Jumat, 23 Agustus 2019

Sandaran, Biar Nggak Capek

Image by Nicole Köhler from Pixabay

Akhir-akhir ini belajar cuek dengan segala sesuatu. Meskipun tetap pelan-pelan memikirkan kewajiban yang harus ditunaikan, tapi saya belajar "menunda". Menunda supaya berpikir lebih jernih, menunda supaya bersikap lebih adil dan obyektif, menunda supaya saya paham apa maksudnya.

Sedih sih, transisi ke middle age tapi gini-gini aja (boleh nggak usia 29 masuk kategori middle). Kalau membandingkan usia 29 di luar sana, suka ngebatin sendiri, "dia 29 sudah bisa ini bisa itu", "dia keren deh, begini begitu". Membandingkan kadang bisa bikin pengaruh positif tetapi lebih sering bikin nggak waras. Jadi belajar untuk selow, tenang, teratur, lebih sabar lagi (meskipun bolongnya masih di sana sini, but i am trying).

Kemarin-kemarin kalau kalut langsung gedebak-gedebuk panik. Sekarang mencoba dibikin "ya udah nanti juga ada solusinya, usahain aja". Asal tepat nyari sandaran semuanya jadi lebih enteng.

"Tidak sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu., dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri" (QS Al-Hadid 22-23).

Ngutip ayat bukan karena sekarang di perguruan tinggi agama, tapi secara spiritual hal-hal sulit yang terlewati bikin saya mikir bener-bener soal sandaran yang pas. Dulu kalau sedih, capek, emosi, ujung-ujungnya mikir kalau kehidupan nggak adil. Sekarang mulai belajar bersyukur dengan setiap yang dikasih, susah senang, bisa sampai titik ini saja sudah pencapaian luar biasa. Balik lagi sama yang ngasih hidup ALLAH SWT.

Qur'an Surat Al-Hadid ayat 22-23 itu "tidak sengaja" saya buka waktu melow galaw nggak selow. Baca itu jadi adem lagi. Kadang, baca ayat suci itu seperti ngasih hadiah buat diri sendiri.

Jumat, 26 Juli 2019

Menepi

Image by silviarita from Pixabay 

Ketika tidak bisa perpikir atau bahkan mengambil keputusan. Menepilah. Menepi dari hiruk pikuk pikiranu sendiri. Menepilah dari apa pun yang membuatmu merasa di jalan yang bercabang.

Kemudian menepi, ada perasaan sementara yang seketika susut. Bahkan musnah. Entah sementara atau seterusnya, yang kutahu itu hanya seperti batang korek api yang menyala. Seakan selamanya, tapi habis begitu saja.

Mungkin demikian, semakin dewasa, perasaan tidak lagi terlampau rumit. Pergulatan yang muncul tidak lagi tentang harubiru atauoub euforia mengenai sesuatu, sesuatunya serba sederhana. Ukurannya menjadi lebih jelas.

Mereka bilang soal rasa tidak bisa dilogika. Entah kenapa bagiku berbeda, meski bukan tentang hitungan matematis atau untuk rugi namun keduanya berkesinambungan. Pijakannya adalah tentang apa yang sedang kita perjuangkan.

Ada yag mengambil keputusan dengan semena-mena seakan hidup adalah selamanya. Ada yang menangis tanpap jeda seakan hidup tak adil seterusnya. Ada yang tak tahu mengapa ia hidup bahkan tak punya gagasan apakah ia pantas mati.

Selamat menyesal, untuk masa lalu yang pernah kamu sia-siakan. Selamat bertumbuh dengan peluh sakit dan pengalaman hidup. Selamat bangkit karena kamu tahu apa yang sedang diperjuangkan.

KA Tawang Jaya, Ps. Senen - Prujakan
24 Juni 2019, 21: 49

Rabu, 19 Juni 2019

Dibalik Wacana Penggusuran Lokasi Prostitusi

Image by Free-Photos from Pixabay
Berbicara tentang prostitusi memang menjadi sebuah paradoks, di satu sisi berbicara moralitas dan di sisi lainnya berbicara soal strategi nafkah. Secara sosiologis kedua sisi tersebut memiliki unsur nilainya masing-masing, tergantung apa yang mendasari seseorang memilih jalan prostitusi sebagai cara hidupnya. Kamis 13 Juni 2019, tema prostitusi dibahas dari sudut pandang sosiologis dalam kesempatan diskusi dengan rekan-rekan dosen baru dengan latar belakang ilmu sosial.


Tema ini berangkat dari hasil riset mas Musahwie yang sekaligus menjadi pembuka diskusi yang direncanakan menjadi agenda rutin. Risetnya dilakukan sekitar tahun 2012. Tema ini mengingatkan saya pada buku Sex, Money, and Morality yang ditulis oleh Thanh Dam Truong. Buku tersebut membahas mengenai dinamika prostitusi di Asia Tenggara dan menggambarkan bagaimana prostitusi tidak hanya cukup dipandang dari sudut pandang moral namun mencakup juga aspek ekonomi-sosial-budaya-dan politik.


Suasana diskusi (Photo by Gus Syatori)

Apa yang dibahas oleh mas Musahwie saat itu menunjukkan keniscayaan bahwa isu prostitusi (dan bahkan praktiknya) tidak terlepas dari aspek ekonomi-politik. Di Yogyakarta (tepatnya di area wisata pantai Parangtritis) praktek prostitusi ini merupakan bagian dari upaya "mencari nafkah" yang dilakoni oleh perempuan-perempuan yang sebagain besar dari luar Bantul (seperti Gunung Kidul, dll). Dengan alasan moralitas, pemerintah daerah kemudian menerbitkan peraturan mengenai penggusuran area-area yang diduga merupakan tempat yang dijadikan lokasi prostitusi. Lokasi yang dimaksud telah direncanakan untuk pembangunan area wisata yang lebih tertata, bahkan pariwisata syariah. Hal ini mengundang aksi-aksi perlawanan dan protes.

Diskusi kami (ber-11 yang hadir) kemudian berkembang, melihat prostitusi dari sudut pandang keilmuannya. Mas Alfian, misalnya, memberikan tanggapan bagaimana prostitusi dari sudut pandang antropologi seringkali dikaitkan dengan ritual-ritual yang dilakukan oleh sekelompok orang yang percaya bahwa ritual tersebut dapat mendatangkan kekayaan. Dari sudut pandang kajian agraria, Pak Syatori, mengomentari bahwa ada isu menarik bagaimana kontestasi pertanahan di lokasi prostitusi tersebut berlangsung. Tidak hanya itu, isu HIV AIDS, upaya-upaya pemberdayaan masyarakat juga muncul dalam diskusi kali ini.

Kesimpulan dari diskusi ini diambil oleh mas Musahwi sebagai pemantik, bahwa dibalik upaya penggusuran sebuah lokasi prostitusi terdapat wacana ekonomi politik yang mendasarinya. Sebuah awal diskusi yang baik, setidaknya membuka logical framework masing-masing dari kami yang hadir sesuai dengan keilmuan kami.

Bagi saya sendiri, diskusi keilmuan seperti ini sangat menarik. Setidaknya terbersit hipotesis dan pertanyaan:

  1. Jika pelaku prostitusi sebagian besar adalah pendatang dari luar Bantul, maka ada isu demografi terutama terkait dengan migrasi. Apakah mereka yang menjadi objek prostitusi menetap sementara di wilayah Bantul atau menjadi migran sirkuler?
  2. Bagaimana latar belakang para PSK di tempat asalnya?
  3. Kajian strategi nafkah dapat berkembang dari latar belakang para PSK.
  4. Proses-proses perubahan sosial di desa-desa sekitar lokasi prostitusi dan desa-desa asal PSK, apakah mereka memberikan remitan ke desa asalnya?
Sekilas, prostitusi adalah persoalan moralitas. Tetapi ada banyak wacana yang mendasarinya termasuk kekuasaan. Mas Musahwie menganalisa menggunakan teori Faucault dan Gramsci. Baru sekilas yang saya pahami dan harus banyak belajar lagi. Baik Faucault maupun Gramsci membicarakan kekuasaan, Faucault dalam wacana dan Gramsci dalam Hegemoni. 

Dalam diskusi ini muncul kesimpulan bahwa teori Faucault dan Gramsci terbukti pada kasus penggusuran lokasi porstitusi di Yogyakarta. Bahwa elit pemerintah menggunakan kekuasaan dengan menerbitkan peraturan daerah untuk "meniadakan" praktek prostitusi di lokasi wisata. 

Meskipun penelitian ini sudah dilaksanakan tahun 2012, namun isu ini masih tetap relevan hingga saat ini. Faktanya, penggusuran lokasi prostitusi menyisakan persoalan dan bahkan menciptakan problematika baru. Misalnya, di Pekanbaru, penggusuran lokalisasi Taleju yang digusur sekitar 10 tahun silam dengan wacana pemerintah untuk menjadikan Pekanvaru sebagai Kota Madani bebas prostitusi. Alasan penggusuran lokasi telaju mirip dengan apa yang diteliti oleh Mas Musahwie, yaitu menghapus perspektif sosial negatif yang tentu saja berkaitan dengan moralitas.

Pekerjaan rumah bagi pihak-pihak lintas sektor untuk bisa melihat persoalan prostitusi ini secara adil, tidak hanya dari sudut pandang orang luar tetap juga menilik sudut pandang para pelaku pekerja seks komersial. 

Apakah pilihan penggusuran telah mempertimbangkan aspek peralihan nafkah ke sektor lain, jaminan hidup, juga perlindungan PSK dari perundungan di masyarakat? 



Rabu, 12 Juni 2019

Clifford Geertz, Banda Neira, dan Ingatan Yang Terbuang

Image by Martyn Cook from Pixabay
Sesekali musik punya daya magis yang menyeret ingatan pada peristiwa lalu. Situasi yang paling buruk atau paling baik. Prof. Taufik Abdullah dalam kata pengantarnya untuk buku Clifford Geertz bilang, “yang tampak atau terasakan itu hanyalah bayangan dari masa lalu yang diabadikan”. Sesungguhnya itu perkataan yang bagi seorang profesor mungkin hanya sekelumit pengantar untuk buku Agama Jawa. Tapi bagik terbayang betapa buku itu juga memiliki sebuah prediksi besar tentang masa kini. Lalu bagaimana seandainya Geertz berduet dengan Rara Sekar menggantikan Ananda Badudu? Seperti apa kolaborasi itu.

Yang patah tumbuh yang hilang berganti. Satu lagu Banda Neira itu seperti membuat sebagian jantungku ditarik keluar. Antara sebuah hidmat dan rasa marah, antara kontemplasi yang begitu dalam sekaligus emosi yang terlanjur memuncak. Paradoks suasana rasa yang menampik adanya ingatan untuk kembali. Jika Geertz benar, artinya yang saat ini terasakan telah bersilam waktu kuabadikan.

Mari kita ulangi sebelum mata mulai mengantuk. Tuts piano itu terdengar menyebalkan. Mengapa ada lirik lagu secerdas itu dan mengapa dinyanyikan suara sebagus Rara Sekar dan Ananda Badudu?

Yang patah tumbuh yang hilang berganti
Yang hancur lebur akan terobati
Yang sia-sia akan jadi makna
Yang terus berulang suatu saat nanti
Yang pernah jatuh kan berdiri lagi 
(Lirik lagu Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti-Banda Neira)

Jika yang sia-sia akan jadi makna yang terus berulang suatu saat nanti, bukankah sama dengan yang tampak atau terasakan hanyalah bayangan dari masa lalu yang diabadikan. Menjelma menjadi makna yang terus berulang, seperti rima dari tuts piano, lirik lagu yang terngiang, napas yang sedikit berat menyadari betul: Yang hancur lebur akan terobati. Tidak ada ingatan yang utuh, sebagian terbuang, tetapi kenyataannya masa lalu memang benar-benar mengabadi. Seperti kata susastra, yang abadi adalah kenangan.

Selasa, 11 Juni 2019

Citros dan Perkembangan Transportasi Urban


Voiture Omnibus di Pinggiran Kota Nantes, Perancis, adalah sebutan untuk transportasi massal yang dikembangkan oleh seorang pemilik Pabrik Jagung bernama Stanislas Baudry. Voiture Omnibus berarti kendaraan untuk semua atau kendaraan untuk rakyat. Kini kita menyebutnya bus, moda transportasi yang mulai berkembang pada tahun 1820-an dengan mengandalkan kuda sebagai penarik. Selanjutnya bus menggunakan energi uap, listrik, dan bus motor.

Perkembangan bus kini tidak sekedar sebagai alat transportasi yang membawa seseorang dari satu tempat ke tempat lain dengan tujuan berpindah. Bus juga sudah memiliki fungsi rekreasi dan estetika. Sebutlah bus tingkat yang disediakan untuk keliling Kota Jakarta dan Solo, serta bus dengan desain menarik untuk keliling Kota Bandung yang dikenal dengan nama “Bandros”. Bersaudara dengan Bandros, per April 2019 di Kota Cirebon telah tersedia bus dengan fungsi rekreasi dengan sebutan Citros (Cirebon Tourism on Bus).

Citros di depan Keraton Kasepuhan Cirebon

Berkesempatan menjajal Citros saat bulan Ramadhan (Mei 2019), saya membeli tiket Rp 10.000 per orang untuk keliling kota Cirebon sekitar 45 menit. Pada saat Bulan Ramadhan, Citros bisa dinaiki dari Keraton Kasepuhan Cirebon berputar keliling kota dan kembali lagi ke Keraton. Sayangnya, karena rute yang dilewati adalah jalur kota pada sore hari sehingga bus terjebak macet. Anggaplah sebagai wisata kota yang apa adanya (macet). Operasional bus pada Bulan Ramadhan terbatas dari pukul 16.00 - 21.00 WIB, sedangkan untuk hari biasa bus bisa dinaiki dari CSB Mall mulai pukul 09.00. 


Desain bus mirip sekali dengan Bandros (Bandung Tour On Bus) hal ini dikarenakan baik Citros maupun Bandros merupakan program dari Pemerintah Jawa Barat untuk mendongkrak pariwisata di Jawa Barat. Dengan desain klasik, Citros tidak hanya menawarkan transportasi wisata keliling kota namun juga menyuguhkan penampilan yang ciamik dan unik untuk diabadikan dalam foto. Tentu saja ini menjadi nilai tambah mengingat wisatawan saat ini tidak hanya tertarik dengan layanan yang ramah/bagus tetapi juga sarana wisata yang bisa instagramable atau layak unggah di media sosial.

Citros dan sarana transportasi wisata lainnya menunjukkan bahwa perkembangan moda transportasi bus tidak semata-mata sebagai sebuah alat transportasi (berpindah). Penonjolan fungsi rekreasi sekaligus fungsi estetika menjadi keniscayaan bahwa dunia pariwisata membutuhkan inovasi yang terus menerus demi menarik perhatian pengunjung. Kehadiran bus seperti Citros menunjukkan bahwa dunia transportasi darat mengalami transformasi yang sedemikian cepat apalagi ditambah dengan tuntutan gaya hidup serta perkembangan dunia digital. 

Jika berkunjung ke Kota Cirebon, tidak ada salahnya mencoba naik Citros dan keliling kota. Kita akan disuguhi gambaran pesatnya perkembangan peradaban Kota Udang ini.