? Tidak! Tapi buku ini membantu sekali, good book heals us. Trust me it works.


Hal yang paling menarik dari membaca buku ini adalah tentang mengupas bawang kesadaran diri dan jangan merasa istimewa.



 "Banyak petuah di luar sana yang menggunakan pendekatan yang dangkal yaitu hanya membuat orang-orang merasa baik dalam jangka pendek, sementara masalah jangka panjang yang sesungguhnya tidak pernah terselesaikan. Bertanya kepada diri sendiri secara jujur itu sulit. Ajukan pertanyaan yang tidak nyaman untuk dijawab. Biasanya semakin tidak nyaman sebuah jawaban, semakin mendekati kenyataan yang sebenarnya."



Kata-kata Mark mengantarkan saya untuk membuat pertanyaan tidak nyaman untuk diri saya.

 Q: Apa yang paling saya takuti dari semua proses yang saya hadapi dalam hidup?


 A: Perceraian. Mengakuinya kepada orang-orang seperti sebuah tanda kegagalan bagi diri saya. Gagal membangun keluarga, gagal dengan segenap kemampuan yang saya miliki dan pantas untuk bisa menciptakan bangunan rumah tangga yang bahagia. Merasa gagal sebagai seorang yang memiliki pendidikan tinggi tetapi tidak mampu bertahan menghadapi badai rumah tangga. IPK 3.91 di bangku S2 Sosiologi Pedesaan IPB yang terkenal susah dan harus jungkir balik mendapatkannya tidak menjadi jaminan bagi saya. I was lost before, bercerai tanpa ada pegangan pekerjaan karena seluruh waktu saya dedikasikan untuk menjadi ibu rumah tangga, berada di kursi pengadilan juga menjadi hal yang menakutkan ditambah terjadi saat kehamilan. Separuh dari 24 jam saya sehari penuh dengan pertanyaan: bagaimana setelah ini? 
Q: Mengapa perceraian itu menakutkan?
A: Kegagalan membangun keluarga adalah sebuah hal buruk. Menjadi seorang single mom juga seringkali mendapat stigma buruk, janda itu seperti sebutan aneh di masyarakat kita.
Begitu seterusnya, hingga pada akhirnya saya mampu meyakinkan diri. It's okay, everything happens for reasons. Ini waktu saya untuk mengasah kembali kemampuan, untuk memperbaiki apa yang sudah terlewati. As what my best friend said: It's okay to be Janda. Yess that's okay dan hari ini saya bisa jujur pada diri sendiri bahwa tidak ada yang salah dengan mengakuinya kepada orang lain yang bertanya. Juga, menuliskannya di blog ini, banyak single mom di luar sana yang menginspirasi saya seperti Mba Mira Sahid, Founder Kumpulan Emak Blogger, juga Kak Maureen Hitipeuw Founder komunitas Single Mom Indonesia.

Menulis di blog ini kembali seperti memberikan ruang bagi saya untuk lega.

Back to the point of Mark's book, saya belajar untuk tidak merasa istimewa. Apa-apa yang pernah saya capai bukan apa-apa, meskipun bukan dengan jentikan jari kemudian terjadi tetapi dengan merasa bahwa saya mampu dalam banyak hal, saya kehilangan ruh komitmen tentang apa yang menjadi pilihan hati saya. Orang yang merasa istimewa memiliki kecenderungan untuk selalu ingin terlihat baik di mata orang lain, memiliki citra diri yang tinggi, dan seringkai menganggap bahwa dunia ini mengitari diri mereka. Sejalan dengan prinsip almarhum pendiri Apple, Steve Jobs: Stay Hungry, Stay Foolish. Juga seperti prinsip hidup Reza Rahadian, aktor kenamaan Indonesia yang karirnya melesat: Hidup Cukup Itu Cukup. Now, i learn for that: My real life, real me.


Penulis Mark Manson menurut saya memang gila dengan ide briliant-nya. Kenapa gila? titik balik dalam hidupnya adalah menghadapi kematian, kegagalan, dan kegagalan. Hingga pada akhirnya dia memilih untuk fokus menulis, menghabiskan waktu 50 hari untuk membaca 50 buku non fiksi dan serius menjadi blogger, panggilan hidupnya. Waktu 2 tahun baginya setidaknya adalah waktu trial, menguras habis isi tabungannya, hidup kekurangan, demi sebuah langkah nyata "bekerja dengan hati" yang mungkin bisa saja mengancamnya gagal kembali seperti sebelumnya. Tapi 2 tahun itu seperti membuatnya memiliki titik temu dengan passion-nya, ia menemukan hakikat kehidupannya dan sekarang menjadi seorang penulis buku terlaris versi New York Times dan Globe and Mail.

Ada hal yang seringkali dicari-cari orang, beberapa di antaranya melakukan dengan cara mengerjakan petuah cepat kaya.-Mark Manson-


Selain sebagai buku life improvement, buku ini juga penuh dengan fakta-fakta yang bisa membuat kita berpikir ulang tentang hakikat waktu yang sudah dijalani. Bermanfaat nggak? .


Setiap hari kita dibanjiri dengan hal-hal yang luar biasa. Terbaik dari yang terbaik. Terburuk dari yang terburuk. Prestasi paling memukau. Lelucon paling konyol. Ancaman paling menakutkan. Non- stop. Hidup kita sekarang diisi dengan informasi dari sisi ekstrem pengalaman manusia, karena dalam bisnis media inilah yang menjadi pusat perhatian dan pusat perhatian menghasilkan uang. Padahal mayoritas kehidupan berada di level tengah yang membosankan.--Mark Manson-


Analisa yang terlihat sederhana itu butuh perenungan yang dalam, no drama, 2 tahun Man! Harus melihat kematian temannya sendiri yang terjun dari jurang, juga bereksperimen dengan kematian dirinya sendiri. Terlepas dari pengalaman saya pribadi tentang buku ini, saya merekomendasikannya ke siapa pun yang memiliki pertanyaan-pertanyaan dalam hidup yang tak kunjung terjawab, sebab seni tidak hanya berlaku untuk cat air dan kanvas, tarian atau lagu di atas panggung, seni juga tentang bersikap bodo amat. Selain doa, dukungan dari orang-orang baik, harapan akan masa depan, atau bahkan terapi dengan psikolog, buku ini recommended untuk dibaca. Good book heals us 💞


And i hope, all what happen can bring me closer to the better life. Kalau Mark Manson mendapatkan titik balik dari pengalaman kematian, semoga saya menemukan titik balik dari pengalaman perceraian. That's All. ❤❤

Rabu, 27 Juni 2018

Aku Pernah Bermimpi Tentang Indah Hari Tua Bersamamu



Dalam langkah yang tak terbendung
Menapaki rasa yang melambung
Kita satu dalam genggaman
Kita lebur dalam doa
Kita mewujud dalam tawatawa kecil
Kita….

Masa dengan tumpukan mimpi
Waktu dengan lipatan harapan
Seperti lemari baju kita yang belum sempurna
Tapi tetap, laci-lacinya rapat
Menyimpan setiap tangkup kata yang menyublim ke udara
Menembus relung jiwa raga tentang mimpi hari tua

Di sana, di tangkup doa itu
Ada pintu-pintu kayu yang terbuka
Seperti ikut terbahak melihat ceria anak anak yang beranjak dewasa
Ada jendela yang membuka ruang mata, menatap betapa jalan panjang semakin mengeratkan jemari dua manusia
Ada gelas yang tak lagi penuh dengan teh manis yang baru saja diseduh
Hati seperti terpaut, tanpa peduli bahwa sudut mata telah mulai keriput

Kita pernah bermimpi
Ada perjalanan jauh, menapaki jejak Raffles
Menyusuri jalan raya pos Daendels
Dari Anyer hingga Panarukan
Separuhnya sudah kita lalui, seperti dua burung yang terus menyicit sepanjang jalan
Aku dengan kenangan romusha
Kamu dengan cerita tentang segelas es kopi dari warung Belanda
Berbeda namun punya latar belakang yang sama: pengertian akan makna

Di mimpi lainnya
Ada pendar lampu, ada bunyi kaleng, ada asap dengan aroma kacang tanah juga jahe merah
Di sebuah tanah, daratan yang selalu kamu sebut rumah
Bagimu, berdiri saja di sana sudah melebihi makna pulang yang kamu harapkan
Kakimu akan bergoyang, mengikuti irama Katon Bagaskara, bergumam tentang setangkup haru dalam rindu

Aku pernah bermimpi tentang indah hari tua bersamamu….

Mungkin suatu hari saat kulit sudah tak lagi mulus
Mungkin suatu hari saat kaki tak lagi bisa diajak berjalan dengan lurus
Mungkin suatu hari saat mulut tak lagi mampu berucap
Mungkin suatu hari saat pandangan kita harus mengalah dengan kaca mata
Kita hanya akan terus saling memeluk, merayakan waktu
Sebelum pusara kita bersebelahan, kau di liang yang satu, ku di sebelahmu

Aku pernah
Bermimpi....

Kota Mimpi, 27 Juni 2018

Sabtu, 02 Juni 2018

Tidak Ada Rencana Allah Yang Salah

Ada banyak hal yang terjadi dalam hidup ini, yang disangka sesuai tujuan maupun yang mengalir begitu saja bahkan tanpa rencana. Beberapa kali, bahkan seringkali, ketika menghadapi hal-hal yang diluar harapan atau tidak sesuai keinginan saya, yang saya lakukan adalah bersandar dan berharap kepada manusia. Sebuah tindakan yang bodoh (ya, saya tahu tidak ada gunanya bersandar pada manusia) tetapi tetap saja saya lakukan. Hati manusia itu lemah, mudah terbolak-balik. Perkataan manusia juga lemah, mudah berubah. Sampai pada titik itu, saya kembalikan pada diri sendiri: "ada hal yang salah dengan saya, ada yang harus saya perbaiki dari diri saya, saya harus berdamai dengan diri saya sendiri".

Namun ternyata tidak semudah itu, proses berdamai dengan diri sendiri juga perlu waktu yang panjang. Ada lompatan yang harus dilakukan dari biasanya bersandar kepada manusia lain lalu bersandar kepada keyakinan pribadi. Lalu apa bedanya? Saya toh manusia juga yang hatinya mudah terbolak-balik, yang perkataannya juga lemah. Jika sudah begini mau bagaimana lagi?

Pada proses itu, saya berdiskusi dengan sahabat saya, apa sih yang harus saya lakukan? sahabat saya itu bilang, coba zikir sebanyak-banyaknya, nggak usah dihitung, sama Allah jangan perhitungan. Coba baca Qur'an lebih sering lagi, kadang kan kita merasa sudah cukup ngajinya, tapi hati masih berasa kosong, baca aja terus sampai kekosongan itu capek singgah di hati kita.

Dari situ, saya sadar, bahwa saya harus memperbaiki hubungan saya sama Allah. Sudah terlalu lama terlena, sudah terlalu lama merasa yakin mampu padahal kemampuan itu datang dari Allah. Sudah terlalu lama menunda yang fardhu dan meninggalkan yang sunnah, sudah terlalu banyak yang saya sepelekan dari nikmat Allah.

Source: pinterest.com

Kenyataan seperti menampar saya. Ya Allah, mengapa di saat saya ingin mendekatiMu, Kau uji dengan hal yang sangat luar biasa? Apakah saya bisa? Allah, saya ingin ini, saya ingin itu, saya berharap ini, Ya Allah. Setiap kali saya berdoa, saya hanya meminta dan meminta, saya minta Allah kabulkan keinginan saya. Kondisi bukan semakin membaik, tetapi saya merasa rapuh-serapuhnya. Sampai di situ saya hanya bisa berucap "Astaghfirullah, Ya Allah ajari saya pasrah yang sebenar-benarnya".

Berat rasanya belajar untuk tidak meminta terus-menerus, berat rasanya untuk menyerahkan segala keputusan pada Allah. Bahkan sampai menuliskan ini, saya pun masih sering bertanya, "Allah, benarkah ini yang terbaik menurut-Mu?" Pelan-pelan saya mencari jawaban, membaca Al-Qur'an dan terjemahnya lebih teliti, membaca buku yang bersesuaian, sibuk dengan aktifitas baru, melihat tumbuh kembang anak yang semakin aktif, saya coba rutinkan amalan-amalan sunah, dan juga memperbaiki amalan wajib. Allah seperti perlahan-lahan memberikan jawaban. Tapi lancar nggak? Selalu dapat jawabannya nggak? Nggak. Godaan emosi, godaan untuk mendendam, godaan untuk merasa benar sendiri selalu membayang-bayangi.

via Pinterest

Bersyukurnya di saat saya merasa harus ada banyak yang diperbaiki dari diri saya, lingkungan benar-benar mendukung. Setidaknya supportif. Belum bisa saya ceritakan apa yang sedang saya hadapi, meskipun sempat berpikir ini adalah hal yang begitu berat untuk saya di usia yang masih 28 tahun, tetapi jika diingat lagi bahwa Allah begitu baik memperingatkan saya, rasanya menjadi semakin ringan ringan dan ringan setiap harinya.

Via Pinterest

Pada saat memasuki fase "berat" dari masalah yang saya hadapi, rasanya Allah memberikan saya jalan baik. Saya mendaftar kuliah online Bengkel Diri. Kuliah yang dilakukan via whatsapp group dan sejujurnya tidak bisa selalu saya ikuti setiap sesinya karena dilaksanakan malam hari saat mas Anugrah lagi getol main, tetapi pembahasannya bisa saya dengarkan lagi. Materi pertama yang saya dapatkan berjudul Izinkan Aku Mendekat Ya Rabb, beuuhhhhh nampol banget ini. Berasa banget kalau selama ini pijakan hidup yang sebenarnya sudah lama saya abaikan. Apa itu? Akidah dan Keimanan. Materi ini diasuh oleh Uztazah Meti Astuti.

Keimanan bukan sebuah warisan tetapi harus dicari dan didapatkan dari pemikiran seorang muslim. Ingat kisah Nabi Ibrahim AS saat mencari tahu tentang Allah. Beliau keluar melihat bulan, dipikir itulah tuhan yang menciptakan alam semesta termasuk dirinya. Tapi bulan itu redup pada pagi hari, lalu beliau melihat matahari. Wah ini, lebih besar dan lebih terang, inilah tuhan yang menciptakan alam semesta. Tapi pada senja hari matahari pun tenggelam. Lalu dengan proses pemikiran dan keyakinannya Nabi Ibrahim mendapatkan kesimpulan bahwa seharusnya ada yang Maha Besar yang menciptakan alam semesta dan seisinya. Seseorang tidak akan merasa dekat dengan sesuatu ketika tidak mengenalnya, demikian pun manusia tidak akan merasa dekat dengan Allah Sang Pencipta jika tidak berusaha untuk dekat dan mengenal-Nya.

Banyak ayat dalam Al-Qur'an yang menjelaskan tentang penciptaan manusia, langit bumi, tumbuhan, hewan, dan sebagainya. Semua itu meminta manusia untuk mempertanyakan eksistensi dia (manusia) di kehidupan ini. Untuk mempertanyakan:

1. Dari mana kita berasal?
2. Untuk apa hidup di dunia?
3. Akan ke mana setelah di dunia?

Sudah lama ya nggak berpikir seperti itu, atau pun mungkin sudah lupa karena terlalu sibuk mengejar kesenangan-kesenangan semu yang justru dianggap kekal. Pembahasan kuliah pertama di awal April saat itu membuka mata saya bahwa ternyata cetek banget pemahaman saya tentang eksistensi diri dan hubungannya dengan Sang Khaliq. Kadang sudah merasa baik padahal masih belum mampu melahirkan amalan soleh yang dijalankan hanya karena Allah, bukan karena tekanan, prestise, atau ingin dipuji. Ngerasa gitu nggak? Melakukan ini itu karena prestise dan ingin dipuji T.T

Hiks, ternyata iman belum kokoh, masih people oriented, masih material oriented :( Padahal buah iman yang produktif diumpamakan seperti pohonyang kokoh. Pohon yang tetap teguh dan siap menghadapi ujian apa pun serta menyelesaikan masalah dengan keimanan.

"Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit."
"(pohon) itu menghasilkan buahny apada setiap waktu dengan sizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat." (Q.S Ibrahim: 24-25)
Harus lebih semangat untuk memperbaiki diri, yakin bahwa tidak ada rencana Allah yang salah. Rencananya selalu sempurna dan tepat waktu. Cukup untuk terus berusaha memeprbaiki diri, berbuat baik dengan cara yang baik. Orang yang cerdas adalah yang mengenal dirinya sendiri dan mengingat mati. Think beyond the life, be futuristic.

via pinterest


Terus semangat wahai jiwa-jiwa yang sedang berusaha mendekati kepada Rabb-nya...Barangkali hari ini kita membenci sesuatu, tetapi ternyata itu adalah yang terbaik untuk kita menurut Allah. Barangkali juga, ada hal yang menurut kita terbaik tapi ternyata itu menghancurkan diri kita... Berserahlah pada yang membolak-balikkan hati. Berserah dengan sesungguhnya.